http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/19/327071/284/1/Jangan-Campur-Adukkan-Agama-dengan-Negara-


Jangan Campur Adukkan Agama dengan Negara 
Penulis : Hillarius U Gani
Selasa, 19 Juni 2012 07:00 WIB a.. MOSKOW--MICOM: Negara tidak mencampuri 
urusan agama, sebaliknya umat beragama tidak memengaruhi politik di Rusia. 

"Lembaga negara dan politik di sini tidak diciptakan berdasarkan pada pengaruh 
agama," kata Duta Besar Keliling Kementerian Luar Negeri Rusia untuk 
negara-negara Islam HE Konstantin Shubalov saat audiensi dengan delegasi pemuda 
Indonesia di Moskow, Senin (18/6). 

Seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia, Hillarius U Gani, hadir dalam 
pertemuan itu Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Noer Fajrieansyah, 
Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Addin Jauharudin, 
Ketua Pergerakan Ekayastra Unmada (Semangat Indonesia Satu) Putut Prabantoro, 
dan Sekjen Lingkar Studi Mahasiswa Indonesia Dhikayudistira. 

Menurut Konstantin, Rusia dan Indonesia memiliki banyak kesamaan dalam konteks 
penciptaan eksistensi berbagai agama dan budaya. Rusia juga terdiri dari banyak 
suku bangsa. 

Ia menjelaskan Rusia memiliki empat agama tradisional yakni Kristen Ortodoks, 
Islam, Budha, dan agama Yahudi. Selain itu, ada banyak agama yang sudah ada 
sebelum terbentuk negara Uni Soviet. 

Konstantin juga menambahkan bahwa banyak asosiasi mahasiswa di negaranya, namun 
tidak ada asosiasi mahasiswa Islam. "Yang ada adalah asosiasi pemuda lintas 
agama." 

Lebih lanjut, ia menjelaskan pada masa pemerintahan Uni Soviet, agama dilarang 
tapi sekarang agama sangat berkembang di Rusia. Namun, untuk kegiatan rohani, 
tidak ada lembaga yang dibentuk oleh negara. 

Dalam hal Islam, ada yang unik antara Rusia dan Indonesia. Indonesia merupakan 
negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Tetapi Rusia, kata Konstantin, 
memiliki kemuftian (majelis ulama) paling banyak di dunia. "Jumlahnya mencapai 
70 ribu kemuftian." 

Prinsip saling hormat antaragama dan antarumat beragama merupakan hal utama 
dalam kehidupan beragama di Rusia. "Umat Islam ikut membangun negara ini. Rusia 
rumah kita bersama. Ini ciri khas Rusia, berbeda dengan Eropa Barat, yang umat 
muslimnya adalah pendatang," paparnya. 

Empat faktor utama yang menjadi sandaran hidup bangsa Rusia, lanjut Konstantin, 
ialah sejarah bersama, pekerjaan bersama di berbagai sektor, media massa yang 
seimbang, dan pendidikan yang memadai. 

"Di sini sistem pendidikan juga tidak berlandaskan agama. Sesuai undang-undang, 
dari sekolah anak-anak harus belajar bersama dan jangan membagi anak-anak 
berdasarkan agama," katanya. 

Sementara itu, Putut Prabantoro mengatakan kunjungan ke Rusia merupakan agenda 
kedua mereka setelah sebelumnya berkunjung ke Vatikan pada September 2011. 
"Kami pilih Vatikan karena netral dan semua punya hubungan dengan negara itu," 
ungkapnya. 

Dari Vatikan, kata Putut, pihaknya mendapat gambaran tentang Rusia. Negara ini 
patut didatangi karena mempunyai peran penting dalam pencaturan politik dunia. 

"Ini penting bagi kami, tidak saja soal agama, tapi juga suku. Semoga membuka 
wawasan baru bagi Indonesia, terutama dalam menata kehidupan beragama." 

Adapun Ketua Umum HMI Fajrieansyah menilai penuturan Konstantin tentang 
kehidupan beragama di negara pecahan Uni Soviet itu sangat bermanfaat bagi 
mereka. Terutama soal bagaimana memelihara pluralitas suku, agama, ras, dan 
budaya dalam menjaga keutuhan dan kebersamaan. 

"Kedatangan kami tidak hanya melihat kehidupan beragama, tapi juga studi 
komparatif sosial, ekonomi, dan budaya," jelasnya. 

Intinya, menurut Fajrie. integritas di Rusia bisa juga diterapkan di Indonesia. 
HMI memang merupakan organisasi mahasiswa berbasis agama. Namun, lanjut dia, 
organisasinya tetap berpandangan plural dan mencintai pluralisme sebagai 
realitas di Tanah Air. 

Pada bagian lain, Ketua Umum PMII menambahkan sebagai ormas yang berbasis 
Islam, pihaknya perlu ikut memdorong wawasan pembangunan yang berkeadilan. 
"Oleh karena itu, hubungan Indonesia dan Rusia penting dalam rangka membangun 
politik kawasan yang berkeadilan." 

Di akhir pertemuan, Konstantin sempat pula membahas soal konflik umat beragama 
di Rusia. Konflik itu, menurut dia, tetap ada namun dapat diselesaikan dengan 
baik oleh kedua kelompok dengan pemerintah sebagai fasilitator. 

"Misalnya saja umat Islam tidak setuju dibangun gereja karena tidak mau dengar 
bel gereja. Juga sebaliknya, misalnya ada yang keberatan melihat banyak orang 
berkumpul di masjid pada hari raya. Tapi, kedua pihak ketemu dan selesai 
melalui kompromi dan pemerintah sebagai fasilisator," kata Konstantin. 
(Hil/OL-15)
TERKAIT

  a.. Jangan Campur Adukkan Agama dengan Negara 
  b.. Kekuatan Restorasi Rusia Semangat Persaudaraaan
  c.. Noer Fajriensyah Sebut Pemuda Indonesia-Rusia Usung Pluralisme

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke