Dari semua komponen ajaran Buddhisme ada satu yg betul-betul ngak 
mungkin bisa diterima akal rasio yaitu

Reinkarnasi.. rebirth... Tumimbal lahir ngak dapat dijadikan pegangan 
kuat..

Bukti empirik era sekarang terpampang indikasi bahwa reinkarnasi 
adalah sebuah ajaran rekayasa belaka... 

kita ambil contoh:
Thailand dgn pemeluk mayoritas terlihat bukannya makin bermoral dari 
sejak berseminya Buddhism di wilayah tersebut.. malahan makin sekuler 
dan terhanyut dalam era liberal perilaku yg memusingkan thailant 
government yaitu AIDS, ALKOHOLISM, PELACURAN,dst yg mana jika kita 
berasumsi bahwa mestinya warga Thailand makin baik dari waktu ke 
waktu tersebab Lahir kembali ato reinkarnasi nyatanya terbukti makin 
bad attitude penuh dgn maksiat...

China pemeluk Budhisme terlihat ada kecenderungan liberal sekuler yg 
mana akan mengarah ke masyarakat terbuka dan permisif...

Sedang doktrin Buddhisme adalah bahwa Lahir kembali dgn tujuan 
pembaikan diri untuk mencapai tahap yg lebih tinggi dan Nirvana... 

Nyatanya hal itu tidak terjadi dan Reinkarnasi malahan 
berkecenderungan negatif....



Sang






--- In [email protected], babat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Komentar Luky ini kurasa angin segar untuk diskusi2 agama di milis2 
yg
> rata2 sudah 'stale' karena ubyeg soal kristen-islam terus2an.
> 
> Padahal kristen, islam & yahudi yg bunuh2an dan pisoh2an tidak ada
> habisnya itu terhitung masih family besar agama2 semitic, beda yg
> didebat juga detail2 tidak penting sama sekali (doa madep kesana 
atau
> kesini, nabi manusia atau anak dewa dlsb).
> 
> Dari sudut pandang agama2 lain - buddha misalnya disini -- maka 
debat2
> agama semitic itu 'moot' (= tidak relevan sama sekali), jika 
dikaitkan
> dengan 'tuhan pencipta alam semesta' segala (jika dikaitkan kekayaan
> suatu agama, apalagi pribadi leadernya --> ya sangat relevan!)
> 
> Buddha pernah merupakan organized religion, yaitu di jaman Asoka di
> India -- dan tidak lagi.  Jadi dari sisi politis, bisa dikatakan 
agama
> ini sudah jauh lebih maju lagi daripada paus roma (katolik) yg 
sekarang
> mulai 'trondhol' (=tidak diajeni lagi oleh kekuasaan politis) dari
> tadinya sangat berkuasa.  Islam dan yahudi malah lebih terbelakang
> lagi, jadi semua tokoh agamanya masih mimpi untuk 'memimpin dunia'.
> Perlu 'di-trondholi' beberapa tahun lagi kedepan!
> 
> Dari sisi2 lain, melihat ke agama2 non-semit begini akan jauh lebih
> mencerahkan -- pertanyaan ttg evangelisme misalnya (= menyebarkan
> 'kabar baik' ke kafir2 !) - konsep yg dikenal luas saat ini selalu
> hanya konsep semitic.
> Bagaimana dengan agama lain? atau kejawen (traditional 
spiritualisme ,
> shamanism) ?
> 
> Aku melihat bahwa agama semitic 'juvenile' -- sama spt filsafat
> Nietzche itu juvenile --- yaitu memberi emphasis yg terlalu besar 
pada
> kekuatan dan pemikiran tidak matang, sama spt pemikiran teenager.
> 
> Teruskan saja.
> jangan terjebak pada sisi ritual, semua agama - baik semitic maupun
> tidak - mempunyai sisi 'bodoh2an' yaitu ritual hapalan --> 
mahayana. 
> Lihatlan konsep dan inti ajaran, kayaknya yg mau dilakukan Luky 
ini. 
> Jangan takut 'jadi kafir' - lakukan debat2 spt ini spt kalian
> membicarakan politik atau berita tsunami.  Begitu pula para
> spiritualist membicarakan agama, jangan spt pedagang membicarakan
> bisnis!
> 
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> = = = Original message = = =
> 
> Wah, Sdr.Ridwan ini masih tak mengerti juga PRINSIP ajaran Buddha 
> yang berbeda dengan Islam, Kristen, Katolik, dsb (dalam bahasa 
> Inggris, semuanya disebut penganut 'Abrahamic traditions'). Harus 
> anda ketahui, mayoritas pemeluk Buddha itu masih tradisional 
> (tercampur adat-istiadat Cina, Kong-Hu-Cu, tercampur dengan paham 
> teologis dari Islam dan Kristen, dst). 
>  
> > Tanggapan pertama, ya jelas soal pernyataan "pengalaman sendiri" 
> > diatas. Pernyataan yg sangat berani dari seorang yg percaya pada 
> > hal2 non-material/non-fisikal. Sdr. Loekyh, sebagai seseorang yg 
> > mempercayai ajaran Buddha tentu anda percaya betul soal 
> > rebirth/inkarnasasi/lahir-ulang atau istilah yg anda gunakan 
> > tumimbal lahir. Apakah anda percaya hal ini berdasarkan 
pengalaman 
> > sendiri ? 
> > Apakah kejadian lahir-ulang disadari oleh yg mengalaminya ? (anda 
> yg 
> > hidup di tahun 2005 ini apakah bisa tahu kejadian lahir-ulang2 
> > sebelumnya, atau paling tidak lahir-ulang anda yg terakhir)
> 
> Tulisan saya berikut ini adalah contoh kepercayaan saya terhadap 
> ajaran Buddha berdasarkan PENGALAMAN SENDIRI. Misalnya berbeda 
> dengan ajaran agama orang tua yang ajarannya saya alami diberikan 
di 
> sekolah dan di rumah, ajaran Buddha tidak berdasarkan DOGMA, 
> kepercayaan membuta terhadap hal-hal material/non-fisikal. Saya  
> tahu dari pengalaman sendiri bahwa banyak penganut ajaran Buddha di 
> mailis ini yang tak bisa 100% sependapat dengan saya, tetapi 
umumnya 
> mereka semua mengerti bahwa ajaran Buddha bukan dogma yang wajib 
> dipercayai sehingga tak ada hukuman NERAKA bagi mereka yang tak 
> mempercayainya atau hadiah SORGA bagi mereka yang mempercayainya. 
> Lebih penting dari pengakuan adalah perbuatan, ucapan yang sejalan 
> dengan pikiran.
> 
> Saya mempercayai ajaran Buddha bukan karena ajarannya yang non-
> material/non-fisikal (ajaib, gaib, dsb, sesuatu yang saya anggap 
non-
> sense), tetapi saya percaya pada keberadaan HUKUM UNIVERSAL yang 
> mencakup hukum karma, hukum-hukum fisika, kimia, matematika, hukum-
> hukum kesunyataan tentang hidup, dsb, yang pernah saya pelajari 
> (alami) sendiri. Jadi kepercayaan saya tidak berdasarkan dogma, 
> tetapi saya uji (sesuai pesan Siddharta) melalui renungan dan 
> pengalaman sendiri (mis. menggunakan uji 'scientific' yang saya 
> ketahui).
> 
> Tak semua hukum karma ini dapat dirumuskan dengan simbol-simbol 
> matematis, rumus kimia atau hukum logika, tetapi orang yang 
mencapai 
> Buddha telah mendalami (dengan pikiran/renungan sendiri) hukum-
hukum 
> kesunyataan mengenai alam dan kehidupan sehingga mampu mengerti 
> hukum-hukum tsb. Semakin dekat kita pada pengertian yang benar, 
maka 
> semakin banyak kita mengetahui hukum-hukum kesunyataan ini. 
> 
> Pada tulisan terdahulu, saya mengibaratkan hukum-hukum universal 
ini 
> ibarat SOFTWARE dari dunia sedangkan fisiknya (tanah, air, pohon, 
> mahluk-mahluk hidup, udara, dsb) adalah HARDWARE (Sebenarnya saya 
> ingin membahas peran DIMENSI WAKTU, yang juga bagian dari dunia, 
> tetapi nanti diskusinya terlalu komplikasi). Semuanya, sotfware dan 
> hardware, seandainya dunia diciptakan, akan diciptakan bersama. 
> Perbandingan yang saya kira pas juga berdasarkan pengalaman membaca-
> baca sedikit tentang software-hardware komputer.
> 
> >> (Apalagi kalau hanya ucapan seorang bhiku atau seorang 
> > > tokoh politik agama Buddha, mis. mereka yang punya jabatan di 
> > > instansi pemerintah). Saya juga sudah berkali-kali menulis 
> sebagai 
> > > seorang berlatar belakang dan seseorang yang bekerja pada dunia 
> > > sains dan matematika, kepercayaan saya terhadap ajaran-ajaran 
> > > Buddhism harus saya uji secara 'scientific'. 
> > 
> > 
> > Bagaimana anda menguji secara ilmiah kejadian lahir-
> ulang/inkarnasi 
> > yg dipercayai pada ajaran Buddha ? Kalau anda bisa, siapa tahu 
> > model / metode pengujian ilmiah anda tsb bisa juga diadaptasi utk 
> > menguji secara ilmiah konsep Trinitas dlm ajaran Kristen (yg 
> > jangankan membingungkan orang2 non-Kristen, ada beberapa orang 
> > Kristen pun yg saya kenal secara pribadi bingung soal ini sampai 
> > pada taraf sulit utk mempercayai konsep tsb.)
> 
> Tulisan berikut berdasarkan pengalaman saya membaca buku pelajaran, 
> buku ilmiah populer, menonton dokumenter (saya hampir tak pernah 
> menonton filem/sinetron/drama).
> 
> Saya sudah menuliskannya bahwa suatu ajaran/'scientific' theory 
saya 
> anggap benar jika bisa menjelaskan banyak hal (mis. fenomena-
> fenomena alam). Kenapa anda bertanya lagi tentang hal di atas, 
> karena saya sudah memberi contoh bagaimana para 'scientists' 
percaya 
> pada sesuatu model orbit elektron mengelilingi inti atom suatu 
unsur 
> walaupun tak mungkin (dengan alat modern pun) kita akan mampu 
> melihat elektron. Coba baca sejarahnya (di mulai dari buku-buku 
> General Chemistry misalnya), mulai dari teori Bohr tentang model 
> atom hydrogen sampai akhirnya tercipta ilmu Quantum Mechanics 
> berbasis probability (ilmu yang keberadaannya dipertanyakan oleh 
> Einstein).
> 
> Walaupun tak mengetahui secara teknis, tetapi model penarikan 
> kesimpulan seperti di atas digunakan oleh para 'scientists' di masa 
> lalu yang percaya bahwa simpanse dalam pohon keluarga adalah yang 
> terdekat dengan kita, bahwa kerangka telapak kaki sampai paha yang 
> diketemukan adalah mahluk berjalan tegak, bahwa merokok menyebabkan 
> kanker paru-paru (walaupun dulu mekanisme kimianya masih 
> kontrovesial) dst. Sekarang, dengan teknologi DNA, teori-teori 
> (bermacam-macam teori ini biasa disebut orang awam hanya satu 
teori: 
> Teori Darwin) tersebut menjadi semakin kuat karena struktur DNA 
> manusia dengan simpanse lebih dari 90% (saya lupa, mungkin sekitar 
> 95-97%) persis sama dengan manusia.
> 
> Satu contoh mengapa saya percaya ajaran Buddha sejajar dengan sains 
> adlah pada doa-doanya selalu menyebut 'berbahagialah semua mahluk 
> hidup' dan juga mengajarkan 'banyak alam di luar dunia kita' tempat 
> di mana kita nanti tumimbal lahir. Jadi, ajaran Buddha tak terpusat 
> atau hanya diperuntukkan bagi mahluk-mahluk hidup di bumi saja. 
Anda 
> perlu tahu salah satu ajaran utama dari Buddhism adalah saling 
> ketergantungan antara semua mahluk hidup dengan alam (saya yakin 
> maksud Siddharta termasuk alam-alam di luar bumi). 
> 
> Hal di atas sangat cocok dengan astro-fisika yang mengajarkan pada 
> kita bahwa bumi ini hanyalah sekian 0.0000...0001 (jutaan nol!) 
> persen dari dunia/jagat raya. Sistem tata surya (dengan satu 
bintang 
> matahari dikelilingi planet-planetnya, bumi, Mars, Jupiter, 
> Saturnus, dsb), hanya satu sistem di dalam Galaksi Bima Sakti yang 
> juga memiliki ratusan atau ribuan bintang-bintang dengan masing-
> masing planetnya (selain matahari dengan planet-planetnya). Belum 
> lagi ribuan galaxi-galaxi selain Bima Sakti. Saya bahkan percaya 
> keberadaan alam lain di luar jagad raya (universe) kita.
>  
> > Anda tidak menyebut agama orang tua anda. Apa alasan anda tidak 
> > percaya ? Kalau bukan Islam, saya ingin gunakan kesempatan ini 
utk 
> > bertanya pada anda soal pandangan anda (yg saya anggap berlatar 
> > belakang ajaran Buddha) thd ajaran Islam. Secara ajaran, 
bagaimana 
> > ajaran Buddha menjelaskan kenyataan di dunia ini adanya ajaran yg 
> > disebut dg ajaran Islam? dan kenytaan adanya buku yg disbut dg 
> Quran 
> > (yg oleh umat Islam dipercayai sbg kitab suci yg di"karang" oleh 
> > Tuhan lalu diwahyukan oleh malaikat Jibril pada Nabi Muhammad).
> 
> Agama saya dahulu tak ada kaitannya dengan diskusi kita. Perlu anda 
> ketahui, saya tak pernah menjelekkan penganut agama lain karena 
> sesuai pengertian Buddhism yang saya terima, saya selalu berusaha 
> mengukur orang lain bukan dari agamanya, tetapi dari perbuatannya.
> 
> > Tapi, kalau pemikiran2 yg anda tawarkan adalah spt pemikiran anda 
> > soal mengapa ada orang2 yg cerdas didunia ini, saya kira tidak 
> akan 
> > ada yg banyak percaya. Spt anda sudah ketahui, yg pasti saya 
> > menganggapnya sbg pemikiran "paling lucu" yg saya dengar minggu 
> > lalu. Ya, maaf saja.
> 
> Saya tidak apa-apa kok jika anda tak percaya atau mengangap 
pendapat 
> saya lucu, apalagi cara berpikir anda terikat pada 'Abrhamic 
> traditions'. Salah satu ajaran utama Buddha (dengan tujuan 
> mendapatkan pengertian yang benar) adalah melepaskan segala macam 
> keterikatan duniawi, termasuk keterikatan kita pada satu tradisi 
> (termasuk tradisi cara/kebiasaan berpikir). Bahkan kita dianjurkan 
> tidak terikat pada hubungan keluarga (sebab keterikatan dengan 
> keluarga membuat kita bersikap tak adil terhadap orang-orang yang 
> bukan keluarga kita). Jadi jika kita menjadi bhiku, kita wajib 
> secara eksplisi melepaskan semua keterikatan ini (tak boleh lagi 
> mempunyai barang-barang pribadi).
> 
> > Tafsiran menarik, tapi anda belum menjelaskan soal tafsiran anda 
> > soal Buddha Maitreya yg dikenal dlm ajaran Buddha dikenal sbg 
> Buddha 
> > yg akan datang. Yg akan datang bagaimana ? Mengapa harus akan 
> > datang, tidak sekarang saja. 
> 
> Pengertian Buddha yang saya gambarkan adalah pengertian umum di 
> kalangan umat Buddha, khususnya di kalangan Theravada. Saya tak 
> percaya pada Buddha Maitreya sebagai sosok Buddha yang DIRAMALKAN 
> akan datang. Info tentang Buddha Maitreya akan anda dapatkan jika 
> anda mengunjungi salah satu vihara Maitreya atau mungkin dari salah 
> satu umat Buddhis yang anggota milis di sini. 
> 
> Pertanyaan anda "Mengapa tidak sekarang saja ada Buddha?" 
> menggambarkan cara berpikir 'Abrahamic traditions' di mana Tuhan 
> bisa menurunkan seorang nabi kapan-kapan saja, jika Tuhan 
> berkehendak. Menurut saya, seorang Buddha tak bisa diramal 
> kedatangannya karena menjadi Buddha adalah hasil usaha sendiri. 
Anda 
> bertanya, mengapa tidak sekarang saja saya menjadi Buddha? Jawab 
> saya adalah "Masih belum mampu". Menjadi bikhu saja belum siap dan 
> mampu, apalagi mencapai tingkat Buddha.
> 
> > Jadi kali ini saya tak tanggapi, tapi saya justru ingin tanya 
soal 
> > konsepsi dimensi WAKTU dlm ajaran Buddha, termasuk kaitan dg 
> > kejadian lahir-ulang (mis. apakah sebuah makhluk selalu ber-lahir-
> > ulang ke masa depan, atau ada kemungkinan lahir-ulang nya ke masa 
> > lampau, - semacam film serial Time Tunnel tahun 60an yg pada 
waktu 
> > itu saya sering ikuti).
> 
> Konsep dimensi WAKTU sangat sulit ditangkap dan dijelaskan. Sebab 
> tanpa dimensi waktu, pasangan kata-kata 'NANTI dan 
> SEKARANG', 'SEBELUM dan SESUDAH', 'LAMA dan BARU', dst, tak punya 
> arti (meaningless). Saya percaya bahwa keberadaan 'two-value logic' 
> adalah akibat keberadaan DIMENSI WAKTU, walaupun sementara ini tak 
> ada alat (rumus-rumus logika) yang bisa membuktikannya. Bisa jadi, 
> alam setelah kematian adalah alam TANPA DIMNESI WAKTU. Jika benar, 
> bisa saja seseorang setelah terlahir kembali ke bumi, akan lahir 
> sebagai bayi di tahun 4 abad sebelum masehi. 
> 
> Akhirnya perlu anda ketahui, menurut ajaran Buddha, musuh utama 
dari 
> kita adalah KEBODOHAN, bukan setan-setan atau jin yang menyamar 
> sebagai bidadari :o). Sebab kebodohan inilah yang menghalangi kita 
> untuk mencapai pengertian yang benar. Lagi pula, saya tak pernah 
> mendengar konsep setan dalam ajaran Buddha. Jadi saya percaya 
konsep 
> setan tak ada dalam ajaran Buddha, kecuali dalam cerita-cerita yang 
> sudah sering ditulis dengan tambahan bumbu-bumbu tentang gangguan 
> oleh para penggoda terhadap meditasi Siddharta sebelum mencapai 
> penerangan sempurna.
> 
> Salam dari Loeky
> 
> 
> ___________________________________________________________
> Sent by ePrompter, the premier email notification software.
> Free download at http://www.ePrompter.com.
> 
> 
>               
> __________________________________ 
> Do you Yahoo!? 
> Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard. 
> http://promotions.yahoo.com/new_mail





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke