Nentang rezim orba? Hehehe... besanan dgn Mochtar Kusumaatmaja, anak kerja di 
IPTN di bawah Habibie yg kerjanya ngabis2in dana unt proyek ga ada hasil sama 
sekali.





>________________________________
> From: johny_indon <[email protected]>
>To: [email protected] 
>Sent: Wednesday, July 11, 2012 8:57 AM
>Subject: [proletar] Re: Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia
> 
>
>  
>
>
>thx ceritanya ted, sang rektor yg satu itu memang sangat mengagumkan.
>dia pertaruhkan karirnya untuk menentang rezim orba.
>bandingkan dengan orang yg tidak mempertaruhkan apa2, tapi ngaku2 
>ikut menjatuhkan orba hanya dengan ber koar2 "mendukung dari jauh".
>
>kualitasnya *jauh* banget ya?
>
>--- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@...> wrote:
>>
>> Dulu saya cuma kenal dengan Marita, Marga dan Mario, putra-putri almarhum 
>> STA dengan istri bulenya. Mario teman main basket.
>> 
>> Berikut sekedar ilustrasi kejadian zaman dulu.
>> 
>> Bandung belum beranjak siang di awal Januari 1978. Lelaki setengah baya 
>> berbadan tinggi, dengan langkah tergopoh-gopoh, masuk ke ruangan Panglima 
>> Kodam Siliwangi di Jalan Aceh di pusat Kota Bandung. Tamu tak diundang itu 
>> langsung berkacak pinggang di depan Panglima Siliwangi, "Waarom hebben 
>> jullie mijn huis beschoten?" - Mengapa kalian menembaki rumah saya?
>> 
>> Mayor Jenderal Himawan Sutanto kaget mendapat berondongan pertanyaan seperti 
>> itu. Apalagi pagi itu belum ada laporan dari stafnya perihal penembakan di 
>> rumah dinas Rektor ITB. Jenderal Himawan pun menjawab dengan Holland spreken 
>> pula, "Kalau ada yang menembaki rumah, itu bukan cara saya dan pasti bukan 
>> kerjaan anak buah saya."
>> 
>> Lelaki tinggi itu tak lain adalah Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana, 
>> Rektor ITB. Kala itu ia dan keluarganya nyaris terserempet pelor dari aksi 
>> penembak gelap yang memberondong rumah dinasnya. Tak puas mendapat jawaban 
>> itu, Prof. Iskandar kembali bertanya, "Wie dan?" (Lalu siapa?) Jenderal 
>> Himawan tetap menggelengkan kepala.
>> 
>> Pertanyaan Prof. Is - panggilan akrab Iskandar Alisjahbana - sampai kini 
>> belum terjawab tuntas, padahal sudah 30 tahun berlalu setelah peristiwa 
>> pendudukan kampus ITB oleh tentara pada 20 Januari 1978. Pemerintah pun 
>> "menghadiahi" sikap gentleman Prof. Is dengan mencopot jabatannya sebagai 
>> Rektor ITB pada 14 Februari 1978. Alasannya, seperti disampaikan oleh 
>> Menteri Pendidikan Sjarief Thajeb, saat itu Prof Iskandar Alisjahbana 
>> dianggap tak mampu memulihkan kampus ITB yang dalam kacamata pemerintah 
>> telah menjadi "sarang pemberontak".
>> Pemerintah menilai Prof. Is terlalu membela Heri Akhmadi, Rizal Ramli, 
>> Al-Hilal Hamdi, Jusman Syafi'i Djamal, Ramles Manapang, dan para pemimpin 
>> Dewan Mahasiswa (DM) Indonesia lainnya. Saat itu para pemimpin mahasiswa 
>> memang mengkritik keras kebijakan pemerintah Orde Baru. Bahkan, dalam satu 
>> butir Ikrar Mahasiswa yang dibacakan di depan 8.000 mahasiswa di lapangan 
>> basket ITB, pimpinan DM se-Indonesia menuntut dilangsungkannya Sidang 
>> Istimewa MPR meminta pertanggungjawaban Presiden Soeharto.
>> 
>> Alih-alih membubarkan aksi "nekat" para mahasiswa itu, Prof. Is malah ikut 
>> berbaur di antara kerumunan demonstrasi mahasiswa. Bahkan rektor yang 
>> mempunyai hobi fotografi ini malah sibuk dengan tustelnya, jeprat-jepret 
>> mendokumentasikan aksi happening art para aktivis mahasiswa dalam acara yang 
>> disebut Gelora Kebangkitan 28 Oktober 1977.
>> 
>> Delapan tahun lalu, dalam diskusi peluncuran buku Menentang Tirani Aksi 
>> Mahasiswa 77-78 di Aula ITB Bandung, Prof. Is, yang membaca cerita soal 
>> penembakan di kediamannya, sempat menanyakan siapa sebenarnya pelaku yang 
>> menembaki rumahnya. Kala itu penulis yang masih terikat "janji" pun tak 
>> memberitahukan perihal siapa penembak gelap itu. Dalam buku Menentang 
>> Tirani, penulis menyebutkan bahwa pelaku penembakan rumah Rektor ITB adalah 
>> seorang perwira pertama Angkatan Darat yang memiliki kedekatan dengan 
>> Jenderal Benny Moerdani, yang saat itu menjabat Asisten G-1 (Intel) Hankam. 
>> Selain menembak dengan senapan tua eks Perang Dunia II, sang kapten yang 
>> veteran pejuang ini dengan gamblang membeberkan operasi pendudukan Ganesha.
>> 
>> Operasi pendudukan kampus ITB atas perintah Kepala Staf Komando Pemulihan 
>> Keamanan dan Ketertiban (Kaskopkamtib) Laksamana Soedomo. Sebagai komandan 
>> pelaksana operasi adalah Benny Moerdani. Lantaran operasi intelijen, 
>> pelaksana berada di bawah komando Satgas Kopkamtib dan pelaksana lapangan 
>> oleh Asisten 1 (Intelijen) Kodam Siliwangi, Kolonel Samalo. Jalur inilah 
>> yang melampaui Himawan Sutanto, sebagai Pangdam. Pembeberan operasi ini 
>> dibuka dengan sebuah janji nama sang kapten tetap dirahasiakan. Namun, janji 
>> ini bisa dilanggar dan nama sang kapten bisa dibuka jika Benny Moerdani yang 
>> mantan atasannya sudah meninggal. Prof. Is, lewat anak menantunya, Mas 
>> Bambang Harymurti, dalam beberapa kali perjumpaan menanyakan kepada saya 
>> siapa penembak rumah Prof Is.
>> 
>> Waktu itu saya menjawab Benny Moerdani belum meninggal, sehingga saya belum 
>> bisa membuka identitas sang kapten tersebut. Kini Prof. Is telah berpulang 
>> dan Benny Moerdani pun sudah lama tiada. Lewat tulisan inilah penulis ingin 
>> menyampaikan jawaban yang sudah 30 tahun tak terbalaskan. Sang Kapten memang 
>> bukan perwira karier lulusan akademi militer. Dia, secara tak sengaja, 
>> penulis temui saat mewawancarai pelaku-pelaku sejarah Indonesia dalam rubrik 
>> wawancara di majalah Tempo. 
>> 
>> Dalam kesaksiannya, sang kapten menyebut tembakan ke rumah Prof Iskandar 
>> hanya untuk menakut-nakuti. Arah tembakan ke genting rumah sehingga tak 
>> berbahaya. Namun, tetap saja namanya tembakan senjata, si pemilik rumah 
>> sudah tentu dibuat berang jadinya.
>> Selain kepada penulis, Sang Kapten mengaku sudah menceritakan aksi operasi 
>> "koboinya" kepada mantan Pangdam Siliwangi Himawan Soetanto. Sebagai 
>> pengungkapan sejarah, seperti juga disampaikan oleh para pelaku, kini 
>> saatnya jati diri Sang Kapten dibuka. Sang Kapten, yang masih kerabat 
>> pejuang Pembela Tanah Air Supriyadi, tak lain adalah Ki Oetomo Darmadi. 
>> Walaupun agak terlambat, pengungkapan ini semoga menjawab pertanyaan Prof 
>> Iskandar Alisjahbana (almarhum) yang lama tak terjawab. Selamat jalan, Prof 
>> Is, pendidik humanis yang keberaniannya banyak menginspirasi para 
>> mahasiswanya dan juga Indonesia.
>> 
>> - dikutip dari "Mengenang Iskandar Alisjahbana" oleh Edy Budiyarso
>> 
>> 
>> --- In [email protected], "johny_indon" <johny_indon@> wrote:
>> >
>> > armida ini anaknya prof. mochtar kusumaatmaja.
>> > suaminya andi alisjahbana, direktur iptn (pt di).
>> > mertuanya adalah prof. iskandar alisjahbana, mantan rektor itb (si 
>> > bleki langsung meradang lagi denger nama itb) yg merancang 
>> > sistem komunikasi satelit domestik palapa.
>> > jadi mereka2 ini adalah tipikal 'the best breed'.
>> > 
>> > klan alisjahbana sendiri, yg terkenal mulai dari sutan takdir alisjahbana, 
>> > tidak pernah ada yg gagal, semuanya mengagumkan.
>> > misalnya betti alisjahbana, pernah jadi direktur ibm di indonesia.
>> > 
>> > nah, sekarang bandingkan dengan klan lainnya yg juga pake 
>> > gelar 'sutan' yg tinggal di luar negri itu, boro2 mengagumkan, yg 
>> > ada malah memalukan karena hidup sebagai benalu tanpa kerjaan samasekali.
>> > dia kumpul kebo dengan dengan kebo bernama marlene yg profesinya... 
>> > apa ya.. ngga jelas, kayaknya ini cewek yg suka luntang lantung di red 
>> > light district di amsterdam itu.
>> > mertuanya seorang...hmm.. jelas bukan rektor, kemungkinan sih germo.
>> > 
>> > untunglah kebo si sutan yg satu itu tidak bisa beranak, sehingga 
>> > rantai DNA yg busuk itu bisa terputus.
>> > bayangin kalo keluarga si 'sutan' busuk ini beranak pinak, bukan saja 
>> > merusak image orang melayu, tapi belanda bisa bangkrut dalam sekejap.
>> > 
>> > pihak keluarganya di minangkabau sono konon sedang mempertimbangkan 
>> > untuk mengganti gelar 'sutan' yg dia sandang menjadi 'setan'.
>> > 
>> > --- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@> wrote:
>> > >
>> > > Bo a bo.
>> > > 
>> > > Merasa lebih unggul daripada orang yang punya profil di bawah ini?
>> > > Yang jelas walaupun sama-sama alumni UI, tapi bukan dari jurusan Sastra 
>> > > lah yaww! Kalau orang dari jurusan Sastra tapi diangkat untuk menduduki 
>> > > posisi itu, maka itu baru namanya sedeng.
>> > > 
>> > > 
>> > > Armida has served as chairman of the Economics and Development Studies 
>> > > Department (now the Faculty of Economics) in Padjadjaran University and 
>> > > Director of the Center for Economics and Development Studies (LP3E).[2] 
>> > > She obtained her B.A. in Economics from University of Indonesia and 
>> > > earned an M.A. in Economics from Northwestern University. She earned her 
>> > > Phd in Economics from University of Washington. Before becoming a 
>> > > minister, in her academic capacity Armida undertook various research 
>> > > tasks for the World Bank and the Australian Agency for International 
>> > > Development (AusAID).[2]
>> > > 
>> > > 
>> > > 
>> > > --- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@> wrote:
>> > > >
>> > > > 
>> > > > 
>> > > > Edan...
>> > > > 
>> > > > Orang sedeng begini bisa jadi menteri di Indonesia..
>> > > > 
>> > > > --- In [email protected], "Sunny" <ambon@> wrote:
>> > > > >
>> > > > > Ref: Hebat luar biasa!
>> > > > > 
>> > > > > http://www.antaranews.com/berita/320755/menteri-indonesia-jadi-pusat-pengetahuan-dunia
>> > > > > Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia 
>> > > > > Selasa, 10 Juli 2012 10:32 WIB | 634 Views
>> > > > > 
>> > > > > 
>> > > > > Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana. (FOTO.ANTARA)
>> > > > > 
>> > > > >   Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan, titik 
>> > > > > simpul jaringan untuk berbagi pengalaman kepada negara-negara 
>> > > > > berkembang 
>> > > > > Denpasar (ANTARA News) - Indonesia akan menjadi pusat pengetahuan 
>> > > > > dunia karena Indonesia dinilai telah banyak memiliki pengalaman 
>> > > > > pembangunan yang bisa dibagikan kepada negara berkembang, kata 
>> > > > > Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Salsiah 
>> > > > > Alisjahbana.
>> > > > > 
>> > > > > "Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan 
>> > > > > (Knowledge Hubs), titik simpul jaringan untuk berbagi pengalaman 
>> > > > > kepada negara-negara berkembang," katanya pada Pertemuan Kerja Sama 
>> > > > > Selatan-Selatan di Nusa Dua, Selasa. 
>> > > > > 
>> > > > > Dia mengatakan bahwa ada tiga bidang yang bisa dibagi ke negara 
>> > > > > berkembang di antaranya pembangunan, demokrasi, pemerintahan dan 
>> > > > > pembangunan perdamaian, dan kebijakan pengelolaan ekonomi baik makro 
>> > > > > maupun keuangan mikro.
>> > > > > 
>> > > > > Menurutnya, Indonesia dinilai berhasil dalam isu pembangunan yang 
>> > > > > mencakup pengentasan kemiskinan seperti melalui Program Nasional 
>> > > > > Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.
>> > > > > 
>> > > > > Selain itu, juga meliputi penerapan mitigasi bencana dan penanganan 
>> > > > > bencana seperti pengalaman penanganan bencana tsunami di Aceh, 
>> > > > > ketahanan pangan dan pembangunan sumber daya manusia.
>> > > > > 
>> > > > > Hal itulah yang merupakan kesuksesan Indonesia dalam program 
>> > > > > kebijakan yang bisa dijadikan contoh bagi negara-negara berkembang.
>> > > > > 
>> > > > > Indonesia, menurut Kepala Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) itu, 
>> > > > > saat ini bukan lagi sebagai negara berkembang namun sudah menjadi 
>> > > > > negara dengan pendapatan ekonomi menengah atau emerging country.
>> > > > > 
>> > > > > "Indonesia sekarang bukan lagi sekedar negara penerima bantuan dari 
>> > > > > negara donor, namun Indonesia secara bertahap menjadi negara donor 
>> > > > > pada tiga bidang itu," tambahnya.
>> > > > > 
>> > > > > Dalam pertemuan Kerja Sama Selatan-Selatan yang dibuka Wakil 
>> > > > > Presiden Boediono dan dihadiri 300 perserta dari 46 negara itu juga 
>> > > > > akan membahas pengembangan pusat pengetahuan dunia itu untuk masa 
>> > > > > depan.
>> > > > > 
>> > > > > Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama kali digelar di negara 
>> > > > > dengan ekonomi menengah yang selama ini selalu digelar di 
>> > > > > negara-negara dengan ekonomi maju.
>> > > > > (330/F002) 
>> > > > > Editor: Desy Saputra
>> > > > > 
>> > > > > 
>> > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
>> > > > >
>> > > >
>> > >
>> >
>>
>
>
> 
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke