Panjang dan menarik. 

Bicara soal Gestapu / Gestok memang bisa berpanjang-panjang 
dan selalu menarik ketika tiba di salahsatu simpul peristiwa 
yakni, pembunuhan jendral-jendral Angkatan Darat. Demi 
menyingkap sejarah, seabrek buku bisa saja ditulis untuk 
mengulas fragmen satu ini. Baik mengenai sebab-musabab 
dibunuhnya para jendral, strategi menculik mereka, bahkan 
teknik membunuhnya. Ambil contoh, dalam tulisan ini saja ada 
disinggung mengenai sebab-musabab pembunuhan para jendral: 

> 
> - Pembunuhan para jendral (Ahmad Yani, Suparman, Tendean, dst) 
> adalah dikarenakan mereka menolak melepas prinsip non blok dan 
> menolak untuk berpihak pada regim Soehato/USA. 

Terlepas apakah itu satu-satunya atau hanya salahsatu penyebab 
mereka dibunuh, yang jelas belum kita temukan adanya tulisan 
yang membahas akibat dari kematian para jendral itu terhadap 
sejarah Indonesia. Khususnya yang timbul dari gelar kepahlawanan 
yang disandangkan ke pundak para jendral. Dan, tulisan panjang ini 
rupanya ikut mengacaukan jalannya sejarah dengan menyebut para 
jendral itu sebagai "Pahlawan Nasional": 

> 
> Â Â Â  Semua jalan raya disemua kota besar Indonesia diinstruksikan 
> untuk memakai nama para jendral Angkatan Darat yang terbunuh secara 
> konyol namun tragis (A. Yani, Panjaitan, dst.) dan mereka ini 
> digelari pahlawan nasional, 

Pertanyaannya, dari mana penulis meyakini A. Yani dkk digelari 
Pahlawan Nasional, dan kapan gelar itu diberikan? Sebab, sejauh 
amatan pribadi, belum pernah menemukan data resmi yang menyebut 
pemberian gelar "Pahlawan Nasional" kepada A. Yani dkk. 

Kepada A. Yani dkk (sepuluh orang; tujuh jendral AD, satu perwira 
menengah AD, satu perwira pertama AD, dan satu bintara Polisi), 
memang diberi Bintang Adipradana oleh pemerintahan Soekarno setelah 
mereka tewas dalam peristiwa Gestapu, tetapi tidak gelar Pahlawan 
Nasional. 

Satu-satunya gelar kepahlawanan yang diberikan kepada mereka (dan 
hanya dimikili kesepuluh orang tsb) adalah, "Pahlawan Revolusi". 

Sampai di sini silakan dilanjut upaya menyingkap "binatang" apakah 
gerangan Gestapu itu sampai bisa melahirkan begitu banyak "pahlawan 
revolusi" dalam satu malam. 

Betulkah itu sebuah revolusi? 

Revolusi apa / siapa? 

Pertanyaan terakhir ini menarik untuk dibahas dan dijawab mengingat angkatan 
belia (juga balita) sekarang akan terus mengunyah sejarah 
yang menyebut 10 serdadu itu sebagai "pahlawan revolusi". 

Jangan salahkan angkatan muda kalau mereka mengalami kerancuan 
dan menyangka badai Gestapu itulah yang dimaksud orang dengan 
REVOLUSI INDONESIA. 


--- MiRa <la_luta@...> wrote:

> http://sejarahrevolusi.wordpress.com/2012/02/16/tersingkapnya-tabir-g30s-1965-2/
> 
>  
> Tersingkapnya Tabir G30S /1965
> 
> 16 Feb
> 
> Pengantar
> 
> Indonesia sejak dulu hingga kini selalu menjadi incaran negara 
> asing untuk “dijajah” atau dijadikan negara boneka, contoh 
> negara asing misalnya: Inggris, Portugis, Belanda, Jepang, USA, 
> Singapore, Arab Saudi, dst. Alasan utama negara asing itu adalah: 
> geo politik yang baik, kaya raya sumber alam, subur sekali, kaya 
> akan laut yang berarti kaya akan ikan yang merupakan sumber pangan 
> yang luar biasa, kaya manusia shg baik untuk pasar/konsumsi, dan 
> alamnya indah sekali bak mutiara di katulistiwa, dst. Diera perang 
> dingin, antara tahun 1960 s/d 1965 Indonesia menjadi ajang 
> pertempuran antara kapitalis (USA) lawan komunis (Rusia, China). 
> Pada peristiwa G30S di tahun 1965, USA dkk. membackup militer dan 
> mahasiswa, Rusia membackup partai komunis. Di Indonesia yang menang 
> adalah USA dkk., di Vietnam yang menang Rusia. Otak penggulingan 
> Soekarno adalah CIA (USA) dengan operator lapangan adalah Soeharto 
> dibantu para oknum jendral TNI AD. Dengan dominasi USA
> melalui SDM yang diwakili oleh mafia alumni West Point (sisi 
> militer) dan mafia alumni Berkeley (sisi sipil), maka mulai saat 
> itu Indonesia bagaikan syah menjadi negara boneka USA, seperti 
> boneka yang lain seperti: Syah Iran, Marcos, Mobutu Seseko, Raja 
> Faad, dst. Hubungan antara Amerika dengan Soeharto saat 1965 adalah 
> bagaikan hubungan antara majikan (atau dalang) dengan pembunuh 
> bayaran (atau operator lapangan); hubungan ini sampai dengan saat 
> ini masih amat sangat dirahasiakan. Akibat konspirasi destruktip 
> ini, USA bagaikan mempunyai kartu As terhadapap Indonesia; apapun 
> kehendak USA boleh dikata harus dituruti oleh pemerintah Indonesia, 
> misal dalam hal kasus Free Port, tambang minyak blok Cepu, dan 
> kasus MOU Microsoft. Jadi, rahasia terbesar dan maha memalukan para 
> penguasa politik Indonesia saat ini ada ditelapak tangan pemerintah 
> Amerika! Oleh sebab itu, kalau semua keinginan USA tidak dituruti, 
> rahasia ini dapat mereka (USA) ungkapkan. Dan kalau
> diungkapkan, maka nasib fatal akan dialami oleh Soeharto dan para 
> oknum jendral TNI AD (plus mafia Berkeley); sebab ternyata mereka 
> ini adalah pengkianat negara terbesar sepanjang sejarah Indonesia, 
> konsekuensinya bangsa Indonesia barangkali akan menggantung 
> pengkianat ini tinggi2 di menara Monas Jakarta, dan nama harum 
> mereka akan hancur berantakan seketika itu. Mengingat regim 
> Soeharto masih mendominasi perpolitikan di Indonesia hingga kini 
> (hampir semua parpol disusupi oleh para oknum jendral TNI AD), maka 
> maha rahasia ini sulit dibongkar. Para jendral pengkianat bangsa 
> ini pada akhir hidupnya (yang tinggal beberapa tahun lagi, sudah 
> tua2 bangka) dihantui rasa kecemasan luar biasa, yaitu 
> terbongkarnya skandal mereka. Untuk menutup maha rahasia ini, PKI 
> dikambing hitamkan. G30S di tahu 1965 adalah pengkianatan para 
> oknum jendral TNI AD dibawah pimpinan Soeharto atas bangsanya, 
> bukan pengkianatan PKI. Kasus terakhir (awal Maret 2007) menandaskan
> kecemasan hidup para jendral ini, mereka melarang buku pelajaran 
> sejarah dari SD, SMP dan SMU, karena tidak memuat kata PKI. Tembok 
> Berlin runtuh, patung Kremlin tumbang, patung Sadam Husein rontok, 
> dan pada suatu ketika nanti tembok penghalang kebenaran sejarah ini 
> akan runtuh. Kata orang bijak: “Bau bangkai tidak dapat 
> disembunyikan terusmenerus.” Kapan runtuhnya rahasia G30S? 
> Tergantung pada kemauan dan kecerdasan bangsa Indonesia. Terutama 
> sivitas akademikanya, apakah mereka tetap ingin bodoh, membodohi 
> diri sendiri, atau dibodohi oleh para pengkianat bangsa serta tetap 
> tunduk-patuh pada mereka. Sangat disayangkan, anak2 Soekarno, para 
> korban tak bersalah 1965, dan bahkan partai sebesar PDIP tak mampu 
> mengunyah dan membeberkan maha rahasia ini! Padahal bila dominasi 
> perpolitikan Indonesia oleh para jendral pengkianat bangsa ini 
> dapat diakhiri secara cepat, maka percepatan perbaikan bangsa juga 
> akan mengalami kelipatan luar biasa, bagaikan habis
> gelap terbitlah terang! Berikut ini analisa kritis peristiwa G30S.
> 
> Jurus Indah Soeharto di Tahun 1965
> 
> - Bung Karno (BK) adalah seorang jenius yang disegani oleh dunia
> internasional di masa hidupnya. BK mempunyai visi sangat jauh 
> kedepan untuk Indonesia yakni Indonesia adalah: non blok, mandiri 
> (berdikari = berdiri diatas kaki sendiri), berkepribadian kuat, 
> berbasis Bhineka Tunggal Ika (pluralisme), serta berdasar 
> Pancasila, dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri 
> (semboyan BK: “Go to hell with your aids!”). Pada usia yang 
> masih muda (k.l. 30 tahun), Soekarno muda sudah berani menelorkan 
> gagasan “Indonesia Menggugat” didepan pengadilan Belanda. BK 
> juga sadar bahwa level pendidikan bangsanya saat itu rata2 masih 
> SMP, maka tidak mungkin memakai sistem demokrasi penuh, maka beliau 
> dengan bijak memilih menggunakan sistem demokrasi terpimpin.
> 
> - Super power dunia saat itu (1960 s/d 1980) adalah USA yang 
> kapitalis dan Rusia yang komunis. Kedua negara adidaya ini 
> terusmenerus menjadi sumber kekacauan/pergolakan (atau dalang 
> internasional) di banyak negara berkembang di Asia, Afrika dan 
> Amerika Latin. Indonesia dengan segala kelebihannya/kekayaan 
> alamnya jelas merupakan target perebutan hegemoni oleh kedua negara 
> adidaya tsb.
> 
> - Untuk menguasai Indonesia, USA dkk. dengan cerdik telah 
> menyiapkan SDM, kelompok SDM ini nantinya disebut sebagai Mafia 
> Berkeley (untuk intelektual sipil) dan Mafia West Points (untuk 
> mafia Angkatan Darat). Jendral Soeharto yang cerdas namun licik 
> mampu melihat adanya kemungkinan untuk menguasai Indonesia melalui 
> kupdeta militer yang merangkak. Maka Soeharto dkk. lalu melakukan 
> konspirasi dengan USA (via CIA) tuk menusuk bangsanya sendiri (Bung 
> Karno) di tahun 1965. Pada tahun 1965, Indonesia sedang dijadikan 
> ajang pertempuran ideologi antara USA dkk. melawan Rusia dkk. USA 
> dibelakang militer/AD dan mahasiswa, sedangkan Rusia/China 
> dibelakang PKI. Di Indonesia yang menang USA, di Vietnam yang 
> menang Rusia.
> 
> - Pembunuhan para jendral (Ahmad Yani, Suparman, Tendean, dst) 
> adalah dikarenakan mereka menolak melepas prinsip non blok dan 
> menolak untuk berpihak pada regim Soehato/USA. Selain itu, mereka 
> harus dihabisi Soeharto dkk. agar tidak menjadi pesaing/duri dalam 
> daging. Nasution yang dapat menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa 
> bergabung dengan Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi 
> presiden, dan Nasution menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia 
> dibawah regim militer (eksekutip dan legislatip dibawah militer) 
> dan menjadi negara boneka USA! Keterlibatan AS dalam kupdeta 
> militer yang merangkak di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak 
> ditulis. Semalam sebelum pembunuhan, Soeharto telah diberitahu oleh 
> Latief akan adanya aksi ini, namun ia tidak bertindak sama sekali. 
> Selain itu, para jendral itu harus dihabisi Soeharto dkk. agar 
> tidak menjadi pesaing/duri dalam daging. Nasution yang dapat 
> menyelamatkan diri, akhirnya terpaksa bergabung dengan
> Soeharto; pada akhirnya: Jendral Soeharto menjadi presiden, dan 
> Nasution menjadi ketua MPRS, mulai saat itu Indonesia dibawah regim 
> militer (eksekutip dan legislatip dibawah militer, sehingga tak 
> dapat disangkal lagi bahwa telah terjadi coup d’etat oleh TNI 
> AD!), dan Indonesia menjadi negara boneka USA! Pada era itu USA 
> banyak membuat negara boneka, baik di Asia, Timur Tengah, Amerika 
> Latin, dengan cara merekrut militer dan cendekiawannya. Amerika 
> pada saat itu boleh dikata pabrik negara boneka.
> 
> - Jendral Soeharto beserta para jendral TNI AD kemudian 
> memprovokasi/mendalangi massa NU (umat Islam, terutama di Jatim) 
> untuk membantai ratusan ribu massa PKI yang tak berdosa dan tidak 
> tahu menahu tentang politik di desa2 ditahun 1965, hal ini 
> dilakukan untuk menutupi coup detat angkatan darat sekaligus 
> mengkambinghitamkan PKI. Cara provokasi adalah dengan melarang 
> surat kabar umum beredar, dan hanya harian Angkatan Bersenjata dan 
> Berita Yudha (keduanya milik TNI AD) saja yang boleh beredar. Isi 
> beritanya sangat provokatip dan tendensius, misalnya pesta Gerwani 
> dan penyiksaan para jendral di Lubang Buaya; berita ini dibuat 
> untuk menjadikan PKI musuh bersama bangsa. Pembunuhan yang lebih 
> kejam lagi adalah “pembunuhan kemanusiaan” terhadap anak cucu 
> para anggota PKI yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat politik 
> dengan cara merintangi perkembangan kepribadian, emosi dan bisnis 
> mereka (alat2 pembunuh yang diciptakan misalnya: litsus dan S.K 
> bebas  G30S). Operator pembunuhan nasional ini adalah pasukan 
> KOPASUS/RPKAD. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang 
> meminta maaf atas kebiadaban umat NU dalam menjagal sesama anak 
> bangsa. Semenjak sukses adu domba ditahun 1965, maka hobi para 
> jendral TNI AD itu s/d sekarang masih diteruskan dengan banyaknya 
> kasus2 kerusuhan massa di berbagai daerah, misalnya: Tisakti, 
> Pembantaian Tionghoa, Ambon, Poso, Sampit, Banyuwangi-santet, dst. 
> (harap baca artikel2 dari George Aditjondro).
> 
> - Sukses dr. Mahar Mardjono “mempercepat hidup” Bung Karno 
> membuat ia dihadiahi jabatan tinggi yaitu Rektor Universitas 
> Indonesia (UI). Sejak saat itu, dimulailah konspirasi destruktip 
> segitiga antara UI â€" regim militer â€" USA, tak heran UI bangga 
> menyebut dirinya sebagai “kampus Orde Baru”. Penempatan 
> jendral AD, Nugroho Notosusanto, sebagai rektor UI menambah 
> gelapnya pendidikan dan sejarah di Indonesia; beliau mengenalkan 
> hari Kesaktian Pancasila dan wawasan almamater. Warna jaket GOLKAR 
> pun dibuat serupa dengan jaket UI yang kekuning-kuningan seperti 
> kotoran tai itu. Untuk mendominasi SDM Indonesia, USA telah 
> menancapkan alumni2nya, misalnya militer dari West Point dan sipil 
> dari Berkeley. Alumni militer USA disebut Mafia West Point 
> mendominasi TNI AD, alumni sipil dikenal sebagai Mafia Berkeley 
> (boleh juga disebut Mafia UI, sebab kebanyakan para dosen UI) 
> mendominasi pemerintahan terutama jabatan keuangan/finansial. Sejak 
> saat dimulainya konspirasi destruktip (jaman Mahar Mardjono) sampai 
> dengan saat ini (2007), UI boleh dikata “tempat lokalisasi 
> pelacur intelektual” (mirip lokalisasi WTS). Tempat subur bagi 
> intelektual yang mengabdikan dirinya bagi negara asing (USA/IMF) 
> dan bagi regim militer. Semenjak itu (sampai saat ini), regim ORBA 
> pasti menempatkan sivitas akademika UI pada jabatan yang strategis 
> tanpa memperhatikan moralitas! Kasus terakhir yang terungkap adalah 
> kasus KPU, dimana orang mulai menyangsikan apakah pemilu yang 
> dimenangkan SBY jujur dan adil? Peran sivitas akademika UI di 
> penyelewengan KPU sungguh luar biasa. Dengan dominasi USA melalui 
> SDM ini, maka Indonesia syah menjadi negara boneka USA, seperti 
> boneka yang lain: Syah Iran, Marcos, Mobutu Seseko, Raja Faad, dst. 
> Peran sivitas akademika UI terhadap kehancuran bangsanya sungguh 
> luar biasa, mereka harus melakukan pertobatan!
> 
> - Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘boneka 
> Indonesia’ ketangan USA dkk., hasil tangkapan pun dibagi. The 
> Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa 
> yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. 
> Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di 
> dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa 
> korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, 
> General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, 
> British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The 
> International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah 
> orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-
> ekonoom Indonesia yang top”. Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal 
> dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’ (yang kebanyakan dosen UI), 
> karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari 
> pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California 
> di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan 
> hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan 
> butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka 
> menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari 
> sumber daya alam … pasar yang besar.” Di halaman 39 ditulis: 
> “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi 
> sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata 
> Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, 
> yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, 
> Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. 
> ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu 
> kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, 
> perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh 
> Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan 
> kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para 
> investor lainnya.
> Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari 
> satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: 
> ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur 
> hukum untuk berinvestasi di Indonesia.
> 
> - Tusukan regim Soeharto atas bangsanya/Soekarno mengakibatkan 
> kekayaan alam Indonesia dari Sabang (LNG Arun) s/d Merauke (Free 
> Port ) jatuh ketangan negara Barat terutama USA. Regim militer 
> dibawah Soeharto bersama USA dan negara barat lainnya bagaikan 
> merampok Indonesia (diawal kejayaan Soeharto), misalnya penguasaan 
> konsesi tambang2: Freeport, Caltex, LNG Arun, dst; jadi penguasa 
> kekayaan alam dari Sabang sampai dengan Merauke adalah negara asing 
> lewat agennya di Jakarta. Juga lewat IMF dan world bank, USA 
> menguasai finansial, Indonesia mulai dijajah ekonominya dengan 
> dijerat hutang, Jakarta lalu menjadi akditip terhadap hutang, 
> strategi gali-tutup hutang dilakukan, pejabat penanda tangan hutang 
> tentu saja mendapat komisi, inilah yang membuat para petinggi 
> Indonesia kecanduan berhutang! Regim ORBA sungguh2 menggadaikan 
> negara ini ke negara asing! Boleh dikatakan bahwa 1/3 kekayaan alam 
> Indonesia jatuh ketangan asing, 1/3 nya lagi jatuh ketangan para
> penguasa hitam terutama di Jakarta (birokrat, politisi, jendral 
> AD/POLRI, dan konglomerat hitam), dan hanya 1/3 sisanya saja yang 
> menjadi sumber APBN kita! Maka benarlah bahwa pemilik kekayaan alam 
> Indonesia itu bukan manusia lokal seperti Dayak, Riau, Aceh, dan 
> Irian, melainkan negara adidaya dan para oknum pejabat pusat di 
> Jakarta. Tidak heran kalau mereka (masyarakat luar Jawa) 
> berkeinginan melepaskan diri dari Indonesia sebab mereka tetap 
> miskin, bagaikan anak ayam mati dilumbung padi!
> 
> - Untuk mengelabui sejarah pelanggaran HAM 1965 atau kupdeta 
> militer, maka secara licik regim militer memakai strategi “Maling 
> teriak maling”:
> 
> Â Â Â  Semua jalan raya disemua kota besar Indonesia diinstruksikan 
> untuk memakai nama para jendral Angkatan Darat yang terbunuh secara 
> konyol namun tragis (A. Yani, Panjaitan, dst.) dan mereka ini 
> digelari pahlawan nasional, langkah ini disertai pendirian monumen2 
> yang bersifat otot dan kekerasan: patung tentara dan bambu runcing, 
> peran kecerdasan para intelektual seperti organisasi Stovia, Bung 
> Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, yang justru lebih penting 
> malah dikecilkan bahkan diabaikan.
> Â Â Â  Hari lahir Pancasila digantikan dengan hari kesaktian Pcsl.
> Â Â Â  Direkayasa film sejarah yang menipu yang wajib diputar 
> secara nasional setiap tahunnya.
> Â Â Â  Dibuat buku wajib sejarah untuk SD s/d SMA yang menyesatkan.
> Â Â Â  Menciptakan sekolah bagi eselon satu pegawai negeri yaitu 
> LEMHANAS (lembaga ini adalah monumen resmi supremasi militer 
> terhadap sipil, saat ini masyarakat dikelabui dengan mendudukan 
> seorang Sipil sebagai kepalanya, apa sih arti seorang dibanding 
> segerombolan militer? Pada umumnya kepala LEMHANAS akan dihadiahi 
> jabatan yang amat basah, minimal menteri, seperti Yuwono Sudarsono 
> dan Purnomo Yosgiantoro).
> Â Â Â  Menciptakan penataran P4 dan mata kuliah Kewiraan (dibawah 
> kendali militer yang ketat).
> Â Â Â  Mewajibkan litsus dan surat bebas G30S bagi pencari kerja.
> Â Â Â  Stigmatisasi PKI sebagai pengkhianat bangsa.
> Â Â Â  Mendirikan berbagai LSM/ORMAS untuk melawan bangkitnya 
> gerakan penegakan kebenaran sejarah 1965.
> Â Â Â  Menguasai berbagai mass media baik koran, radio, dan 
> terutama TV untuk menjadi leader dalam pembentukan opini bangsa.
> Â Â Â  Membrangus kampus dengan wawasan Almamater (dan sekarang ini 
> dengan strategi melibatkan para dosennya untuk ber multi fungsi 
> yaitu: dosen, selebritis, bisnis, dan politikus).
> Â Â Â  Menugas belajarkan para jendral TNI/POLRI lalu beramai-ramai 
> menempuh program MM dan MBA untuk menjustifikasi peran multi fungsi 
> mereka (inilah saat dimulainya perusakan mutu pendidikan tinggi di 
> Indonesia; banyak militer yang malas kuliah/belajar namun tetap 
> ingin lulus, dan dosennyapun takut pada para preman berbintang yang 
> digaji negara ini).
> Â Â Â  Terus menerus menyewa ilmuwan untuk menulis buku sejarah 
> versi mereka (= regim militer), terutama ilmuwan Barat mengingat 
> bangsa Indonesia masih merasa rendah diri ketimbang kulit putih.
> Â Â Â  Last but not least, menyelubungi kupdeta merangkak militer 
> ini dengan menciptakan “ideologi baru yang disebut Dwi fungsi 
> ABRI”.
> 
> - Mengingat kasus 1965 adalah kasus pelanggaran HAM yang maha 
> besar, bahkan lebih kejam daripada Hitler di Jerman, sebab regim 
> Soeharto membantai bangsanya sendiri itupun s/d anak-cucu, 
> Hitler/Jerman membantai Yahudi, maka level pelanggaran HAM 1965 
> sudah tingkatan internasional. Para oknum Jendral AD sebagai pelaku 
> kebiadaban yang luar biasa itu kini hidupnya selalu berkeringat 
> dingin campur darah, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah dan 
> hidupnya selalu dibayang-bayangi/dihantui wajah hampir sejuta jiwa 
> korban manusia. Demi menghindari tuntutan yang maha luar biasa 
> besarnya dan beratnya dari para korban G30S tsb., para oknum 
> Jendral AD ini terus menerus menggunakan politisasi agama Islam 
> untuk melawan gerakan pelurusan sejarah. Terutama menggunakan para 
> pemuka agama, LSM2, dan cendekiawan kampus. Dana finansial bagi 
> mereka tidak masalah, sebab 1/3 harta negara Indonesia telah mereka 
> kuasai, ini hasil merampok bangsanya sendiri selama kurang lebih 32
> tahun.
> 
> - Kedigdayaan regim militer/ORBA adalah kemampuan menguasai dana 
> (hasil merampok bangsanya sendiri) dan menyusupi semua mass media 
> di Indonesia: dari televisi, radio, s/d koran. Bahkan koran 
> terbesar di Indonesia, yakni Kompas, pun telah mereka susupi. Jika 
> anda adalah pembaca yang sangat cerdas, teliti, serta selalu sadar 
> dan waspada, maka setiap kali ada berita di Kompas tentang usaha 
> pemulihan nama baik para korban stigmatisasi PKI (yang saat ini 
> mereka sudah tua, diatas 65 th), selalu diikuti gambar/poto yang 
> menyolok sekali tentang demonstran yang mengingatkan akan bahaya 
> timbulnya PKI bila hak mereka dipulihkan (catatan: mengapa bukan 
> bahaya KKN, Orba dan militerisme yang ditakutkan?), demo ini pada 
> umumnya menggunakan atribut Islam, misalnya menggunakan bendera 
> Front Pembela Islam. Demikian pula, tulisan bermutu Kwik Kian Gie 
> yang berusaha membeberkan konspirasi regim Soeharto dengan regim 
> USA tidak dapat dimuat di Kompas, melainkan Jawa Pos.
> Prof. Ben Anderson, ahli G30S, menyiratkan sikap mendua bos Kompas 
> yakni Jacob Utama (sebab saat regim Soeharto berkuasa, Jacob Utama 
> termasuk pendukungnya, untuk ini mohon dibaca artikel yang lain). 
> Pada akhir2 ini (2007) Kompas sering memuat dan memulihkan citra 
> generasi tua penopang orde Baru. Strategi Kompas boleh disebut 
> “mengikuti arus, namun tidak tenggelam”, sebab Kompas dimiliki 
> oleh kaum minoritas (Katolik). Satu2nya kesulitan regim Orba adalah 
> menguasai informasi di internet yang bebas-merdeka!
> 
> Penutup
> 
> Dalang/otak penggulingan Soekarno adalah CIA (USA) dengan operator 
> lapangan adalah Soeharto dibantu para oknum jendral TNI AD. 
> Hubungan antara Amerika dengan Soeharto saat 1965 adalah bagaikan 
> hubungan antara majikan (atau dalang) dengan pembunuh bayaran (atau 
> operator lapangan); hubungan ini sampai dengan saat ini masih amat 
> sangat dirahasiakan. Dan untuk menutup maha rahasia ini, PKI 
> dikambing hitamkan. G30S di tahun 1965 adalah pengkianatan para 
> oknum jendral TNI AD dibawah pimpinan Soeharto atas bangsanya, 
> bukan pengkianatan PKI.
> 
> Akibat maha rahasia ini, USA bagaikan mempunyai kartu As terhadapap 
> Indonesia; apapun kehendak USA boleh dikata harus dituruti oleh 
> pemerintah Indonesia, misal dalam hal kasus Free Port, tambang 
> minyak blok Cepu, dan kasus MoU Microsoft. Mengingat regim Soeharto 
> masih mendominasi perpolitikan di Indonesia hingga kini 
> (cermatilah, hampir semua parpol disusupi oleh para oknum jendral 
> TNI AD), maka maha rahasia ini sulit dibongkar. Sayangnya, rahasia 
> terbesar dan maha memalukan para penguasa politik Indonesia saat 
> ini ada ditelapak tangan pemerintah Amerika! Amerika lalu dapat 
> mendikte Indonesia, sebab kalau semua keinginan USA tidak dituruti, 
> rahasia ini dapat mereka (USA) ungkapkan. Dan kalau diungkapkan, 
> maka nasib fatal akan dialami oleh Soeharto dan para oknum jendral 
> TNI AD (plus mafia Berkeley); sebab ternyata mereka ini adalah 
> pengkianat negara terbesar sepanjang sejarah Indonesia, 
> konsekuensinya bangsa Indonesia barangkali akan menggantung
> pengkianat ini tinggi2 di menara Monas Jakarta, dan nama harum 
> mereka akan hancur berantakan seketika itu.
> 
> Sebagai penutup, bila dominasi perpolitikan Indonesia oleh para 
> jendral pengkianat bangsa ini (plus parpol bikinan mereka) dapat 
> diakhiri secara cepat, maka percepatan perbaikan bangsa juga akan 
> mengalami kelipatan luar biasa, bagaikan habis gelap terbitlah 
> terang! Oleh sebab itu, mohon bantuan pembaca untuk menyebarluaskan 
> artikel ini demi meningkatkan kecerdasan berpolitik bangsa. Terima 
> kasih.
> 
> Sumbangan pemikiran dari: Forum Peduli Bangsa di Eropa
> 
> Sumber : http://hatinurani21.wordpress.com
> 
> 
> http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
> Information aboutCoup d'etat '65, click: 
> http://www.progind.net/Â Â  
> List of books, click:Â  http://sastrapembebasan.wordpress.com/
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke