Lu jangan bandingin diri lu yang dogol dengan orang yang punya visi cemerlang. 
Beliau dapat gelar Dr. Ing dari TU Darmstadt yang merupakan salah satu 
universitas paling elit Jerman untuk bidang teknik. 

Jerman bukan kayak Perancis yang suka mengobral gelar doktor sembarangan dengan 
mutunya diturunkan khusus untuk negara-negara berkembang.

Lu maunya disuapin aja sih. Berikut buat tambah pengetahuan lu yang cetek kayak 
comberan di Jakarta di musim panas.


Iskandar, Palapa, dan Visi Iptek
Terkirim Agustus 29, 2007

NINOK LEKSONO

Dunia mengagumi Amerika, yang sukses mengombinasikan "daya juang meneliti" 
ilmuwan dan sifat "berani mengambil risiko" wirausahawan. (Sambutan Iskandar 
Alisjahbana selaku Ketua Majelis Wali Amanah ITB, 2000)

Sungguh tepatlah kalau Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memberikan 
Penghargaan Sarwono Prawirohardjo kepada dua tokoh Indonesia, Prof Dr Emil 
Salim dan Prof Dr Ing Iskandar Alisjahbana, 22 Agustus. Dalam pengantarnya, 
Kepala LIPI Umar A Jenie menyebutkan, advokasi Emil Salim telah membangkitkan 
kesadaran masyarakat tentang pentingnya kelestarian lingkungan, sedangkan 
Iskandar dinilai berjasa karena merintis inovasi teknologi yang kemudian 
mewujud pada Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa.

Kiprah dan pemikiran Emil Salim telah disampaikan di harian ini pada 22 Agustus 
dan "Forum Iptek" kali ini ingin mengangkat kembali visi Sistem Komunikasi 
Satelit Domestik (SKSD) Palapa yang pernah dilontarkan oleh Iskandar dan 
menegaskan kembali betapa pentingnya visi masa depan, khususnya di bidang ilmu 
pengetahuan dan teknologi (iptek) seperti yang telah diperlihatkan Iskandar.

Empat dekade silam

Sebagai negara kepulauan dengan rentang geografi sekitar 5.300 kilometer, 
Indonesia tentu dihadapkan pada tantangan komunikasi yang luar biasa. Solusi 
terestrial, solusi kabel laut, telah membantu pengembangan komunikasi Tanah 
Air. Namun, keduanya membutuhkan upaya besar, lebih-lebih jika mengingat sifat 
geografis Indonesia yang archipelago, dengan wilayah terdiri dari pulau-pulau 
yang terpisah oleh laut.

Solusi dengan teknologi maju saat itu muncul, yaitu ketika perusahaan Telesat 
Kanada mempersiapkan satelit komunikasi domestik. Dengan meluncurkan satelit 
Anik A1 dengan roket Delta pada November 1972, Kanada menjadi negara pertama 
yang mengoperasikan SKSD. SKSD dipandang sebagai sistem yang andal, efektif, 
dan canggih (situs Telesat Kanada). Satelit Anik mengorbit di orbit 
geostasioner pada ketinggian sekitar 36.000 kilometer.

Di belahan dunia lain, pada 14 September 1968, ada cendekiawan Indonesia yang 
juga mencetuskan penggunaan sistem komunikasi satelit dalam pidato pengukuhan 
guru besar di Institut Teknologi Bandung. Dengan visi yang ia sampaikan itu, 
Iskandar melihat Indonesia dipersatukan oleh teknologi canggih yang tepat guna 
karena ia bisa mempersatukan penduduk yang tersebar di negara 17.500 pulau ini 
dengan prasarana telekomunikasi dan, karena itu, menumbuhkan rasa kebangsaan 
mereka.

Pemerintah mewujudkan gagasannya. Proyek satelit pun dimulai dan akhirnya 
berpuncak dengan peluncuran satelit Palapa A1, 8 Juli 1976. SKSD Palapa 
kemudian diresmikan Presiden Soeharto, 16 Agustus 1976. Dibandingkan dengan 
satelit komunikasi mutakhir dewasa ini, Palapa A1 tampak primitif karena hanya 
bisa menyalurkan siaran televisi dan SLJJ pada 40 kota di Indonesia. Namun, 
Palapa sudah menjadi lompatan teknologi bagi negara yang saat itu punya 
pendapatan per kapita 125 dollar AS (Buyung Wijaya Kusuma/Warnet 2000, 8 
November 2005).

Indonesia saat itu menjadi negara ketiga di dunia setelah Kanada dan AS yang 
memanfaatkan satelit untuk sistem komunikasi domestik. China dan India, yang 
kini menjadi negara hebat di bidang ekonomi dan teknologi antariksa, pun waktu 
itu belum memikirkan untuk mengoperasikan SKSD.

Gagasan meluncurkan satelit untuk merevolusi komunikasi tampak visioner dan 
Pemerintah RI tampak penuh percaya diri menerapkan teknologi maju ini meskipun 
saat itu bangsa Indonesia belum makmur.

Visi iptek

Setelah Palapa, dalam perkembangan pemikiran kemudian, Iskandar mendapat banyak 
ilham dari tesis futuris Alvin Toffler mengenai Gelombang Peradaban (A Toffler, 
Third Wave, 1980). Selain meyakini bahwa Gelombang Ketiga—yang dicirikan oleh 
dominansi sejumlah teknologi, yakni bioteknologi dan rekayasa genetika, nuklir 
dan energi terbarukan, komunikasi dan pengolahan data, serta penerbangan dan 
eksplorasi ruang angkasa, yang semuanya memperlihatkan diri dengan nyata dewasa 
ini—Iskandar juga mengantisipasi sejumlah teknologi yang kini telah siap muncul 
di horizon.

Teknologi yang dimaksud antara lain adalah nano, superkonduktivitas suhu 
tinggi, dan fusi dingin. Teknologi nano yang kini semakin banyak ditelaah di 
Indonesia telah banyak ia kupas sejak tahun 1980-an. Wacana yang ia kemukakan 
waktu itu antara lain "bagaimana kita harus merespons munculnya pabrik yang 
bersih lingkungan dan efisien, mampu bekerja 24 jam nonstop?"

Kembali pada SKSD yang ia cetuskan, Palapa kini telah digantikan generasi 
satelit komunikasi yang lebih hebat, seperti Telkom-2, yang selain mampu 
menjadi tulang punggung transmisi (untuk SLJJ, SLI, internet, dan komunikasi 
militer), juga bisa untuk siaran (TV, radio, telekonferensi), dan akses 
(internet, distant learning, bisnis Vsat [untuk perbankan dan pertambangan]).

SKSD memperlihatkan keandalannya ketika terjadi bencana alam seperti gempa dan 
tsunami karena dapat terus berfungsi ketika jaringan terestrial hancur terkena 
bencana, seperti saat gempa di Aceh (2004) dan Taiwan (2006). Dengan 
Palapa—yang oleh Mark Crawford, wartawan ABC Radio, NSW, Australia, disebut 
"infrastrukturnya infrastruktur karena menjadi tulang punggung bagi industri 
telekomunikasi dan siaran TV"—ada semacam revolusi komunikasi di negeri ini.

Keyakinan terhadap pemanfaatan teknologi maju antariksa juga dapat dikatakan 
visioner karena sekarang ini pun mulai tampak upaya negara maju untuk 
meningkatkan eksplorasi ruang angkasa, baik sebagai upaya untuk meningkatkan 
daya saing nasional maupun sebagai persiapan ke depan menyongsong satu masa 
ketika Bumi sudah tak mampu lagi menopang kehidupan sehingga manusia harus 
mencari ranah baru di the last frontier di luar Bumi.

Namun, sebelum itu, seorang Iskandar masih memegang visi yang "membumi". Dalam 
sambutannya ketika menerima penghargaan dari LIPI, Iskandar menegaskan lagi 
bahwa industri bioteknologi punya peluang untuk berkembang di Indonesia dan 
bersaing di tingkat global karena Indonesia memiliki sumber daya genetik 
melimpah.

Dalam perkembangan selanjutnya, lebih-lebih ketika menghadapi masa sulit 
seperti sekarang ini, bangsa Indonesia akan terus membutuhkan sosok visioner 
seperti Iskandar Alisjahbana dan Emil Salim, yang mampu dengan jernih melihat 
ke depan dan memberi saran kepada pemerintah dan para pemimpin mengenai apa 
yang seharusnya dilakukan, dalam hal ini memilih iptek yang paling jitu untuk 
membangun dan menyejahterakan bangsa Indonesia.

Pemerintah telah memilih enam bidang untuk menjadi lokomotif riset dan 
pengembangan. Namun, dalam pelaksanaannya, saran Iskandar dapat menjadi 
pegangan. Saran itu adalah agar peneliti dan lembaga penelitian meninggalkan 
"falsafah menara gading". Menurut Iskandar, Stanford University dan 
Massachusetts Institute of Technology telah lama meninggalkan falsafah di atas 
dan memberi dorongan bagi munculnya knowledge-economy yang berasal dari riset 
yang diuji di medan nyata, yakni pasar (Lihat sambutan Iskandar selaku Ketua 
MAW ITB, 2000, dalam Krisnamurti.net/Kompas, 23/8).

Visi kita pun hendaknya mengarah pada apa yang telah dicapai Amerika, yang bisa 
mengombinasikan "daya juang meneliti" ilmuwan dan sifat "berani mengambil 
risiko" wirausahawan, dan bukan bangsa yang hanya bisa mencetak "bangsawan" 
ilmu pengetahuan bertitel "ningrat akademis", tetapi tidak mampu berbuat 
apa-apa saat terpuruk.



--- In [email protected], item abu <itemabu@...> wrote:
>
> Hehehe... anak2  Iskandar Alisjahbana itu paling2 cuma numpang nama 
> bapaknya, ga ada prestasi apa2 yg hrs dibanggakan.
> 
> Lihat PT DI, amburadul ga keruan, sampe mau bangkrut setelah ngabis2in dana 
> sekian banyak selama sekian thn.
> 
> Lalu kerja jadi direktur IBM Indonesia? Hehehe... kemana sekarang IBM 
> Indonesia? IBM Indonesia itu ga ada prestasi apa2 sama sekali selain jadi 
> tukang jualan doang, barangnya butut, servisnya payah tp mahalnya ga kira2 
> cuma mentang2 ga ada saingan. Begitu ada PC yg memadai, langsung bubar. 
> 
> Orang Indonesia yg kerja di IBM pada prinsipnya cuma nyari duit dgn nipuin 
> orang Indonesia demi perusahaan Amrik, ga ada kontribusinya sama sekali unt 
> Indonesia secara keseluruhan.
> 
> 
> Iskandar Alisjahbana itu bisa berhasil di telekomunikasi cuma krn waktu itu 
> emang ga ada yg ngerti ilmunya. Kalo misal sekarang melakukan usaha yg sama, 
> hehehe.... ga akan dia bisa berhasil.
> 
> 
> 
> 
> 
> >________________________________
> > From: johny_indon <johny_indon@...>
> >To: [email protected] 
> >Sent: Wednesday, July 11, 2012 8:23 AM
> >Subject: [proletar] Re: Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia
> > 
> >
> >  
> >armida ini anaknya prof. mochtar kusumaatmaja.
> >suaminya andi alisjahbana, direktur iptn (pt di).
> >mertuanya adalah prof. iskandar alisjahbana, mantan rektor itb (si 
> >bleki langsung meradang lagi denger nama itb) yg merancang 
> >sistem komunikasi satelit domestik palapa.
> >jadi mereka2 ini adalah tipikal 'the best breed'.
> >
> >klan alisjahbana sendiri, yg terkenal mulai dari sutan takdir alisjahbana, 
> >tidak pernah ada yg gagal, semuanya mengagumkan.
> >misalnya betti alisjahbana, pernah jadi direktur ibm di indonesia.
> >
> >nah, sekarang bandingkan dengan klan lainnya yg juga pake 
> >gelar 'sutan' yg tinggal di luar negri itu, boro2 mengagumkan, yg 
> >ada malah memalukan karena hidup sebagai benalu tanpa kerjaan samasekali.
> >dia kumpul kebo dengan dengan kebo bernama marlene yg profesinya... 
> >apa ya.. ngga jelas, kayaknya ini cewek yg suka luntang lantung di red 
> >light district di amsterdam itu.
> >mertuanya seorang...hmm.. jelas bukan rektor, kemungkinan sih germo.
> >
> >untunglah kebo si sutan yg satu itu tidak bisa beranak, sehingga 
> >rantai DNA yg busuk itu bisa terputus.
> >bayangin kalo keluarga si 'sutan' busuk ini beranak pinak, bukan saja 
> >merusak image orang melayu, tapi belanda bisa bangkrut dalam sekejap.
> >
> >pihak keluarganya di minangkabau sono konon sedang mempertimbangkan 
> >untuk mengganti gelar 'sutan' yg dia sandang menjadi 'setan'.
> >
> >--- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@> wrote:
> >>
> >> Bo a bo.
> >> 
> >> Merasa lebih unggul daripada orang yang punya profil di bawah ini?
> >> Yang jelas walaupun sama-sama alumni UI, tapi bukan dari jurusan Sastra 
> >> lah yaww! Kalau orang dari jurusan Sastra tapi diangkat untuk menduduki 
> >> posisi itu, maka itu baru namanya sedeng.
> >> 
> >> 
> >> Armida has served as chairman of the Economics and Development Studies 
> >> Department (now the Faculty of Economics) in Padjadjaran University and 
> >> Director of the Center for Economics and Development Studies (LP3E).[2] 
> >> She obtained her B.A. in Economics from University of Indonesia and earned 
> >> an M.A. in Economics from Northwestern University. She earned her Phd in 
> >> Economics from University of Washington. Before becoming a minister, in 
> >> her academic capacity Armida undertook various research tasks for the 
> >> World Bank and the Australian Agency for International Development 
> >> (AusAID).[2]
> >> 
> >> 
> >> 
> >> --- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@> wrote:
> >> >
> >> > 
> >> > 
> >> > Edan...
> >> > 
> >> > Orang sedeng begini bisa jadi menteri di Indonesia..
> >> > 
> >> > --- In [email protected], "Sunny" <ambon@> wrote:
> >> > >
> >> > > Ref: Hebat luar biasa!
> >> > > 
> >> > > http://www.antaranews.com/berita/320755/menteri-indonesia-jadi-pusat-pengetahuan-dunia
> >> > > Menteri: Indonesia jadi pusat pengetahuan dunia 
> >> > > Selasa, 10 Juli 2012 10:32 WIB | 634 Views
> >> > > 
> >> > > 
> >> > > Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana. (FOTO.ANTARA)
> >> > > 
> >> > >   Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan, titik 
> >> > > simpul jaringan untuk berbagi pengalaman kepada negara-negara 
> >> > > berkembang 
> >> > > Denpasar (ANTARA News) - Indonesia akan menjadi pusat pengetahuan 
> >> > > dunia karena Indonesia dinilai telah banyak memiliki pengalaman 
> >> > > pembangunan yang bisa dibagikan kepada negara berkembang, kata Menteri 
> >> > > Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Salsiah Alisjahbana.
> >> > > 
> >> > > "Indonesia akan mengumumkan diri sebagai pusat pengetahuan (Knowledge 
> >> > > Hubs), titik simpul jaringan untuk berbagi pengalaman kepada 
> >> > > negara-negara berkembang," katanya pada Pertemuan Kerja Sama 
> >> > > Selatan-Selatan di Nusa Dua, Selasa. 
> >> > > 
> >> > > Dia mengatakan bahwa ada tiga bidang yang bisa dibagi ke negara 
> >> > > berkembang di antaranya pembangunan, demokrasi, pemerintahan dan 
> >> > > pembangunan perdamaian, dan kebijakan pengelolaan ekonomi baik makro 
> >> > > maupun keuangan mikro.
> >> > > 
> >> > > Menurutnya, Indonesia dinilai berhasil dalam isu pembangunan yang 
> >> > > mencakup pengentasan kemiskinan seperti melalui Program Nasional 
> >> > > Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.
> >> > > 
> >> > > Selain itu, juga meliputi penerapan mitigasi bencana dan penanganan 
> >> > > bencana seperti pengalaman penanganan bencana tsunami di Aceh, 
> >> > > ketahanan pangan dan pembangunan sumber daya manusia.
> >> > > 
> >> > > Hal itulah yang merupakan kesuksesan Indonesia dalam program kebijakan 
> >> > > yang bisa dijadikan contoh bagi negara-negara berkembang.
> >> > > 
> >> > > Indonesia, menurut Kepala Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) itu, 
> >> > > saat ini bukan lagi sebagai negara berkembang namun sudah menjadi 
> >> > > negara dengan pendapatan ekonomi menengah atau emerging country.
> >> > > 
> >> > > "Indonesia sekarang bukan lagi sekedar negara penerima bantuan dari 
> >> > > negara donor, namun Indonesia secara bertahap menjadi negara donor 
> >> > > pada tiga bidang itu," tambahnya.
> >> > > 
> >> > > Dalam pertemuan Kerja Sama Selatan-Selatan yang dibuka Wakil Presiden 
> >> > > Boediono dan dihadiri 300 perserta dari 46 negara itu juga akan 
> >> > > membahas pengembangan pusat pengetahuan dunia itu untuk masa depan.
> >> > > 
> >> > > Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama kali digelar di negara 
> >> > > dengan ekonomi menengah yang selama ini selalu digelar di 
> >> > > negara-negara dengan ekonomi maju.
> >> > > (330/F002) 
> >> > > Editor: Desy Saputra
> >> > > 
> >> > > 
> >> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> >> > >
> >> >
> >>
> >
> >
> > 
> >
> >
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke