Benar dugaan saya. Anda sudah mengakui bahwa anda tidak membaca buku
fikih lintas agama. Itu pointnya. Jadi jelas, bahwa apa yg anda
lakukan fitnah, karena tidak melalui pembuktian dengan membaca buku
tersebut. Nampaknya saya tidak perlu menanggapi lebih jauh kecuali
anda membaca lebih dulu sumber primer yang anda tuding begini begitu.
Anda bisa yakin suatu kebenaran hanya dengan mendengar kesimpulan
ustad anda. Luar biasa. Mohon maaf, setidaknya anda yang sendiri sudah
menggambarkan diri anda sebenarnya seperti apa.

On 6/24/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> orang liberal emang hobi nyatut hehe..orangnye siy itu2 aje, dah ktauan dah
> congornye
>
>
>
> Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 3)
> oleh: AKMAL
>
>
>
> assalaamu'alaikum wr. wb.
>
> Perdebatan
> tentang Buya Hamka, atau lebih tepatnya kasus pencatutan nama Buya
> Hamka oleh kader-kader pluralis, sebenarnya bisa memberikan efek
> bumerang pada para pengusung pluralisme itu sendiri.  Biasanya, antara
> pluralisme dan hermeneutika itu setali tiga uang.  Dengan kata lain :
> orangnya yang itu-itu juga.
> Kasus pencatutan nama Buya Hamka ini menunjukkan betapa tidak
> konsistennya para pengusung hermeneutika dengan ajaran hermeneutika itu
> sendiri.
> Mereka yang memuja hermeneutika
> biasanya menggambarkan ilmu tersebut sebagai bentuk penafsiran yang
> paling komprehensif.  Sederhananya, menurut hermeneutika, sebuah teks
> harus diselidiki berdasarkan latar belakang penulisnya.  Kekacauan
> terjadi ketika mereka 'memaksakan diri' untuk menerapkan hermeneutika
> pada Al-Qur'an.  Padahal, telah kita yakini bersama bahwa Al-Qur'an
> adalah wahyu Allah SWT, bukan karangan Nabi Muhammad saw., bukan pula
> hasil kongkalikong Khalifah Utsman bin 'Affan ra.  Dengan
> menggunakan hermeneutika, maka semua ajaran Al-Qur'an dianggap relatif
> sesuai jamannya.  Ini sama saja dengan mengatakan bahwa seluruh (atau
> sebagian) Al-Qur'an sudah usang dan tak bisa dipakai lagi.
> Karena
> hermeneutika, muncullah teori-teori 'liar'.  Imam Syafii, misalnya,
> dikenal sebagai ulama besar yang meletakkan dasar-dasar ushul fiqih yang
> masih terpakai hingga sekarang.  Di bawah 'tirani' hermeneutika,
> Nasr Hamid Abu Zayd malah berkesimpulan bahwa Imam Syafii tidak lain
> adalah ideolog Quraisy yang berusaha melestarikan hegemoni bangsanya
> sendiri (yaitu klan Quraisy).  Lebih jauh, para penulis buku Fiqih Lintas
> Agama bahkan pernah menghujat Imam Syafii sebagai penyebab kebekuan dalam
> ilmu fiqih masa kini.  Padahal, umat Islam menghormati Imam Syafii
> sedemikian rupa
> tidak lain hanyalah karena ilmunya yang mendalam dan sangat
> bermanfaat.  Jika tak ada yang merevisi pemikiran Imam Syafii, itu
> bukan karena adanya hegemoni Quraisy atau kesepakatan tak tertulis
> untuk taqlid pada beliau, melainkan karena memang pemikiran
> beliau sudah maju beberapa abad dari jamannya, dan kebetulan belum ada
> yang merevisinya.  Sebaliknya, Nasr Hamid Abu Zayd dan para penulis
> buku Fiqih Lintas Agama sama sekali tidak menawarkan pola pikir yang
> sebanding dengan warisan Imam Syafii.
> Hermeneutika
> adalah ilmu liar yang bisa seenaknya membentuk teori.  Dalam
> teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd, setiap ulama digambarkan seolah-olah
> memiliki agenda politik tersembunyi.  Ironisnya, tak pernah ada di
> antara pengikut hermeneutika yang membedah agenda politik di balik
> teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd.  Itulah sebabnya para pengusung
> hermeneutika sering disebut hipokrit oleh para cendekiawan Muslim.
> Inkonsistensi
> para pengusung hermeneutika terlihat jelas dalam kasus pencatutan nama
> Buya Hamka.  Mereka yang sering mencela 'tafsir literalis' ternyata
> justru terjebak dalam lubang yang sama.  Mereka hanya melakukan copy-paste
> atas tulisan-tulisan Buya Hamka, kemudian menarik kesimpulan
> berdasarkan pembacaan sekilas saja.  Hal ini justru lebih memalukan
> daripada 'tafsir literalis' terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.  Al-Qur'an
> adalah bacaan sempurna yang berasal dari Kalam Allah SWT, sedangkan
> Hamka hanyalah seorang manusia yang bisa salah dalam berkata-kata.
> Oleh karena itu, pembacaan literalis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an masih
> lebih cerdas daripada pembacaan literalis terhadap penafsiran Buya
> Hamka.
> Lebih parahnya lagi, kutipan-kutipan yang
> mereka cantumkan justru memberikan gambaran yang sangat timpang.
> Mengenai hal ini sudah dibahas dalam artikel Pernak-Pernik Perdebatan
> Tentang Buya Hamka (Bag. 1).  Secara akademis, hal ini sangat memalukan,
> apalagi dilakukan oleh seorang cendekiawan sekelas Ahmad Syafii Maarif.
> Artikel Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 2) menunjukkan
> bahwa prinsip hermeneutika memang sama sekali tidak
> digunakan oleh para pencatut dari kalangan pluralis.  Mereka mengambil
> sebagian penjelasan Buya Hamka, namun tidak menggunakan definisi yang
> sama.  Misalnya, mereka ambil penjelasan bahwa orang-orang Yahudi,
> Nasrani dan Shabi'in juga bisa masuk surga, tapi lalai mengutip
> penjelasan Hamka tentang ketiga nama agama tersebut.  Sudah barang
> tentu hasilnya sangat rancu.  Mereka sama sekali tidak berusaha
> mendekati pemikiran Buya Hamka, melainkan hanya sekedar copy-paste dan
> menggunakan penafsiran liarnya sendiri.
> Kasus
> ini menunjukkan kepada kita bahwa hermeneutika adalah sebuah disiplin
> ilmu yang sangat rapuh.  Bahkan para pengusungnya pun tidak konsisten
> dalam menggunakannya.  Mereka terbiasa menggunakannya jika merasa
> diuntungkan saja, kemudian meninggalkannya begitu saja dalam situasi
> yang lain.  Ayat-ayat Allah hendak mereka relatifkan sesuai tempat dan
> jaman, sedangkan kata-kata manusia justru mereka telan bulat-bulat.
> wassalaamu'alaikum wr. wb.
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>

-- 
Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Kirim email ke