----- Original Message ----- 
From: "yanto_piboda" <[EMAIL PROTECTED]>



Assalamualaikum Wr.wb

Setuju Sanak Sehan, 

Lihat almarhum Uni Sovyet, apa yang terjadi ketika mereka menerapkan 
demokrasi, ANCUR ber-keping2  ----

Om, demokrasi sebagai sebuah konsep yg mendasari sistem politik dibanyak negara, bukan 
lah konsep tunggal alias berhenti pada kata demokrasi belaka. Jika bicara ttg 
demokrasi seperti di Sovyet, china, Amerika, Inggris bahkan di Indonesia, sebenarnya 
kita bicara ttg banyak aliran pemikiran. Gagasan demokrasi yg dipraktekan di negara 
kota Yunani Kuno abad ke-6, beda dg demokrasi yg dipraktekan pada abad 19. Misalnya, 
pada abad ke 19, wujud kongrit dari demokrasi adalah kekebasan "mutlak" individu 
sementara negara ibaratnya cuma sebagai 'penjaga malam' yg cuma ngurusin masalah 
bersama dan bencana alam. Seperti kita tahu dari sejarah kemudian, menempatkan 
kebebasan individu ke posisi paling atas ini ternyata membuka peluang bagi penindasan 
atas hak dan kebebasan individu lain. Disini tampak bahwa sebenarnya demokrasi itu 
cuma "perkosaan" yg berdarah-darah, kan :). Karena itu lah di awal abad ke-20 
demokrasi memperoleh wujud yg lain yg ditandai yg diberikan peranan yg lebih besar 
kepada negara untuk mencapai negara kesejahteraan.

Well, singkatnya setuju dg ide dibelakang opini Om bahwa demokrasi itu adalah konsep 
yg kenyal dan mengambil bentuk dalam banyak nama seperti, demokrasi rakyat, demokrasi 
nasional, demokrasi revolusioner dan even you had known better than me, demokrasi 
Pancasila, bok :). Sovyet dan RRC tidak bisa digolongkan kedalam negara demokratis 
karena mereka tidak menyandarkan diri pada demokrasi menurut tradisi liberal. Biar 
saja mereka suka menyebut diri negara demokratis, tapi kita kan lebih suka menyebut 
mereka negara berpaham Marxisme Leninisme or Komunisme, bukan?

So, kembali ke pangkal cerita, menurut saya, Sovyet hancur bukan karena mereka 
mempraktekan  atau tidak mempraktekan demokrasi karena demokrasi yg aneh dan mirip2 
seperti itu masih berjalan dg indahnya di China sana. Sovyet hancur karena sudah tidak 
dapat dukungan dari negara-negara lain. Ato yg lebih tepat lagi terjadi adalah, 
disamping terjadi pergeseran2 konsepsi ttg demokrasi dalam tubuh komunis sendiri, 
terjadi persaingan ideologis yg sangat tajam antara Amerika Serikat dan US. Dalam 
persaingan ini jelas US tidak bisa menarik kawan dalam lingkup pengaruhnya yaitu 
pendukung pemerintahan yg pro-komunis.Bahkan walau kemudian konsepnya mereka perlunak 
menjadi anti-Barat atau anti imperialis, China yg pada mulanya jelas-jelas satu 
ideologi itu pun membelakangi bila ditengok dari dari Demokrasi Baru yg dicetuskan 
oleh Mao Zedong. Apalagi kemudian terjadi kesadaran baru dalam politbiro komunis China 
untuk membersihkan diri dari sisa-sisa revolusi kebudyaan dengan masuknya mereka ke 
dalam PBB. Lengkap sudah kesendirian Sovyet.



<<Malaysia, mereka tidak menerapkan demokrasi 
seperti model amerika, Inggris masih mempunyai Ratu, Jepang masih 
mempunyai Kaisar, Malaysia masih mempunyai Sultan2, yang kita tau 
bahwa Ratu, Kasir dan Sultan mereka adalah musuh2 dari demokrasi 
murni, tapi secara politik dan ekonomi mereka adalah negara2 yang 
mapan>>>----

Demokrasi sebagai cita-cita negara kesejahteraan dan tempat hidup yg nyaman bagi 
setiap warga negaranya adalah cita-cita demokrasi sejati. Negara moderen tidak bisa 
berpaling dari cita-cita ini.Dari analisa bodoh2an saja, negara2 tersebut diatas bisa 
mapan bukan karena faktor demokrasi atau tidaknya, mereka bisa begitu karena hukum 
sebagai kekuasaan tertinggi tegak sebagai kebenaran terakhir.


Bagaimana dengan INDONESIA: saya tunggu komentar yang lain :

wasssalam

YP

Demokrasi di Indonesia juga bukan merupakan konsep tunggal.Sebelum demokrasi Pancasila 
kita mengenal demokrasi  Parlementer dan Terpimpin.Telah saya katakan bahwa bicara ttg 
demokrasi artinya bicara ttg banyak aliran pemikiran. Dan setiap demokrasi yg pernah 
berlangsung mempunyai ciri-ciri sendiri yg merupakan variasi dari sejarah perkembangan 
sebelumnya. Dalam perode demokrasi parlementer, cirinya adalah besarnya pernan partai2 
politik melalui parlemen.  Dalam periode ini kebinet jatuh bangun dalam rentang usia 
yg tidak panjang. Bayangkan, pambangunan apa yg bisa dilakukan bila sebuah kabinet 
hanya berumur 5 bulan untuk kemudian diganti oleh kabinet lainya. Terus karena gak 
puas sebagai sebagai rubberstramp president belaka karena pemerintahan dijalan oleh 
perdana mentri, Sukarno muncul dg ide demokrasi terpimpinnya.Nah, disini kedaan 
terbalik, Presiden punya kekuasaan begitu besar hingga bisa membubarkan DPR hasil 
pemilu. Daaann...Sekarang, demokrasi Pancasila.......Sebagai sebuah demokrasri 
kontitusi Pancasila ini sudah bagus, walau agak nyebalin dg melarang adanya oposisi, 
tapi konsep musyawarah untuk mencapai mufakatnya lebih dari lumayan. Mungkin karena 
landasan semangat kekeluargaan ini barangkalai, mengapa setiap pengusa di Indonesia 
lebih suka mengabdi pada keluarga dan kelompoknya ketimbang kepada kita, masyarakat 
Indonesia.

So, kesimpulan, bicara ttg demokrasi sama seperti bicara ttg kebenaran in persfective 
on beholder, dia bisa melar kemanapun tanpa bisa diputuskan. Saya jadi ingat kata-kata 
Buddha, do not believe in anything simply because you have heard it. Do not believe in 
anything simply because it is spoken and rumored by many.  Do not believe in anything 
merely on the authority of your teachers and elders. Do not believe in traditions 
because they have been handed down for many generations. But after observation and 
analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good 
and benefit of one and all, then accept it and live up to it. Jadi, bila Sehhan punya 
konsep baru ttg bernegara, telinga saya sangat terbuka untuk mendengarkan.

Segitu saja, Om Piboda. Nice talking to you...

Wassalam,

--Gm

 



____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke