Begini, saya coba mengikuti pemikiran wawan tentang 

apa yang disebut 'agama' - yang rupanya terbatas hanya 

pada label-label terkenal terutama Kristen & Islam. 

Buat dia, jangankan dongeng, apapun yang berbau 'agama' 

seolah nggak bersisa setitik pun kebaikannya. 

=Di Barat sejak zaman modern diskursus agama berpindah 
dari tangan teolog
 ke tangan para filosof/pemikir bebas.
pernyataan theology was subservient to 
philosophy 
atau under the tutelage of philosophy adalah realitas 
yang 
tidak disesali. Artinya teologi menjadi bulan-bulanan 
para filosof. 
Untuk sekedar menyebut beberapa nama;
Sartre, Heidegger, Jung, Ludwig 
Feurbach, William James
Nietzsche, Kant dan lain-lain, adalah 
filosof-filosof yang bicara 
soal agama padahal mereka tidak punya 
otoritas untuk bicara teologi. 


Ini jelas terlalu mengada-ada untuk orang yang katanya 

pernah nyantri di pesantren. Untuk apa membakar rumah 

yang sudah tidak kita sukai - apalagi kalau belum punya 

tempat berteduh lain. 

=Terus terang saja maaf sebelum nya wawan itu kan pemeluk katolik 
yang ekting seperti orang islam,padahal agama aslinya budhis.


Nggak lain nggak bukan, saya mengajak wawan untuk nggak 

mbakar rumah yang pernah ditempati, seburuk apa pun 

pengalaman selama tinggal di sana. Kebiasaan bakar-bakar 

seperti itu akan terbawa ke mana pun dia "berteduh". 
=Percuma toh rumah yang di bakar itu bukan rumah nya
dia juga tidak ''pernah'' apalagi ''berada'' & menempati rumah tsb


Terbukti, wawan membangun analisis yang dengan sendirinya 

terbakar jadi abu. Tapi ya terserah kalau memang suka 

ngerjain hal yang sia-sia. 
=Para pakar prol-pun ikut-ikutan membawa
 agama ke ranah mereka
menggunakan teori evolusi
 Charles Darwin,untuk menjustifikasi 
adanya perubahan dalam 
agama Herbert Spencer
juga mengikuti. Friedrich Max Muller,Emile Durkheim.
Rudolf Otto&dan 
lain-lain mengaitkan agama dengan realitas sosial. 


Soal tolol enggaknya suatu dongeng saya sependapat sama 

sampeyan. Tergantung bagaimana orang memahami posisi 

dongeng tersebut. Jadi, daripada meributkan benar-tidaknya 

dongeng itu terjadi, lebih baik melihat kegunaannya. 

Memberi inspirasikah, sekedar menghiburkah, atau justru 

meneror dsbkah. 

=Akhirnya, wacana keagamaan mereka itu tidak lagi bisa disebut teologi
mereka lalu menciptakan apa yang mereka sebut  philosophy of religion
adalah suatu disiplin ilmu yang metode 
dan basis teorinya
 adalah filsafat Barat. 
obyeknya adalah semua agama.
maka ketika mereka membahas agama-agama itu
worldview BARAT berada pada posisi 
bird-eye.
Doktrin filsafat berada di atas doktrin agama-agama. 
Di sini 
pembahasan agama berada pada zone bebas 
agama tapi tidak bebas dari 
worldview Barat.


Bagaimanapun, kitalah yang berhak menentukan posisi 

dongeng itu berdasarkan pengetahuan & pengalaman yang 

kita punya. Jangan malah mabuk, hilang kesadaran, lantas 

menempatkan si pendongeng seolah dia sedang berwahyu / 

berfirman sehingga kata-katanya pun harus ditelan dengan 

patuh, dan menjadikan kata-katanya (dongeng itu) sebagai 

satu-satunya kebenaran, betapapun tololnya dia mendongeng. 

=Jadi ini hanya akan menambah badut2 barisan 
penggugat fatwa MUI
artinya dari prodi ini akan banyak pluralis yang akan percaya 
bahwa semua agama itu sama/theosopi
dan Islam
 bukan yang paling benar


Tegesipun, nggih cekap semanten rumiyin. Dumugi kraos, 

mangertos, ngantos ngemut mentos, adios amigos.. 

--- On Mon, 4/25/11, ajeg <[email protected]> wrote:

From: ajeg <[email protected]>
Subject: Re:[proletar] lagi, mengkaji guru
To: [email protected]
Date: Monday, April 25, 2011, 11:53 AM







 



  


    
      
      
      

Begini, saya coba mengikuti pemikiran wawan tentang 

apa yang disebut 'agama' - yang rupanya terbatas hanya 

pada label-label terkenal terutama Kristen & Islam. 

Buat dia, jangankan dongeng, apapun yang berbau 'agama' 

seolah nggak bersisa setitik pun kebaikannya. 



Ini jelas terlalu mengada-ada untuk orang yang katanya 

pernah nyantri di pesantren. Untuk apa membakar rumah 

yang sudah tidak kita sukai - apalagi kalau belum punya 

tempat berteduh lain. 



Nggak lain nggak bukan, saya mengajak wawan untuk nggak 

mbakar rumah yang pernah ditempati, seburuk apa pun 

pengalaman selama tinggal di sana. Kebiasaan bakar-bakar 

seperti itu akan terbawa ke mana pun dia "berteduh". 

Terbukti, wawan membangun analisis yang dengan sendirinya 

terbakar jadi abu. Tapi ya terserah kalau memang suka 

ngerjain hal yang sia-sia. 



Soal tolol enggaknya suatu dongeng saya sependapat sama 

sampeyan. Tergantung bagaimana orang memahami posisi 

dongeng tersebut. Jadi, daripada meributkan benar-tidaknya 

dongeng itu terjadi, lebih baik melihat kegunaannya. 

Memberi inspirasikah, sekedar menghiburkah, atau justru 

meneror dsbkah. 



Bagaimanapun, kitalah yang berhak menentukan posisi 

dongeng itu berdasarkan pengetahuan & pengalaman yang 

kita punya. Jangan malah mabuk, hilang kesadaran, lantas 

menempatkan si pendongeng seolah dia sedang berwahyu / 

berfirman sehingga kata-katanya pun harus ditelan dengan 

patuh, dan menjadikan kata-katanya (dongeng itu) sebagai 

satu-satunya kebenaran, betapapun tololnya dia mendongeng. 



Tegesipun, nggih cekap semanten rumiyin. Dumugi kraos, 

mangertos, ngantos ngemut mentos, adios amigos.. 



--- "Wong" <wong_gendeng05@...> wrote:



> Bukan begitu, masalahnya sampeyan menunjuk ada guru ngaji yang 

> mengajar dengan dongengan tolol, nah saya minta klarifikasi apa 

> yang sampeyan maksud dengan dongengan tolol tsb

> 

> Dongeng tentang Israk Miraj dan Musa saya maksudkan hanya sebagai 

> pintu masuk agar kita bisa ada obrolan yang mengalir. Karena 

> nyatanya memang kisah dari kitab suci sering dijadikan landasan 

> untuk mengambil keputusan. Ndak usah jauh jauhlah, di milis prol 

> ini saja, pak Tawang (di manakah beliau sekarang) sering menilai 

> bangsa Yahudi sebagai bangsa yang mrusal, hanya karena dalam kitab 

> suci AlQuran bangsa Yahudi sering dikisahkan melakukan 

> pembangkangan dan mbalelo terhadap perintah Tuhan. Apakah kisah 

> dalam kitab suci itu benar benar terjad?, menurut pamahaman saya, 

> menganggap kisah dalam kitab suci adalah kisah yang betul betul 

> terjadi adalah perbuatan tolol, tentu akan menjadi super mega tolol 

> apa bila kisah2 tsb dijadikan landasan untuk menghaikimi suatu kaum.

> 

> Tapi kalo ternyata dongengan tolol yang sampeyan maksud bukan 

> seprti itu, atao sampeyan punya pengertian atao versi lain tentang 

> dongengan tolol, ya silahkan ditulis saja. Monggo dipun babar, kulo 

> lenggah midangetaken.

> 

> Rahayu

> 

> 

> --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:

> 

> > Jadi betul, kesel sama guru agama dulu? :) 

> > 

> > Bicara kalao, taruhlah sampeyan murid dan saya gurunya. 

> > Taruhlah saya cerita Isra Miraj Israel ulet bulu kidul persis 

> > seperti maunya sampiyan di bawah. Lalu apa sampeyan percaya 

> > cuma saya satu-satunya sumber cerita tsb di dunia ini? 

> > 

> > --- "Wong" <wong_gendeng05@...> wrote:

> > 

> > > Bagaimanakah seharusnya guru agama mengajar? Kalao sampeyan 

> > > menjadi guru ngaji bagaimanakah sampeyan akan mengajari para 

> > > santri tentang Israk Miraj dimana di kisahkan bahwa nabi 

> > > Muhammad melakukan perjalanan dalam sekejap naik Buroq dari 

> > > Masjidil Haram ke Masijidil Aqso terus ke Sidratul muntaha 

> > > bertemu dengan Alloh untuk menerima perintah solat. Apakah ini 

> > > yang sampeyan maksud sebagai dongengan tolol. Karena 

> > > sesungguhnya cerita hanyalah sebuah cerita fiksi yang jelas 

> > > tidak masuk akal

> > > 

> > > Atau sampeyan akan membuat rasionalisasi, misalnya dengan 

> > > mengatakan, Buroq itu memang hanya kiasan, Buroq itu bermakna 

> > > mlebu sak jroning rok atao masuk kedalam baju wanita, yang 

> > > berarti nabi Muhammad sesungguhnya tidak kemana mana tetapi 

> > > berdiam di rumah istrinya, tapi nabi Muhammad melamun dan 

> > > menghayal bisa terbang kemana mana. Namanya juga menghayal maka 

> > > tidak heran dalam sekejap dia bisa berada di Masjidil Harom 

> > > kemudian sekejap berikutnya ke Masjidil Aqso dan seterusnya, 

> > > wong namanya juga melamun.

> > > 

> > > Jika sampeyan menjadi guru ngaji, bagaimanakah sampeyan akan 

> > > menjelaskan kepada para santri tentang eksodus bangsa Israel 

> > > dari Mesir menuju tanah perjanjian yang dipimpin oleh Musa. 

> > > Dimana dikisahkan dalam pelarian itu Musa memukulkan tongkatnya 

> > > ke laut kemudain laut itu terbelah menjadi seperti daratan 

> > > sehingga bangsa Israel bisa menyeberang dengan selamat. Inikah 

> > > kisah dongengan tolol yang sampeyan maksudkan?

> > > 

> > > Apakah sampeyan akan mengatakan kepada para santri bahwa kisah 

> > > ini hanyalah fiksi, sebab mana mungkin ada tongkat yang ajaib 

> > > seperti tongkat Musa.  Keajaiban tongkat Musa hanya bisa 

> > > ditandingi oleh senjata yang fiktif juga milik prabu Kresna 

> > > yaitu sebuah senjata Cakra, keajaiban Cakra sungguh ngedab 

> > > ngedabi, saking hebatnya senjata ini bila di arahkan ke gunung, 

> > > gunung gugur, segara asat, bantolo mbledag. Karena cakra hanya 

> > > senjata fiktif, pastilah tongkat musa juga fiktif. Dongengan 

> > > ini akan menjadi dongengan tolol apabila dongeng fiktif 

> > > dianggap cerita yang betul betul terjadi.

> > > 

> > > Jika seorang santri mengejar pertanggung jawaban lebih lanjut 

> > > mengapa ada alat transportasi yang begitu ajaib dan tidak masuk 

> > > akal seprti Buroq, jawabnya ITU KEHENDAK ALLOH, demikian juga 

> > > dengan tongkat musa yang ajaib dan tidak masuk akal jawabnya 

> > > juga ITU SUDAH KEHENDAK ALLOH, dengan demikian ALLOH menjadi 

> > > sesuatu yang tidak masuk akal, yang tahayul

> > > 

> > > Sama tahayulnya dengan pendapat yang mengatakan bahwa wabah 

> > > ulat di jawatimur adalah azab Alloh, karena manusia sudah 

> > > ingkar terhadap hulum2 Alloh. Sama tahayulnya dengan anggapan 

> > > yang mengatakan bahwa tsunami di Aceh yang membunuh jutaan 

> > > orang adalah Azab Alloh, sama tahayulnya dengan pendapat yang 

> > > mengatakan bahwa gempa di Pengandaran, cilapa joga yang menelan 

> > > korban ratusan orang juga azab Alloh, karena penduduk pantai 

> > > selatan masih membuat sesaji sedekah laut untul nyi Roro kidul. 

> > > Dengan demikian Alloh menjadi sesuatu yang sangat kejam.

> > > 

> > > Diatas hanyalah sebagian kecil dari kisah kisah dalam pelajaran 

> > > agama, tapi bagaimanapun juga biarlah sampeyan sendiri yang 

> > > menyampaiakn kisah kisah itu agar supaya kisah itu tidak 

> > > menjadi DONGENGAN TOLOL seperti yang sampeyan maksud

> > > 

> > > Rahayu

> > >     

> > > 

> > > 

> > > --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:

> > > 

> > > > Ini sih omongan orang-orang yang kesel sama 

> > > > guru agamanya (yang ngajarin agama dengan 

> > > > dongengan tolol) tapi lalu meyakini agama itu 

> > > > setolol dongengan gurunya. 

> > > > Ini nggak beda dengan gejala anak sekolah 

> > > > yang alergi pelajaran "susah" hanya lantaran 

> > > > gurunya nggak becus ngajar. 

> > > > 

> > > > Sekarang, coba kasih wawan kesempatan untuk 

> > > > jelasin analisanya soal hubungan antara agama, 

> > > > takhyul, dan takut mati, di alinea terakhir itu. 

> > > > 

> > > > Lalu, kita dengarkan juga pendapatnya tentang 

> > > > orang-orang yang bilang pelaku bom bunuhdiri itu 

> > > > tindakannya dipengaruhi agama. 

> > > > 

> > > > Atau cuma mau asyik posting obrolan sendiri terus? 

> > > > 

> > > > :) 

> > > > 

> > > > --- "Wong" <wong_gendeng05@...> wrote:

> > > > 

> > > > > Meskipun agama adalah setahayul tahayulnya tahyul, dan 

> > > > > membuat pemeluknya kehilangan rasionalitasnya, namun sisi 

> > > > > postif agama adalah bahwa agama bisa menjadi obat generik 

> > > > > paling murah bagi orang orang yang malang. Agama adalah 

> > > > > pengganja masa. tak ada ganja yang lebih murah dari pada 

> > > > > agama.

> > > > > 

> > > > > Rahyu

> > > > > 

> > > > >  

> > > > > --- "wawan" <selarasmilis@...> wrote:

> > > > >

> > > > > > agama...

> > > > > > sekali lagi agama...

> > > > > > 

> > > > > > adalah belief system yg membuat manusia mencari 

> > > > > > keselamatan subyektif, keselamatan individu, sehingga 

> > > > > > membuat manusia memisahkan diri dari komunitas 

> > > > > > universalnya,

> > > > > > 

> > > > > > agama-lah yang meredam kesadaran kelas...

> > > > > > agama-lah yang meredam/memisahkan individu kedalam 

> > > > > > persatuan kekuatan revolusioner...

> > > > > > 

> > > > > > saya berthesis, selama takhyul masih ada di kepala 

> > > > > > manusia-manusia indonesia, maka nggak akan ada revolusi 

> > > > > > fundamental...

> > > > > > 

> > > > > > dalam analisis saya yg lain, takhyulisme membuat manusia 

> > > > > > takut bertindak/takut mati, takut menjebol, dan 

> > > > > > takhyulisme itu membuat manusia lebih asyik bermasturbasi 

> > > > > > mengejar keselamatan individu-nya di alam afterlife 

> > > > > > (dongeng)

> > > > >

> > > >

> > >

> >

>





    
     

    
    


 



  





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke