--- Scheherazade Scheher <scheherazade2...@...> wrote: > Soekarno waktu itu kerap kali melontarkan pernyataan bahwa > satu-satunya cara untuk mencapai kemerdekaan Indonesia adalah > dengan menjadikan Belanda musuh bersama.
Untuk mempermudah penggalangan massa memang diperlukan target yang jelas, nyata. Karena waktu itu Belanda jelas-jelas memusuhi penduduk kepulauan nusantara (menindas, menghisap rakyat dst) maka Belanda adalah musuh yang nyata di mata penduduk kepulauan. Musuh yang konkrit. Kasat mata. Penggalangan akan sulit / berat kalau memasang sasaran yang sesungguhnya tetapi abstrak yakni: tabiat penjajahan. > > Sebab dalam pemikiran Soekarnoâ" dipengaruhi pemikiran Marx > penjajah Belanda menyebabkan rakyat Indonesia sengsara dan > tertindas, dalam istilah populer oleh Soekarno disebut kaum > Marhaen, sedangkan ideologinya dikenal sebagai MARHAENISME. > Dalam hal ini, gagasan konsep marhaenisme Soekarno merupakan > jawaban atas politik kolonial Belanda, yakni pro kaum proletar > serta antikolonialisme dan imperialisme! Artinya, dengan kemampuan intelektualnya, Soekarno cs bisa membaca bahwa musuh yang sesungguhnya bagi masyarakat manusia - bukan cuma bagi umat di kepulauan nusantara - adalah penjajahan & penindasan. Baik penjajahan & penindasan yang nyata, terang-terangan, maupun penjajahan yang memakai macam-macam kedok alias nekolim. Itu sebabnya Mukadimah menyatakan kehadiran Indonesia di atas dunia adalah sebagai antipoda dari segala bentuk & tabiat kolonialism; untuk menghapus penjajahan di muka bumi. Lalu, bersama-sama dengan proklamasi kemerdekaan, UUD'45 menyiratkan bahwa "Indonesia" bukan sekedar nama bagi bangsa di kepulauan nusantara, apalagi cuma sebatas nama negara di bekas wilayah jajahan Belanda. Lebih dari semua itu, "Indonesia" adalah juga sebuah filosofi tentang kehidupan manusia merdeka. Di kepulauan nusantara, filosofi tsb digerakkan dengan paham Marhaenism. Yang secara materialistik dipahamkan bahwa seorang marhaenis adalah manusia merdeka yang berdikari termasuk dalam permodalan. Sedikit-dikitnya, modal dalam bentuk alat kerja. Misalnya, perahu / jaring bagi nelayan; sawah / pacul bagi petani; atau gitar bagi pengamen dst. Jadi, secara materialistik seorang Marhaenis bukanlah orang yang bertangan hampa sekalipun kantong kosong glondangan. Konsep Marhaenis ini berbeda dari pengertian proletarnya Marx yang cuma mengacu pada kaum lemah di Eropa yang hanya bermodalkan otot & dengkul, alias kaum buruh. Yang tak lain adalah lapisan masyarakat yang tercipta akibat revolusi industri. Siapapun perlu mendukung perjuangan manusia tertindas di Eropa itu. Tapi coba perhatikan langkah mereka (Eropa) yang mendua dalam menyikapi soal buruh ini. Ke dalam, mereka ingin memerdekakan kaum buruh yang ditindas para majikan / pemodal, tetapi ke luar mereka justru menjajah, menindas, dan sok jadi majikan bagi bangsa lain. Mereka memburu modal dengan cara yang tidak berperikemanusiaan & tidak berperikeadilan. Sedangkan "Indonesia" membangun pemikiran kritis tentang kehidupan yang benar. Membangun kerangka pikir yang konsisten tentang anti-penjajahan. Ke dalam ia membangun masyarakat berdikari dengan permodalan pribadi, dan ke luar menjadi bangsa berdikari dengan modal kekayaan alam di seantero kepulauan. > > Dalam perkembangan selanjutnya, Soekarno gencar menyosialisasikan > paham marhaenisme, baik melalui media massa, pidato-pidatonya > dengan memperkenalkan konsep-konsep seperti massa-aksi, agitasi > massa, non-kooperasi atau percaya pada diri sendiriâ"berdikari > (berdiri di kaki sendiri)kalau masalah pak abdi &pak baji tentu > yang satu petani sungguhan yang satunya lagi adalah tengkulak > rentenir yang menjadi hama laten para petani. Ya. Yang satu petani sungguhan, yang satunya lagi orang-orangan sawah. > --- ajeg <ajegil...@...> wrote: > > > Semangat dari Marhaenisme adalah berdikari. Jadi, sekalipun > > dia seorang proletar (yang cuma bermodal otot), dia harus > > memanfaatkan ototnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. > > Apalagi kalau dia seorang Marhaen (yang bermodalkan alat kerja). > > > > Sedangkan petani miskin yang dalam tempo 10 tahun sudah jadi > > pemilik hotel mah cuma bisa terjadi dalam khayalan muski. > > Bayangin, cuma dalam tempo 10 tahun tau-tau dia punya hotel di > > atas tanahnya. Berapa luas tanah "si miskin" sampe muat dibangun > > hotel? Trus siapa yang nginep di hotelnya (di kampung pertanian)? > > Apa yang dijual si petani supaya orang tertarik nginep di tengah > > sawah? > > > > Jangan-jangan si muski mau bilang gadis-gadis di desa itu adalah > > modal si petani pemilik "hotel" juga. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
