Penulis : Ir.Dessy Yoediartiny

Siapa yang pernah ke kampus UI Depok, pasti faham istilah ini. Terutama bagi para mahasiswa dan para pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Selain ojek, inilah satu-satunya alat transportasi yang malah dengan gratis, akan mengantarkan siapa saja berkeliling kampus. Mulai dari fakultas hukum yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki lewat jalan tembus. Sampai ke pelosok-pelosok kampus, yang bahkan tidak terjangkau oleh mata sekalipun, seperti, Perpustakaan pusat, PKM, Balsem MIPA, dan lain-lain. Memang tidak semua tempat di kawasan kampus UI yang sangat luas itu, bisa dijangkau dengan ber-bis kuning ria. Ada tempat-tempat yang masih harus dilanjutkan lagi perjalanannya dengan berjalan kaki. Tapi setidaknya keberadaan bis kuning, sudah sangat memudahkan kita semua, mencapai tempat tujuan masing-masing.

Bayangkanlah, ketika akan menempuh ujian akhir, di tengah hari yang terik, para mahasiswa yang tidak tinggal (kos) di sekitar kampus UI harus bergegas menuju kampus tempat dilaksanakannya ujian. Terutama kampus-kampus yang lokasinya tepat di tengah-tengah. Kampus Teknik, kampus MIPA, Kampus Poltek�.. Bayangkanlah, ketika menit-menit berlalu mendekati pelaksanaan waktu ujian, bis kuning yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Dan ketika muncul, yang keluar dari mulut mungkin bukan ucapan syukur, tapi justru sumpah serapah dan caci maki.

Bagi para mahasiswa yang kini sudah alumni, atau bahkan sudah menikmati jerih payah hasil perjuangan panjang di bangku kuliah, cobalah sesekali bernostalgia. Datang ke kampus, tanpa kendaraan pribadi (yang mungkin sudah mampu terbeli). Nikmatilah perjalanan berkeliliing kampus dengan bis kuning. Amati sekeliling kita. Mulai dari pemandangan di sepanjang perjalanan, tingkah laku para mahasiswa di setiap halte pemberhentian, sampai tingkah laku para penumpang bis kuning itu sendiri. Perhatikan pula, bagaimana sikap para mahasiswa (UI) ketika turun dari bis kuning yang telah mengantarkannya ke tempat tujuan. Satu sikap yang paling menyentuh kesadaran adalah ketika sang mahasiswa (ataupun penumpang lain yang bukan mahasiswa), turun dengan mengucapkan serangkaian kalimat sederhana, " Terima kasih, Pak��", dan amati pula ekspresi sang supir�..

Ketika itu, apa yang terbayang di benak kita��?!?. Lintasan fikiran apa yang bermain-main di kepala kita�.?!?!?. Bagi para alumni, pandanglah lekat-lekat, sosok supir bis kuning. Segarkan kembali kenangan-kenangan kita ketika masih kuliah dulu. Pandangi perubahan fisik yang kita kenali, setelah berselang tahun tidak bertemu. Amati keriput di wajahnya, uban di rambutnya, lusuh di bajunya��Amati setiap detilnya, selagi sempat.

Tanyakanlah pada diri sendiri, kira-kira sudah berapa banyak mahasiswa yang �diantarkannya� mencapai tempat-tempat tujuan perkuliahan, yang kini telah meraih gelar sarjana. Bayangkanlah, dari menit ke menit, minggu ke minggu, tahun ke tahun. Berapa banyak lulusan UI yang kini sudah bertengger di posisi-posisi penting di kantornya, yang pernah �dijemputnya�, dari menjalani aktivitas panjang yang melelahkan di kampusnya masing-masing.

Lalu, ketika titel dan jabatan para alumni terus merangkak atau bahkan meroket naik. Ketika daftar inventaris barang yang dimiliki semakin bertambah panjang. Ketika penampilan dan penghormatan dari lingkungan semakin bertambah hebat��., ternyata mereka � para supir bis kuning � tetaplah�� "supir bis kuning". Bahkan ketika para dosen, - yang mungkin kita anggap paling berjasa dalam pencapaian tujuan kita � karirnya semakin melesat �., mereka tetap saja "supir bis kuning".

Kembali���., apa yang terlintas di fikiran kita�.?!. Ternyata��, bukan cuma orang-orang yang paling dekat saja, yang berjasa dalam perjalanan hidup kita. Bukan cuma orang tua, guru, dosen, sahabat, dan pasangan hidup��..

Bahwa dalam setiap pencapaian apapun dalam hidup kita, pasti ada peran dari orang lain, yang mungkin tak pernah terfikirkan. Bahkan meski dia hanya seorang tukang parkir, tukang teh botol, tukang sapu ruangan, atau mungkin hanya seorang pembantu di rumah kita��

Ternyata�, tanpa kita sadari, banyak sekali orang yang telah berperan, membantu kita mencapai tujuan hidup kita masing-masing. Tidak mungkin ada orang yang menjadi besar dan hebat, lantaran diriya sendiri.

Dan hikmah yang paling hakiki dari semua ini adalah���seperti apa yang diajarkan �padi�. Karena padi tahu benar, tanpa petani, ia takkan tumbuh dan berbulir dengan baik. Ia tahu, bahwa tanpa angin, bunganya bahkan tak mungkin berubah jadi bulir. Ia pun tahu, tanpa air, tanpa hujan, ia hanya akan meranggas kekeringan. Karena itu, semakin berat bulirnya, iapun semakin merunduk���. Bukti sedikit penghargaan pada semua yang berjasa dalam hidupnya. Bahwa tanpa mereka semua, tiada ada namanya menjadi harum��..

Terakhir, buat teman-teman siapapun dan dari manapun anda berasal, selain hikmah di atas, kira-kira apalagi yang bisa kita lakukan � sebagai manusia � untuk mewujudkan rasa terimakasih kita, pada orang-orang �kecil� yang telah membuat kita menjadi �besar�, seperti sekarang ini�.?!?!?.

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke