----- Original Message ----
From: Asnawi Ihsan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, June 24, 2008 2:48:23 PM
Subject: RE: [ppiindia] Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 3)


Saudaraku, sampai kapan anda terus-terusan mencaci dan menuding orang-orang
yang berbeda pandangan denganmu? Aku sudah ingatkan, silahkan saja anda
bantah jika anda tidak setuju dengan saudara-saudara muslim yang berhaluan
liberal namun gunakan cara-cara yang baik. Atau mungkin anda sudah sangat
sulit untuk diingatkan? 

++ 
assalamualaikum. Saudaraku, kalimat saya yg mana bernada caci maki & tuding 
sana sini? Memangnya
saudaraku merasa tercaci & tertuding? Koq bisa ya?!
Saudaraku, jgn anggap
posting & celotehan saya adalah cacian & tudingan, anggap saja
sentilan, buat saya, menuding & mencaci Allah, AlQuran & Muhammad saw
jauh lebih berat timbangan keburukannya ketimbang ‘sentilan’ saya thd mereka,  
atau orang-orang tsb (yg berbeda pandangan dg
saya) sedang ‘menyentil’ AlQuran & Muhammad saw? Kata bang Oma, “terlaluuuu!”
saudaraku seharusnya
menasehati mereka jg, atau jgn2 saudaraku enggan menasehati mereka? Jgn bgitu
saudaraku, jgn hanya krn ngeFANS thd salah satu dari mereka jd bias dlm
menilai, skali lg jangan bgitu saudaraku..tidak baik lho.
Oh iya, ngomong2 soal
ingat mengingatkan saya jd teringat nih, ada pertanyaan saya yg belum terjawab
oleh saudaraku, mengenai iblis (katanya) kelak akan msk sorga yg tertinggi,
drmana dalil yg dijadikan rujukan perkataan tsb, Alquran ? Hadist? Atau
perkataan iblis?
Tolong jawab saudaraku,
mudah2an saudaraku msh ingatdan tdk lupa.


Apa yang anda kutip pun belum tentu benar. Bahkan dalam hal kecil dan sangat
teknis, tidak perlu melakukan bantahan dalam hal argumentasi dan substansi
dari tulisan tersebut. Saya ambil contoh, apa yang ditulis akmal yang sering
anda kutip/kirimkan tulisannya ke sini: 


++memang yg pasti benar
hanyalah AlQuran. Mudah2an kita sepakat dlm hal tsb. Soalnya byk orang
menggunakan nama islam, tp mengatakan Alquran adalah perkataan Muhammad saw,
ada jg yg mengigau mengatakan kejadian2 yg diceritakan dlm Alquran yg tdk
disaksikan oleh Muhammad saw bisa saja salah atau tdk akurat. Kurang ajar khan
tuh orang?
Saya sungguh kecewa berat nih, ternyata saudaraku sibuk
mengurusi hal remeh temeh ketimbang pokok bahasan, hal yg substantif. Tapi ga
pa-pa lah, celotehan & postingan (tulisan karya akmal) ditanggapi oleh
orang sealim & selembut saudaraku ini, tentu merupakan kebanggaan
tersendiri buat saya.
Okelah kita bahas..
 

 
"Lebih jauh, para penulis buku Fiqih Lintas Agama bahkan pernah menghujat
Imam Syafii sebagai penyebab kebekuan dalam ilmu fiqih masa kini. Padahal,
umat Islam menghormati Imam Syafii sedemikian rupa
tidak lain hanyalah karena ilmunya yang mendalam dan sangat
bermanfaat"

Paragraf itu, para penulis buku Fiqih Lintas Agama, dimana akmal menggunakan
kata Para Penulis, ada baiknya sebelum anda forward tulisan akmal tersebut
anda baca dulu buku Fiqih Lintas Agama. 


++ tolong saudaraku, anda
boleh menasehati saya apa saja tp tolong jgn menasehati saya agar membaca buku
fiqih lintas agama, dari namanya saja sdh aneh, fiqih lintas agama, penganut
agama apa aja yg butuh ‘dipahamkan’ oleh para penulis ini? Umat Islam sajakah
atau seluruh umat agama lain? Jika islam saja, mengapa menggunakan nama fiqih
lintas agama? Apakah umat agama lain jg bisa menggunakan fiqih ini? Knp tdk,
khan namanya jg lintas agama, iya toh? 
 Alasan berikutnya, mengapa saya enggan membaca
buku ini adalah isinya sangat tdk ilmiah, bukan hanya perkataan saya lho,
menurut Ustadz Abdullah Manaf di Solo menegaskan, buku FLA itu sangat jauh dari
metodologi ilmiah, apalagi dalam hal manhaj/ metodologi memahami Islam dan
dalam beristinbath (menyimpulkan hukum).
Contoh: Bayangkan, untuk
membolehkan hadir di upacara-upacara hari besar orang kafir, dalam buku FLA
halaman 85 itu landasannya di antaranya adalah hadirnya Yasser Arafat bersama
isterinya Suha, di acara misa tengah malam di Gereja Saint Catherine di
Bethlehem, dan menghadiri Perayaan Malam Natal di Gereja Kelahiran Kristus di
kota yang sama, setelah menghadiri dan mengikuti acara tarawih di masjid dekat
gereja itu. (FLA hal 85).
Lalu di halaman 86
dikemukakan, Ketua MPR RI Amien Rais menghadiri perayaan Natal di Gereja
Sentrum Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Selasa, 19
Desember 2000.
Saudaraku, ulama yg
mumpuni ilmunya, ulama yg takut kpd Allah senantiasa mendasari setiap keputusan
& penilaian mereka merujuk kpd Alquran dan AsSunnah, sangat berbeda dg
ulama-ulama-an yg menggunakan metode yg sangat tdk jelas dan asal-asalan spt 
ini,
maaf lho, dah kenyataan siy.
Alasan lainnya, dlm buku
tsb penulis buku tsb suka mencatut & memelintir perkataan ulama yg
dijadikan rujukan (seolah2 lho) hanya utk kepentingannya sendiri. Koq mereka
tega ya? ga usah saya tunjukkan deh buktinya, jika saudaraku telah membaca buku 
tsb pasti tau koq.
Saudaraku, anda boleh
stuju atau tdk, tak jadi masalah buat saya, sungguh..jd jgn menasehati saya utk
membaca buku dg metodologi awut-awutan ini, buat saya penulis fiqih lintas
agama ga lebih kumpulan ‘anak kemaren sore’ yg coma menuangkan hasratnya yg
lama terpendam, oh iya saya lebih memilih membaca buku menangkal JIL & FLA,
tdk masalah bukan?

Pertama, Betul tidak disana Para penulis atau cuma seorang penulis saja yang
membahas metodologi Imam Syafe'i? Kalau Cuma seorang bagaimana sampai
digenelarisasi dengan kalimat para penulis? 


++ seharusnya saudaraku langsung to the point aja, ga
usah byk tanya sana-sini. Jika saudaraku merasa ada yg salah dg tulisan mas 
akmal,
ya salahnya dimana, langsung aja, tunjukkan deh..
Buku Fiqih lintas agama
ini ditulis keroyokan atas nama beberapa nama, tentunya apapun yg tertulis dlm
buku tsb adalah tanggungjawab keseluruhan bukan orang perorang, betul donk? 
Ceritanya
mau lari dari tanggungjawab nih?! Hehe..


Kedua, betul tidak disana ada hujatan terhadap Imam syafe'i? Atau yang ada
kritik metodologi? 


++ metodologi yg digunakan para penulis ‘anak kemaren
sore’ ini tdk jelas & awut-awutan bahkan ga ilmiah. Masa’ mereka tega &
PD mengkritik metodologi imam syafi’i. Apa selevel?
Ya udh baca aja deh,
 
Kutipan: 
“Fiqih klasik sepertinya
tak mampu menjawab tantangan zaman. Dalam fiqih hubungan antar agama, sangat
terlihat adanya kegagapan dalam melihat agama lain.. Kritik yang sangat menonjol
terutama mesti ditujukan kepada fiqih Mazhab Syafi’I, karena saking kuatnya
paradigma teosentris yang dipedomani Imam al-Syafi’I, terutama dalam konsep
ahl-al-dzimmah, maka terlihat sangat mendiskriminasikan agama lain. Syafi’I
seakan-akan ingin menjadikan agama lain sebagai sapi perahan yang dituntut
dengan kewajiban-kewajiban, namun di sisi lain, mereka tidak diberikan hak yang
setimpal. Bukan hanya itu, seruling jihad pun ditiupkan kepada kelompok non
Muslim. Hampir dalam seluruh kitab fiqih ada bab tersendiri yang membahas
masalah jihad.” (FLA,
halaman 167-168).
 
Saya kutipkan deh
tanggapan dari buku menangkal FLA,
 
Tanggapan:
Tulisan orang Paramadina
itu bisa lebih punya tata krama dan etika bila dikemukakan kutipan dari
pernyataan Imam Al-Syafi’I secara seutuhnya, baru kemudian ditanggapi secara
ilmiah. Bukan sekadar hanya berupa kecaman kasar, tuduhan tanpa bukti ilmiyah,
bahkan penuh kebencian seperti itu. Kalau yang menulis itu memang orang anti
Islam semacam Gato Loco –Darmo Gandul, maka masih agak bisa dimaklumi. Namun,
ternyata kecaman dari Paramadina ini bisa dibandingkan dengan celoteh
Darmogandul:
 
“…Bangsa Islam, jika
diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir
mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka 
halus
dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu merasa pahit dan asin.” 
 
Kelompok Paramadina ini
saking membabi butanya, pembahasan tentang jihad di hampir setiap kitab fiqih
pun dipersoalkan. Padahal, fiqih itu artinya adalah faham atau pemahaman, yang
memang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di Al-Qur’an terdapat berbagai
ayat tentang jihad. Di As-Sunnah terdapat berbagai hadits tentang jihad, dan
bukan sekadar diucapkan Nabi saw, tetapi Nabi sendiri memimpin berjihad 27
kali, di samping jihad-jihad yang tidak langsung beliau pimpin. Apakah ulama
pewaris para Nabi tidak boleh membahas tentang jihad itu dalam kitab-kitab
fiqih? Dan kalau ulamanya sudah tidak berbicara tentang jihad lagi, apakah
kemudian berarti Islam ini menjadi jaya akibat tidak adanya pembahasan jihad
lagi itu? Bukankah itu justru sebaliknya, Muslimin dibantai oleh kafirin,
sedang munafiqin bersorak sorai menyemangati “jihad”nya kafirin terhadap
Muslimin?
 
Setiap muslim mestinya
berniat jihad, kecuali orang munafiq. Karena Nabi saw bersabda:
“Man maata walam yaghzu
walam yuhaddits nafsuhu bil ghozwi maata ‘alaa syu’batim minan nifaaqi.”
“Barangsiapa yang mati dan
tidak pernah berperang, dan tidak pernah berniat pada dirinya untuk berperang,
maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.” (HR Muslim).
 
Bagaimana saudaraku? 
 
Saya kutip lg dari
menangkal JIL & FLA,
 
Ulama fiqih klasik yang
telah sangat berjasa menuntun umat Islam agar memahami agama, tahu-tahu
mendapat kecaman sebegitu pedasnya dari orang-orang Paramadina. Sementara itu,
pengecam ini untuk melandasi kecamannya terhadap Imam As-Syafi’I dalam buku FLA 
halaman 167-168 itu
begitu tidak risihnya menampilkan dan mengutip-kutip musuh-musuh agama dengan
celoteh usangnya.
 
Kutipan:
“Karl Marx dalam sebuah
kritiknya menyebut agama sebagai candu. Nitzche dalam refleksi filsafatnya
menyebut, Tuhan telah mati. Jacques Derrida menyebut, kebenaran makna selalu
tertunda. Huston Smith dalam Why Religion Matters: The Fate of the Human Spirit
in an Age of Disbelief mempertanyakan apakah agama telah menemukan ajalnya? (!)
Dan dalam banyak buku, para orientalis menyebut Islam sebagai agama yang tak
mengakomodasi agama lain.” (FLA,
halaman 168).
 
Tanggapan:
Perkara Karl Marx mengecam
agama, apakah memang ada kaitannya dengan Imam Al-Syafi’i? Dan agama yang
dikatakan Karl Marx itu maksudnya langsung Islam, atau justru Kristen? Demikian
pula Nitzche, Jacques Derrida, dan Huston Smith. Tentu tidak ada
kaitan-kaitannya dengan Imam Al-Syafi’i. Bahkan para orientalis yang mengecam
langsung terhadap Islam pun tidak mengkhususkan kepada Imam Al-Syafi’i. 
 
Aneh orang-orang
Paramadina ini. Meminjam mulut orang-orang kafir untuk landasan mengecam ulama
Islam, sedangkan orang kafir itu sendiri memaksudkan kecamannya itu kepada
obyek yang mereka hadapi belaka. Dan kecaman itupun adalah subyektivitas 
kebencian
mereka yang memang anti agama dan anti Islam. Barangkali masih ada sedikit
bobotnya bila Paramadina mengutip kecaman orang ahli dzimmah (ahli kitab/
Yahudi atau Nasrani yang tunduk dalam perlindungan kekuasaan Islam) atas
kedhaliman kekuasaan Islam akibat ajaran Imam Syafi’I dalam Fiqihnya (yang
sampai disebut oleh FLA: Syafi’I seakan-akan ingin menjadikan agama lain
sebagai sapi perahan yang dituntut dengan kewajiban-kewajiban, namun di sisi
lain, mereka tidak diberikan hak yang setimpal.). Walaupun misalnya kutipan
dari ahli dzimmah yang pembohong pun masih ada nilainya, karena ada korelasi
antara ajaran fiqih Imam Syafi’I dengan ucapan/ pengakuan (walau bohong) dari
orang yang terkena akibat.
 
Lebih aneh lagi, umat
Islam sedunia ini sekarang sedang dilindas oleh ajaran bahkan hukum sekuler
yang sangat mendiskriminasikan bahkan tidak membolehkan berlakunya hukum Islam,
bahkan untuk masyarakat muslim sendiri pun; namun tidak ada secuil ungkapan
dari orang Paramadina –selaku orang yang masih mengaku diri mereka muslim—
keberatan atas sikap menekannya hukum sekuler itu. Kenapa yang dikecam justru
Imam Syafi’I yang hukum fiqih produknya tidak dalam kondisi diterapkan (sampai
hanya khusus di kalangan Muslimin bermadzhab Syafi’I pun tidak) masih pula
dikecam-kecam, hanya untuk membela kaum kafir? Padahal kondisi sekarang, kaum
kafir bukannya jadi dzimmi tetapi justru di dunia ini jadi penguasa dhalim.
Jadi kalau bicara kontekstual dengan keadaan, apakah Paramadina ini bicaranya
kontekstual? Ya, kontekstual, yaitu dalam hal menyuarakan suara kafirin!!!
Hanya saja terbalik. Kalau slogan yang lumrah, biasanya adalah membela yang
tertindas, tetapi ini justru sebaliknya, membela yang menindas. Ada apa?
 
Nah tuh pembelaan mas
akmal terlalu lembut khan, mending saya mengutip buku menangkal JIL & FLA, 
lebih keren  lho! 


2 hal ini kan berkaitan dengan teknis, apakah akmal dan anda sudah membaca
buku tersebut? Yang kedua apakah akmal punya persoalan dalam memahami teks
jika ternyata yang ada kritik bukan hujatan.

++kritik bisa jg jd hujatan tergantung bagaimana
kita menyingkapinya toh, bukan bgitu saudaraku? Oh iya saudaraku, tanya saja
kpd mas akmal, ada tuh multiplynya. Ga usah teriak2 di luar ring deh, langsung
aja pake sarung tinjunya, masuk ring, gampang khan saudaraku?


Jika ternyata setelah anda baca, ternyata Cuma seorang penulis yang membahas
metodologi imam syafe'i apakah yang dilakukan akmal bukan fitnah dengan
mengatakan para penulis?

++hehe buku ini ditulis keroyokan atas nama beberapa orang, masa’
apa yg tertulis di buku tsb hanya tanggungjawab orang-perorang, wah termasuk
SDM nih, selamatkan diri masing-masing.


Jika ternyata, setelah anda baca, ternyata yang dilakukan penulis tersebut
kritik terhadap metodologi imam syafe'i, bukan menghujat imam syafe'i, juga
apakah itu bukan fitnah?

++wah lebih dari itu saudaraku, kata2nya sinis bgt, menyebut
imam syafii aja dg kata ‘syafi’I’, sopan ya? Imam syafii dan metodologinya
dihujat oleh sekumpulan orang yg tdk jelas metodologinya, apa masuk akal? 
Terlebih
lg, mereka ini sinis bgt dg jihad seolah2 jijik dg kata-kata jihad, persis bgt
dg suara orientalis bule, bukan bgitu saudaraku?
 

Apakah anda akan ittiba (ikut) pandangan seseorang yang ternyata suka
memfitnah? Apakah fitnah tidak bertentangan dengan Al-quran dan sunnah
sebagaimana anda katakan anda tidak akan mengikuti pandangan orang yang
bertentangan dengan alquran dan sunnah?

++saudaraku bisa aja deh, buku ini fiqih lintas agama
jelas fitnah (ujian) bagi umat islam, utk merapatkan barisan dari celotehan
orang-orang yg merasa tinggi ilmunya dg menggunakan metodologi awut-awutan 
sampai
tega berkata tdk sopan thd ulama selevel imam syafii. Umat islam tdk butuh
fiqih lintas agama, menurut saudaraku apakah umat agama lain butuh buku fiqih 
lintas
agama ini? jika butuh kasih aja, gratis!
Saya ittiba thd Alquran
& Assunnah, seharusnya perkataan saudaraku ini digunakan pula utk diri
sendiri, darimana perkataan iblis akan msk surga tertinggi? Dari Alquran &
asSunnah? Atau dari iblis? Terserah saudaraku mau ittiba thd apa & kpd siapa.

Itu baru soal kecil, soal teknis membaca saja. Belum masuk pada substansi
pemikiran hamka, abu zaid atau an'na'im dll yang sering disebut-sebut
anda/akmal. 


++memang membaca diperintahkan oleh Alquran, tp
bukan berarti kita bebas membaca apa saja. Akal & nurani digunakan utk 
menyortir setiap bacaan. Ingat bacaan adalah lebih berpengaruh thd teman 
sejawat. Membaca stensilan jelas terlarang.
Tentunya membaca buku dg metodologi awut-awutan jg tidak akan ada manfaatnya.
Saya tdk butuh stensilan, spt saya jg tdk butuh buku fiqih lintas agama.
MEmbaca? Hobi saya tuch..


Begitu saudaraku...

++  begitulah soudaraku...


Salam,

++ wassalamualaikum,

Asnawi Ihsan

++ sipitung anak kampung suka naek ke atas pohon. 
_____ 

From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On Behalf
Of si pitung
Sent: 24 Juni 2008 14:20
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: [ppiindia] Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 3)

orang liberal emang hobi nyatut hehe..orangnye siy itu2 aje, dah ktauan dah
congornye

Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 3)
oleh: AKMAL

assalaamu'alaikum wr. wb.

Perdebatan
tentang Buya Hamka, atau lebih tepatnya kasus pencatutan nama Buya
Hamka oleh kader-kader pluralis, sebenarnya bisa memberikan efek
bumerang pada para pengusung pluralisme itu sendiri. Biasanya, antara
pluralisme dan hermeneutika itu setali tiga uang. Dengan kata lain :
orangnya yang itu-itu juga. 
Kasus pencatutan nama Buya Hamka ini menunjukkan betapa tidak
konsistennya para pengusung hermeneutika dengan ajaran hermeneutika itu
sendiri.
Mereka yang memuja hermeneutika
biasanya menggambarkan ilmu tersebut sebagai bentuk penafsiran yang
paling komprehensif. Sederhananya, menurut hermeneutika, sebuah teks
harus diselidiki berdasarkan latar belakang penulisnya. Kekacauan
terjadi ketika mereka 'memaksakan diri' untuk menerapkan hermeneutika
pada Al-Qur'an. Padahal, telah kita yakini bersama bahwa Al-Qur'an
adalah wahyu Allah SWT, bukan karangan Nabi Muhammad saw., bukan pula
hasil kongkalikong Khalifah Utsman bin 'Affan ra. Dengan
menggunakan hermeneutika, maka semua ajaran Al-Qur'an dianggap relatif
sesuai jamannya. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa seluruh (atau
sebagian) Al-Qur'an sudah usang dan tak bisa dipakai lagi.
Karena
hermeneutika, muncullah teori-teori 'liar'. Imam Syafii, misalnya,
dikenal sebagai ulama besar yang meletakkan dasar-dasar ushul fiqih yang
masih terpakai hingga sekarang. Di bawah 'tirani' hermeneutika,
Nasr Hamid Abu Zayd malah berkesimpulan bahwa Imam Syafii tidak lain
adalah ideolog Quraisy yang berusaha melestarikan hegemoni bangsanya
sendiri (yaitu klan Quraisy). Lebih jauh, para penulis buku Fiqih Lintas
Agama bahkan pernah menghujat Imam Syafii sebagai penyebab kebekuan dalam
ilmu fiqih masa kini. Padahal, umat Islam menghormati Imam Syafii sedemikian
rupa
tidak lain hanyalah karena ilmunya yang mendalam dan sangat
bermanfaat. Jika tak ada yang merevisi pemikiran Imam Syafii, itu
bukan karena adanya hegemoni Quraisy atau kesepakatan tak tertulis
untuk taqlid pada beliau, melainkan karena memang pemikiran
beliau sudah maju beberapa abad dari jamannya, dan kebetulan belum ada
yang merevisinya. Sebaliknya, Nasr Hamid Abu Zayd dan para penulis
buku Fiqih Lintas Agama sama sekali tidak menawarkan pola pikir yang
sebanding dengan warisan Imam Syafii.
Hermeneutika
adalah ilmu liar yang bisa seenaknya membentuk teori. Dalam
teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd, setiap ulama digambarkan seolah-olah
memiliki agenda politik tersembunyi. Ironisnya, tak pernah ada di
antara pengikut hermeneutika yang membedah agenda politik di balik
teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd. Itulah sebabnya para pengusung
hermeneutika sering disebut hipokrit oleh para cendekiawan Muslim..
Inkonsistensi
para pengusung hermeneutika terlihat jelas dalam kasus pencatutan nama
Buya Hamka. Mereka yang sering mencela 'tafsir literalis' ternyata
justru terjebak dalam lubang yang sama. Mereka hanya melakukan copy-paste
atas tulisan-tulisan Buya Hamka, kemudian menarik kesimpulan
berdasarkan pembacaan sekilas saja. Hal ini justru lebih memalukan
daripada 'tafsir literalis' terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Al-Qur'an
adalah bacaan sempurna yang berasal dari Kalam Allah SWT, sedangkan
Hamka hanyalah seorang manusia yang bisa salah dalam berkata-kata. 
Oleh karena itu, pembacaan literalis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an masih
lebih cerdas daripada pembacaan literalis terhadap penafsiran Buya
Hamka.
Lebih parahnya lagi, kutipan-kutipan yang
mereka cantumkan justru memberikan gambaran yang sangat timpang. 
Mengenai hal ini sudah dibahas dalam artikel Pernak-Pernik Perdebatan
Tentang Buya Hamka (Bag. 1). Secara akademis, hal ini sangat memalukan,
apalagi dilakukan oleh seorang cendekiawan sekelas Ahmad Syafii Maarif.
Artikel Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 2) menunjukkan
bahwa prinsip hermeneutika memang sama sekali tidak
digunakan oleh para pencatut dari kalangan pluralis. Mereka mengambil
sebagian penjelasan Buya Hamka, namun tidak menggunakan definisi yang
sama. Misalnya, mereka ambil penjelasan bahwa orang-orang Yahudi,
Nasrani dan Shabi'in juga bisa masuk surga, tapi lalai mengutip
penjelasan Hamka tentang ketiga nama agama tersebut. Sudah barang
tentu hasilnya sangat rancu. Mereka sama sekali tidak berusaha
mendekati pemikiran Buya Hamka, melainkan hanya sekedar copy-paste dan
menggunakan penafsiran liarnya sendiri.
Kasus
ini menunjukkan kepada kita bahwa hermeneutika adalah sebuah disiplin
ilmu yang sangat rapuh. Bahkan para pengusungnya pun tidak konsisten
dalam menggunakannya. Mereka terbiasa menggunakannya jika merasa
diuntungkan saja, kemudian meninggalkannya begitu saja dalam situasi
yang lain. Ayat-ayat Allah hendak mereka relatifkan sesuai tempat dan
jaman, sedangkan kata-kata manusia justru mereka telan bulat-bulat.
wassalaamu'alaikum wr.. wb.

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

 
Messages in this topic  (2)  Reply  (via web post)  | Start a new topic  
Messages | Links | Database 
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

MARKETPLACE

________________________________
Special offer for Yahoo! Groups  from Blockbuster! Get a free 1-month trial 
with no late fees or due dates.. 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group  | Yahoo! Groups Terms of Use  | Unsubscribe  
Recent Activity
        *  14
New MembersVisit Your Group  
Ads on Yahoo!
Learn more now.
Reach customers
searching for you.
Moderator Central
Yahoo! Groups
Get the latest news
from the team.
Yahoo! Groups
Everyday Wellness Zone
Check out featured
healthy living groups.
. 
__,_.._,___    


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke