Assalamu'alaikum wr wb.
Maaf saya sengaja tidak memotong ikuanyo, supayo jalaeh. Ini saya tujukan kepada sanak Ismet.. Dulu sengaja saya tidak membalas postingan sanak Ismet, karena saya anggap nyeleneh dan malas berpolemik. Tapi ternyata topik ini menarik banyak netter. Sekarang saya ingin meminta pertanggungan jawab sanak Ismet yang menyuruh saya untuk menyuruh suami saya berpoligami. Dari postingan sanak Ismet belakangan ini saya dapat melihat bahwa sanak seorang terpelajar, pantaskah anjuran sanak tersebut? dan apakah sanak sendiri sudah melakukannya?. Kalau sudah saya harap isteri isteri sanak dapat akur dan sanak juga dapat adil dengan demikian sanak melebihi nabi Kita, karena isteri isteri beliaupun tidak akur. Mengherankan juga dengan postingan sanak yang lalu. Apakah sanak tidak akan menyesal dan malu apabila kita betul betul bertemu dalam suasana yang tidak sengaja , atau mungkin keluarga kita menjalin hubungan kekeluargaan dan lain lain. Kita baru bertemu didunia maya sebaiknya menjaga hal yang bersifat pribadi. Apa yang sanak tuduhkan kepada saya sama sekali tidak beralasan. Saya tidak usah membeberkan kepada siapapun mengenai ibadah saya karena saya beribadah bukan untuk dipamerkan. Sanak mengomentari postingan saya dengan tuduhan , namun sanak tidak mengomentari keluhan keluhan netter yang lain yang laki laki. Saya bertanya apakah ini semacam rasialisme gender dalam diri sanak. Semoga hal semacam ini tak terulang kembali.


Wassalam
Isna H

Adrisman Yunus wrote:

Asslamul'alaikum wr.wb

Eh...eh...eh...Mak Malin,

Baa pulo ko caronyo mengislamkan dunia dengan jalur
poligami.....?
Ambo punyo tetangga mak, inyo tadinyo wanita muslimah,
kerudungnyo rapek bana, mangaji indak pernah liwek,
bahujan hujan kadang sambia mambaok anak masih bayi
nan dibungkuih jo salimuik.

Inyo mangarati bana dalil diwayuh (dimadu), mandanga
tiok hari, manasehati padusi lain nan kanai cobaan
iko.
Tapi pas inyo nan dimadu, semuanya jadi berubah,
kerudung dilepas, mengaji tidak lagi.

Tapi yo mak...., cerita ini bagaikan melihat orang
yang meninggal, atau tetangga kita yang meninggal.
Kita sih ikut berduka, namun kepedihan keluarga yang
ditinggal mati itu tidak akan pernah akan kita benar2
rasa sampai kita sendiri mengalaminya sendiri.
Dan sering2 kita tanpa sadar menganggap bahwa kematian
itu hanya untuk yang lain, untuk kita masih jauh..

Padahal setelah kita alami sendiri,kita akan merasakan
sendiri betapa pedihnya peristiwa kematian itu.

Begitu juga dengan poligami...., cobalah para
saudariku di RN ini kalau kalian benar2 ingin
mencobanya..., akan kalian rasakan betapa kenyataan
jauh lebih menyakitkan daripada yang diangan angankan.

Sudah begitu banyak saya lihat tangis dan kepedihan
karena poligami ini baik dilingkungan pengajian yang
pernah saya ikuti ataupun lingkungan keluarga,
keluarga menjadi bercerai berai, anak kehilangan
identitas, rasa harga menghargai antara suami dan
istri menjadi musnah.

wassalam
adr

--- abp malin bandaro <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:






____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke