...Adanya unsur bahagialah yang bisa membuat kita tidak
terfokus hanya pada penderitaan. Kemerdekaan dari
segala rasa susah,...

--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
*********************
Sayah mau nyorotin kata KEMERDEKAAN dan BAHAGIA. Ini yang moga2 bisa jadi 
renungan bareng HABE sama Ajeg . Kan Habe bilang ujung2 nya yang dicari adalah 
kebahagiaan dan kebahagiaan sangat membutuhkan Kemerdekaan. Sosah banget 
tentunya dapat bahagia tanpa kondisi MERDEKA :-)

Bicara tentang KEMERDEKAAN, di Prol ini setiap ummatnya MERDEKA untuk bicara 
apa saja. Bahkan jusplik yang selalu berbicara sampah busuk pun dengan leluasa 
terus bisa bicara tanpa khawatir dibungkam sama satpol PP :-)

Bicara tentang KEMERDEKAAN ...

Kata MERDEKA yang dimiliki oleh seluruh rakyat proletar belumlah bermakna 
apa-apa. Malah faktualnya kita melihat dengan mata telanjang bahwa kemerdekaan 
berbicara di proletar banyak digunakan oleh orang tertentu untuk berbicara hal 
yang sia-sia. Nddak bermanfaat. SAMPAH, dan jauh dari upaya untuk menjadikan 
hidup hari ini lebih baik daripada kemaren. Ada beberapa manusia busuk yang 
ngomongnya itu-itu juga lebih dari 10 tahun. Tak ada beda. itu-itu aja. Tidak 
lebih baik dari 10 tahun lalu dan sepertinya akan sama, begitu aja sampai 10 
tahun kemudian (iTU KALAU JUSPLIK BERUNTUNG BISA HIDUP 10 TAHUN LAGI :-) )

Manusia yang memiliki kemerdekaan itu tidak ubahnya dengan kertas kosong yang 
siap dituliskan apa saja di atasnya, dengan gaya apa saja. Kemerdekaan bukanlah 
akhir yang membuat kita euforia ataupun terlena sehingga kita menjadi lengah, 
melainkan babak awal meraih kesempatan dalam menentukan pilihan cara 
membangunnya.

Seandainya kondisi merdeka itu ikan yang bisa dimasak dengan cara apa saja, 
apakah itu dipepes, dibakar, atau digoreng, kira-kira apa yang akan kita 
lakukan dengan kemerdekaan? Kita sebut saja kemampuan untuk membayangkan 
pilihan rasa yang akan terjadi melalui setiap cara memasak kita sebut visi, 
sedangkan cara memasak yang dipilih kita sebut misi. Dalam hal ini kita harus 
mampu membayangkan akankah ikan tersebut jadi enak bagi kita, dengan cara yang 
sesuai dengan pertimbangan karakteristik bahan alamiahnya, sehingga cara 
memasaknyapun tentu akan menjadi khas. Kemerdekaan sendiri ibarat kebebasan 
menentukan pilihan memasak menyertai kepemilikan ikan yang sudah ada.

Mengambil inspirasi dari daun pakis, yakni setiap bagiannya menggambarkan 
keseluruhannya (fraktal), maka konsep tentang kemerdekaan dari setiap individu 
di ladang proletar menjadi penting untuk direplikasi ke dalam skala yang lebih 
besar. Ber - Proletar - ria misalnya, ber RT, ber negara ...supaya terlihat 
konsistensi dalam cara membangunnya. Tidak akan ada kekuatan masyarakat, 
apalagi dalam skala bangsa jika tanpa kekuatan setiap individu sebagai komponen 
penyusunnya.

Walaupun perjuangan meraih kemerdekaan (dalam konteks ke - INDONESIA - an)  
telah dilakukan oleh para pahlawan yang bukan diri kita, tetapi setidaknya kita 
harus mampu merekonstruksi kembali tentang cita-cita dan harapan mereka menjadi 
cita-cita dan harapan kita. 

Inilah yang dimaksud oleh Soekarno dengan "Bangsa yang besar adalah bangsa yang 
menghargai perjuangan para pahlawannya". Makna filosofisnya kita menjadi 
mengerti titik awal permulaan kita, sehingga mampu menarik benang merah ke mana 
kita akan melangkah. Secara harfiahnya, tidak mungkin mereka (para pahlawan) 
berjuang merebut kemerdekaan jika tidak memiliki konsep tentang membangun 
tatanan di atas kemerdekaan guna merealisasikan cita-citanya. 

Kata-kata itu sepadan dengan tidak mungkin berusaha mendapatkan ikan jika tidak 
terbayangkan cara memasaknya. 

Perihal masak-memasak, tidak mungkin menggunakan cara memasak dengan tiga cara 
sekaligus; dipepes, digoreng, dan dibakar. Apa rasanya? ( mengenai cara ber - 
agama tidak mungkin kita gabung di tiga Agama sekaligus yang punya tiga konsep 
ketuhanan dan cara beribadat yang berbeda ;-) ) 

Tetapi kenyataan itu terjadi dengan melihat ilustrasi berlangsungnya kehidupan 
di proletar. Banyak manusia merdeka di sini yang bingung dan gagap dalam 
memanfaatkan kemerdekaan yang dimilikinya.  Ini mencirikan bahwa kita tidak 
paham karakteristik diri kita sendiri atau setara dengan tidak tahu jenis ikan  
 yang hendak dimasak menyebabkan kita bereksperimen dengan "cara memasaknya".

Islam mengajarkan bahwa Ilustrasi perang  secara hakikiyah tidak lebih besar 
dibanding dengan perang melawan diri sendiri (hawa nafsu). Kemampuan memerangi 
"diri sendiri" bisa kita sebut sebagai kematangan. Kita bisa melakukan 
pendekatan dengan "Kenalilah musuhmu sebelum kamu mengalahkannya". Dari sini 
nampak bahwa keberhasilan memerangi diri supaya mampu mengendalikan diri akan 
mencapai hasil maksimal ketika kita mengenal diri sendiri.

Kemampuan dalam bidang apapun tanpa kematangan masih memungkinkan menghasilkan 
tindakan-tindakan fatal; overreact, impulsif atau bahkan destruktif, misalnya 
korupsi, konspirasi, atau blackmailing. Karena kenyataannya, ketidakmatangan 
berarti sebagian diri kita masih memiliki kandungan mental terjajah. Akibatnya 
akan terjadi absurditas di dalam menentukan pola aturan, kebijakan, rencana, 
yang terkait dengan pembangunan mentalitas pribadi. 

Kondisi-kondisi transisi acapkali kita alami tanpa bersambut persiapan bagi 
kemungkinan sistem baru yang mapan. Contohnya; galian pinggir jalan, tata kota, 
sistem transportasi, sistem pengelolaan energi, kurikulum pendidikan, dan 
seterusnya. Akibat yang dirasakan yakni kita semua menjadi seperti mendirikan 
bangunan di atas pasir pantai yang berubah terus karena senantiasa terkena 
ombak. Rupanya banyak penyandang kekuasaan yang terinprint memori semasa 
sekolah di usia belasan, ketika tidak ada guru lalu bersorak,"merdeka euy !", 
lalu suasana menjadi kacau.

Pentingnya pengendalian diri yang erat kaitannya dengan kematangan diri tampak 
dalam bidang apapun.   Walaupun di dalam kondisi normal tidak tampak terlalu 
nyata, tapi tak dapat disangkal bahwa kematangan akan tampak jelas pada cara 
mengambil keputusan di saat kondisi krisis.

Kita tidak bisa menyerahkan kemerdekaan diri kepada orang lain, apalagi kepada 
segelintir orang yang kurang, atau bahkan tidak bervisi, karena dipengaruhi 
berbagai kepentingan yang tidak relevan.

Kita harus menyadari bahwa setiap individu adalah kontributor dalam pembangunan 
bangsa ini. Maju atau hancurnya bangsa ini toh akhirnya akan ditanggung oleh 
setiap individu yang ada di negri ini.  Karenanya setiap individu harus punya 
pandangan menyeluruh, bekerja demi kemajuan bangsa, atau setidaknya menaruh 
perhatian atas bangsa ini melalui visi yang menyatu secara koheren. Bahasa 
sederhananya setiap individu harus memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara 
(walaupun kata-kata ini sudah menjadi tumpul di telinga kita karena berbagai 
sebab). Artinya kesadaran kita di dalam setiap tindakan, selalu mengalir 
melalui pertimbangan apakah tindakan tersebut akan menguntungkan atau merugikan 
bagi seluruh bangsa.

Setiap individu harus memiliki visi yang berdasar pada pemahaman akan makna 
kemerdekaan, sehingga setiap invidu mampu mewakili citra bangsa keseluruhan. 
Pada skala individu, transformasi kesadaran atau MEDITASI sangat relevan untuk 
dianalogikan dengan perjuangan merebut kemerdekaan. Tujuan meditasi dikenal 
dengan meraih pembebasan pikiran (liberation of mind). 

MEDITASI dalam tahap pencerahan akan mengantarkan kita pada pencapaian 
kemandirian, menetapkan pilihan dalam menentukan tujuan hidup serta mengambil 
peranan secara all out. Dalam meditasi "ikannya" adalah diri sendiri. Mengenal 
diri menjadi awal pola membangun dan mengembangkan diri.

Setiap hari kita perlu menguji dengan menggulirkan pertanyaan ke dalam diri 
tentang upaya memberdayakan kemerdekaan diri yang dapat dikontribusikan dalam 
ajang membangun di atas kemerdekaan negeri.

Kekuatan karakter dalam skala komunitas proletar yang jumlahnya cuman seribu 
orang ini ditentukan oleh karakter setiap individu sebagai partisipan. Konsep 
mengisi kemerdekaan yang merupakan anugerah yang tak ternilai, hanya akan 
berhasil dilakukan secara bersama-sama oleh partisipan yang telah berhasil 
menyelami makna kemerdekaan. 

Sulit untuk meraih bahagia tanpa kata merdeka.
Namun Merdeka itu sendiri belum berarti apa - apa ...
Kita harus menentukan terlebih dahulu apakah kemerdekaan itu akan dimasak 
dengan "bumbu" Teism ... atau ateism ... Hindu, budha, islam atau kristen ...

Apapun "bumbunya", yang penting kemudian adalah konsistensi dalam proses 
memasaknya.

Kalau mau jadi ateis ... jadilah ateis yang pinter dan bermanfaat bagi orang 
banyak ....

Kalau mau jadi teis, ... jadilah teis yang pinter dan bermanfaat bagi orang 
banyak ...

Kalau mau jadi hindu, islam atau kristen, jadilah umat beragama yang pinter dan 
bermanfaat bagi orang banyak ...

Karena KEBAHAGIAAN hanya milik orang yang baik. Dan Orang yang baik adalah 
orang yang banyak MEMBERI manfaat pada manusia-manusia yang ada di 
sekelilingnya.

Semoga menjadi amal Sholeh.
Pinpin.
(Tulisan ini banyak mengutip pemikiran dari Aas Rukasa) 



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke