Makasih banyak tanggapannya pin. Terus terang nggak kepikir bahwa masih ada yang tertarik membahas makna merdeka / kemerdekaan..
Memang, arus pemikiran dunia sampai sekarang masih didominasi kekuatan kolonial-imperialisme. Makanya begitu muncul arus pemikiran baru dari anak-anak jajahan (new emerging forces) bukan cuma harus disingkirkan tetapi harus dibunuh, dimatikan, karena dikira sebagai ancaman serius bagi kelanggengan imperialis penjajah alias nekolim. Kalau membaca pemikiran / buku-buku para founding mothers & fathers, mestinya mudah dipahami bahwa yang mereka inginkan doeloe itu bukan sekedar mendirikan negara, melainkan membebaskan bangsa manusia dari terkaman "setan pemeras & penghisap darah" yang berwujud imperialis penjajah itu. Atau, kalimat "..menyatakan KEMERDEKAAN INDONESIA.." dalam teks proklamasi, mestinya bermakna pernyataan awal dari kemerdekaan bangsa manusia. Dengan kata lain, Proklamasi 17845 bukan saja kemerdekaan bangsa di Kepulauan Nusantara untuk mendirikan negara bernama Indonesia, tetapi kata 'INDONESIA' di sana juga mengandung muatan filosofis tentang berhimpunnya gugusan "pulau", "manusia", "ide", "pemikiran", "budaya" dsb dalam kesamaan & kesetaraan. Tentang kebhinekaan yang tunggal ika. Bahwa kebanyakan orang memaknai proklamasi 1945 cuma sebatas berdirinya negara berjuluk "Indonesia", adalah bukti kuatnya cengkeraman pemikiran penjajah yang kelewat cekak untuk melihat eksistensi masyarakat tanpa adanya bukti-bukti berupa simbol, demarkasi, kemasan dll yang bisa menjelaskan identitas / kategori komunitas tsb. Untuk melindungi spirit kemerdekaan manusia itulah para pendiri perlu memperlihatkan bukti-diri dari spirit tsb dalam wujud negara republik. Tanpa bukti-bukti fisik tsb, maka kaum penjajah akan menganggap masyarakat jajahannya sebagai bukan manusia. Paling banter bangsa jajahan itu dikategorikan OTB; organisasi tanpa bentuk. Penjajah baru 'ngah' jika masyarakat yang mereka hadapi mengenakan simbol- simbol seperti mereka juga. Yakni, monarkhi / kerajaan. Karena itu, terus terang agak terganggu dengan kalimat pinpin yang ini: "tetapi setidaknya kita harus mampu merekonstruksi kembali tentang cita-cita dan harapan mereka menjadi cita-cita dan harapan kita." Sebab, hemat saya, penghargaan terhadap (perjuangan) para pahlawan tidak cukup hanya DENGAN merekonstruksi cita-cita mereka menjadi cita-cita kita, tetapi kita menghargai para pahlawan KARENA cita- cita mereka sama dengan cita-cita kita juga. Pinpin & saya bukanlah manusia merdeka kalau merekonstruksi cita-cita mereka menjadi cita-cita kita. Karena, berarti kita berdua masih di bawah bayang-bayang pemikiran mereka. Yang bisa dan harus direkonstruksi adalah semangatnya. Semangat untuk mencapai cita-cita bersama tsb. Caranya, antara lain dengan memodifikasi 'cara' memperjuangkan tujuan memerdekakan diri sebagaimana tercantum dalam Mukadimah. Itu aja. Selebihnya nggak mengganggu :) So, ini boleh dikoreksi, boleh didebat, dan lebih disukai dipahami & disetujui, hahaha... * pramoedya: "jujurlah sejak dari pikiran" eros djarot: "berpikirlah merdeka" gua... jujur & merdekalah sejak dari pikiran atau, mati! ** Buat arra, trims nina simonenya. freedom is mine and i know how i feel ay fil gut --- "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> wrote: > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > ...Adanya unsur bahagialah yang bisa membuat kita tidak > terfokus hanya pada penderitaan. Kemerdekaan dari > segala rasa susah,... > > ********************* > Sayah mau nyorotin kata KEMERDEKAAN dan BAHAGIA. Ini yang moga2 > bisa jadi renungan bareng HABE sama Ajeg . Kan Habe bilang > ujung2 nya yang dicari adalah kebahagiaan dan kebahagiaan sangat > membutuhkan Kemerdekaan. Sosah banget tentunya dapat bahagia > tanpa kondisi MERDEKA :-) > > Bicara tentang KEMERDEKAAN, di Prol ini setiap ummatnya MERDEKA > untuk bicara apa saja. Bahkan jusplik yang selalu berbicara > sampah busuk pun dengan leluasa terus bisa bicara tanpa khawatir > dibungkam sama satpol PP :-) > > Bicara tentang KEMERDEKAAN ... > > Kata MERDEKA yang dimiliki oleh seluruh rakyat proletar belumlah > bermakna apa-apa. Malah faktualnya kita melihat dengan mata > telanjang bahwa kemerdekaan berbicara di proletar banyak > digunakan oleh orang tertentu untuk berbicara hal yang sia-sia. > Nddak bermanfaat. SAMPAH, dan jauh dari upaya untuk menjadikan > hidup hari ini lebih baik daripada kemaren. Ada beberapa manusia > busuk yang ngomongnya itu-itu juga lebih dari 10 tahun. Tak ada > beda. itu-itu aja. Tidak lebih baik dari 10 tahun lalu dan > sepertinya akan sama, begitu aja sampai 10 tahun kemudian (iTU > KALAU JUSPLIK BERUNTUNG BISA HIDUP 10 TAHUN LAGI :-) ) > > Manusia yang memiliki kemerdekaan itu tidak ubahnya dengan > kertas kosong yang siap dituliskan apa saja di atasnya, dengan > gaya apa saja. Kemerdekaan bukanlah akhir yang membuat kita > euforia ataupun terlena sehingga kita menjadi lengah, melainkan > babak awal meraih kesempatan dalam menentukan pilihan cara > membangunnya. > > Seandainya kondisi merdeka itu ikan yang bisa dimasak dengan > cara apa saja, apakah itu dipepes, dibakar, atau digoreng, > kira-kira apa yang akan kita lakukan dengan kemerdekaan? Kita > sebut saja kemampuan untuk membayangkan pilihan rasa yang akan > terjadi melalui setiap cara memasak kita sebut visi, sedangkan > cara memasak yang dipilih kita sebut misi. Dalam hal ini kita > harus mampu membayangkan akankah ikan tersebut jadi enak bagi > kita, dengan cara yang sesuai dengan pertimbangan karakteristik > bahan alamiahnya, sehingga cara memasaknyapun tentu akan menjadi > khas. Kemerdekaan sendiri ibarat kebebasan menentukan pilihan > memasak menyertai kepemilikan ikan yang sudah ada. > > Mengambil inspirasi dari daun pakis, yakni setiap bagiannya > menggambarkan keseluruhannya (fraktal), maka konsep tentang > kemerdekaan dari setiap individu di ladang proletar menjadi > penting untuk direplikasi ke dalam skala yang lebih besar. Ber - > Proletar - ria misalnya, ber RT, ber negara ...supaya terlihat > konsistensi dalam cara membangunnya. Tidak akan ada kekuatan > masyarakat, apalagi dalam skala bangsa jika tanpa kekuatan > setiap individu sebagai komponen penyusunnya. > > Walaupun perjuangan meraih kemerdekaan (dalam konteks ke - > INDONESIA - an) telah dilakukan oleh para pahlawan yang bukan > diri kita, tetapi setidaknya kita harus mampu merekonstruksi > kembali tentang cita-cita dan harapan mereka menjadi cita-cita > dan harapan kita. > > Inilah yang dimaksud oleh Soekarno dengan "Bangsa yang besar > adalah bangsa yang menghargai perjuangan para pahlawannya". > Makna filosofisnya kita menjadi mengerti titik awal permulaan > kita, sehingga mampu menarik benang merah ke mana kita akan > melangkah. Secara harfiahnya, tidak mungkin mereka (para > pahlawan) berjuang merebut kemerdekaan jika tidak memiliki > konsep tentang membangun tatanan di atas kemerdekaan guna > merealisasikan cita-citanya. > > Kata-kata itu sepadan dengan tidak mungkin berusaha mendapatkan > ikan jika tidak terbayangkan cara memasaknya. > > Perihal masak-memasak, tidak mungkin menggunakan cara memasak > dengan tiga cara sekaligus; dipepes, digoreng, dan dibakar. Apa > rasanya? ( mengenai cara ber - agama tidak mungkin kita gabung > di tiga Agama sekaligus yang punya tiga konsep ketuhanan dan > cara beribadat yang berbeda ;-) ) > > Tetapi kenyataan itu terjadi dengan melihat ilustrasi > berlangsungnya kehidupan di proletar. Banyak manusia merdeka di > sini yang bingung dan gagap dalam memanfaatkan kemerdekaan yang > dimilikinya. Ini mencirikan bahwa kita tidak paham > karakteristik diri kita sendiri atau setara dengan tidak tahu > jenis ikan yang hendak dimasak menyebabkan kita bereksperimen > dengan "cara memasaknya". > > Islam mengajarkan bahwa Ilustrasi perang secara hakikiyah tidak > lebih besar dibanding dengan perang melawan diri sendiri (hawa > nafsu). Kemampuan memerangi "diri sendiri" bisa kita sebut > sebagai kematangan. Kita bisa melakukan pendekatan dengan > "Kenalilah musuhmu sebelum kamu mengalahkannya". Dari sini > nampak bahwa keberhasilan memerangi diri supaya mampu > mengendalikan diri akan mencapai hasil maksimal ketika kita > mengenal diri sendiri. > > Kemampuan dalam bidang apapun tanpa kematangan masih > memungkinkan menghasilkan tindakan-tindakan fatal; overreact, > impulsif atau bahkan destruktif, misalnya korupsi, konspirasi, > atau blackmailing. Karena kenyataannya, ketidakmatangan berarti > sebagian diri kita masih memiliki kandungan mental terjajah. > Akibatnya akan terjadi absurditas di dalam menentukan pola > aturan, kebijakan, rencana, yang terkait dengan pembangunan > mentalitas pribadi. > > Kondisi-kondisi transisi acapkali kita alami tanpa bersambut > persiapan bagi kemungkinan sistem baru yang mapan. Contohnya; > galian pinggir jalan, tata kota, sistem transportasi, sistem > pengelolaan energi, kurikulum pendidikan, dan seterusnya. Akibat > yang dirasakan yakni kita semua menjadi seperti mendirikan > bangunan di atas pasir pantai yang berubah terus karena > senantiasa terkena ombak. Rupanya banyak penyandang kekuasaan > yang terinprint memori semasa sekolah di usia belasan, ketika > tidak ada guru lalu bersorak, "merdeka euy !", lalu suasana > menjadi kacau. > > Pentingnya pengendalian diri yang erat kaitannya dengan > kematangan diri tampak dalam bidang apapun. Walaupun di dalam > kondisi normal tidak tampak terlalu nyata, tapi tak dapat > disangkal bahwa kematangan akan tampak jelas pada cara mengambil > keputusan di saat kondisi krisis. > > Kita tidak bisa menyerahkan kemerdekaan diri kepada orang lain, > apalagi kepada segelintir orang yang kurang, atau bahkan tidak > bervisi, karena dipengaruhi berbagai kepentingan yang tidak > relevan. > > Kita harus menyadari bahwa setiap individu adalah kontributor > dalam pembangunan bangsa ini. Maju atau hancurnya bangsa ini toh > akhirnya akan ditanggung oleh setiap individu yang ada di negri > ini. Karenanya setiap individu harus punya pandangan menyeluruh, > bekerja demi kemajuan bangsa, atau setidaknya menaruh perhatian > atas bangsa ini melalui visi yang menyatu secara koheren. Bahasa > sederhananya setiap individu harus memiliki kesadaran berbangsa > dan bernegara (walaupun kata-kata ini sudah menjadi tumpul di > telinga kita karena berbagai sebab). Artinya kesadaran kita di > dalam setiap tindakan, selalu mengalir melalui pertimbangan > apakah tindakan tersebut akan menguntungkan atau merugikan bagi > seluruh bangsa. > > Setiap individu harus memiliki visi yang berdasar pada pemahaman > akan makna kemerdekaan, sehingga setiap invidu mampu mewakili > citra bangsa keseluruhan. Pada skala individu, transformasi > kesadaran atau MEDITASI sangat relevan untuk dianalogikan dengan > perjuangan merebut kemerdekaan. Tujuan meditasi dikenal dengan > meraih pembebasan pikiran (liberation of mind). > > MEDITASI dalam tahap pencerahan akan mengantarkan kita pada > pencapaian kemandirian, menetapkan pilihan dalam menentukan > tujuan hidup serta mengambil peranan secara all out. Dalam > meditasi "ikannya" adalah diri sendiri. Mengenal diri menjadi > awal pola membangun dan mengembangkan diri. > > Setiap hari kita perlu menguji dengan menggulirkan pertanyaan ke > dalam diri tentang upaya memberdayakan kemerdekaan diri yang > dapat dikontribusikan dalam ajang membangun di atas kemerdekaan > negeri. > > Kekuatan karakter dalam skala komunitas proletar yang jumlahnya > cuman seribu orang ini ditentukan oleh karakter setiap individu > sebagai partisipan. Konsep mengisi kemerdekaan yang merupakan > anugerah yang tak ternilai, hanya akan berhasil dilakukan secara > bersama-sama oleh partisipan yang telah berhasil menyelami makna > kemerdekaan. > > Sulit untuk meraih bahagia tanpa kata merdeka. > Namun Merdeka itu sendiri belum berarti apa - apa ... > Kita harus menentukan terlebih dahulu apakah kemerdekaan itu > akan dimasak dengan "bumbu" Teism ... atau ateism ... Hindu, > budha, islam atau kristen ... > > Apapun "bumbunya", yang penting kemudian adalah konsistensi > dalam proses memasaknya. > > Kalau mau jadi ateis ... jadilah ateis yang pinter dan > bermanfaat bagi orang banyak .... > > Kalau mau jadi teis, ... jadilah teis yang pinter dan bermanfaat > bagi orang banyak ... > > Kalau mau jadi hindu, islam atau kristen, jadilah umat beragama > yang pinter dan bermanfaat bagi orang banyak ... > > Karena KEBAHAGIAAN hanya milik orang yang baik. Dan Orang yang > baik adalah orang yang banyak MEMBERI manfaat pada manusia- > manusia yang ada di sekelilingnya. > > Semoga menjadi amal Sholeh. > Pinpin. > (Tulisan ini banyak mengutip pemikiran dari Aas Rukasa) ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
