Menghadapi perubahan dengan terencana bisa terjadi bila 
garis besar haluannya memang direncanakan dengan baik. 
Keputusan yang reaktif dalam menghadapi perubahan adalah 
bukti bahwa rencana haluan tidak dilengkapi skenario-
skenario terburuk. 

Ketika pemerintahan SBY mengancam harga BBM naik atau APBN 
jebol misalnya, disebut banyak pengamat sebagai langkah 
reaktif atas kenaikan harga minyak dunia. Tetapi apa betul 
itu reaktif yang sebenarnya? Perlu penelitian lebih lanjut. 

Yang pasti, masyarakat disuguhi dagelan politik yang horor. 
Demo besar menolak kenaikan harga BBM diredam dengan perubahan 
APBN (APBN-P). Saat itu kita cukup senyum-senyum saja melihat 
PG & PD berebut mengklaim sebagai pengusul APBN-P - maksudnya 
sebagai penyelamat APBN sekaligus pendukung tuntutan rakyat. 

Tetapi dengan terungkapnya alokasi anggaran APBN-P untuk
penanggulangan korban lumpur Bakrie, maka kita sekarang boleh
merinding mengingat ancaman BBM naik atau APBN jebol. Bukan
mustahil ancaman itu sejak awal memang direncanakan ke arah ini! 

Ditambah hilangnya Ali Azhar sebagai salahsatu penggugat APBN-P 
ke MK - apalagi sekarang pengacara Ali Azhar konon ikut hilang! 
(apa betul mereka hilang, Pak Tjuk?) maka politik horor ini 
tampaknya bukan sekedar isapan jempol. 

Sulit bagi kita untuk mengatakan pemerintahan SBY tidak 
menyiapkan skenario-skenario dalam rencana haluannya (percuma 
punya situation room seharga 8 milyar kan?). Tetapi kita boleh 
bertanya haluan apa yang direncanakan dan skenario-skenario 
macam apa yang dipersiapkan sampai pemerintah selalu terlihat 
reaktif. 

Jika betul semua itu bukan keputusan reaktif sebagaimana 
bantahan pemarintah selama ini (artinya memang sesuai dengan 
skenario yang dipersiapkan - yang selalu dinilai obyektif 
oleh luarnegeri kata SBY) maka orang berhak mengatakan dengan 
tegas bahwa haluan yang direncanakan pemerintah sesungguhnya 
bukan yang sebaik-baiknya untuk rakyat Indonesia, sehingga yang 
dipersiapkan hanyalah skenario-skenario terbaik dari rencana 
yang buruk.. 

Sebab, kalau memang ada haluan bahkan sekedar itikad baik 
untuk bangsa & negara ini pastilah rakyat menyaksikan upaya-
upaya pemerintah untuk menghentikan / mengurangi impor dan 
memberdayakan kekuatan sendiri. 

Met buka puasa. 

--- baswati <baswati@...>

> Nah... ini dia..... sumber masalahnya yang tdiak diperhatikan oleh
> pemerintah.
>
> Manajemen itu selelu menghadapi perubahan dengan terencana, bukan
> reaktif. Beda dengan politisi jaman sekarang yang hausm pencitraan
> sehingga segala keputusannya selalau reaktif, tidak terencana.
>
> Dua kasus wmpirik yang muncul ke permukaan adalah Peraturan ESDM 
> yang menyebabkan PHK, dan kekeringan Amerika yang menyebabkan 
> haerga kedelai naik karena kurang pasokan. Siapapaun yang belajar 
> teori ekonomi, teramsuk Doktor Susilo Bambang Yudoyono, tahu persis 
> mengenqai hukum pasar dan perdagamngan. Padahal, HS Dilon sudah 
> berteriak sejak sebelum reformasi mengenai net impor bahan pangan. 
> Juga wanatanas 2005 sudah memperingatkan hal itu. Maka, entah 
> Doktor itu yang terlalu sibuk mengurusi partainya-termasuk urusan 
> pemenangan pemilu, entah karena tidak tahu, entah karena 
> perhatiannya tidak kesitu, atau entah karena memang tidak tahu maka 
> berbagai masalah yang sebenarnya sudah terbentang di referensi dan 
> bisa diantisipasi untuk menghadapi jadi terlewatkan.
>
> Kemudian, setelah ada pemogokan pengarijin tempe-tahu, atau demo 
> buruh yang di PHK kaget. Inilah tipe manajemn menghadapi perubahan 
> dengan cara kagetan atau reaktifr, bukan terencana. Pahadal 
> Perencanaan adalah tahap awal manajemen. Mugnkin ini manajemen 
> ajarannyan Ajeg.:-) 
>
> 
> .
>
>
> > Selasa, 24 Juli 2012 16:46 WIB
> > Mentan Usul Harga Kedelai Petani Dinaikan
> > Ainur Rahman
> >
> > "Harga Rp 5 ribu bagi petani sangat berat, idealnya di atas Rp 7 
> > ribu."
> >
> > JAKARTA, Jaringnews.com - Menteri Pertanian RI Suswono 
> > mengusulkan harga kedelai petani Indonesia dinaikkan sehingga 
> > petani kembali bergairah menanam kedelai.  Pasalnya, produksi 
> > dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan nasional sehingga harus 
> > impor.
> > 
> > "Harga Rp 5 ribu bagi petani sangat berat, idealnya di atas Rp 7 
> > ribu," kata Suswono kepada wartawan menanggapi kenaikan harga 
> > kedelai beberapa hari ini di Jakarta, Selasa (24/7).
> >
> > Naiknya harga kedelai yang mencapai Rp 8 ribu/Kg menurut Mentan 
> > karena kebutuhan kedelai nasional masih mengandalkan impor. 
> > Apalagi dengan kekeringan yang melanda Amerika Serikat akan 
> > mengurangi produksinya. Ditambah lagi adanya peningkatan 
> > permintaan dari China. Imbas dari semua itu, harga kedelai dalam 
> > negeri terganggu.
> >
> > "Saat ini, kita impor kedelai sekitar 60 persen, sementara 
> > produksi kita baru bisa mengkover 40 persen kebutuhan kedelai 
> > nasional," kata Suswono.
> >
> > Dengan makin liarnya harga kedelai, Mentan mengusulkan untuk
> > mengoptimalkan peran Bulog mengurusi komoditas lain selain beras. 
> > Selama ini peran Bulog lebih banyak mengurus soal beras, mulai 
> > dari penyaluran Raskin dan Operasi Pasar.
> >
> > Harga kedelai yang sudah mencapai Rp 8 ribu/Kg kian memberatkan 
> > para produsen tahu karena ongkos produksi ikut naik. Begitu juga 
> > di tingkat pedagang enggan menaikkan harga tahu dan tempe kepada 
> > konsumen.
> >
> > http://jaringnews.com/ekonomi/sektor-riil/19377/mentan-usul-harga-kedelai-petani-dinaikan
> 




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke