Kamis, 25/10/2001 18.40 WIB


DPRD Didesak Ambil Alih PTSP


Padang, mimbarminang.com - Desakan pemisahan PT Semen Padang dari PT Semen 
Gresik dan pembatalan put option semakin menguat. Sekitar 2.000 masyarakat 
Sumbar, kemarin, melakukan aksi demo di DPRD Sumbar dan mendesak 
dilaksanakannya rapat paripurna guna memutuskan aksi sepihak terhadap PT 
Semen Padang, jika tuntutan spin off tidak dipenuhi pemerintah.

Sementara itu, dukungan terhadap pemisahan PT Semen Padang mulai muncul dari 
kalangan komisaris PT Semen Gresik, PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa. 
Dalam pertemuan dengan Sekretaris Menneg BUMN Barcelius Ruru, ketiga 
komisaris BUMN Semen ini menolak usulan pemerintah melaksanakan put option, 
yang akan jatuh tempo 26 Oktober besok.

Seperti sudah diperkirakan semula, arus tuntutan pemisahan PT Semen Padang 
menjelang jatuh temponya deadline yang disampaikan kepada Menneg BUMN 
Laksamana Sukardi, 8 Oktober lalu, menjadi kenyataan.

Sekitar 2.000 masyarakat Sumbar yang berasal dari berbagai elemen kembali 
melakukan aksi demo�dan menjadi aksi terbesar dalam sepanjang tuntutan 
pemisahan PT Semen Padang, ke DPRD Sumbar. Rombongan pendemo tersebut 
mengancam, jika pemerintah tidak juga merealisasikan spin off per 25 Oktober 
2001 (hari ini, red), maka mereka mendesak DPRD Sumbar untuk melakukan rapat 
paripurna. �Agenda kita hanya satu, yaitu DPRD harus mengeluarkan keputusan 
untuk pengambilalihan secara sepihak PT Semen Padang, jika pemerintah tidak 
memenuhi pemisahan PT Semen Padang, tegas satu pelaku demo.

Demo yang diawali di gedung DPRD Sumbar Jl. Khatib Sulaiman dan dilanjutkan 
ke kantor gubernur tersebut berlangsung tertib. Para pendemo membawa spanduk 
dan pamplet seraya meneriakkan yel-yel spin off, yes. Put option, no.

Di gedung dewan, beberapa pendemo menyampaikan orasi sekitar 15 menit. 
Mereka mendesak agar dewan hari itu segera menggelar sidang paripurna.

Namun, menurut Ketua DPRD Sumbar Arwan Kasri, sidang paripurna tidak bisa 
dilakukan hari itu (kemarin�red) karena anggota dewan banyak yang tidak 
hadir. Tetapi Arwan berjanji, DPRD akan menggelar paripurna pada tanggal 26 
Oktober (eskok, red) khusus untuk menentukan sikap akhir DPRD atas nama 
masyarakat Sumbar soal spin off PTSP dari PTSG dan menolak put option.

Arwan Kasri ketika di DPRD maupun Gubernur Sumbar yang diwakili Sekdaprov 
Ali Amran di kantor gubernur sama-sama memiliki satu sikap. �Kita tidak akan 
beranjak setapak pun memperjuangkan spin off, ujar kedua tokoh ini di tempat 
terpisah.

Sejak Dilantik

Di hadapan para pendemo yang datang dari berbagai penjuru kota tersebut, 
Arwan Kasri yang didampingi Wakil Ketua Syahrial, Titi Nazif Lubuk, Ketua 
Komisi B RS Siswoyo, mantan Ketua Komisi B Afrizal, anggota Komisi B Akmal 
Khaer dan Sumarman Oedin, mengatakan, spin off merupakan harga mati bagi 
rakyat Sumbar. Sedangkan put option, atau hak penjualan atas PTSG ke Cemex, 
jika dilakukan merupakan keputusan pemerintah yang sangat keliru. �Itu 
menginjak-injak harga diri masyarakat Sumbar, kata Arwan dengan nada penuh 
semangat.

Tentang komitmen terhadap spin off, Arwan mengatakan bahwa hal itu telah 
dilakukan pemerintah sejak mulai dilantik tahun 1999 lalu. �Tuntutan spin 
off ini telah dilakukan DPRD sejak tahun 1999 lalu. Baru saja dilantik kita 
sudah berjuang untuk spin off PTSP. Komitmen DPRD jangan diragukan, kata 
Arwan disambut suara riuh rendah pengunjuk rasa.

Usai mendengarkan tanggapan dewan, rombongan pendemo melakukan long march 
menuju kantor gubernur. Di bawah rintik-rintik hujan, para pendemo yang juga 
diikuti para anggota dewan, menyuarakan semangat perjuangan spin off 
sepanjang jalan.

Di kantor gubernur, para pendemo disambut Sekdaprov Ali Amran. Dalam 
kesempatan itu, para pendemo melalui seorang wakilnya Yul Achyarli Sastra, 
dengan menggunakan pengeras suara membacakan pernyataan sikap masyarakat 
Sumbar.

Pernyataan sikap sebanyak dua butir tersebut meminta DPRD dan Pemprov Sumbar 
untuk mengingatkan pemerintah tentang tuntutan spin off masyarakat Sumbar. 
Jika hingga batas waktu 25 Oktober (hari ini, red) spin off tidak juga 
dilakukan, maka rakyat Sumbar meminta DPRD untuk menggelar rapat paripurna 
untuk menyatakan spin off PTSP dari SGG secara sepihak.

Sekdaprov Ali Amran yang dipasangkan ikat kepala yang bertuliskan spin off 
oleh salah seorang pendemo dalam kesempatan itu mengatakan bahwa spin off 
adalah tuntutan seluruh masyarakat Sumbar. Karenanya, kata Ali, dirinya akan 
menyampaikan tuntutan masyarakat tersebut kepada Gubernur Zainal Bakar 
sepulang dalam lawatan ke Jerman nantinya.

�Yang jelas kita tidak akan beranjak setapakpun, ujar Ali yang disambut 
teriakan �hidup spin off oleh pendemo.

Dalam kesempatan di lapangan kantor gubernur itu, Arwan Kasri kembali 
menegaskan, demo yang dilakukan masyarakat ini menjadi kekuatan moral bagi 
DPRD untuk mengambil sikap.

Put Option Langgar UUD

Ketua Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar Kamardi Rais Dt. 
Panjang Simulie yang juga didaulat untuk memberikan orasi menyatakan put 
option melanggar konstitusi UUD 1945. Sebab, sesuai pasal 14, negara 
menjamin tentang hukum adat. Sehingga niat pemerintah melakukan put option 
jelas melanggar konstitusi.

�PT Semen Padang berdiri di atas tanah ulayat Lubuk Kilangan. Dalam hukum 
adat, ulayat, mahal tidak akan dijual, murah tidak bisa diminta-minta, 
ulasnya.

Sementara itu ulama kharismatik Buya H. Mas�oed Abidin yang juga tampil 
berorasi di hadapan para pendemo menambahkan, doa kita (masyarakat Sumbar, 
red) saat ini hanya dua. Pertama, batalkan put option, kedua laksanakan spin 
off.

Demo di halaman kantor gubernur yang berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB 
tersebut diakhir dengan doa bersama yang dipimpin Buya Mas�oed Abidin.

Resmi Tolak Put Option

Dukungan yang sama terhadap pemisahan PT Semen Padang juga muncul dari 
kalangan Komisaris PT Semen Gresik, PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa.

Dalam pertemuan lengkap antara Menneg BUMN yang diwakili oleh Sekretarisnya 
Barcelius Ruru dan Ketua Tim Independen Penanganan BUMN Semen Nasional Emil 
Salim, Selasa (23/10) malam lalu, komisaris PT Semen Gresik, PT Semen Padang 
dan PT Semen Tonasa menolak usulan pemerintah untuk menjual keseluruhan atau 
sebagian dari sisa saham pemerintah di PTSG sesuai perjanjian jual beli 
bersyarat (CPSA) antara pemerintah dan Cemex yang akan jatuh tempo 26 
Oktober besok.

Aspirasi ke tiga komisaris BUMN semen itu, seperti ditegaskan Ir.Setiadi 
Dirgo (Komisaris utama PTSG), Saafroeddin Bahar (PTSP) dan E.H.Nizar Dt.Kayo 
(PTST), selain disampaikan secara langsung kepada wakil pemerintah C.q 
Menneg BUMN pada pertemuan Selasa, juga akan disampaikan dalam satu resmi 
kepada Menneg BUMN Laksamana Sukardi.

Menurut penjelasan komisaris PT Semen Padang kepada wartawan di jakarta, 
kemarin, surat penolakan put option dari ketiga komisaris BUMN semen itu 
telah disampaikan kepada Laksamana Sukardi, kemarin.

Djusril mengemukakan alasan penolakan put option dari ketiga BUMN itu adalah 
mempertimbangkan faktor ekonomis dan strategis dari penguasaan saham PT SG 
secara mayoritas oleh pemerintah di jangka panjang.

Ketiga komisaris, jelas Djusril, mengakui bahwa saat ini pemerintah sedang 
mengalami berbagai kesulitan dalam upaya memulihkan perekonomian nasional. 
Tetapi, katanya pula, ke tiga komisaris berprinsip penyelesaian krisis itu 
tidak mesti dengan mengorbankan kepentingan rakyat dan daerah.

�Kita sudah mempelajari secara sungguh-sungguh dan mendalam dengan 
memperhatikan aspek politik, ekonomi dan sosial budaya bahwa terdapat 
hal-hal yang sangat peka dan cenderung dapat menimbulkan dampak membahayakan 
bila put option tetap dilaksanakan, Djusril memaparkan alasan penolakan put 
option oleh ke tiga komisaris tadi.

Sebagai contoh, Djusril menunjukan hal-hal peka yang dimaksudkan oleh ketiga 
komisaris tadi, yaitu bagi Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan keberadaan 
PTSP dan PTST sudah menjadi kebanggaan dan harga diri masyarakat setempat. 
Tetapi Djusril menyebut pula bahwa hal peka tadi bukan berarti bersifat 
lokalis, tetapi sangat nasionalis.

�Buktinya, tuntutan yang diajukan ke dua masyarakat daerah itu bukan 
menginginkan perseroan menjadi BUMD, tetapi hanya menuntut dikembalikan 
menjadi BUMN murni alias tidak menerima penguasaan oleh perusahaan asing, 
katanya.

Privatisasi BUMN Lain

Selain mengeluarkan maklumat penolakan put option, ke tiga komisaris BUMN 
semen itu juga mengusulkan kepada pemerintah agar mencari dana penombok 
defisit di APBN melalui privatisasi BUMN lain, yang notabene tidak memiliki 
muatan politis dominan.

Menurut mereka, saat ini masih terdapat beberapa BUMN yang sangat layak 
diprivatisasi dan memiliki prospek jual yang sangat tinggi, tetapi masih 
belum menjadi prioritas dari pemerintah.

�Semestinya pemerintah menggenjot dana privatisasi dari BUMN-BUMN tersebut, 
karena prosesnya lebih gampang mengingat tidak adanya muatan politis di BUMN 
itu, apabila nanti di privatisasi, ujar Djusril Djusan.(hen/sal/isr/awe)
------------------------------------------------------------------------
Kamis, 25/10/2001
DPRD dan BKPRMI Dukung Spin Off

Padang, Mimbar Minang Dukungan terhadap perjuangan spin off semakin menguat 
di kalangan anggota DPRD Padang. Mereka menilai upaya perjuangan masyarakat 
Sumbar untuk mendapatkan hak privatisasi terhadap PT. Semen Padang tersebut 
merupakan suatu perjuangan yang sangat manusiawi demi kepentingan masa depan 
daerah ini.

�Memenuhi panggilan hati nurani itu memang merupakan perjuangan berat dan 
pahit tetapi demi kepentingan anak cucu kita dimasa yang akan datang maka 
perjuangan ini harus diteruskan dan harus berhasil, tegas Nofrizal, Anggota 
komisi A DPRD Kota Padang kepada wartawan di Padang kemarin.

Ketua Fraksi PKP ini juga menyatakan rasa bangganya terhadap sikap yang 
ditunjukkan oleh direksi dan segenap karyawan PT.Semen Padang yang mau 
mempertaruhkan jabatan mereka hanya untuk kepentingan spin off, yang juga 
berarti demi kepentingan masyarakat Sumbar secara keseluruhan. �Padahal 
kalau mereka mau kompromi dengan Cemex pasti mereka bisa hidup lebih mewah. 
Tetapi demi kepentingan masyarakat Sumbar, mereka berani mempertaruhkan 
jabatan dan semua kemewahan yang dijanjikan Cemex, ujarnya. Untuk itu, 
menurut Nofrizal, pihaknya akan terus memberikan dukungan terhadap segala 
bentuk perjuangan yang akan dilakukan oleh masyarakat Sumbar, terutama 
sikap-sikap yang sedang diperjuangkan oleh tim spin off saat ini.

Hal senada juga dikatakan Irdinansyah Tarmizi. Walaupun secara kelembagaan, 
DPRD Padang belum mengeluarkan pernyataan sikap mendukung spin off namun 
menurut anggota komisi C ini pihaknya memang mendukung perjuangan masyarakat 
ini. �Pada dasarnya kita memang mendukung perjuangan spin off, tetapi 
pernyataan secara kelembagaan belum bisa dikeluarkan karena saat ini kita 
kan sedang disibukkan dengan persoalan membahas perubahan anggaran, ujarnya.

Dukungan BKPRMI
Dukungan serupa juga dilontarkan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia 
(BKPRMI) yang mendesak agar Pemprov dan DPRD Sumbar menuntaskan kasus spin 
off PT Semen Padang dan menolak put option.

Permintaan ini mereka rumuskan dalam bentuk rekomendasi pada saat Rapat 
Pimpinan (Rapim ) BKPRMI di Asrama Haji Tabing, baru-baru ini.

Menurut mereka, pemerintah Megawati melakukan test case terhadap PT SP 
dengan memaksa put option. Rakyat Sumbar selama ini dibodohi dalam kasus 
spin off. �Kami di sini semuanya sudah tahu bahwa pemerintah pusat akan 
menjual PT SP ke pihak asing yang tidak hanya merugikan rakyat Sumbar tapi 
semua anak bangsa, kata Ketua Umum BKPRMI Sumbar Afdhal Muhammad kepada 
Mimbar Minang.

Jika Presiden peduli dengan aspirasi rakyat, lanjutnya, kami yakin ia akan 
mendapatkan simpatik. Namun kalau tidak dan tetap menjual 51 persen saham ke 
Cemex, maka rakyat Sumbar tidak akan menyukai, kecuali bagi mereka yang mau 
tergadai.

Kalau Cemex, berhasil membeli saham lebih 50 persen, lanjutnya, maka bisa 
saja harga semen akan membumbung sehingga tidak terjangkau oleh rakyat. 
Semen akan sulit didapatkan, karena Cemex akan lebih mengutamakan menjual ke 
luar negeri.

�Kita meminta agar Pemrov dan DPRD Sumbar mengumpulkan ormas se-Sumbar untuk 
menggalang kekuatan. Kalau pusat bisa mengambil keputusan sepihak, kenapa 
kita tika. Soeharto saja bisa lengser oleh rakyat, kenapa Cemex tidak bisa, 
katanya.

Kutuk Serangan AS
Selain itu, BKPRMI mereka juga mendesak Pemprov agar membentuk tim brantas 
pekat terpadu, kontinyu men-sweeping majalah, VCD porno serta menutup 
tempat-tempat maksiat. Pada poin empat rekomendasi dalam negeri ini, BKPRMI 
juga meminta Pemrov dan DPRD agar menyediakan anggaran kaderisasi Pemuda 
remaja Mesjid se-Sumbar.

Selain menghasilkan rekomendasi kepada Pemprov terhadap kondisi dalam 
negeri, BKPRMI juga membuat rekomendasi kepada generasi muda Islam Indonesia 
dan Pemerintah RI tentang kondisi luar negeri. Rekomendasi luar negeri yang 
dihasilkanya sebanyak empat poin itu adalah: mengutuk serangan AS terhadap 
Afghanistan, meminta generasi muda Islam bersatu menggalang dana untuk 
Afghanistan, menolak sweeping dan penganiayaan dalam bentuk apapun terhadap 
warga asing, dan meminta Pemerintahan RI mengurangi pinjaman luar negeri dan 
memaksa pengembalian dana parkir di luar negeri.

Menurut mereka dengan menggalang dana untuk Afghanistan sudah cukup dan 
tidak perlu harus pergi perang ke sana. Alasan mereka karena perang maksiat 
saja di Sumbar dan Padang khusunya belum berhasil dilaksanakan.

Untuk itu, menjelang Ramadhan nanti lanjutnya, lebih baik mensweeping orang 
yang pacaran tanpa batas, majalah porno, poster bioskop yang mencolok dan 
segala bentuk perjudian.(kbt/fin)



RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima 
RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================

Kirim email ke