Assalamu'alaikum ww
 
mungkin iko bisa jadi bahan sindiran untuak ambo ,dan mungkin malah untuak kito sadonyo, bahaso ambo atau kito sadonyo alun malaksanakan amanah....
 
Karena Tidak Menjalankan Amanah
Amien: Bulan Agustus Tonggak Sejarah
Reporter: Budi Sugiharto

detikcom - Surabaya, Pemerintah tak kunjung dapat menyelesaikan persoalan akibat tidak menjalankan amanah. "Kalau mau jujur, tidak satupun pimpinan, termasuk yang ngomong ini sendiri tidak punya satu pun agenda untuk menyelesaikan krisis yang berkepanjangan ini,” ungkap Amien Rais, jujur.

“Sekarang dan masa depan kita akan dilihat oleh yang di langit. Apakah kita bisa menjalankan amanah atau tidak. Bagi saya, bulan Agustus sebagai tonggak sejarah, apakah Gus Dur jatuh atau tidak,” ujarnya di akhir pidatonya.

“Dengan hormat saya kepada Gus Dur, saya yakin Gus Dur pun tidak punya visi, apalagi agenda,” ujar Ketua MPR Amien Rais dihadapan peserta Munas KAHMI ke-6 di Hotel Garden Palace, Surabaya, Minggu (16/7/2000).

Sebenarnya keinginan Gus Dur untuk melakukan reshuffle atau tidak itu bagaikan suara tokek. “Ini bukan karena mencla-mencle, tapi (karena) dia bingung,” tambah dia.

Amien yakin, bahwa kalau pun Gus Dur jadi melakukan reshuffle, hasilnya juga belum tentu akan menjadi buruk atau malah lebih bagus. Tapi, dorongan untuk merombak itu sangat kuat baik dari dalam maupun dari luar negeri.

"Kemudian kalau ditanyakan kepada tokoh-tokoh parpol PDIP, PAN, Golkar, PBB ataupun PPP, tentunya kalau mau jujur semuanya juga akan bilang, No!. Begitu juga, kalau ditanyakan kepada para tokoh parpol, TNI, NGO maupun mahasiswa, semuanya (akan mengatakan) tidak mempunyai visi kongkrit untuk keluar dari kemelut," ujar Amien.

“Kalau sudah begini, kita sebaiknya meminta hidayah dari langit, nanti pasti ada jalan keluarnya, dengan jalan menjalankan perintah agama,” tegas Amien.

Dihadapan peserta munas tersebut, Amien juga mengatakan bahwa ada missing dalam khasanah kehidupan bangsa, yaitu masalah amanah. "Amanah di dalam Al Qur'an (berarti) suatu pesan yang sentralistik. Kalau tokoh santri, baik dari tokoh modern, tradisional, maupun konservatif bila diberi amanat dari langit sampai tidak memeliharanya, alangkah tidak beruntungnya bangsa Indonesia bahkan sampai puluhan tahun," katanya mengingatkan.

Menurut Amien, dunia internasional juga menilai, bahwa mungkin seumur-umur belum pernah terjadi seorang presiden, Ketua DPR dan MPR seorang santri. Lantas sebagian besar anggota DPR-nya orang Islam sehingga bila diberikan amanah oleh Allah tidak bisa mengambil, bagaimana bisa menbangun kembali momentum yang bagus sejak 9 bulan lalu.

“Jadi, kekuasaan itu juga amanah, bukan menjadi kesempatan untuk mengeksploitasi, menindas, dan memeras orang lain serta mengembangkan KKN baru,” ujar dia lagi.

Masih menurut Amien, cara untuk mengatasi persoalan ini bukan hanya dengan bertemu empat tokoh saja. "Itu hanya sekadar memenuhi (unsur) psikologis masyarakat yang ingin melihat pemimpinnya saling jabatan tangan. Seharusnya yang lebih penting adalah menjaga amanah," katanya.

Amien, katanya, tidak ingin melihat lagi peristiwa masa lalu dimana Soeharto menbutuhkan waktu 10-15 tahun untuk bisa mengembangkan KKN, sementara sekarang, hanya dalam 10-15 minggu, KKN sudah tumbuh subur lagi.

“Bahkan saya dengar yang baru ada Sugargate atau Kuwaitgate. Itu indikasi bahwa kita lupa sama hidayah Allah,” ujar Amien.

Dirinya mengaku diberitahu oleh Fuad Bawazier, ada videotape yang merekam ulama-ulama yang berkumpul di sebuah kota di Jawa Timur. Di dalam pertemuan itu ada salah satu kiai sepuh asal Surabaya yang ngomong, bila menghadapi masalah rumit karena ada satu sebab, yaitu pemerintah tak pandai bersyukur kepada Tuhan.

Bahkan ada kiai asal Jember yang mengatakan kepada dirinya, bahwa semua orang sudah lupa kepada hadis nabi. Dalam hadis itu tertulis bahwa orang yang tak bersyukur kepada Tuhan adalah orang yang tak pandai berterima kasih kepada sesama manusia. “Jadi dia meminta untuk bisa ditegakkan amanah sebagai mahkota kehidupan,” ujar dia

Bila kesempatan itu hilang, bukti bahwa kaum santri tidak mampu menjadi negarawan dan sampai kapan pun tetap menjadi politisi pinggiran, menjadi persoalan tersendiri bagi ummat Islam.(zal)

Kirim email ke