hota manganai pertarungan dunia persilatan untuk jadi presiden,sadang 
rami kini ko, 
dari lapau subalah ado email menarik ttg hal tsb, dg menggunakan 
bahasa "sastra politik" yg menarik juga, selamat menikmati, semoga.

----------
POLITIKA

Mulutmu Harimaumu


Budiarto Shambazy

MASIH ingat rencana semifinal Piala Presiden antara empat tim sepak 
bola 5 Juli nanti? Keempat semifinalis terbagi atas dua tim yang 
memeragakan gaya permainan Ciganjuran melawan dua tim lainnya yang 
bergaya sepak bola Cilangkapan.

Ciganjuran football yang reformis dan demokratis diterapkan Tim Merah
(berkaus dan bercelana serba merah) dan Tim Biru (berkaus biru serta
bercelana warna putih yang dihiasi oleh sedikit corak bergambar 
Matahari).

Sementara Cilangkapan football dibawakan oleh tim yang berkaus hijau 
dan bercelana biru (Hijau-Biru) serta tim berkaus hijau bercelana 
kuning (Hijau-Kuning). Entah kenapa, Cilangkapan football sejak dulu 
selalu berkonotasi tidak compatible dengan demokrasi.

Sebelum berbicara mengenai kans, saya dulu pernah mengikuti dari 
dekat uji coba Tim Biru ke Amerika Serikat (AS). Malam-malam pada 
bulan Maret 1999 itu, salju menyelimuti Washington DC, ibu kota AS, 
dan juga New York City.

Namun, rasa dingin yang menusuk tulang itu tak mengurangi semangat 
Tim Biru yang sedang tur ke negeri Paman Sam itu. Lawan-lawan yang 
menjamu Tim Biru beragam kekuatannya, mulai dari pejabat pemerintah, 
wakil-wakil rakyat di Kongres, pengusaha, sampai warga di universitas.

Waktu itu ada Paul Wolfowitz, pemain andal Tim Konservatif yang 
dikapteni oleh Presiden AS George Walker Bush. Di ekstrem lain ada 
Tim Jutawan yang dikapteni George Soros, yang kini mengerahkan dana 
untuk menjegal Tim Konservatif agar gagal di final Piala Presiden AS 
bulan November nanti.

Penampilan yang ditunjukkan Tim Biru, yang kaptennya profesor lulusan 
AS itu, luar biasa cantik. Tak ada lawan yang mampu menandingi 
kualitas sang kapten-yang merangkap playmaker itu-yang pandai 
berpidato di podium maupun mengolah si kulit bundar bak Diego 
Maradona.

Hanya dengan secarik potongan kertas berisi coretan tulisan 
tangannya, sang kapten berkali-kali mencetak gol ke gawang lawan. 
Sejak itu sang kapten memang tetap dikenal sebagai tokoh reformis 
yang tak pernah mencla-mencle, yang layak lolos ke final Piala 
Presiden menghadapi Tim Merah.

Sang kapten Tim Biru itu sudah mengumumkan persiapan untuk 
pertandingan semifinal Piala Presiden dengan menunjuk wakil kapten 
yang sejak dulu dikenal sebagai pemain nasionalis. Duet Tim Biru ini 
langsung mendapat simpati besar dari para penonton golongan sipil 
yang jelas anti kepada gaya Cilangkapan.

Selain itu, kekuatan Tim Biru bersama Tim Merah menjadi harapan 
terbaik bagi para penonton sipil untuk menciptakan "all Ciganjuran 
final". Dengan taktik yang demokratis dan reformis itu, mereka 
berharap semoga Tim Biru menyingkirkan Tim Hijau-Biru; sementara Tim 
Merah mestinya tak mengalami kesulitan untuk menaklukkan Tim Hijau-
Kuning.

Dua Tim Ciganjuran itu di atas kertas untuk sementara memang unggul 
atas dua Tim Cilangkapan. Soalnya, strategi kubu Tim Hijau-Biru 
membuat blunder dengan keburu-buru sesumbar bahwa duet kapten- wakil 
kapten mereka mirip dengan Tim Dua Proklamator yang legendaris dan 
tidak pernah terkalahkan itu.

Beberapa penggemar menulis sembari tertawa geli menanggapi sesumbar 
itu. "Geli banget membaca berita bahwa duet itu mirip dengan Tim Dua
Proklamator. Sing mirip iku apanya?" tulis SS, yang menyamakan duet 
kapten-wakil kapten Tim Hijau-Biru itu dengan "Pangeran Mlaar dan 
Kraeng Galesong".

"Menurut saya, anggapan itu menyesatkan dan terlalu memberikan angin 
kepada pasangan itu. Apakah kedua orang ini sudah pantas disejajarkan 
dengan Tim Dua Proklamator?" tulis pembaca lain, FP. Dia benar, 
karena kapten Tim Proklamator Pertama enggak pernah masuk militer dan 
wakil kapten Tim Proklamator Kedua bukan pengusaha yang kaya raya.

Wah, asyik nih sesumbar Cilangkapan football bagaikan senjata makan 
tuan karena keburu geer menyamakan diri dengan Tim Dua Proklamator 
yang bolak-balik menjadi juara Piala Presiden itu. Wajar jika para 
penonton sipil menganggap bahwa di atas kertas all Ciganjuran final 
(final sesama Tim Ciganjuran) sudah di ambang mata mereka.

Apalagi, Tim Hijau-Kuning, yang tak terkalahkan sejak babak penyisihan
sampai perempat final itu, melakukan blunder besar karena membeli 
seorang wakil kapten dari Tim Hijau Lumut yang kualitasnya sebenarnya 
biasa-biasa saja. Dia pasti belum sekelas gelandang serba bisa 
Inggris, David Beckham, apalagi jika disejajarkan dengan playmaker 
tim Perancis, Zinedine Zidane.

Ironisnya, si pemain yang kedua matanya sipit ini dulu terlibat 
konflik melawan kapten Tim Hijau-Kuning. Soalnya, sang kapten Tim 
Cilangkapan ini beberapa tahun lalu melanggar aturan main karena 
pernah memukul pemain asal Timor Timur di lapangan hijau.

Nah, si mata sipit itu dulu sebenarnya mengawal karier sepak bola 
sebagai hakim garis. Dialah yang sebetulnya memiliki kewenangan untuk 
menghukum sang kapten Tim Hijau- Kuning itu.

"Ngapain sih dia ikut-ikutan? Dia mengkhianati para penonton sipil. 
Dia mestinya menghukum (maaf, sensor), eh malah mau jadi wakil," 
sergah seorang peneliti ahli ilmu Cilangkapan.

Entah mengapa, Tim Hijau Lumut, yang tersingkir di perempat final,
belakangan ini gemar melancarkan jurus-jurus yang membingungkan 
keempat semifinalis. Bukan itu saja, ucapan para pemain Tim Hijau 
Lumut sering membuat para penonton ingat pepatah "mulutmu adalah 
harimaumu" karena kotor dan sadis.

Belum lama ini salah seorang pemainnya, yang pernah besar di masa 
lalu, tidak puas dengan kepemimpinan wasit yang dia sebut "bisa 
dibunuh" atau "bisa mati". Seorang pemain lainnya, yang keki karena 
Tim Merah membajak seorang pemain Tim Hijau Lumut, mengancam bekas 
rekannya itu "bisa lumpuh" seperti Menteri Pertahanan.

Lalu, seorang pemain terkenal lainnya menyebut duet kapten-wakil 
kapten Tim Merah sebagai "pepesan kosong". Padahal, sang wakil kapten 
adalah teman mainnya sendiri.

Jadi, Tim Hijau-Biru membuat blunder dengan menganggap kemampuannya 
satu kelas dengan Tim Dua Proklamator. Adapun Tim Hijau-Kuning 
ketiban sial karena salah membeli wakil kapten.

Apakah ini pertanda buruk mereka akhirnya gagal ke final tanggal 20
September?


____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke