Oh ya, kelupaan, si Iskandar Alisjahbana itu jualan barang ke militer di jaman Orba. Apa yg kayak gitu nentang rezim orba?
>________________________________ > From: item abu <[email protected]> >To: "[email protected]" <[email protected]> >Sent: Wednesday, July 11, 2012 11:22 AM >Subject: Re: [proletar] Re: Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia > > > >Nentang rezim orba? Hehehe... besanan dgn Mochtar Kusumaatmaja, anak kerja di >IPTN di bawah Habibie yg kerjanya ngabis2in dana unt proyek ga ada hasil sama >sekali. > >>________________________________ >> From: johny_indon <[email protected]> >>To: [email protected] >>Sent: Wednesday, July 11, 2012 8:57 AM >>Subject: [proletar] Re: Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia >> >> >> >> >> >>thx ceritanya ted, sang rektor yg satu itu memang sangat mengagumkan. >>dia pertaruhkan karirnya untuk menentang rezim orba. >>bandingkan dengan orang yg tidak mempertaruhkan apa2, tapi ngaku2 >>ikut menjatuhkan orba hanya dengan ber koar2 "mendukung dari jauh". >> >>kualitasnya *jauh* banget ya? >> >>--- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@...> wrote: >>> >>> Dulu saya cuma kenal dengan Marita, Marga dan Mario, putra-putri almarhum >>> STA dengan istri bulenya. Mario teman main basket. >>> >>> Berikut sekedar ilustrasi kejadian zaman dulu. >>> >>> Bandung belum beranjak siang di awal Januari 1978. Lelaki setengah baya >>> berbadan tinggi, dengan langkah tergopoh-gopoh, masuk ke ruangan Panglima >>> Kodam Siliwangi di Jalan Aceh di pusat Kota Bandung. Tamu tak diundang itu >>> langsung berkacak pinggang di depan Panglima Siliwangi, "Waarom hebben >>> jullie mijn huis beschoten?" - Mengapa kalian menembaki rumah saya? >>> >>> Mayor Jenderal Himawan Sutanto kaget mendapat berondongan pertanyaan >>> seperti itu. Apalagi pagi itu belum ada laporan dari stafnya perihal >>> penembakan di rumah dinas Rektor ITB. Jenderal Himawan pun menjawab dengan >>> Holland spreken pula, "Kalau ada yang menembaki rumah, itu bukan cara saya >>> dan pasti bukan kerjaan anak buah saya." >>> >>> Lelaki tinggi itu tak lain adalah Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana, >>> Rektor ITB. Kala itu ia dan keluarganya nyaris terserempet pelor dari aksi >>> penembak gelap yang memberondong rumah dinasnya. Tak puas mendapat jawaban >>> itu, Prof. Iskandar kembali bertanya, "Wie dan?" (Lalu siapa?) Jenderal >>> Himawan tetap menggelengkan kepala. >>> >>> Pertanyaan Prof. Is - panggilan akrab Iskandar Alisjahbana - sampai kini >>> belum terjawab tuntas, padahal sudah 30 tahun berlalu setelah peristiwa >>> pendudukan kampus ITB oleh tentara pada 20 Januari 1978. Pemerintah pun >>> "menghadiahi" sikap gentleman Prof. Is dengan mencopot jabatannya sebagai >>> Rektor ITB pada 14 Februari 1978. Alasannya, seperti disampaikan oleh >>> Menteri Pendidikan Sjarief Thajeb, saat itu Prof Iskandar Alisjahbana >>> dianggap tak mampu memulihkan kampus ITB yang dalam kacamata pemerintah >>> telah menjadi "sarang pemberontak". >>> Pemerintah menilai Prof. Is terlalu membela Heri Akhmadi, Rizal Ramli, >>> Al-Hilal Hamdi, Jusman Syafi'i Djamal, Ramles Manapang, dan para pemimpin >>> Dewan Mahasiswa (DM) Indonesia lainnya. Saat itu para pemimpin mahasiswa >>> memang mengkritik keras kebijakan pemerintah Orde Baru. Bahkan, dalam satu >>> butir Ikrar Mahasiswa yang dibacakan di depan 8.000 mahasiswa di lapangan >>> basket ITB, pimpinan DM se-Indonesia menuntut dilangsungkannya Sidang >>> Istimewa MPR meminta pertanggungjawaban Presiden Soeharto. >>> >>> Alih-alih membubarkan aksi "nekat" para mahasiswa itu, Prof. Is malah ikut >>> berbaur di antara kerumunan demonstrasi mahasiswa. Bahkan rektor yang >>> mempunyai hobi fotografi ini malah sibuk dengan tustelnya, jeprat-jepret >>> mendokumentasikan aksi happening art para aktivis mahasiswa dalam acara >>> yang disebut Gelora Kebangkitan 28 Oktober 1977. >>> >>> Delapan tahun lalu, dalam diskusi peluncuran buku Menentang Tirani Aksi >>> Mahasiswa 77-78 di Aula ITB Bandung, Prof. Is, yang membaca cerita soal >>> penembakan di kediamannya, sempat menanyakan siapa sebenarnya pelaku yang >>> menembaki rumahnya. Kala itu penulis yang masih terikat "janji" pun tak >>> memberitahukan perihal siapa penembak gelap itu. Dalam buku Menentang >>> Tirani, penulis menyebutkan bahwa pelaku penembakan rumah Rektor ITB adalah >>> seorang perwira pertama Angkatan Darat yang memiliki kedekatan dengan >>> Jenderal Benny Moerdani, yang saat itu menjabat Asisten G-1 (Intel) Hankam. >>> Selain menembak dengan senapan tua eks Perang Dunia II, sang kapten yang >>> veteran pejuang ini dengan gamblang membeberkan operasi pendudukan Ganesha. >>> >>> Operasi pendudukan kampus ITB atas perintah Kepala Staf Komando Pemulihan >>> Keamanan dan Ketertiban (Kaskopkamtib) Laksamana Soedomo. Sebagai komandan >>> pelaksana operasi adalah Benny Moerdani. Lantaran operasi intelijen, >>> pelaksana berada di bawah komando Satgas Kopkamtib dan pelaksana lapangan >>> oleh Asisten 1 (Intelijen) Kodam Siliwangi, Kolonel Samalo. Jalur inilah >>> yang melampaui Himawan Sutanto, sebagai Pangdam. Pembeberan operasi ini >>> dibuka dengan sebuah janji nama sang kapten tetap dirahasiakan. Namun, >>> janji ini bisa dilanggar dan nama sang kapten bisa dibuka jika Benny >>> Moerdani yang mantan atasannya sudah meninggal. Prof. Is, lewat anak >>> menantunya, Mas Bambang Harymurti, dalam beberapa kali perjumpaan >>> menanyakan kepada saya siapa penembak rumah Prof Is. >>> >>> Waktu itu saya menjawab Benny Moerdani belum meninggal, sehingga saya belum >>> bisa membuka identitas sang kapten tersebut. Kini Prof. Is telah berpulang >>> dan Benny Moerdani pun sudah lama tiada. Lewat tulisan inilah penulis ingin >>> menyampaikan jawaban yang sudah 30 tahun tak terbalaskan. Sang Kapten >>> memang bukan perwira karier lulusan akademi militer. Dia, secara tak >>> sengaja, penulis temui saat mewawancarai pelaku-pelaku sejarah Indonesia >>> dalam rubrik wawancara di majalah Tempo. >>> >>> Dalam kesaksiannya, sang kapten menyebut tembakan ke rumah Prof Iskandar >>> hanya untuk menakut-nakuti. Arah tembakan ke genting rumah sehingga tak >>> berbahaya. Namun, tetap saja namanya tembakan senjata, si pemilik rumah >>> sudah tentu dibuat berang jadinya. >>> Selain kepada penulis, Sang Kapten mengaku sudah menceritakan aksi operasi >>> "koboinya" kepada mantan Pangdam Siliwangi Himawan Soetanto. Sebagai >>> pengungkapan sejarah, seperti juga disampaikan oleh para pelaku, kini >>> saatnya jati diri Sang Kapten dibuka. Sang Kapten, yang masih kerabat >>> pejuang Pembela Tanah Air Supriyadi, tak lain adalah Ki Oetomo Darmadi. >>> Walaupun agak terlambat, pengungkapan ini semoga menjawab pertanyaan Prof >>> Iskandar Alisjahbana (almarhum) yang lama tak terjawab. Selamat jalan, Prof >>> Is, pendidik humanis yang keberaniannya banyak menginspirasi para >>> mahasiswanya dan juga Indonesia. >>> >>> - dikutip dari "Mengenang Iskandar Alisjahbana" oleh Edy Budiyarso >>> >>> >>> --- In [email protected], "johny_indon" <johny_indon@> wrote: >>> > >>> > armida ini anaknya prof. mochtar kusumaatmaja. >>> > suaminya andi alisjahbana, direktur iptn (pt di). >>> > mertuanya adalah prof. iskandar alisjahbana, mantan rektor itb (si >>> > bleki langsung meradang lagi denger nama itb) yg merancang >>> > sistem komunikasi satelit domestik palapa. >>> > jadi mereka2 ini adalah tipikal 'the best breed'. >>> > >>> > klan alisjahbana sendiri, yg terkenal mulai dari sutan takdir >>> > alisjahbana, tidak pernah ada yg gagal, semuanya mengagumkan. >>> > misalnya betti alisjahbana, pernah jadi direktur ibm di indonesia. >>> > >>> > nah, sekarang bandingkan dengan klan lainnya yg juga pake >>> > gelar 'sutan' yg tinggal di luar negri itu, boro2 mengagumkan, yg >>> > ada malah memalukan karena hidup sebagai benalu tanpa kerjaan samasekali. >>> > dia kumpul kebo dengan dengan kebo bernama marlene yg profesinya... >>> > apa ya.. ngga jelas, kayaknya ini cewek yg suka luntang lantung di red >>> > light district di amsterdam itu. >>> > mertuanya seorang...hmm.. jelas bukan rektor, kemungkinan sih germo. >>> > >>> > untunglah kebo si sutan yg satu itu tidak bisa beranak, sehingga >>> > rantai DNA yg busuk itu bisa terputus. >>> > bayangin kalo keluarga si 'sutan' busuk ini beranak pinak, bukan saja >>> > merusak image orang melayu, tapi belanda bisa bangkrut dalam sekejap. >>> > >>> > pihak keluarganya di minangkabau sono konon sedang mempertimbangkan >>> > untuk mengganti gelar 'sutan' yg dia sandang menjadi 'setan'. >>> > >>> > --- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@> wrote: >>> > > >>> > > Bo a bo. >>> > > >>> > > Merasa lebih unggul daripada orang yang punya profil di bawah ini? >>> > > Yang jelas walaupun sama-sama alumni UI, tapi bukan dari jurusan Sastra >>> > > lah yaww! Kalau orang dari jurusan Sastra tapi diangkat untuk menduduki >>> > > posisi itu, maka itu baru namanya sedeng. >>> > > >>> > > >>> > > Armida has served as chairman of the Economics and Development Studies >>> > > Department (now the Faculty of Economics) in Padjadjaran University and >>> > > Director of the Center for Economics and Development Studies (LP3E).[2] >>> > > She obtained her B.A. in Economics from University of Indonesia and >>> > > earned an M.A. in Economics from Northwestern University. She earned >>> > > her Phd in Economics from University of Washington. Before becoming a >>> > > minister, in her academic capacity Armida undertook various research >>> > > tasks for the World Bank and the Australian Agency for International >>> > > Development (AusAID).[2] >>> > > >>> > > >>> > > >>> > > --- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@> wrote: >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > Edan... >>> > > > >>> > > > Orang sedeng begini bisa jadi menteri di Indonesia.. >>> > > > >>> > > > --- In [email protected], "Sunny" <ambon@> wrote: >>> > > > > >>> > > > > Ref: Hebat luar biasa! >>> > > > > >>> > > > > http://www.antaranews.com/berita/320755/menteri-indonesia-jadi-pusat-pengetahuan-dunia >>> > > > > Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia >>> > > > > Selasa, 10 Juli 2012 10:32 WIB | 634 Views >>> > > > > >>> > > > > >>> > > > > Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana. >>> > > > > (FOTO.ANTARA) >>> > > > > >>> > > > > Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan, titik >>> > > > > simpul jaringan untuk berbagi pengalaman kepada negara-negara >>> > > > > berkembang >>> > > > > Denpasar (ANTARA News) - Indonesia akan menjadi pusat pengetahuan >>> > > > > dunia karena Indonesia dinilai telah banyak memiliki pengalaman >>> > > > > pembangunan yang bisa dibagikan kepada negara berkembang, kata >>> > > > > Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Salsiah >>> > > > > Alisjahbana. >>> > > > > >>> > > > > "Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan >>> > > > > (Knowledge Hubs), titik simpul jaringan untuk berbagi pengalaman >>> > > > > kepada negara-negara berkembang," katanya pada Pertemuan Kerja Sama >>> > > > > Selatan-Selatan di Nusa Dua, Selasa. >>> > > > > >>> > > > > Dia mengatakan bahwa ada tiga bidang yang bisa dibagi ke negara >>> > > > > berkembang di antaranya pembangunan, demokrasi, pemerintahan dan >>> > > > > pembangunan perdamaian, dan kebijakan pengelolaan ekonomi baik >>> > > > > makro maupun keuangan mikro. >>> > > > > >>> > > > > Menurutnya, Indonesia dinilai berhasil dalam isu pembangunan yang >>> > > > > mencakup pengentasan kemiskinan seperti melalui Program Nasional >>> > > > > Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. >>> > > > > >>> > > > > Selain itu, juga meliputi penerapan mitigasi bencana dan penanganan >>> > > > > bencana seperti pengalaman penanganan bencana tsunami di Aceh, >>> > > > > ketahanan pangan dan pembangunan sumber daya manusia. >>> > > > > >>> > > > > Hal itulah yang merupakan kesuksesan Indonesia dalam program >>> > > > > kebijakan yang bisa dijadikan contoh bagi negara-negara berkembang. >>> > > > > >>> > > > > Indonesia, menurut Kepala Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) itu, >>> > > > > saat ini bukan lagi sebagai negara berkembang namun sudah menjadi >>> > > > > negara dengan pendapatan ekonomi menengah atau emerging country. >>> > > > > >>> > > > > "Indonesia sekarang bukan lagi sekedar negara penerima bantuan dari >>> > > > > negara donor, namun Indonesia secara bertahap menjadi negara donor >>> > > > > pada tiga bidang itu," tambahnya. >>> > > > > >>> > > > > Dalam pertemuan Kerja Sama Selatan-Selatan yang dibuka Wakil >>> > > > > Presiden Boediono dan dihadiri 300 perserta dari 46 negara itu juga >>> > > > > akan membahas pengembangan pusat pengetahuan dunia itu untuk masa >>> > > > > depan. >>> > > > > >>> > > > > Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama kali digelar di negara >>> > > > > dengan ekonomi menengah yang selama ini selalu digelar di >>> > > > > negara-negara dengan ekonomi maju. >>> > > > > (330/F002) >>> > > > > Editor: Desy Saputra >>> > > > > >>> > > > > >>> > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >>> > > > > >>> > > > >>> > > >>> > >>> >> >> >> >> >> > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
