Demokrasi intinya adalah suara rakyat suara Tuhan. Jadi para ateist adalah:
Bukan rakyat, boleh dianggap lainnya Ga berhak milih atau dipilih (ga dikenal Tuhan) Ga berhak treak-treak promosikan demokrasi. Para ateis silahkan nggabung ke sesama ateis yg karena ga mengenal Tuhan maka juga ga tahu dosa. Maka dari sebab itu dg enaknya gembong komunis Stalin mbunuh 20 juta warga negara USSR yg mestinya dibawah lindungannya atau mbunuhin 20000 tawanan perang Polandia di Katyn, juga atas perintah Stalin. Atau bisa juga nggabung ke RRC, mbunuhin bayi atau membuatnya jadi sup atau ngasih melamin ke susu formula agar para bayi penyakitan dan atau mati. DiIndonesia, entah di negara lain, suara tuhan kebanyakan ditukar amplop. Kalau dulu dg bujuk rayu, misalnya dalam hal perizinan atau mengisi lowongan jangan harap dipermudah kalau bukan kuning kerontang. Pager rumah, patung, pembatas jalan di inovasi warna termasuk seragam calon haji, kuning! Belum lagi intimidasi, pegawai negeri kudu milih anu atau hengkang. Jam kerja dipakai kampanye dan kampanye disela-sela jam kerja. Saat promosi, boleh janji bohong. Saingan boleh "ditelanjangi" hingga kalau mungkin jera, ga berani nongol dimuka umum. Contohnya mendiang Edward Kennedy vs Mary Jo Kopechne. Setiap mau maju mencalonkan diri jadi presiden maka kasusnya sama Mary Jo selalu ditongolkan, lalu senyap begitu dia menyatakan mundur dari pencalonan. Balon capres lainnya, Garry Hart sami mawon. Diisukan selingkuh sama DonnaRice terpaksa mendupak diri. Atau menyadap kantor pusat partai lawan seperti yg dilakukan presiden USA, Tuan Richard Nixon. Trakhir Mr Obama yg dulu harus melawan isu Islam radikal dari sekolah dia di didik di Indonesia, kini disibukkan dg isu kewarganegaraan. Jadi siapa pinter ngomong, punya duit dst bisa membeli, eh mempengaruhi rakyat utk milih. Belum lagi sponsor maupun intimidasi. Amerika jualan demokrasi ke Irak maupun Lybia hanyalah kamuflase munafik, orang tahu kalau Paman Sam dkk ini ngincer minyak mentahnya. Yg lebih antik, demokrasi ga ngasih hak suara atau hak dipilih mulai bayi hingga remaja sebelum usia tertentu. Mereka jadi penonton semata terhadap para calon yang kelak ikut menentukan jalan hidup mereka. Mahasiswa atau sarjana yg masih sangat muda karena lompat kelas, juga ga ada hak milih-dipilih. Mereka ini nantinya melongo kalau tahu besarnya biaya kampanye dsb yg disediakan negara utk menjalankan roda demokrasi. Beda posisi dg para tua-tui thuyuk-thuyuk sudah mau terbenam, mereka ini punya hak 1 suara. Maunya ada batasan milih atau dipilih usia renta vs rata-rata hidup harapan suatu negara. Setelah mencapai usia ini maka para tua-tui gak punya hak milih-dipilih. Silahkan nonton juga. Kan adil? Apakah rakyat adalah professor, bekas jendral atau pengangguran, haknya sama: 1 suara. Remaja yg pernah atau nikah, meski usianya belum masuk, dapat 1 suara. Lalu rakyat disuruh milih kucing dalam karung, ga tahu apa-siapanya yg akan dipilih. Pernah koruptor-penghianat-maling-mucikari-lontre-preman-bromocorah-resedivis asal bisa bayar atau dimajukan partai masuk dalam daftar jadi lalu penthalitan dipanggung kampanye. Public figure ulet-jujur-mengabdi-innovatif-kreatif-konstruktif namun independen sampai mampus dia ga bakalan dipilih karena ga liwat organisasi yg namanya partai Jadi demikianlah lk-nya yg namanya demokrasi yg didengung-dengungkan paling pas, paling bagus utk menjalankan roda pemerintahan yg sesungguhnya adalah arena legal para badut ambisius utk menjegal atau nyingkirkan (karakter atau fisik) lawan, ngeruk kekuasaan atau kepentingan pribadi. Setelahnya ga ada tanggung jawab, sangkut paut atau urusan sama "suara Tuhan". Malahan kalau sudah kepilih, buat aturan yang Tuhan dipersilahkan tinggal doank di gereja atau tempat ibadah. Pantes kalau ada yg ngatakan, demokrasi adalah produk orang kafir namun cerdik mengatasnamakan Tuhan. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
