Posting dari milis sebelah, semoga bermanfaat. 

Salam, 
Sidik 

Ketika kecil, saya bersekolah di sekolah negeri di Toulouse, sebuah
kota di selatan Prancis. Sudah tentu, ia adalah sekolah sekuler. Kami
tak pernah diajarkan berdoa sebelum belajar. Meski begitu, ada anak
Katolik yang selalu berdo'a sebelum memulai pelajaran.

Setiap tahun, ada kegiatan seminggu sekolah alam, di sebuah desa
terpencil di pegunungan Pyrénée. Ketika acara makan, sebagaimana di
kantin sekolah, ada kalanya disuguhkan makanan yang terbuat dari babi.
Sebagai satu-satunya anak muslim di kelas, saya dibebaskan tak makan
babi. Namun begitu, guru saya khawatir saya tak mendapat gizi yang
cukup. Karena itu, si koki harus memasak makanan spesial untuk
saya--sendirian--bilamana ia menyuguhkan makanan babi. Tentu, memiliki
satu muslim di kelas menjadi sangat merepotkan, khususnya untuk Ibu
Koki. Tapi, di sekolah sekuler tersebut, minoritas tak sekedar
dibiarkan menjalankan keyakinannya. Sebisa mungkin, sekolah memberi
kemudahan.

Saya rasa, inilah pengalaman kecil yang melandasi sikap toleran saya
hingga saat ini. Sebagai mayoritas, kita tak cukup hanya membiarkan
kelompok minoritas menjalankan keyakinannya. Sebagai mayoritas, kita
harus menunjukkan diri sebagai "kakak" yang melindungi "adik-adiknya"
yang lebih lemah. Saya selalu teringat tauladan nabi Muhammad yang,
konon, pernah membiarkan mesjid dipakai ibadah kaum nasrani. Saya
selalu berpegang pada sikap pemimpin seperti Yasser Arafat dan para
pemimpin Syiah di Irak yang mengikuti misa Natal untuk menunjukkan
penghormatan--sekaligus perlindungan--kepada kelompok minoritas.

Kirim email ke