Back to Mekkah. Setelah ziarah dan urusan belanja di Medinah selesai, rombongan kembali ke Mekkah. Karena setiap orang hanya boleh membawa 1 koper up to 30 kg dan 1 travel bag di kabin pesawat, maka semua belanjaan dikirim lewat cargo pesawat dengan biaya 10 riyal (25 rb)/kg utk P. Jawa dan 15 riyal/kg utk luar Jawa. Lumayan murah sih biaya cargo itu.
Orang Indonesia kalo udah mendengar yang disebut belanja biasanya langsung 'panik'. Segala macam barang dibeli karena memang murah sih barang2 di Arab ini karena tidak ada tax dan semua barangnya kualitas terbaik. Mau beli jacket kulit, parfum, sepatu kulit, kamera, barang elektronik, pokoknya semua barang bagus ada disana deh, kecuali alcohol tentunya. Yang paling gw demen adalah bahan baju dan celana. Semua bahan baju dan celana murah banget, bahan buatan Jepang yang bagus bertebaran dimana mana harganya berkisar 20 riyal (50 rb) sampe 40 riyal (100 rb) per meter. Makanan juga murah banget disana. Keju yang terbuat dari susu kambing (feta?) disana murah banget. Di Kemchick Jakarta keju seperti ini dijual dengan harga 50 rb ukurannya kecil banget, sebesar korek api. Disana dengan 100 rb, gw bisa mendapatkan ukuran dan timbangan yang bagus untuk keju fetta. Jadi gw kirim cargo di Medinah ke Jakarta hanya berisi belanjaan di Medinah, pakaian kotor dan barang2 nggak perlu lainnya supaya koper agak kosong. Di Mekkah akan diisi oleh makanan seperti bermacam madu, bermacam keju (Edamer, Mozarella, Roquefort), pokoknya segala macam jenis keju yang di Jakarta susah didapat. Bagian belanja, cargo, dan isi koper ini, seperti biasa, urusan perempuan dah. Gw nggak ikut-ikut. Anyway, back to Mekkah. Rombongan tiba di Mekkah sekitar jam 10 malam, lalu gw langsung sholat Isya di Masjidil Haram. Setelah sholat gw mengambil kunci kamar dari pengurus travel, lalu mencari koper dan travel bag dilantai atas, ditambah dengan segala macam urusan tetek bengek, akhirnya gw baru bisa masuk kamar dan istirahat di kamar sekitar jam 2 pagi. Kalo gw langsung tidur, ada kemungkinan sholat subuh bakalan lewat karena kondisi badan udah capek banget setelah naik bus selama 10 jam dari Medinah. Jadi, gw putuskan nggak usah tidur, paling nggak gw udah tidur di bis walaupun cuma 1 jam, sehingga gw 'eligible' untuk bisa langsung sholat tahajud sekalian menunggu sholat subuh. Wuahh..., nguantuuknya minta ampun ketika selesai sholat tahajud sambil menunggu sholat subuh sekitar jam 3 - jam 4. Mata rasanya sepet banget, mau baca malahan makin ngantuk, mau duduk senderan ke tembok juga mata udah nggak bisa kompromi lagi untuk dibuka, bawaannya mau merem mulu. Akhirnya, gw dah nggak tahan lagi. Gw pergi ke tempat kran air zamzam dan mengisi botol tempat minum untuk sekalian wudhu kalo gw sampe ketiduran. Katanya, kalo ketiduran sambil duduk nggak batal wudhu, tapi gw tetep ambil air untuk wudhu supaya 'aman' tetap dalam keadaan berwudhu pada saat sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh, gw masuk kamar dan langsung tidur, nggak breakfast lagi. Bangun jam 11 siang, lalu ke mesjid dan pulang sholat lohor langsung lunch dan tidur lagi. Cuma tidur sebentar karena memang jaraknya sebentar antara lohor dan asar, setelah itu masuk kamar dan tidur lagi. Gw harus banyak beristirahat karena badan gw masih lemas akibat flu dan batuk. Dari sejak di Medinah gw udah semprot tenggorokan gw pake Bucotatum setiap saat dan makan obat hisap Mabucain kayak makan permen aja. Cuman batuk masih belum hilang juga, nggak mempan tuh Bucotatum dan Mabucain. Malam ini, gw akan mencoba mencium Hajar Aswad. Rombongan akan berada di Mekkah selama 5 malam dan malam pertama sudah 'terbuang' karena kecapean baru tiba dari Medinah. Jadi masih ada 4 malam untuk mencoba mencium Hajar Aswad sehingga gw harus bener2 fit, siap mental, lahir dan batin karena memerlukan perjuangan yang sangat berat untuk mencium Hajar Aswad. First try.. Setelah selesai dinner, kami berlima ngobrol2 tentang 'strategi' yang jitu untuk mencium Hajar Aswad. Jam berapa waktu yang agak 'sepi' (soale Kabah nggak pernah sepi sih), bagaimana caranya untuk mendekati Hajar Aswad, dan segala macam 'strategi' lainnya. Kita sepakat untuk saling berhubungan jam 1 malam, dengan pertimbangan jam 1 malam Kabah akan agak sepi mengingat jam 10 malam, orang sudah pulang dan akan kembali ramai jam 3 untuk melakukan sholat subuh. Gw terus memantau Kabah dari kamar karena begitu kelihatan agak 'sepi' langsung kami berangkat ke Kabah. Sampe jam 12, Kabah masih aja padat dan penuh sesak, lalu sebelum jam 1 kita udah ngumpul di lobby untuk berangkat ke Kabah, sekalian tawaf sunat. Banyak denger omongan dari orang lain, bahwa sebaiknya kita tawaf sunat dulu setelah itu baru lah langsung "Serbu!!", sehingga kalo kita gagal mencium Hajar Aswad, paling nggak kita udah tawaf sunat. Gw udah siap dengan 'pakaian tempur', celana jeans, kaos dalam yang agak ketat, semua atribut (id) yang menggantung di leher, jam tangan, semuanya dicopot. Tawaf putaran ke 4, group kita udah berada di lingkaran dalam tawaf, sekitar layer ke 4-5 deh dari Kabah. Nafas udah mulai sesak karena udara udah mulai tipis, berhubung banyaknya orang berdesakan. Ketika tawaf melewati Hajar Aswad sudah mulai terasa dorongan dan desakan dari orang-orang yang mencoba ke Hajar Aswad. Setelah selesai tawaf 7 putaran rombongan menuju Hajar Aswad. Dorong dari belakang, dorong dari kiri, dorong dari kanan, bahkan dorongan dari depan karena orang yang mau keluar. Kalo di Raudah (Nabawi), tangan gw bisa didepan dada untuk melindungi dada ketika tergencet, tapi disini nggak bisa tangan didada karena tangan kita harus menggapai sesuatu di depan. Dada gw sesak banget digencet dari segala arah, gw liat ibu2 tua dari Indonesia tergencet disamping gw sambil teriak- teriak menangis mau pingsan. Gw tarik ibu yang mau pingsan itu, risikonya, tentu aja gw terlempar kebelakang. Badan gw keringatan sekujur tubuh, nafas gw sesak digencet dari segala arah. Ketika gw sudah sampe di layer 6-7, barulah gw bisa mendapatkan udara segar. Gw dari situ nggak bisa langsung keluar memotong orang yang tawaf, karena mereka demikian banyaknya dan mereka juga nggak mau rombongannya terpecah dengan gw memotong rombongan mereka. Jadi, gw musti mengikuti arus untuk keluar dan sesudah di luar gw langsung minum air zamzam dan mengguyur kepala dengan air zamzam yang dingin. Segar... Rupanya, begini rasanya pemain sepak bola ketika kecapean dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Gw liat jam besar sudah jam 3, berarti gw udah 2 jam disini. Rombongan gw dah nggak tau kemana, gw istirahat sebentar sekitar 20 menit, lalu balik ke hotel untuk mempersiapkan sholat subuh. Badan gw rasanya mau rontok ketika berjalan kembali ke hotel. Gagal total. Not even close man. Second try.. Strategi tadi malam nggak berjalan dengan mulus, alias gagal total. Kita harus evaluasi lagi dimana kegagalannya. Setelah diskusi, kita mengambil kesimpulan bahwa kegagalan itu karena kita melakukan tawaf sunnah dulu sebelum menyerbu Hajar Aswad. Kita udah keburu cape, sehingga kita udah habis tenaganya ketika menyerbu Hajar Aswad. Disamping itu, jam 1 ternyata banyak sekali jemaahnya sehingga diputuskan sebaiknya berangkat jam 11 aja. Supaya kalo gagal, gw masih punya waktu yang agak lama untuk tidur sampe subuh. Malam ini, kita nggak perlu tawaf sunnah dan kita berangkat jam 11 dari lobby. Kita langsung aja menyerbu Hajar Aswad dengan 'full power'. Ketika melakukan putaran ke 3 mendekati Hajar Aswad tiba2 ada yang menegur, " Bapak mau kami bantu?". "Tidak. Terima kasih", gw bilang. Memang gw udah denger ada group orang Madura atau orang Banjar yang bisa membantu untuk membantu kita mencium Hajar Aswad. Mereka terdiri dari 5-6 orang, berbadan tegap, dengan imbalan sekitar 200-300 riyal. Chancenya 80% berhasil karena 'team work' yang sudah terpadu diantara mereka. Mereka udah tau lah gimana caranya. Gw malam ini mencoba strategi seperti di Raudah, 'follow the flow'. Sama seperti kemarin, badan gw dihimpit, di press dari kiri kanan tanpa melakukan perlawanan apa-apa. Ketika gw udah sampe di depan, Hajar Aswad tinggal dalam jangkauan, gw tiba-tiba bernafsu dan mulai bergerak mengeluarkan tenaga menyikut, mendorong orang didepan dan disamping gw. Gw berhasil memegang pinggiran perak Hajar Aswad, dan gw makin bernafsu untuk mendekati sehingga gw mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuan (gwakang dan sinkang). Tiba-tiba, 'buk', satu sentuhan pelan sudah membuat gw terdorong ke belakang. Gw udah kehabisan nafas dan tenaga ketika gw bernafsu dan memforsir diri untuk mendekati Hajar Aswad, sehingga satu sentuhan pelan aja sudah membuat gw terlempar ke belakang. Mata gw udah berkunang-kunang hampir jatuh, tangan gw udah menyandar ke bahu orang karena gw udah kehabisan nafas dan tenaga. "Are you oke?", kata tuh anak muda. Hmm..., American. "Yeah, I'm allright. I just need some air", kata gw. "What happened?", tanya tuh bule. "I try to kiss Hajar Aswad. Have you?". "No. It's too tough". Lalu dia 'mengantar' gw keluar lingkaran sambil tawaf dan tangan gw masih dipundak tuh anak muda karena udah kehabisan tenaga sama sekali. "Thanks a lot, man". Malam ini gw udah bisa lebih dekat lagi ke Hajar Aswad, paling nggak gw udah pegang frame peraknya. Mudah2an besok gw bisa berhasil. Tetapi, badan gw kayaknya hancur lebur. Gw beristirahat lebih lama untuk recovery badan untuk kembali ke hotel. Kepala gw sampe gw taruh di bawah keran air zamzam karena gw perlu air dingin untuk menyegarkan badan gw yang hancur lebur rasanya. Third try... Strategi tadi malam udah oke, hanya saja gw terlalu bernafsu ketika melihat Hajar Aswad udah dekat dan langsung 'full power' sehingga kehabisan tenaga di depan. Seorang kawan yang berhasil mencium Hajar Aswad akan mengantar malam ini. Salah satu strategi baru malam ini adalah, kita mendatangi Hajar Aswad bukan dari rukun Yemeni, tapi kebalikan arah, dari pintu emas Kabah. Rombongan baru kali ini terdiri dari 4 orang, satu perempuan (istri teman) dan 3 laki2 termasuk gw. Kita berangkat dari lobby jam 10 dan sholat sunat sebelum 'bertempur' karena masuk mesjid kan memang harus sholat sunat 2 rakaat. "Intinya kita harus sabar, jangan terlalu bernafsu", katanya. Pada saat bertawaf mau masuk ke layer dalam, udah keliatan bahwa kawan penunjuk jalan ini memang sabar dan tidak terburu-buru. Biasanya gw sebelum 3 putaran sudah masuk berada di dalam dan siap action, kali ini sudah 3 putaran masih berputar dan belum ada 'action' apa-apa. Jadi kita lewati Hajar Aswad, lalu mepet di tembok Kabah sambil menggeser mendekati Hajar Aswad. Gw masih didalam rombongan mengikuti arus tekanan, didorong dan ditekan dari segala arah, sumpek, dan susah bernafas. Tiba2 leher gw terasa sakit banget karena tertekan sikut dari samping, pas gw nengok, "big black ass motherfucker" lagi mendorong dan menyikut membuka jalan. Gw menunduk untuk melepaskan sikutannya dan gw sundul sekuat tenaga pake kepala sehingga rombongan dibelakang terpecah dan gw langsung masuk di belakang "big black ass motherfucker". Gw tempel terus kayak lintah walaupun tekanan makin kuat dari segala arah. Sampe didepan dia stuck, nggak bisa maju, bahkan hampir terdorong kebelakang. Gw meunuduk menyelinap dibawah ketiak dan pake kepala menyundul dan gw udah berada didepan si negro dan tinggal hanya masalah waktu aja untuk bisa kedepan. Tangan gw udah menggapai-gapai masuk ke Hajar Aswad mencari pegangan supaya bisa menarik badan. Hajar Aswad sudah terasa, berupa batu-batu kecil, didepan gw tinggal 1 orang yang kepalanya sedang masuk mencium Hajar Aswad. Gw push sekuat tenaga badan gw kesebelah kanan dengan pertimbangan orang ini akan ke kiri ketika selesai mencium. Ternyata orang ini keluarnya ke kanan, mendorong badannya kebelakang sambil kakinya menekan dinding Kabah, dan gw terjepit ditengah tekanan kuat dari depan dan belakang. 'Ough', dada gw sesak nggak bisa nafas, badan gw langsung lemas. Ya udah, kalo udah lemas kayak gitu langsung aja badan kita terlempar ke belakang. Seperti biasa, gw minum, siram kepala dengan air zamzam dingin dan istirahat sekitar 20 menit untuk recovery balik ke hotel. Leher gw masih terasa sakit, dada gw juga masih sakit. Damn... udah deket banget tuh, besok malam coba lagi atau nggak ya? Pada saat breakfast, temen gw cerita bahwa dia dan istrinya berhasil mencium Hajar Aswad tadi malam. Jadi kawan yang mengantar itu membantu mendorong kepala teman gw, lalu mendorong juga kepala istrinya sehingga mereka berhasil mencium Hajar Aswad. Fourth try... Malam in adalah malam terakhir (malam ke 5) karena besok rombongan sudah berangkat meninggalkan Mekka menuju Jeddah. Sementara gw masih belum memutuskan untuk mencoba lagi nanti malam atau cukup puas dengan menyentuh Hajar Aswad saja. Sebenernya badan gw sudah terasa sangat capek dan letih sekali untuk bertempur lagi, tapi keberhasilan istri temen gw memacu motivasi gw untuk bertempur lagi di malam terakhir. Once and for all. Malam itu kami berangkat dari lobby hotel jam 10 malam. Strategi tidak berubah karena gw menganggap startegi kemaren sudah perfect, but luck is not on my side. Setelah gw sholat 2 rakaat, lalu tawaf 3 putaran udah mendekati sasaran. Gw mengikuti arus, didorong sangat kuat dari belakang, tiba-tiba gw udah di depan Hajar Aswad. "Bismillahiallahuakbar!!", itu adalah ucapan ketika kepala gw masuk kedalam sambil mencium Hajar Aswad. Suasana di dalam sangat hening. Tidak ada terdengar suara sama sekali. Gw nggak tahu apa yang gw lakukan, gw nggak tahu berada dimana, everything is so quiet and silent. Gw nggak tahu berapa lama kepala gw berada di dalam Hajar Aswad. Ketika gw menggerakkan kepala keluar, tiba-tiba langsung tekanan menghimpit badan gw. Gw berusaha untuk bergerak keluar dari tempat itu, tapi makin gw bergerak makin keras tekanan ke badan gw. "Jangan melawan, jangan melawan, ikutin aja", sayup2 gw mendengar temen gw berkata. Gw diem dan lemas aja , tiba2 badan gw udah berada di luar lingkaran. Gw langsung menuju air zamzam untuk minum lalu mengambil wudhu dan sholat syukur dibawah pancuran emas. Setelah sholat gw melihat jam besar menunjukkan angka 10.30, jadi hanya memerlukan waktu 15 menit untuk mencium Hajar Aswad tersebut dan gw nggak berkeringat sama sekali. Subhanallah... Kesan-kesan... Pergi menunaikan ibadah haji itu merupakan ujian mental dan fisik dan yang paling penting harus siap lahir dan batin. Jangan ngomong sembarangan dan harus sabar dan ikhlas. "Don't say words you're gonna regret. Don't let the fire rush to your head". Menurut gw, trip yang paling berat adalah ketika berada di Mina, dimana suasananya sangat panas menyengat, ditambah lagi dengan suasana dan lingkungan yang 'primitif' (tidur di tenda yang berdesakan dan toilet yang sedikit) akan membuat kita stress sehingga akibatnya sangat mudah tersengat emosi dan melakukan 'hil hil yang mustahal'. Sekedar informasi, semua kejadian buruk dan tragedi terjadi di Mina seperti, Tragedi Mina, Terowongan Mina, Kebakaran Mina, Kelaparan jemaah Indonesia di Mina, pokoknya semua kejadian tragedi dan bencana terjadinya di Mina (Ancurmina...hehehe). Mekkah tidak seperti Mina. Salah satu pertimbangan gw ketika mencoba terus mencium Hajar Aswad, walaupun gw sudah badan sudah 'babak belur', adalah bahwa tidak pernah terjadi ada jemaah yang mati terinjak-injak di Kabah ketika jemaah mencoba mencium Hajar Aswad. Medinah adalah tempat yang paling nyaman, kotanya bersih dan teratur, udaranya sejuk dan penduduknya ramah tidak seperti penduduk Mekkah. Memang tidak salah kalu dikatakan bahwa Medina adalah "Kota Nabi" karena memang sangat nyaman sekali. http://www.youtube.com/watch?v=Aikdnlz1fGM Don't say words you're gonna regret Don't let the fire rush to your head ============= ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
