thx ceritanya ted, sang rektor yg satu itu memang sangat mengagumkan. dia pertaruhkan karirnya untuk menentang rezim orba. bandingkan dengan orang yg tidak mempertaruhkan apa2, tapi ngaku2 ikut menjatuhkan orba hanya dengan ber koar2 "mendukung dari jauh".
kualitasnya *jauh* banget ya? --- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@...> wrote: > > Dulu saya cuma kenal dengan Marita, Marga dan Mario, putra-putri almarhum STA > dengan istri bulenya. Mario teman main basket. > > Berikut sekedar ilustrasi kejadian zaman dulu. > > Bandung belum beranjak siang di awal Januari 1978. Lelaki setengah baya > berbadan tinggi, dengan langkah tergopoh-gopoh, masuk ke ruangan Panglima > Kodam Siliwangi di Jalan Aceh di pusat Kota Bandung. Tamu tak diundang itu > langsung berkacak pinggang di depan Panglima Siliwangi, "Waarom hebben jullie > mijn huis beschoten?" - Mengapa kalian menembaki rumah saya? > > Mayor Jenderal Himawan Sutanto kaget mendapat berondongan pertanyaan seperti > itu. Apalagi pagi itu belum ada laporan dari stafnya perihal penembakan di > rumah dinas Rektor ITB. Jenderal Himawan pun menjawab dengan Holland spreken > pula, "Kalau ada yang menembaki rumah, itu bukan cara saya dan pasti bukan > kerjaan anak buah saya." > > Lelaki tinggi itu tak lain adalah Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana, Rektor > ITB. Kala itu ia dan keluarganya nyaris terserempet pelor dari aksi penembak > gelap yang memberondong rumah dinasnya. Tak puas mendapat jawaban itu, Prof. > Iskandar kembali bertanya, "Wie dan?" (Lalu siapa?) Jenderal Himawan tetap > menggelengkan kepala. > > Pertanyaan Prof. Is - panggilan akrab Iskandar Alisjahbana - sampai kini > belum terjawab tuntas, padahal sudah 30 tahun berlalu setelah peristiwa > pendudukan kampus ITB oleh tentara pada 20 Januari 1978. Pemerintah pun > "menghadiahi" sikap gentleman Prof. Is dengan mencopot jabatannya sebagai > Rektor ITB pada 14 Februari 1978. Alasannya, seperti disampaikan oleh Menteri > Pendidikan Sjarief Thajeb, saat itu Prof Iskandar Alisjahbana dianggap tak > mampu memulihkan kampus ITB yang dalam kacamata pemerintah telah menjadi > "sarang pemberontak". > Pemerintah menilai Prof. Is terlalu membela Heri Akhmadi, Rizal Ramli, > Al-Hilal Hamdi, Jusman Syafi'i Djamal, Ramles Manapang, dan para pemimpin > Dewan Mahasiswa (DM) Indonesia lainnya. Saat itu para pemimpin mahasiswa > memang mengkritik keras kebijakan pemerintah Orde Baru. Bahkan, dalam satu > butir Ikrar Mahasiswa yang dibacakan di depan 8.000 mahasiswa di lapangan > basket ITB, pimpinan DM se-Indonesia menuntut dilangsungkannya Sidang > Istimewa MPR meminta pertanggungjawaban Presiden Soeharto. > > Alih-alih membubarkan aksi "nekat" para mahasiswa itu, Prof. Is malah ikut > berbaur di antara kerumunan demonstrasi mahasiswa. Bahkan rektor yang > mempunyai hobi fotografi ini malah sibuk dengan tustelnya, jeprat-jepret > mendokumentasikan aksi happening art para aktivis mahasiswa dalam acara yang > disebut Gelora Kebangkitan 28 Oktober 1977. > > Delapan tahun lalu, dalam diskusi peluncuran buku Menentang Tirani Aksi > Mahasiswa 77-78 di Aula ITB Bandung, Prof. Is, yang membaca cerita soal > penembakan di kediamannya, sempat menanyakan siapa sebenarnya pelaku yang > menembaki rumahnya. Kala itu penulis yang masih terikat "janji" pun tak > memberitahukan perihal siapa penembak gelap itu. Dalam buku Menentang Tirani, > penulis menyebutkan bahwa pelaku penembakan rumah Rektor ITB adalah seorang > perwira pertama Angkatan Darat yang memiliki kedekatan dengan Jenderal Benny > Moerdani, yang saat itu menjabat Asisten G-1 (Intel) Hankam. Selain menembak > dengan senapan tua eks Perang Dunia II, sang kapten yang veteran pejuang ini > dengan gamblang membeberkan operasi pendudukan Ganesha. > > Operasi pendudukan kampus ITB atas perintah Kepala Staf Komando Pemulihan > Keamanan dan Ketertiban (Kaskopkamtib) Laksamana Soedomo. Sebagai komandan > pelaksana operasi adalah Benny Moerdani. Lantaran operasi intelijen, > pelaksana berada di bawah komando Satgas Kopkamtib dan pelaksana lapangan > oleh Asisten 1 (Intelijen) Kodam Siliwangi, Kolonel Samalo. Jalur inilah yang > melampaui Himawan Sutanto, sebagai Pangdam. Pembeberan operasi ini dibuka > dengan sebuah janji nama sang kapten tetap dirahasiakan. Namun, janji ini > bisa dilanggar dan nama sang kapten bisa dibuka jika Benny Moerdani yang > mantan atasannya sudah meninggal. Prof. Is, lewat anak menantunya, Mas > Bambang Harymurti, dalam beberapa kali perjumpaan menanyakan kepada saya > siapa penembak rumah Prof Is. > > Waktu itu saya menjawab Benny Moerdani belum meninggal, sehingga saya belum > bisa membuka identitas sang kapten tersebut. Kini Prof. Is telah berpulang > dan Benny Moerdani pun sudah lama tiada. Lewat tulisan inilah penulis ingin > menyampaikan jawaban yang sudah 30 tahun tak terbalaskan. Sang Kapten memang > bukan perwira karier lulusan akademi militer. Dia, secara tak sengaja, > penulis temui saat mewawancarai pelaku-pelaku sejarah Indonesia dalam rubrik > wawancara di majalah Tempo. > > Dalam kesaksiannya, sang kapten menyebut tembakan ke rumah Prof Iskandar > hanya untuk menakut-nakuti. Arah tembakan ke genting rumah sehingga tak > berbahaya. Namun, tetap saja namanya tembakan senjata, si pemilik rumah sudah > tentu dibuat berang jadinya. > Selain kepada penulis, Sang Kapten mengaku sudah menceritakan aksi operasi > "koboinya" kepada mantan Pangdam Siliwangi Himawan Soetanto. Sebagai > pengungkapan sejarah, seperti juga disampaikan oleh para pelaku, kini saatnya > jati diri Sang Kapten dibuka. Sang Kapten, yang masih kerabat pejuang Pembela > Tanah Air Supriyadi, tak lain adalah Ki Oetomo Darmadi. Walaupun agak > terlambat, pengungkapan ini semoga menjawab pertanyaan Prof Iskandar > Alisjahbana (almarhum) yang lama tak terjawab. Selamat jalan, Prof Is, > pendidik humanis yang keberaniannya banyak menginspirasi para mahasiswanya > dan juga Indonesia. > > - dikutip dari "Mengenang Iskandar Alisjahbana" oleh Edy Budiyarso > > > --- In [email protected], "johny_indon" <johny_indon@> wrote: > > > > armida ini anaknya prof. mochtar kusumaatmaja. > > suaminya andi alisjahbana, direktur iptn (pt di). > > mertuanya adalah prof. iskandar alisjahbana, mantan rektor itb (si > > bleki langsung meradang lagi denger nama itb) yg merancang > > sistem komunikasi satelit domestik palapa. > > jadi mereka2 ini adalah tipikal 'the best breed'. > > > > klan alisjahbana sendiri, yg terkenal mulai dari sutan takdir alisjahbana, > > tidak pernah ada yg gagal, semuanya mengagumkan. > > misalnya betti alisjahbana, pernah jadi direktur ibm di indonesia. > > > > nah, sekarang bandingkan dengan klan lainnya yg juga pake > > gelar 'sutan' yg tinggal di luar negri itu, boro2 mengagumkan, yg > > ada malah memalukan karena hidup sebagai benalu tanpa kerjaan samasekali. > > dia kumpul kebo dengan dengan kebo bernama marlene yg profesinya... > > apa ya.. ngga jelas, kayaknya ini cewek yg suka luntang lantung di red > > light district di amsterdam itu. > > mertuanya seorang...hmm.. jelas bukan rektor, kemungkinan sih germo. > > > > untunglah kebo si sutan yg satu itu tidak bisa beranak, sehingga > > rantai DNA yg busuk itu bisa terputus. > > bayangin kalo keluarga si 'sutan' busuk ini beranak pinak, bukan saja > > merusak image orang melayu, tapi belanda bisa bangkrut dalam sekejap. > > > > pihak keluarganya di minangkabau sono konon sedang mempertimbangkan > > untuk mengganti gelar 'sutan' yg dia sandang menjadi 'setan'. > > > > --- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@> wrote: > > > > > > Bo a bo. > > > > > > Merasa lebih unggul daripada orang yang punya profil di bawah ini? > > > Yang jelas walaupun sama-sama alumni UI, tapi bukan dari jurusan Sastra > > > lah yaww! Kalau orang dari jurusan Sastra tapi diangkat untuk menduduki > > > posisi itu, maka itu baru namanya sedeng. > > > > > > > > > Armida has served as chairman of the Economics and Development Studies > > > Department (now the Faculty of Economics) in Padjadjaran University and > > > Director of the Center for Economics and Development Studies (LP3E).[2] > > > She obtained her B.A. in Economics from University of Indonesia and > > > earned an M.A. in Economics from Northwestern University. She earned her > > > Phd in Economics from University of Washington. Before becoming a > > > minister, in her academic capacity Armida undertook various research > > > tasks for the World Bank and the Australian Agency for International > > > Development (AusAID).[2] > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@> wrote: > > > > > > > > > > > > > > > > Edan... > > > > > > > > Orang sedeng begini bisa jadi menteri di Indonesia.. > > > > > > > > --- In [email protected], "Sunny" <ambon@> wrote: > > > > > > > > > > Ref: Hebat luar biasa! > > > > > > > > > > http://www.antaranews.com/berita/320755/menteri-indonesia-jadi-pusat-pengetahuan-dunia > > > > > Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia > > > > > Selasa, 10 Juli 2012 10:32 WIB | 634 Views > > > > > > > > > > > > > > > Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana. (FOTO.ANTARA) > > > > > > > > > > Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan, titik > > > > > simpul jaringan untuk berbagi pengalaman kepada negara-negara > > > > > berkembang > > > > > Denpasar (ANTARA News) - Indonesia akan menjadi pusat pengetahuan > > > > > dunia karena Indonesia dinilai telah banyak memiliki pengalaman > > > > > pembangunan yang bisa dibagikan kepada negara berkembang, kata > > > > > Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Salsiah > > > > > Alisjahbana. > > > > > > > > > > "Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan (Knowledge > > > > > Hubs), titik simpul jaringan untuk berbagi pengalaman kepada > > > > > negara-negara berkembang," katanya pada Pertemuan Kerja Sama > > > > > Selatan-Selatan di Nusa Dua, Selasa. > > > > > > > > > > Dia mengatakan bahwa ada tiga bidang yang bisa dibagi ke negara > > > > > berkembang di antaranya pembangunan, demokrasi, pemerintahan dan > > > > > pembangunan perdamaian, dan kebijakan pengelolaan ekonomi baik makro > > > > > maupun keuangan mikro. > > > > > > > > > > Menurutnya, Indonesia dinilai berhasil dalam isu pembangunan yang > > > > > mencakup pengentasan kemiskinan seperti melalui Program Nasional > > > > > Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. > > > > > > > > > > Selain itu, juga meliputi penerapan mitigasi bencana dan penanganan > > > > > bencana seperti pengalaman penanganan bencana tsunami di Aceh, > > > > > ketahanan pangan dan pembangunan sumber daya manusia. > > > > > > > > > > Hal itulah yang merupakan kesuksesan Indonesia dalam program > > > > > kebijakan yang bisa dijadikan contoh bagi negara-negara berkembang. > > > > > > > > > > Indonesia, menurut Kepala Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) itu, > > > > > saat ini bukan lagi sebagai negara berkembang namun sudah menjadi > > > > > negara dengan pendapatan ekonomi menengah atau emerging country. > > > > > > > > > > "Indonesia sekarang bukan lagi sekedar negara penerima bantuan dari > > > > > negara donor, namun Indonesia secara bertahap menjadi negara donor > > > > > pada tiga bidang itu," tambahnya. > > > > > > > > > > Dalam pertemuan Kerja Sama Selatan-Selatan yang dibuka Wakil Presiden > > > > > Boediono dan dihadiri 300 perserta dari 46 negara itu juga akan > > > > > membahas pengembangan pusat pengetahuan dunia itu untuk masa depan. > > > > > > > > > > Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama kali digelar di negara > > > > > dengan ekonomi menengah yang selama ini selalu digelar di > > > > > negara-negara dengan ekonomi maju. > > > > > (330/F002) > > > > > Editor: Desy Saputra > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
