Komentar Luky ini kurasa angin segar untuk diskusi2 agama di milis2 yg
rata2 sudah 'stale' karena ubyeg soal kristen-islam terus2an.

Padahal kristen, islam & yahudi yg bunuh2an dan pisoh2an tidak ada
habisnya itu terhitung masih family besar agama2 semitic, beda yg
didebat juga detail2 tidak penting sama sekali (doa madep kesana atau
kesini, nabi manusia atau anak dewa dlsb).

Dari sudut pandang agama2 lain - buddha misalnya disini -- maka debat2
agama semitic itu 'moot' (= tidak relevan sama sekali), jika dikaitkan
dengan 'tuhan pencipta alam semesta' segala (jika dikaitkan kekayaan
suatu agama, apalagi pribadi leadernya --> ya sangat relevan!)

Buddha pernah merupakan organized religion, yaitu di jaman Asoka di
India -- dan tidak lagi.  Jadi dari sisi politis, bisa dikatakan agama
ini sudah jauh lebih maju lagi daripada paus roma (katolik) yg sekarang
mulai 'trondhol' (=tidak diajeni lagi oleh kekuasaan politis) dari
tadinya sangat berkuasa.  Islam dan yahudi malah lebih terbelakang
lagi, jadi semua tokoh agamanya masih mimpi untuk 'memimpin dunia'.
Perlu 'di-trondholi' beberapa tahun lagi kedepan!

Dari sisi2 lain, melihat ke agama2 non-semit begini akan jauh lebih
mencerahkan -- pertanyaan ttg evangelisme misalnya (= menyebarkan
'kabar baik' ke kafir2 !) - konsep yg dikenal luas saat ini selalu
hanya konsep semitic.
Bagaimana dengan agama lain? atau kejawen (traditional spiritualisme ,
shamanism) ?

Aku melihat bahwa agama semitic 'juvenile' -- sama spt filsafat
Nietzche itu juvenile --- yaitu memberi emphasis yg terlalu besar pada
kekuatan dan pemikiran tidak matang, sama spt pemikiran teenager.

Teruskan saja.
jangan terjebak pada sisi ritual, semua agama - baik semitic maupun
tidak - mempunyai sisi 'bodoh2an' yaitu ritual hapalan --> mahayana. 
Lihatlan konsep dan inti ajaran, kayaknya yg mau dilakukan Luky ini. 
Jangan takut 'jadi kafir' - lakukan debat2 spt ini spt kalian
membicarakan politik atau berita tsunami.  Begitu pula para
spiritualist membicarakan agama, jangan spt pedagang membicarakan
bisnis!

[EMAIL PROTECTED]


= = = Original message = = =

Wah, Sdr.Ridwan ini masih tak mengerti juga PRINSIP ajaran Buddha 
yang berbeda dengan Islam, Kristen, Katolik, dsb (dalam bahasa 
Inggris, semuanya disebut penganut 'Abrahamic traditions'). Harus 
anda ketahui, mayoritas pemeluk Buddha itu masih tradisional 
(tercampur adat-istiadat Cina, Kong-Hu-Cu, tercampur dengan paham 
teologis dari Islam dan Kristen, dst). 
 
> Tanggapan pertama, ya jelas soal pernyataan "pengalaman sendiri" 
> diatas. Pernyataan yg sangat berani dari seorang yg percaya pada 
> hal2 non-material/non-fisikal. Sdr. Loekyh, sebagai seseorang yg 
> mempercayai ajaran Buddha tentu anda percaya betul soal 
> rebirth/inkarnasasi/lahir-ulang atau istilah yg anda gunakan 
> tumimbal lahir. Apakah anda percaya hal ini berdasarkan pengalaman 
> sendiri ? 
> Apakah kejadian lahir-ulang disadari oleh yg mengalaminya ? (anda 
yg 
> hidup di tahun 2005 ini apakah bisa tahu kejadian lahir-ulang2 
> sebelumnya, atau paling tidak lahir-ulang anda yg terakhir)

Tulisan saya berikut ini adalah contoh kepercayaan saya terhadap 
ajaran Buddha berdasarkan PENGALAMAN SENDIRI. Misalnya berbeda 
dengan ajaran agama orang tua yang ajarannya saya alami diberikan di 
sekolah dan di rumah, ajaran Buddha tidak berdasarkan DOGMA, 
kepercayaan membuta terhadap hal-hal material/non-fisikal. Saya  
tahu dari pengalaman sendiri bahwa banyak penganut ajaran Buddha di 
mailis ini yang tak bisa 100% sependapat dengan saya, tetapi umumnya 
mereka semua mengerti bahwa ajaran Buddha bukan dogma yang wajib 
dipercayai sehingga tak ada hukuman NERAKA bagi mereka yang tak 
mempercayainya atau hadiah SORGA bagi mereka yang mempercayainya. 
Lebih penting dari pengakuan adalah perbuatan, ucapan yang sejalan 
dengan pikiran.

Saya mempercayai ajaran Buddha bukan karena ajarannya yang non-
material/non-fisikal (ajaib, gaib, dsb, sesuatu yang saya anggap non-
sense), tetapi saya percaya pada keberadaan HUKUM UNIVERSAL yang 
mencakup hukum karma, hukum-hukum fisika, kimia, matematika, hukum-
hukum kesunyataan tentang hidup, dsb, yang pernah saya pelajari 
(alami) sendiri. Jadi kepercayaan saya tidak berdasarkan dogma, 
tetapi saya uji (sesuai pesan Siddharta) melalui renungan dan 
pengalaman sendiri (mis. menggunakan uji 'scientific' yang saya 
ketahui).

Tak semua hukum karma ini dapat dirumuskan dengan simbol-simbol 
matematis, rumus kimia atau hukum logika, tetapi orang yang mencapai 
Buddha telah mendalami (dengan pikiran/renungan sendiri) hukum-hukum 
kesunyataan mengenai alam dan kehidupan sehingga mampu mengerti 
hukum-hukum tsb. Semakin dekat kita pada pengertian yang benar, maka 
semakin banyak kita mengetahui hukum-hukum kesunyataan ini. 

Pada tulisan terdahulu, saya mengibaratkan hukum-hukum universal ini 
ibarat SOFTWARE dari dunia sedangkan fisiknya (tanah, air, pohon, 
mahluk-mahluk hidup, udara, dsb) adalah HARDWARE (Sebenarnya saya 
ingin membahas peran DIMENSI WAKTU, yang juga bagian dari dunia, 
tetapi nanti diskusinya terlalu komplikasi). Semuanya, sotfware dan 
hardware, seandainya dunia diciptakan, akan diciptakan bersama. 
Perbandingan yang saya kira pas juga berdasarkan pengalaman membaca-
baca sedikit tentang software-hardware komputer.

>> (Apalagi kalau hanya ucapan seorang bhiku atau seorang 
> > tokoh politik agama Buddha, mis. mereka yang punya jabatan di 
> > instansi pemerintah). Saya juga sudah berkali-kali menulis 
sebagai 
> > seorang berlatar belakang dan seseorang yang bekerja pada dunia 
> > sains dan matematika, kepercayaan saya terhadap ajaran-ajaran 
> > Buddhism harus saya uji secara 'scientific'. 
> 
> 
> Bagaimana anda menguji secara ilmiah kejadian lahir-
ulang/inkarnasi 
> yg dipercayai pada ajaran Buddha ? Kalau anda bisa, siapa tahu 
> model / metode pengujian ilmiah anda tsb bisa juga diadaptasi utk 
> menguji secara ilmiah konsep Trinitas dlm ajaran Kristen (yg 
> jangankan membingungkan orang2 non-Kristen, ada beberapa orang 
> Kristen pun yg saya kenal secara pribadi bingung soal ini sampai 
> pada taraf sulit utk mempercayai konsep tsb.)

Tulisan berikut berdasarkan pengalaman saya membaca buku pelajaran, 
buku ilmiah populer, menonton dokumenter (saya hampir tak pernah 
menonton filem/sinetron/drama).

Saya sudah menuliskannya bahwa suatu ajaran/'scientific' theory saya 
anggap benar jika bisa menjelaskan banyak hal (mis. fenomena-
fenomena alam). Kenapa anda bertanya lagi tentang hal di atas, 
karena saya sudah memberi contoh bagaimana para 'scientists' percaya 
pada sesuatu model orbit elektron mengelilingi inti atom suatu unsur 
walaupun tak mungkin (dengan alat modern pun) kita akan mampu 
melihat elektron. Coba baca sejarahnya (di mulai dari buku-buku 
General Chemistry misalnya), mulai dari teori Bohr tentang model 
atom hydrogen sampai akhirnya tercipta ilmu Quantum Mechanics 
berbasis probability (ilmu yang keberadaannya dipertanyakan oleh 
Einstein).

Walaupun tak mengetahui secara teknis, tetapi model penarikan 
kesimpulan seperti di atas digunakan oleh para 'scientists' di masa 
lalu yang percaya bahwa simpanse dalam pohon keluarga adalah yang 
terdekat dengan kita, bahwa kerangka telapak kaki sampai paha yang 
diketemukan adalah mahluk berjalan tegak, bahwa merokok menyebabkan 
kanker paru-paru (walaupun dulu mekanisme kimianya masih 
kontrovesial) dst. Sekarang, dengan teknologi DNA, teori-teori 
(bermacam-macam teori ini biasa disebut orang awam hanya satu teori: 
Teori Darwin) tersebut menjadi semakin kuat karena struktur DNA 
manusia dengan simpanse lebih dari 90% (saya lupa, mungkin sekitar 
95-97%) persis sama dengan manusia.

Satu contoh mengapa saya percaya ajaran Buddha sejajar dengan sains 
adlah pada doa-doanya selalu menyebut 'berbahagialah semua mahluk 
hidup' dan juga mengajarkan 'banyak alam di luar dunia kita' tempat 
di mana kita nanti tumimbal lahir. Jadi, ajaran Buddha tak terpusat 
atau hanya diperuntukkan bagi mahluk-mahluk hidup di bumi saja. Anda 
perlu tahu salah satu ajaran utama dari Buddhism adalah saling 
ketergantungan antara semua mahluk hidup dengan alam (saya yakin 
maksud Siddharta termasuk alam-alam di luar bumi). 

Hal di atas sangat cocok dengan astro-fisika yang mengajarkan pada 
kita bahwa bumi ini hanyalah sekian 0.0000...0001 (jutaan nol!) 
persen dari dunia/jagat raya. Sistem tata surya (dengan satu bintang 
matahari dikelilingi planet-planetnya, bumi, Mars, Jupiter, 
Saturnus, dsb), hanya satu sistem di dalam Galaksi Bima Sakti yang 
juga memiliki ratusan atau ribuan bintang-bintang dengan masing-
masing planetnya (selain matahari dengan planet-planetnya). Belum 
lagi ribuan galaxi-galaxi selain Bima Sakti. Saya bahkan percaya 
keberadaan alam lain di luar jagad raya (universe) kita.
 
> Anda tidak menyebut agama orang tua anda. Apa alasan anda tidak 
> percaya ? Kalau bukan Islam, saya ingin gunakan kesempatan ini utk 
> bertanya pada anda soal pandangan anda (yg saya anggap berlatar 
> belakang ajaran Buddha) thd ajaran Islam. Secara ajaran, bagaimana 
> ajaran Buddha menjelaskan kenyataan di dunia ini adanya ajaran yg 
> disebut dg ajaran Islam? dan kenytaan adanya buku yg disbut dg 
Quran 
> (yg oleh umat Islam dipercayai sbg kitab suci yg di"karang" oleh 
> Tuhan lalu diwahyukan oleh malaikat Jibril pada Nabi Muhammad).

Agama saya dahulu tak ada kaitannya dengan diskusi kita. Perlu anda 
ketahui, saya tak pernah menjelekkan penganut agama lain karena 
sesuai pengertian Buddhism yang saya terima, saya selalu berusaha 
mengukur orang lain bukan dari agamanya, tetapi dari perbuatannya.

> Tapi, kalau pemikiran2 yg anda tawarkan adalah spt pemikiran anda 
> soal mengapa ada orang2 yg cerdas didunia ini, saya kira tidak 
akan 
> ada yg banyak percaya. Spt anda sudah ketahui, yg pasti saya 
> menganggapnya sbg pemikiran "paling lucu" yg saya dengar minggu 
> lalu. Ya, maaf saja.

Saya tidak apa-apa kok jika anda tak percaya atau mengangap pendapat 
saya lucu, apalagi cara berpikir anda terikat pada 'Abrhamic 
traditions'. Salah satu ajaran utama Buddha (dengan tujuan 
mendapatkan pengertian yang benar) adalah melepaskan segala macam 
keterikatan duniawi, termasuk keterikatan kita pada satu tradisi 
(termasuk tradisi cara/kebiasaan berpikir). Bahkan kita dianjurkan 
tidak terikat pada hubungan keluarga (sebab keterikatan dengan 
keluarga membuat kita bersikap tak adil terhadap orang-orang yang 
bukan keluarga kita). Jadi jika kita menjadi bhiku, kita wajib 
secara eksplisi melepaskan semua keterikatan ini (tak boleh lagi 
mempunyai barang-barang pribadi).

> Tafsiran menarik, tapi anda belum menjelaskan soal tafsiran anda 
> soal Buddha Maitreya yg dikenal dlm ajaran Buddha dikenal sbg 
Buddha 
> yg akan datang. Yg akan datang bagaimana ? Mengapa harus akan 
> datang, tidak sekarang saja. 

Pengertian Buddha yang saya gambarkan adalah pengertian umum di 
kalangan umat Buddha, khususnya di kalangan Theravada. Saya tak 
percaya pada Buddha Maitreya sebagai sosok Buddha yang DIRAMALKAN 
akan datang. Info tentang Buddha Maitreya akan anda dapatkan jika 
anda mengunjungi salah satu vihara Maitreya atau mungkin dari salah 
satu umat Buddhis yang anggota milis di sini. 

Pertanyaan anda "Mengapa tidak sekarang saja ada Buddha?" 
menggambarkan cara berpikir 'Abrahamic traditions' di mana Tuhan 
bisa menurunkan seorang nabi kapan-kapan saja, jika Tuhan 
berkehendak. Menurut saya, seorang Buddha tak bisa diramal 
kedatangannya karena menjadi Buddha adalah hasil usaha sendiri. Anda 
bertanya, mengapa tidak sekarang saja saya menjadi Buddha? Jawab 
saya adalah "Masih belum mampu". Menjadi bikhu saja belum siap dan 
mampu, apalagi mencapai tingkat Buddha.

> Jadi kali ini saya tak tanggapi, tapi saya justru ingin tanya soal 
> konsepsi dimensi WAKTU dlm ajaran Buddha, termasuk kaitan dg 
> kejadian lahir-ulang (mis. apakah sebuah makhluk selalu ber-lahir-
> ulang ke masa depan, atau ada kemungkinan lahir-ulang nya ke masa 
> lampau, - semacam film serial Time Tunnel tahun 60an yg pada waktu 
> itu saya sering ikuti).

Konsep dimensi WAKTU sangat sulit ditangkap dan dijelaskan. Sebab 
tanpa dimensi waktu, pasangan kata-kata 'NANTI dan 
SEKARANG', 'SEBELUM dan SESUDAH', 'LAMA dan BARU', dst, tak punya 
arti (meaningless). Saya percaya bahwa keberadaan 'two-value logic' 
adalah akibat keberadaan DIMENSI WAKTU, walaupun sementara ini tak 
ada alat (rumus-rumus logika) yang bisa membuktikannya. Bisa jadi, 
alam setelah kematian adalah alam TANPA DIMNESI WAKTU. Jika benar, 
bisa saja seseorang setelah terlahir kembali ke bumi, akan lahir 
sebagai bayi di tahun 4 abad sebelum masehi. 

Akhirnya perlu anda ketahui, menurut ajaran Buddha, musuh utama dari 
kita adalah KEBODOHAN, bukan setan-setan atau jin yang menyamar 
sebagai bidadari :o). Sebab kebodohan inilah yang menghalangi kita 
untuk mencapai pengertian yang benar. Lagi pula, saya tak pernah 
mendengar konsep setan dalam ajaran Buddha. Jadi saya percaya konsep 
setan tak ada dalam ajaran Buddha, kecuali dalam cerita-cerita yang 
sudah sering ditulis dengan tambahan bumbu-bumbu tentang gangguan 
oleh para penggoda terhadap meditasi Siddharta sebelum mencapai 
penerangan sempurna.

Salam dari Loeky


___________________________________________________________
Sent by ePrompter, the premier email notification software.
Free download at http://www.ePrompter.com.


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard. 
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke