wah gue udah tau lama nih ttg ini, kebetulan banyak teman kampus yg masuk sini dan akhirnya memilih hengkang ke tempat lain. hehee ckckckcck rumput tetangga memang lebih hijau ketimbang rumput sendiri yah???
2008/10/31 ratri setyorini <[EMAIL PROTECTED]> > ---------- Forwarded message ---------- > From: indah budiati <[EMAIL PROTECTED]> > Date: 2008/10/30 > Subject: Fwd: TRANS TV sebuah catatan ironi > To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] > > > > > ---------- Forwarded message ---------- > From: BII Card Sales MIS3 <[EMAIL PROTECTED]> > Date: 2008/10/22 > Subject: TRANS TV sebuah catatan ironi > To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] > > > > Ketika > > pertama kali aku main-main ke Trans TV di daerah Mampang, > > Jakarta > > Selatan, aku melihat ada sesuatu yang menarik. Saat itu aku > > duduk di > > Coffee Bean; (persis di kursi sebelah Julie Estelle yang > > keliatan > > suntuk nungguin Moreno yang sedang didapuk menjadi > > komentator liputan > > Balap Mobil F1 Trans7) sambil nungguin Prabu Revolusi. Dari > > kursiku, > > aku bisa memandang begitu banyak orang berseragam hitam > > hitam > > berseliweran di lobi utama Trans Corp. Dan aku melihat > > adanya > > kebanggaan di wajah mereka semua mengenakan seragam > > hitam-hitam itu. > > Kata salah seorang campers (camera-person) Jelang Sore yang > > aku kenal, > > tiap karyawan Trans akan merasa bahwa seragam mereka itulah > > yang > > mengikat hati mereka dan membuncahkan kebanggaan mereka > > menjadi > > karyawan Trans. Terutama bagi anak-anak baru. > > > > > > > > "Istilahnya, gak usah pake duit asal kamu pake tu > > seragam pasti bisa dah dipake buat ngelamar anak > > orang.." katanya. > > > > > > > > Aku sendiri melihat bahwa Trans TV memang memiliki citra > > yang sangat > > positif sebagai salah satu perusahaan yang paling dituju > > oleh lulusan > > S1 setelah mereka lulus kuliah. Masih ingat kan, program > > rekrutmen > > Trans TV bulan Januari 2007 yang masuk rekor MURI karena > > jumlah > > pesertanya yang mencapai lebih dari 100.000 pelamar..? Itu > > saja sudah > > menunjukkan betapa tinggi citra merek Trans TV di mata > > masyarakat > > Indonesia. Dengan demikian, mestinya orang-orang berseragam > > hitam-hitam > > yang aku lihat di lobi TransCorp memiliki kebanggaan yang > > besar bisa > > lolos seleksi dan bekerja di salah satu perusahaan idaman > > para pencari > > kerja. Paling tidak, itulah dugaanku semula.. > > > > > > > > Namun sejak akhir 2007, aku mendengar kabar bahwa banyak > > karyawan Trans > > TV yang sudah dan akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. > > Awal 2007, > > presenter-presenter handal Trans TV seperti Mohammad Rizky > > Hidayatullah, Tina Talissa, Afaf Bawazier, Budi Irawan, > > Hanum Rais, dan > > lain-lain sudah hengkang ke stasiun TV lain, pada akhir > > 2007 gelombang > > eksodus itu mengalir lagi. Jumlahnya tidak > > tanggung-tanggung. Dalam > > empat bulan hingga Desember 2007, jumlah presenter, > > reporter, campers, > > dan karyawan produksi Trans TV yang hengkang mencapai lebih > > dari 60 > > orang!! Dan yang hengkang bukanlah orang-orang > > sembarangan..!! 90% dari > > mereka yang hengkang adalah mereka yang memiliki dedikasi > > yang tinggi > > pada pekerjaan dan kinerja yang luar biasa. > > > > > > > > Mau contoh? > > > > > > > > Ratna Dumila, presenter cantik lulusan Fakultas Hukum UNAIR > > yang sudah > > digadang-gadang Chairul Tanjung menjadi ikon Trans TV > > bersama Prabu > > Revolusi, secara mendadak hengkang ke TV-One. Tidak hanya > > Mila, yang > > juga memutuskan ikut dalam gelombang eksodus itu termasuk > > juga > > presenter kesayangan pemirsa Trans TV Githa Nafeeza, Reza > > Prahadian > > (wartawan kepresidenan Trans TV), Divi Lukmansyah > > (Koordinator seluruh > > presenter Trans TV), Iwan Sudirwan (Kepala Divisi - boss > > besar seluruh > > program berita Trans TV), bahkan sampai produser Reportase > > Investigasi > > yang menghasilkan liputan-liputan luar biasa tentang tahu > > berbahan > > formalin, bakso daging tikus, atau obat-obatan daur ulang. > > Bayangkan > > kalau 60 orang dengan kualitas sehebat itu kemudian pindah > > dalam waktu > > yang hampir bersamaan..!! Dan gelombang eksodus itu bahkan > > masih > > berlanjut sampai Maret 2008, meskipun jumlah yang keluar > > tidak sebanyak > > tahun 2007. Tapi, bila ditotal, jumlah mereka yang > > memutuskan untuk > > hengkang dari Trans TV sejak tahun 2007 sampai dengan Maret > > 2008 > > mencapai hampir 100 orang. Buatku, itu suatu jumlah yang > > luar biasa..!!! > > > > > > > > Kedekatanku dengan beberapa reporter, presenter, dan > > campers Trans TV > > memungkinkan aku untuk bertanya-tanya pada mereka tentang > > apa yang > > sebenarnya terjadi. Mereka semua menyampaikan jawaban yang > > senada, > > yaitu bahwa mereka merasa bahwa Trans TV kurang memberikan > > penghargaan > > atas apa yang mereka lakukan buat perusahaan. Dedikasi dan > > loyalitas > > yang mereka berikan ternyata tidak disambut dengan sepadan > > oleh > > perusahaan. Hal ini membuat kebanyakan orang-orang terbaik > > Trans TV > > memilih untuk hengkang, meskipun kenyamanan atmosfir kerja > > di Trans TV > > masih belum bisa ditandingi oleh stasiun TV lainnya di > > Indonesia. > > > > > > > > Dengan informasi sebatas itu, saat itu aku masih > > bertanya-tanya. Karena > > menurutku, biasanya orang-orang media, apalagi yang > > memiliki kinerja > > yang bagus, kebanyakan lebih mementingkan kondisi kerja > > yang kondusif. > > Kenyamanan lingkungan kerja bagi pekerja profesi, biasanya, > > jauh lebih > > penting dibandingkan penghargaan, apalagi penghargaan > > berupa uang. > > Jadi, aku merasa bahwa mestinya ada hal lain yang membuat > > orang-orang > > terbaik Trans TV hengkang dan mencari pelabuhan baru pada > > waktu yang > > hampir bersamaan. > > > > > > > > Baru pada awal bulan lalu aku menemukan jawabnya. Dari > > perbincangan > > dengan beberapa orang teman Trans TV, aku menemukan sesuatu > > yang sangat > > menarik. Sekaligus mengherankan. Ternyata di antara Stasiun > > TV swasta > > nasional lain di Indonesia, Trans TV adalah stasiun TV yang > > menawarkan > > penghasilan PALING RENDAH. Bahkan, standar gaji Trans TV > > setara dengan > > standar gaji stasiun TV lokal seperti Banten-TV atau > > JTV..!! > > > > > > > > Ingat, program rekrutmen Trans TV Januari 2007 yang masuk > > MURI yang > > tadi sempat aku singgung? Mereka yang direkrut dari program > > itu > > menerima take home pay Rp 1.500.000,- plus uang makan Rp > > 10.000 per > > hari masuk. Pernah lihat iklan rekrutmen presenter, > > reporter, dan > > campers yang dilaksanakan di kampus-kampus di Surabaya > > (UNAIR), > > Yogyakarta (UPN), Bandung (UNPAD) pada bulan April 2008? > > Mereka yang > > lolos rekrutmen itu akan (masih rencana nih...) menerima > > take home pay > > Rp 1.700.000,- plus uang makan Rp 10.000 per hari masuk. > > Mereka yang > > memiliki jatah sebagai presenter acara di TV, seperti Prabu > > Revolusi > > (Reportase Sore dan Reportase Investigasi), Ryan > > Wiedaryanto (Reportase > > Sore dan Reportase Akhir Pekan), atau Sharah Aryo (Jelang > > Sore) lebih > > beruntung. Karena mereka juga mendapat honor presenter, > > yaitu kurang > > lebih Rp 70.000 untuk sekali tampil. > > > > > > > > Aku begitu kagetnya mendengar informasi itu. Terbayang > > olehku ketika > > aku ikut proses liputan Jelang Sore di Surabaya dan Bandung > > yang begitu > > melelahkan. Dan untuk itu hanya mendapat penghasilan > > segitu..?? > > Pantaskah..??? Gak usah bilang pantas atau tidak pantas > > deh. Cukupkah > > untuk hidup..??? Uang kos di daerah Mampang berkisar Rp > > 600.000 sebulan > > dengan fasilitas minimal dan langganan banjir, buat beli > > makan malam > > kurang lebih Rp 15.000 sekali makan di warung sederhana, > > belum buat > > beli pulsa HP, buat transpor ojek yang Rp 5000 dari tempat > > kos ke > > kantor Trans TV, buat sekedar jajan atau nonton kalo lagi > > malam > > mingguan. Berapa yang masih tersisa dan cukup untuk > > ditabung...??? > > > > > > > > Bukan cuma itu. Dari informasi itu pula, aku jadi tahu > > bahwa take home > > pay karyawan Trans TV yang sudah menduduki jabatan Produser > > sebuah > > program (yang notabene tinggal di Jakarta) ternyata masih > > lebih rendah > > dibandingkan take home pay rata-rata PNS dosen Universitas > > Airlangga..!!! > > > > > > > > Aku tak mampu berkata apa-apa. Karena aku jadi langsung > > tahu, sangat > > rasional kalau seorang presenter berita Trans TV yang sudah > > cukup > > senior dengan take home pay berkisar Rp 2,5 juta sampai 3 > > juta per > > bulan langsung memutuskan untuk pindah begitu ditawari oleh > > TV-One take > > home pay tiga kali lipatnya. Seorang presenter berita Trans > > TV dengan > > gaji sebesar Rp 2,5 - 3 juta sebulan masih punya kewajiban > > untuk turun > > ke lapangan melakukan liputan seharian penuh, kembali ke > > kantor untuk > > mengedit liputannya sekaligus melakukan VO (Voice Over atau > > Dubbing), > > lalu menyiapkan materi liputan besok atau bersiap-siap > > tampil > > menyajikan berita, dan baru pulang ke rumah pukul 21 untuk > > kembali > > masuk pukul 8 pagi esok harinya. > > > > > > > > Kebayang gak, gimana kehidupan presenter atau reporter > > Trans TV yang > > sudah berkeluarga..? Dengan jam kerja yang begitu panjang, > > deadline > > yang begitu ketat, dan penghasilan yang begitu seadanya, > > apa yang dapat > > mereka berikan dengan layak untuk istri dan anak mereka..? > > Seorang > > karyawan dengan loyalitas dan dedikasi tinggi sekalipun > > pasti akan > > terpaksa berpikir rasional dan menerima tawaran lain yang > > lebih > > manusiawi. Mungkin saja mereka tidak akan dapat merasakan > > suasana kerja > > yang senyaman di Trans TV, tapi aku yakin mereka akan dapat > > menerimanya > > (dengan terpaksa) demi tuntutan hidup yang harus mereka > > penuhi. > > > > > > > > Aku bisa memahami itu semua kini, mengapa begitu banyak > > orang-orang > > hebat Trans TV yang memilih untuk mencari tempat yang baru. > > Money is > > not everything, but sometimes without money everything is > > nothing.. > > Sangat manusiawi apabila mereka-mereka yang memiliki > > kinerja yang bagus > > dan dedikasi serta loyalitas yang tinggi harus takluk pada > > kebutuhan > > yang paling mendasar yaitu uang. > > > > > > > > Tapi, ada satu hal yang masih menggelitik pikiranku. Aku > > pernah membaca > > di majalah SWA pada edisi yang membahas tentang para > > eksekutif muda dan > > eksekutif yang diburu oleh headhunters (para pencari, > > pemburu, dan > > pembajak tenaga kerja level eksekutif dari perusahaan > > lain). Di artikel > > itu, tertulis bahwa dua pucuk pimpinan Trans TV, yaitu > > Ishadi SK dan > > Wishnutama adalah dua eksekutif yang menerima take home pay > > lebih dari > > Rp 100 juta per bulan. Mengingat struktur organisasi Trans > > TV yang > > cenderung flat, ketimpangan ini membuatku kembali > > bertanya-tanya.... > > > > > > > > sumber : > > > > http://transtvnews.blogspot.com/2008...tan-ironi.html > > > > Real T-hunt$ is from SPG's Hidden Place > > Regards, > > [image: foto.gif]Handitya. C. P > > *BII CARD SALES SUPPORT & M . I . S* > > BANK INTERNATIONAL INDONESIA > Plaza BII, Tower III Lt. 3 Card Center > > Jl. M.H Thamrin No. 51 > > Jakarta 10350, Indonesia > > [EMAIL PROTECTED] > > > > > *--- * > > > > > > -- > Best Regards, > Indah Budiati > Officer General Accounting > PT. Personel Alih Daya (PERSADA) > Jl. Taman Anggrek, Kemanggisan Jaya Jakarta Barat > HP : 085694184000, 021-30176497 > > > > > -- Inu Subakto Mail: [EMAIL PROTECTED] Ph : 02130591547 - 08161117800 ======================================== Diamond cannot be polished without friction. Gold cannot be purified without fire. Good people go through trials, but don't suffer. With that experience their life become better not bitter --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ ------------------------------------------------- Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ??? Mo posting, send email to [email protected] Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------------- -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
