orang liberal emang hobi nyatut hehe..orangnye siy itu2 aje, dah ktauan dah
congornye
Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 3)
oleh: AKMAL
assalaamu'alaikum wr. wb.
Perdebatan
tentang Buya Hamka, atau lebih tepatnya kasus pencatutan nama Buya
Hamka oleh kader-kader pluralis, sebenarnya bisa memberikan efek
bumerang pada para pengusung pluralisme itu sendiri. Biasanya, antara
pluralisme dan hermeneutika itu setali tiga uang. Dengan kata lain : orangnya
yang itu-itu juga.
Kasus pencatutan nama Buya Hamka ini menunjukkan betapa tidak
konsistennya para pengusung hermeneutika dengan ajaran hermeneutika itu
sendiri.
Mereka yang memuja hermeneutika
biasanya menggambarkan ilmu tersebut sebagai bentuk penafsiran yang
paling komprehensif. Sederhananya, menurut hermeneutika, sebuah teks
harus diselidiki berdasarkan latar belakang penulisnya. Kekacauan
terjadi ketika mereka 'memaksakan diri' untuk menerapkan hermeneutika
pada Al-Qur'an. Padahal, telah kita yakini bersama bahwa Al-Qur'an
adalah wahyu Allah SWT, bukan karangan Nabi Muhammad saw., bukan pula
hasil kongkalikong Khalifah Utsman bin 'Affan ra. Dengan
menggunakan hermeneutika, maka semua ajaran Al-Qur'an dianggap relatif
sesuai jamannya. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa seluruh (atau
sebagian) Al-Qur'an sudah usang dan tak bisa dipakai lagi.
Karena
hermeneutika, muncullah teori-teori 'liar'. Imam Syafii, misalnya,
dikenal sebagai ulama besar yang meletakkan dasar-dasar ushul fiqih yang masih
terpakai hingga sekarang. Di bawah 'tirani' hermeneutika,
Nasr Hamid Abu Zayd malah berkesimpulan bahwa Imam Syafii tidak lain
adalah ideolog Quraisy yang berusaha melestarikan hegemoni bangsanya
sendiri (yaitu klan Quraisy). Lebih jauh, para penulis buku Fiqih Lintas Agama
bahkan pernah menghujat Imam Syafii sebagai penyebab kebekuan dalam ilmu fiqih
masa kini. Padahal, umat Islam menghormati Imam Syafii sedemikian rupa
tidak lain hanyalah karena ilmunya yang mendalam dan sangat
bermanfaat. Jika tak ada yang merevisi pemikiran Imam Syafii, itu
bukan karena adanya hegemoni Quraisy atau kesepakatan tak tertulis
untuk taqlid pada beliau, melainkan karena memang pemikiran
beliau sudah maju beberapa abad dari jamannya, dan kebetulan belum ada
yang merevisinya. Sebaliknya, Nasr Hamid Abu Zayd dan para penulis
buku Fiqih Lintas Agama sama sekali tidak menawarkan pola pikir yang sebanding
dengan warisan Imam Syafii.
Hermeneutika
adalah ilmu liar yang bisa seenaknya membentuk teori. Dalam
teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd, setiap ulama digambarkan seolah-olah
memiliki agenda politik tersembunyi. Ironisnya, tak pernah ada di
antara pengikut hermeneutika yang membedah agenda politik di balik
teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd. Itulah sebabnya para pengusung
hermeneutika sering disebut hipokrit oleh para cendekiawan Muslim.
Inkonsistensi
para pengusung hermeneutika terlihat jelas dalam kasus pencatutan nama
Buya Hamka. Mereka yang sering mencela 'tafsir literalis' ternyata
justru terjebak dalam lubang yang sama. Mereka hanya melakukan copy-paste atas
tulisan-tulisan Buya Hamka, kemudian menarik kesimpulan
berdasarkan pembacaan sekilas saja. Hal ini justru lebih memalukan
daripada 'tafsir literalis' terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Al-Qur'an
adalah bacaan sempurna yang berasal dari Kalam Allah SWT, sedangkan
Hamka hanyalah seorang manusia yang bisa salah dalam berkata-kata.
Oleh karena itu, pembacaan literalis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an masih
lebih cerdas daripada pembacaan literalis terhadap penafsiran Buya
Hamka.
Lebih parahnya lagi, kutipan-kutipan yang
mereka cantumkan justru memberikan gambaran yang sangat timpang.
Mengenai hal ini sudah dibahas dalam artikel Pernak-Pernik Perdebatan Tentang
Buya Hamka (Bag. 1). Secara akademis, hal ini sangat memalukan, apalagi
dilakukan oleh seorang cendekiawan sekelas Ahmad Syafii Maarif.
Artikel Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 2) menunjukkan bahwa
prinsip hermeneutika memang sama sekali tidak
digunakan oleh para pencatut dari kalangan pluralis. Mereka mengambil
sebagian penjelasan Buya Hamka, namun tidak menggunakan definisi yang
sama. Misalnya, mereka ambil penjelasan bahwa orang-orang Yahudi,
Nasrani dan Shabi'in juga bisa masuk surga, tapi lalai mengutip
penjelasan Hamka tentang ketiga nama agama tersebut. Sudah barang
tentu hasilnya sangat rancu. Mereka sama sekali tidak berusaha
mendekati pemikiran Buya Hamka, melainkan hanya sekedar copy-paste dan
menggunakan penafsiran liarnya sendiri.
Kasus
ini menunjukkan kepada kita bahwa hermeneutika adalah sebuah disiplin
ilmu yang sangat rapuh. Bahkan para pengusungnya pun tidak konsisten
dalam menggunakannya. Mereka terbiasa menggunakannya jika merasa
diuntungkan saja, kemudian meninggalkannya begitu saja dalam situasi
yang lain. Ayat-ayat Allah hendak mereka relatifkan sesuai tempat dan
jaman, sedangkan kata-kata manusia justru mereka telan bulat-bulat.
wassalaamu'alaikum wr. wb.
[Non-text portions of this message have been removed]