.. .. comfortable banget, .. .. .. yg kt bicarakan adl pangkal korupsi .. .. bgmana menghapus korupsi di indonesia .. .. coba lu kemukakan ide yg valuable utk bangsa ini .. .. kecuali klo lu bertahan sebagai anjing penjilat taik salman rushdi .. ..
2012/6/22 item abu <[email protected]> > ** > > > Nabi lu ngerampok, pejihad2 di jalan auloh jg ngerampok. Malak jg. Hrsnya > potong kepala tuh. > > >________________________________ > > From: safin _blanc <[email protected]> > >To: [email protected] > >Sent: Friday, June 22, 2012 9:47 AM > >Subject: Re: [proletar] Pangkal Korupsi > > > > > > > > >.. korupsi sama dengan mencuri .. > >.. coba dihukum potong tangan .. > >.. klo korupsinya > 1M, tembak mati .. > >.. setahun aja si kpk sdh kgak ada kerjaan lagi .. > >.. > >.. > > > >2012/6/22 item abu <[email protected]> > > > >> ** > > >> > >> > >> Salah, bukan pada umumnya, tp semua penguasa negara sekarang ini adalah > >> bandit. > >> > >> >________________________________ > >> > From: Sunny <[email protected]> > >> >To: [email protected] > >> >Sent: Saturday, June 23, 2012 4:37 AM > >> >Subject: [proletar] Pangkal Korupsi > >> > >> > > >> > > >> > > >> >Ref: Menguritanya korupsi di NKRI ialah karena pada umumnya penguasa > >> negara NKRI terdiri dari penipu, tukang copet, tukang catut serta garong > >> dan bandit berpakaian cantik lagi mahal, kalau mereka dilihat secara > >> sepintas lalu adalah sebagai dikatakan dalam bahasa orang seberang > “nobel > >> women dan man”. Sifat mereka ini makin lama mereka ini menjadi tradisi > atau > >> ameba atau bakteria turun temurun yang menjalar ke berbagai sumsum dan > urat > >> nadi masayarakat. Jadi kalau sudah demikian keadaannya apakah mungkin > >> korupsi diatasi, jika untuk diatasi menjadi sendiwara “Gali Lubang Tutup > >> Lubungan”? Ada di antara yang mempunyai pendapat lain? > >> > > >> > > >> > http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/06/21/ArticleHtmls/Pangkal-Korupsi-21062012011013.shtml?Mode=0 > >> >Pangkal Korupsi > >> >Saharuddin Daming, KOMISIONER KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA > >> > > >> > > >> >Salah satu faktor penyebab meluasnya perilaku korup di Indonesia adalah > >> mengguritanya perilaku kleptokrasi yang sudah membudaya. Kalangan > >> eksekutif, legislatif, hingga yudikatif secara tidak terbatas, kini > >> terkontaminasi pola pengabdian kleptokrasi (kesenangan > mengambil/menerima > >> penghasilan tambahan dengan cara yang tidak terhormat), misalnya upeti, > >> uang lelah, biaya tambahan, suap, dan markup. > >> >Meluasnya perilaku kleptokrasi yang dimaksud sebetulnya merupakan buah > >> dari kuatnya pengaruh hedonisme. Ketinggian derajat seseorang dewasa ini > >> tidak lagi diukur berdasarkan prestasi yang mengabdi pada keluhuran, > >> melainkan semata-mata bertumpu pada keunggulan yang bersifat materi. > >> Akibatnya, citra kehormatan yang melekat dalam diri seorang pejabat atau > >> elite selalu diaktualisasi dengan ekspresi kemewahan. Jangankan pranata > >> agama yang hanya mengemban seruan moral, pranata hukum yang memiliki > ikatan > >> formal dengan sanksi tegas sekalipun ternyata kini juga semakin tak > berdaya > >> menghadapi amukan tsunami korupsi yang luar biasa dahsyatnya. > >> > > >> >Parahnya lagi, kebanyakan pejabat publik, pejabat struktural, hingga > staf > >> birokrasi kita saat ini merasa hidup dalam keadaan miskin, paling tidak > >> menurut persepsi kelayakan hidup masyarakat menengah. Sementara itu, > >> tingkat kebutuhan yang dibombastiskan oleh kekuatan konsumerisme justru > >> semakin tinggi, Maka terbangunlah logika untuk menaikkan penghasilan > dalam > >> bentuk remunerasi demi mencegah korupsi. > >> > > >> >Program remunerasi dipercaya oleh sebagian orang sebagai strategi ampuh > >> untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjadi outcome peningkatan > >> kinerja. Kebijakan tersebut bertumpu pada doktrin klasik bahwa aparat > akan > >> mengoptimalkan kapasi > >> > > >> >tasnya jika kesejahteraan sebagai instrumen penunjangnya terpenuhi > secara > >> proporsional. > >> >Jika ditelaah lebih jauh, kebijakan tersebut dapat menciptakan > >> ketidakadilan, sekaligus inflasi. Hal ini secara kasatmata bisa kita > jumpai > >> dalam struktur anggaran pemerintah, khususnya pada pos “belanja > aparatur”, > >> yang mengalami pembengkakan sangat besar. Akibatnya, pos anggaran > “belanja > >> publik” yang terarah langsung pada program pelayanan dan pemberdayaan > >> masyarakat hampir dapat dipastikan akan semakin kurus dan kerdil. > >> > > >> >Hal ini tecermin dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor15 Tahun > 2012. > >> Di situ dicantumkan gaji pokok para pegawai negeri sipil, serta anggota > >> Kepolisian RI dan TNI. Semakin lama bertugas, take-home pay PNS, polisi, > >> dan tentara semakin meningkat. Skema tambahan uang bisa berupa tunjangan > >> jabatan, tunjangan fungsional, tunjangan prestasi, tunjangan keluarga, > dan > >> sebagainya, semua dalam kerangka reformasi birokrasi. Tragisnya lagi, > atas > >> nama reformasi birokrasi, setiap pejabat eselon I, khususnya di > Kementerian > >> Keuangan, memperoleh remunerasi Rp 46,9 juta per bulan. > >> > > >> >Hal yang cukup fantastis adalah tunjangan prestasi juga menular ke > >> Mahkamah Agung melalui Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2008. Hebatnya, > >> Perpres Remunerasi di MA berlaku surut, per September 2007. Dengan > >> kebijakan ini, Ketua MA mendapat tunjangan kinerja hingga Rp 50 juta per > >> bulan. Remunerasi juga didapat Badan Pemeriksa Keuangan. > >> > > >> >Padahal tambahan remunerasi birokrasi berakibat pada kenaikan belanja > >> pegawai pada 2008 di tiga lembaga ini dan menyedot anggaran hingga Rp > 9,5 > >> triliun. > >> > > >> >Dengan program remunerasi, kenaikan belanja pegawai di Kementerian > >> Keuangan mencapai 270 persen, MA 230 persen, dan BPK 163 persen. Dalam > >> Anggaran Pen da > >> > > >> >patan dan Belanja Negara Perubahan 2010, pemerintah mengalokasikan Rp > >> 13,9 triliun untuk remunerasi reformasi birokrasi di beberapa > >> kementerian/lembaga, dengan perincian Rp 10,6 triliun pada APBN 2010 dan > >> ditambahkan Rp 3,3 triliun pada APBN-P . > >> >Belakangan, terbongkar skandal keuangan akut di seluruh lini birokrasi > di > >> Indonesia. > >> >Menurut temuan BPK, terjadi penyelewengan 30-40 persen dari biaya > >> perjalanan dinas Rp 18 triliun selama setahun. Banyak perjalanan dinas > >> dilakukan secara fiktif. > >> >Dalam periode 2010-2011, terjadi lonjakan anggaran dinas dan daerah. > Pada > >> 2010, anggaran perjalanan dinas pusat dan daerah mencapai Rp 12,5 > triliun. > >> Pada 2011, anggaran melonjak Rp 18 triliun. Adapun pada 2012, anggaran > >> perjalanan dinas PNS telah mencapai Rp 23,9 triliun untuk pusat dan > daerah. > >> Jumlah itu setara dengan 1,6 persen dari nilai total APBN 2012. > >> > > >> >Ironisnya, segala inisiatif negara, yang susah-payah mengumpulkan uang > >> rakyat melalui pajak dan cara lain, ternyata sebagian besar habis untuk > >> membiayai aparatur pemerintahan. Sementara itu, rakyat sebagai pemegang > >> kedaulatan di negeri ini, terutama dari kalangan masyarakat miskin > sebesar > >> 47 persen penduduk Indonesia, hanya tinggal gigit jari dan geram > >> menyaksikan fenomena diskriminasi dan ketidakadilan dalam pembagian kue > >> APBN dan anggaran pendapatan dan belanja daerah. > >> > > >> >Bukan hanya itu, masyarakat miskin tersebut siap-siap menghadapi > beratnya > >> tekanan hidup setelah pemberlakuan remunerasi yang menimbulkan inflasi. > >> Dalam fase ini, terjadi peningkatan harga secara umum dan serentak yang > >> dibarengi dengan penghasilan yang justru semakin kecil dan tidak > menentu. > >> > > >> >Program remunerasi dalam tubuh Polri sendiri dapat menciptakan jarak > >> penghasilan yang begitu lebar antara perwira tinggi (pati) dan anggota > >> Polri lainnya. Sebab, dalam Perpres Nomor 73 Tahun 2010 disebutkan bahwa > >> penghasilan pati = Rp 46-30 juta, sedangkan non-pati = Rp 2-5 juta. > Program > >> tersebut juga dapat menjadi pemantik tumbuhnya konsumerisme yang > berpuncak > >> pada lahirnya perilaku korup. > >> > > >> >Dalam hukum ekonomi dipahami bahwa income yang meningkat akan dibarengi > >> dengan konsumsi yang meningkat pula. > >> > > >> >Bahkan sangat boleh jadi income yang tinggi merupakan instrumen paling > >> subur menuju lembah hedonisme. Sebab, penghasilan yang melimpah tanpa > >> dibarengi pembinaan mental ataupun pengetahuan manajemen keuangan rumah > >> tangga secara baik akan menjadi lahan yang sangat subur bagi tumbuhnya > >> syahwat untuk mencari kepuasan setinggi-tingginya. > >> > > >> >Jangan-jangan maraknya penyalahgunaan narkoba hingga perilaku seks > bebas > >> ataupun praktek perjudian yang sering melibatkan aparat selama ini > sebagian > >> besar disebabkan oleh pengaruh hedonisme yang dipicu oleh kultur > >> konsumerisme akibat tersedianya daya beli yang relatif tinggi. Sesuai > >> dengan hukum Gossen, pemuasan kebutuhan tingkat pertama akan menjadi > pemicu > >> dilakukannya pemuasan kebutuhan tingkat kedua dan seterusnya tanpa > batas. > >> > > >> >Seorang pejabat atau siapa pun yang sudah terperangkap dalam syahwat > >> konsumerisme dan hedonisme pasti akan terus berupaya meningkatkan income > >> sebagai alat pemuas kebutuhan. Apabila tidak tercapai secara normal > dalam > >> tempo yang sesingkat-singkatnya, yang bersangkutan sudah mulai berpikir > dan > >> bertindak menghalalkan segala cara demi memperoleh alat pemuas kebutuhan > >> secara cepat dan sebesar-besarnya. Di sinilah entry point terpicunya > >> perbuatan kriminal di kalangan aparat untuk melakukan suap, pungli, > >> pemerasan, penipuan, pencurian perampokan, hingga korupsi. ● > >> > > >> > > >> > > >> > > >> > > >> > > >> > > >> >[Non-text portions of this message have been removed] > >> > > >> > > >> > > >> > > >> > > >> > >> [Non-text portions of this message have been removed] > >> > >> > >> > > > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
