Assalamualaikum Wr.Wb Sanak di R/N, terutama sanak Samsir Alam
Saya mencoba membaca apa yang tersirat dari cerita Sanak Samsir Alam tentang seorang dosen yang mengawini 3 wanita, pemahaman saya begini : Ketika sang dosen mengawini wanita PERTAMA yang pincang dan berwajah dibawah standar tentu dia telah mencoba membalas budi baik dari orang yang pernah menolong dia sehingga dia bisa menjadi dosen sekarang, ini Allah telah menurunkan rezekinya dari orang itu, dan apa salah-nya dia menerima tanggung jawab untuk mengawini anak gadis- nya Ketika sang dosen mengawini wanita KEDUA pilihan orang tua-nya, saat itu dia telah memperlihatkan kepatuhan terhadp ibu bapak-nya dan mungkin juga bisa sedikit membuang malu keluarga di kampung, TERNYATA sibuyuang belum tagadai bana, toh masih berani batambuah, gak banyak loh yang bisa berani Ketika sang dosen mengawini wanita KETIGA, dari lingkungan kampus- nya, si dosen ternyata benar2 di uji Allah SWT, masih ada juga wanita yang mau di kawini oleh-nya padahal dia sudah punya dua istri dan anak2 sekarang tambah lagi tanggung jawab-nya. DE JA VOU : saya ingat cerita seorang yang hanyut di sungai, kemudian di tolong seseorang, yang kemudian oleh sang penolong di suruh mengawini anak gadis-nya yang kata-nya buruk rupa sebagai balas jasa atas pertolongannya, dan dia mau dengan senang hati, Ternyata pada saat pernikahan-nya baru dia tau bahwa sang istri sangat cantik jelita, dan dia kemudian menjadi ulama besar di kemudian hari (sayang saya lupa namanya, mungkin ada sanak yang bisa bantu siapa nama beliau), saya pikir sejarah akan berulang pada sang dosen, semoga. SEmentara itu yang terjadi pada ke tiga perempuan itu : Wanita pertama : Jika bukan dengan sang dosen apakah di dapat menikah dengan orang lain yang lebih baik, atau malah ga dapat sama sekali melihat kondisi physik tubuh-nya. Walaupun nanti akan ada kata2 sinis yang dia dengar, dia khan mau sama kamu karena balas budi doang kalau ga, jangankan mau ngawinin kamu, nengok pun kagak... kata tetangga sebelah (dalam hati) tapi terdengar juga oleh telinga hati sang wanita. Waktu suami-nya nikah lagi, terdengar lagi kata2 baru, se-akan2 mengasihani, : tuh kan apa gua bilang, sekarang dia dicari-in lagi sama mak-nya dikampung, benar2 laki2 gak tau diri, udah di tolong eh begitu udah kuat betingkah deh, udah bu minta cerai aja ngapain, punya laki kayak gitu mending gak punya laki deh,, Si Ibu hanya menunduk, dan berkata: anak saya dua, saya tidak punya pekerjaan, apa yang yang bisa saya lakukan (dalam hati dia berkata lagi: "menghadapi kata2 orang ini ") Wanita kedua : Dalam pandangan ke-kampungannya dia berkata : Saya hanya menurut kehendak orang tua saja, walaupun dia tau suami-nya itu toh telah punya Istri, toh dia seorang guru yang berpendidikan patuh dan taat lagi terhadap orang tua-nya, Insya Allah bisa bertanggung jawab kelak. Wanita Ketiga : Dalam logika pikirannya muncul : ini laki2 sangat bertanggung jawab, bisa membalas jasa orang yang telah menolong-nya, patuh dan taat sama orang tua, alangkah bahagia-nya jika saya nanti punya anak yang bisa bersikap seperti itu. Dan dalam pikiran-nya peluang-nya akan semakin besar jika sang anak berasal dari bibit orang itu dan di besarkan juga oleh lingkungan orang itu. Dan Allah mengabulkan doa-nya yang mungkin gak sadar diucapkannya Wassalam YP ..........-- In [EMAIL PROTECTED], "Syamsir Alam" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mak Sati sato sakaki sakali ko, > > Contoh lain. Nan iko sabana tajadi di lingkuangan tampek tingga ambo. > Seorang dosen (dan kini jadi dekan) kutiko kuliah di bantu oleh seorang > "yang baik hati" sampai jadi sarjana. Sasudah tu inyo dilamar untuak adiak > urang nan elok hati tu, gadih nan agak pincang, bantuak juo jauah dari > rancak. Mungkin untuak baleh budi, lamaran ditarimo, namun mungkin biniko > bukan nan di hati, apo lai keluarganyo indak sapanuahnyo setuju. Selang > ampek limo tahun, diam-diam inyo dikawinkan dek rang gaeknyo jo padusi lain > di kampuangnyo. Mungkin nan kaduo ko juo alun "nan di hati", dek pancarian > rang gaek. Di kampus inyo basuo jo "nan di hati" dan berakhir di pelaminan. > Kini inyo punyo bini 3 urang, namun kewajibannyo laia batin ka anak- anak jo > bini-bini tuonyo dipanuahi sampai ka ujuang jari. 40 hari nan lalu, bini nan > partamo maningga dalam sebuah kecelakaan mobil. Jadi kini tingga baduo. > Dek bini nan partamo ko tetangga ambo, ambo bisa mandanga baa sakik atinyo, > nan mambuek situasi rumah tanggonyo runyam salamo ko. Dek inyo cuma ibu > rumah tangga nan indak punyo penghasilan sendiri, inyo tapaso anok walaupun > menderita batin, menimbang keselamatan anak-anak nan duo pasang nan sadonyo > sadang butuh biaya nan gadang. > > mS > > > > ----- Original Message ----- > From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]> > To: "Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak 1993)" > <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Tuesday, April 27, 2004 4:01 PM > Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Kuingin Suamiku Berpoligami.. yesi!!!! > > > > Assalamualaikum.Wr.Wb. > > > > Para netter sekalian yang saya hormati,dan semoga > > selalu di muliakan Allah. > > > > Malam tadi,sebenarnya saya ingin membalas postingan > > dek Yesi yang terakhir sekali saya baca.Dikarenakan > > > ____________________________________________________ > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: > http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net > ____________________________________________________ ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
