Yap setuju, Tuan Irdam...

Ini dari sisi pandang saya yg agak-agak matre. Bila secara ekonomi seorang laki-laki 
memenuhi syarat untuk berpoligami ( penghasilannya kurang lebih sama dg om Hamzah Haz 
gitu--penghasilan resmi sebagai wapres saja cukup, tidak perlu pakai penghasilan 
sampingan), saya mengharap kaum lelaki yg hendak mengakan sunnah itu mencari para 
pelacur jalanan. Setiap kali  nonton BUSER ( lupa stasiun TV mana yg punya kerjaan) 
amat miris melihat para perempuan yg dikejar-kejar saat mencari customer ato 
digelandang bak seekor hewan hanya ber-blus dan bercelana dalam. Para pelacur kelas 
teri tidak semuanya berwajah cantik, bertubuh kenceng, berkulit mulus dan sekilas 
tampaknya datang dari kalangan tidak terpelajar dan ekonomi lemah. Jadi jika ada 
lelaki Rantaunet ini hendak berpoligami dg dalih hendak menegakan sunnah or berdakwah 
sudilah kiranya sesekali datang ketempat pelacuran, mencari-cari sekiranya ada 
perempuan yg pas untuk dinikahi, dibantu ekonominya dan kalau bisa diberi pendidikan 
agar suatu saat dia bisa mandiri secara ekonomi.Itulah sunnah yg paling pas untuk Anda 
tegakan!

Tapi kalau penghasilan anda-anda sekalian hanya sekedar cukup untuk keperluan satu 
istri dan memberi pendidikan terbaik untuk anak-anak, ato hanya sekedar pas-pasan, 
atau yg lebih memalukan lagi bahwa sang istri secara ekonomi masih dibawah asuhan 
orang tua simpan saja keinginan berpoligami tersebut. Sebagai lelaki anda sangat 
memalukan: sampah! Menegakan sunnah ato berdakwah dijaman moderen ini tidak perlu 
sampai mengorbankan hak istri anda untuk memanjakan diri sendiri, hak anak-anak untuk 
memperoleh pendidikan terbaik, makanan bergizi dan perhatian penuh dari kedua orang 
tuanya. Berikan anak-anak anda pendidikan terbaik, berikan kasih sayang yg mereka 
perlukan, percayalah, dakwah akan tegak dengan sendirinya dan Islam akan melebar 
sampai kekolong jagad raya ini.

Maaf ya saya sedang ingat dan 'mpet terhadap nasib seorang sepupu yg rela-rela saja 
dimadu. Katanya sih enggak apa-apa, rela, apalagi itu ada dalam agama. Tapi setiap 
kali bertemu, melihat penampilan jilbab dan bajunya yg kucel, muka lelah bak menahan 
seribu satu beban, anak-anak yg kurus kurang gizi, ingusan, saya tak habis-habis 
memaki-maki kegoblokannya dalam hati.

Tapi kalau saya pikir-pikir lagi agak dalam, itu sepupu hanya enggak punya pilihan, 
tidak punya posisi tawar, enggak gaul, kelamaan disekap dalam ideologi2 egoisme sang 
suami lalu agak2 sedikit mengalami gangguan psikologi. Kalau saja dia merasa dirinya 
cukup berharga sabagai satu-satunya perempuan yg pantas menjadi tambatan hati 
suami,saya yakin  dia tidak perlu menghibur diri untuk menepis tatapan iba dari 
lingkungan bahwa sang suami dan dia sedang menegakan sunnah.

Salam,

--Evi


----- Original Message ----- 
From: "Irdam Syah" <[EMAIL PROTECTED]>



Rasanya ada hal yang mubazir dari perkawinan seorang muslim yang taat dengan
seorang muslimah yang taat juga. Seharusnya seorang muslimah yang taat kawin
dengan seorang islam ktp dan seorang muslim yang taat mengawini seorang ratu
disko yang mungkin tidak sempat diperkenalkan dengan agama oleh orangtuanya,
sehingga kedua orang tersebut benar-benar dapat mendatangkan kemaslahatan
bagi masyarakatnya yaitu menambah jumlah muslim dan muslimah yang taat.
Sakadar wacana sajo. salam - tg



____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke