Musyawarah itulah arti demokrasi yang sesungguhnya. Di sana 
setiap orang punya hak suara yang sama. Tidak ada kepadrian. 
Lebih mendasar lagi, dengan bermusyawarah akan didapat titik-
titik temu diantara perbedaan yang ada. 

Sedangkan voting, yang dikira Barat sebagai arti tunggal demokrasi, 
justru cuma mempertebal perbedaan yang ada; with me or against me. 
Ketika lawan dirasa lebih kuat, maka dipake jugalah cara musyawarah 
dengan mengerahkan para lobbyst ulung ke lobi gedung parlemen, lobi 
hotel, lobi bioskop, lobi-lobi.. 

Dalam musyawarah, demokrasi adalah kesepahaman dalam menentukan 
kebijakan menyangkut orang banyak. Sedangkan dalam voting, demokrasi 
lebih terfokus pada pelaksana / mandataris / operator kebijakannya. 
Alias masih berjalan dengan paham kepadrian. 

Nurdin Halid si pemerkosa PSSI itu jelas tersingkir secara demokratis. Sebab, 
selain kaki-tangannya, seluruh rakyat sangat menginginkan "perubahan nasib" 
persepakbolaan Indonesia. Jadi, gerakan 'turunkan Nurdin' bukan sekedar 
menuntut pergantian "sang padri". 

Cilakanya, kini FIFA terpaksa ambil ancang-ancang untuk melewati 
batas karena Agum yang ditunjuk FIFA untuk mengetuai komite normalisasi PSSI 
memperlihatkan kebloonannya (bloon juga FIFA 
karena menunjuk orang bloon untuk berjalan normal). 

Masyarakat Indonesia harus mencegah campur tangan FIFA lebih jauh (setelah 
salah dalam penunjukan ketua normalisasi). Jangan sampai PSSI hanya menjadi 
"persemakmuran" FIFA. Serahkan penunjukkan ketua 
normalisasi pada pemegang hak suara PSSI. 


--- "ndeboost" <rambitesemak@...> wrote:

> Di Islam ada kata musyawarah. Silahkan bandingkan
> dg demokrasi.
> 
> Di Bibel kata demokrasi juga ga ada, namun prakteknya
> sdh ada. Akibat dari praktek demokrasi ini dimana Pilatus
> kalah suara dari orang Yahudi adalah KATEBE,
> digantung hingga matinya Yesus Kristus.
> 
> Ayo don @mBoong, mosok ga punya bahan kampanye
> kelebihan demokrasi?
> nDeboost kan sdh paparkan apa dan bagaimananya
> demokrasi.
> 
> Oh ya, para ateist bisa nggabung juga ke Khmer Merah
> Kan mereka ngekrek ratusan ribu warganya sendiri?
> Ingatkan The Killing Field?
> 
> http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/04/ChoeungEk-Darte\r-13.jpg/800px-ChoeungEk-Darter-13.jpg
> 
> 
> --- "sunny" <ambon@...> wrote:
>
> > Agama Islam tidak mengenal demokrasi, alasannya ialah dalam bahasa
> > Arab tidak ada kata demokrasi.
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: ndeboost
> >
> > 
> > > Demokrasi intinya adalah suara rakyat suara Tuhan.
> > > 
> > > Jadi para ateist adalah:
> > > Bukan rakyat, boleh dianggap lainnya
> > > 
> > > Ga berhak milih atau dipilih (ga dikenal Tuhan)
> > > Ga berhak treak-treak promosikan demokrasi.
> > > 
> > > Para ateis silahkan nggabung ke sesama ateis yg karena ga 
> > > mengenal Tuhan maka juga ga tahu dosa. Maka dari sebab itu dg 
> > > enaknya gembong komunis Stalin mbunuh 20 juta warga negara USSR 
> > > yg mestinya dibawah lindungannya atau mbunuhin 20000 tawanan 
> > > perang Polandia di Katyn, juga atas perintah Stalin.
> > > 
> > > Atau bisa juga nggabung ke RRC, mbunuhin bayi atau membuatnya 
> > > jadi sup atau ngasih melamin ke susu formula agar para bayi 
> > > penyakitan dan atau mati.
> > >
> > > DiIndonesia, entah di negara lain, suara tuhan kebanyakan 
> > > ditukar amplop. Kalau dulu dg bujuk rayu, misalnya dalam hal 
> > > perizinan atau mengisi lowongan jangan harap dipermudah kalau 
> > > bukan kuning kerontang.
> > > Pager rumah, patung, pembatas jalan di inovasi warna termasuk
> > > seragam calon haji, kuning! Belum lagi intimidasi, pegawai 
> > > negeri kudu milih anu atau hengkang. Jam kerja dipakai kampanye 
> > > dan kampanye disela-sela jam kerja. Saat promosi, boleh janji 
> > > bohong. Saingan boleh "ditelanjangi" hingga kalau mungkin jera, 
> > > ga berani nongol dimuka umum. Contohnya mendiang Edward Kennedy 
> > > vs Mary Jo Kopechne. Setiap mau maju mencalonkan diri jadi 
> > > presiden maka kasusnya sama Mary Jo selalu ditongolkan, lalu
> > > senyap begitu dia menyatakan mundur dari pencalonan. Balon 
> > > capres lainnya, Garry Hart sami mawon. Diisukan selingkuh sama 
> > > DonnaRice terpaksa mendupak diri. Atau menyadap kantor pusat 
> > > partai lawan seperti yg dilakukan presiden USA, Tuan Richard 
> > > Nixon. Trakhir Mr Obama yg dulu harus melawan isu Islam radikal 
> > > dari sekolah dia di didik di Indonesia, kini disibukkan dg isu 
> > > kewarganegaraan. Jadi siapa pinter ngomong, punya duit dst bisa 
> > > membeli, eh mempengaruhi rakyat utk milih. Belum lagi sponsor 
> > > maupun intimidasi. Amerika jualan demokrasi ke Irak maupun Lybia
> > > hanyalah kamuflase munafik, orang tahu kalau Paman Sam dkk ini
> > > ngincer minyak mentahnya.
> > >
> > > Yg lebih antik, demokrasi ga ngasih hak suara atau hak dipilih 
> > > mulai bayi hingga remaja sebelum usia tertentu. Mereka jadi 
> > > penonton semata terhadap para calon yang kelak ikut menentukan 
> > > jalan hidup mereka.
> > > Mahasiswa atau sarjana yg masih sangat muda karena lompat kelas,
> > > juga ga ada hak milih-dipilih. Mereka ini nantinya melongo 
> > > kalau tahu besarnya biaya kampanye dsb yg disediakan negara utk 
> > > menjalankan roda demokrasi.
> > > Beda posisi dg para tua-tui thuyuk-thuyuk sudah mau terbenam, 
> > > mereka ini punya hak 1 suara. Maunya ada batasan milih atau 
> > > dipilih usia renta vs rata-rata hidup harapan suatu negara. 
> > > Setelah mencapai usia ini maka para tua-tui gak punya hak milih-
> > > dipilih. Silahkan nonton juga. Kan adil? Apakah rakyat adalah 
> > > professor, bekas jendral atau pengangguran, haknya sama: 1 
> > > suara. Remaja yg pernah atau nikah, meski usianya belum masuk, 
> > > dapat 1 suara. Lalu rakyat disuruh milih kucing dalam karung,
> > > ga tahu apa-siapanya yg akan dipilih. Pernah koruptor-
> > > penghianat-maling-mucikari-lontre-preman-bromocorah-resedivis
> > > asal bisa bayar atau dimajukan partai masuk dalam daftar jadi 
> > > lalu penthalitan dipanggung kampanye. Public figure
> > > ulet-jujur-mengabdi-innovatif-kreatif-konstruktif namun 
> > > independen sampai mampus dia ga bakalan dipilih karena ga liwat 
> > > organisasi yg namanya partai Jadi demikianlah lk-nya yg namanya 
> > > demokrasi yg didengung-dengungkan paling pas, paling bagus utk 
> > > menjalankan roda pemerintahan yg sesungguhnya adalah arena 
> > > legal para badut ambisius utk menjegal atau nyingkirkan 
> > > (karakter atau fisik) lawan, ngeruk kekuasaan atau kepentingan 
> > > pribadi. Setelahnya ga ada tanggung jawab, sangkut paut atau 
> > > urusan sama "suara Tuhan". Malahan kalau sudah kepilih, buat
> > > aturan yang Tuhan dipersilahkan tinggal doank di gereja atau 
> > > tempat ibadah. Pantes kalau ada yg ngatakan, demokrasi adalah 
> > > produk orang kafir namun cerdik mengatasnamakan Tuhan.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke