mengamati kondisi Gerakan pramuka saat ini, mulai dari perkembangan pola 
pembinaannya, metode pendidikannya. Adakah yang salah?

mengapa belum juga dapat membantu mengatasi krisis bangsa (krisis budi pekerti) 
seperti yang di diskusikan di banyak tempat dalam kemasan " revitalisasi 
Gerakan Pramuka ". benarkah ada yang " vital " yang harus di benahi?
 apakah yang " vital " itu? jangan-jangan kita malah ga tahu apa, sehingga 
meskipun sudah di bahas kesana kemari dengan biaya yang tidak sedikit tetap 
saja ga ada hasil (kalaupun ada apakah sudah menyentuh ke yang " vital " tadi 
). Justru kadangkala kita lebih sibuk meributkan hal-hal yang sebenarnya bukan 
hal mendasar. Hal-hal yang paling penting yang harus kita pikirkan malah kurang 
dipikirkan.

proses pendidikan yang menurut saya paling penting di GP ini mulai tergusur 
karena kepentingan-kepentingan tertentu. Dan ketika ada sekelompok/ beberapa 
anggota yang mulai berani secara ekstrim memunculkan wacana baru, banyak 
pertentangan-pertentangan yang terjadi yang menurut saya itu wajar, karena 
disetiap perubahan selalu terjadi pertentangan diawalnya. banyak kisah-kisah 
yang membuktikan bahwa sebuah perubahan selalu menimbulkan pertentangan besar 
karena menggoyah sisi "kenyamanan". hal itu mengkin karena kita telah 
bertahun-tahun terkonstruksi untuk selalu berpikiran sempit, atau negatif 
duluan atau ngeblok duluan terhadap hal baru.  meskipun di mana-mana telah 
booming berbagai macam pelatihan dan buku tentang pendobrakan paradigma . 

kurang lebih 5 atau 10 tahun terakhir sudah mulai terjadi penurunan drastis 
oleh remaja terhadap GP. banyak yang menganggap pramuka " kuno " (padahal 
metode yang dilakukan selalu dikembangkan sesuai perkembangan jaman). sementara 
banyak yang berharap GP dapat menjadi solusi bagi negara dan para orang tua 
untuk membantu kaum muda menyalurkan minat, bakat dan ekspresinya agar lebih 
terarah dan terbina (tidak tersesat). sekali lagi Adakah yang salah?   

di Munas kali ini akan ada wacana baru yang sebenarnya sudah lama didambakan 
dan di wacanakan, tetapi tenggelam dengan berbagai masalah baru yang akhirnya 
terlupakan.  bagaimana kita membaca dan menganalisa wacana tersebut, 
dikembalikan ke masing-masing personal dan latar belakang pemahaman. sudah 
siapkah kita berubah dan menerima perubahan? 
 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke