Dipo makin gila.. Dia makin demen melahap
Igauan Asahan pembual yang adalah manusia munafik yang memilih tinggal di negeri Belanda dan bukan di Korea Utara itu diangapnya serius. http://groups.yahoo.com/group/proletar/message/206759 --- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Jadi, seperti juga saya bilang selama ini, memang > nggak ada bukti orang Belanda itu hidup senang. > Kalau terhadap rakyat sendiri saja pemerintah kerajaan itu > tega, apalagi mereka yang berstatus pendatang. Lebih-lebih > lagi pengungsi berpaspor Prancis. > > So, gembar-gembor uplik tentang negeri aduhai makmur itu > ya tong kosong untuk menipu dirinya belaka. > > Dan ngamuknya setiap saat, di setiap kesempatan itu, > adalah ekspresi kekecewaan yang amat parah. > Frustasi berat akibat tertipu oleh dirinya sendiri. > > Menipu dirinya sendiri dan... kena! > > > --- "ASAHAN" <a.alham1938@> wrote: > > > ASAHAN: > > > > > > PEKERJA KERAS YANG TERTIPU > > > > Rakyat Belanda terkenal sebagai pekerja keras dan bangsa yang > > hemat. Pada umumnya orang Belanda sudah mulai bekerja sejak usia > > yang sangat muda. Umpamanya chef afdeling saya sudah bekerja sejak > > dia berusia 14 tahun dan baru ketika usianya mencapai 63 dia > > terpaksa diberhentikan karna perusahaan di mana kami bekerja > > mengalami kurugian besar sebagai akibat krisis moneter dunia, dia > > dipensiun muda sebelum mencapai umur pensiun (65 tahun). Tapi dia > > setidaknya sudah bekerja selama 49 tahun. Orang Belanda rata-rata > > bekerja selama 40 tahun dan itu adalah waktu yang normal bagi orang > > Belanda.Tidak sedikit yang bekerja selama 50 tahun dan bahkan ada > > yang hingga 60 tahun barulah menikmati hari tuanya dengan uang > > pensiun yang sangat lumayan dan bahkan lebih dari cukup. Chef saya > > yang tua bekerja sejak umur 13 tahun dan terus bekerja hingga > > ajalnya pada usia 88 tahun yang berarti dia bekerja terus menerus > > selama 75 tahun. Boleh dibilang bangsa Belanda adalah bangsa > > pekerja yang hanya bisa dibandingkan dengan orang Jepang. > > Tapi setelah terjadi krisis moneter Internasional, semuanya jadi > > berubah, dulu usia pensiun adalah yang diimpikan dengan jaminan > > hari tua yang sangat lumayan dan bahkan pernah yang terbaik di > > seluruh Eropah dan bahkan juga salah satu yang terbaik di > > dunia.Sekarang semua itu cumalah nostalgia pahit untuk dikenang. > > Politik penghematan Pemerintah Belanda yang sudah berlangsung tanpa > > henti selama puluhan tahun semakin memiskinkan golongaan kaum > > pensiunan atau pada umumnya para orang tua jompo. Apa yang pernah > > mereka nikmati sebagai hasil jerih payah kerja keras selama puluhan > > tahun bekerja berat telah semakin dipreteli oleh Pemerintah: > > layanan kesehatan semakin dikurangi atau hingga tiada, uang pensiun > > dipotong, ongkos hidup di rumah jompo sudah hampir tak mungkin > > terbayar dan sebagian besar terpaksa(dipaksa) di pulangkan ke > > keluarganya masing-masing, alat-alat penopang ketuaan seperti > > kereta (rolator) atau scooter roda tiga harus beli sendiri bahkan > > hingga tongkatpun harus sewa atau beli sendiri, obat-obatan yang > > dibayar oleh asuransi dikurangi dan sebagian harus dibyar sendiri, > > uang "tanggung risiko sendiri" dinaikkan hingga 350 euro per tahun > > (dulu 250 euro), semua obat-obatan diganti dengan kwalitas murahan > > yang cukup sering menimbulkan korban hingga kematian karna tidak > > cocok atau kwalitas yang sangat rendah. Belum lagi korban akibat > > salah hitung dari bank pensiun atau dinas pajak (belasting) yang > > dengan alasan: dibayar terlalu banyak" dan sipenerima(pensiunan) > > harus mengembalikan uang "kelebihan" yang pernah diterimanya hingga > > ribuan euro kepada Pemerintah. Kecelakaan ini bisa menimpa setiap > > orang yang dalam sekejap bisa kalang kabut dan bahkan jatuh miskin > > karna hutang dan bahkan hingga penjara. Zonder pardon, para korban > > "penerima yang tertuduh bukan haknya"ini mutlak harus > > mengembalikan uang "kelebihan"itu pada Pemerintah dan tidak > > seorangpun yang bisa mengerti mengapa hal itu bisa terjadi > > > > Puluhan tahun bekerja keras atau bahkan seumur hidup, begitu sistim > > kapitalisme Neoliberal runtuh, korban utama yang paling dramatis > > adalah kaum pensiunan atau para jompo.Orang boleh mengeluh, protes, > > bahkan hingga memaki-maki karena mereka hidup dalam satu negeri > > yang demokratis. Mengutarakan pendapat tidak bisa dihukum termasuk > > berdemonstrasi. Tapi apakah persis demikian hukumnya? Jawabanya > > kadang-kadang mudah, kadang-kadang sulit. Mudah karena memang > > begitulah yang ada dalam Undang-Undang mereka. Sulit karena tidak > > selalu persis demikian atau lain dengan kenyataan. Orang Italia, > > Spanyol, Portugal dan Griekenland menyambut politik penghematan > > Pemerintah dengan demonstrasi hampir setiap hari dan tampaknya akan > > semakin merambat ke seluruh Eropah. Orang Belanda masih tenang- > > tenang saja. Mungkin mereka sudah bosan demonstrasi karna tahu > > betul tidak akan ada hasilnya atau sia-sia belaka. Menjelang Pemilu > > Partai-Partai politik mengumbar janji-janji yang menggiurkam tapi > > setelah menang Pemilu semua janji-janji yang menyenangkan itu > > dicampakkan begitu saja. Apakah ini bukan penipuan namanya? Yang > > jelas di dunia ini bukan hanya rakyat-rakyat di dunia ke 3 saja > > yang selalu ditipu oleh Pemerintah penguasa mereka tapi juga > > rakyat-rakyat di dunia kapitalis yang "termaju"sekalipun penipuan > > itu tidak kurang hebatnya. Dan setiap korban penipuan merasakan > > penderitaan yang sama. > > ASAHAN ( boleh bebas disebarkan ke mana saja termasuk Facebook > > tanpa perlu izin penulis). > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
