Lewat 25 Oktober, PTSP Dikuasai


Padang, mimbarminang.com Tim Spin Off PT Semen Padang akhirnya berangkat 
lagi ke Jakarta, Ahad (7/10/2001) kemarin dengan kekuatan 33 orang untuk 
menyampaikan �permohonan terakhir kepada pemerintah. Atas nama DPRD bersama 
masyarakat Sumatra Barat, Tim akan meminta pemerintah untuk memenuhi 
tuntutan spin off (pemisahan) sampai 25 Oktober 2001. Bila tidak, PTSP akan 
diambil-alih masyarakat Sumatra Barat.

Demikian pernyataan sikap terakhir yang menjadi �ujung tombak misi Tim DPRD 
dan Masyarakat Sumbar dalam pertemuan Tim di DPRD Sumbar, Sabtu (6/10). 
Rumusan pernyataan sikap itu akan disampaikan dalam sarangkaian pertemuan 
secara maraton dengan pihak pemerintah terkait, termasuk dengan tokoh 
perantau Minang di Jakarta, mulai Senin ini.

Namun, tim menyepakati pernyataan menguasai dibahasakan dengan Pernya-taan 
Akan Melakukan Aksi Sepihak, bila batas waktu yang ditetapkan tidak 
diindahkan pemerintah. �Kita tidak akan menyampaikan kalimat ancaman itu 
secara terang, meski saatnya sekarang pernyataan itu harus lahir. Karena 
sudah sekian kali janji-janji yang diberikan tidak pernah ditepati dan tidak 
menun-jukkan kejelasan, kata Afrizal, B.Sc yang menjadi pimpinan sidang pada 
pertemuan Sabtu itu.

Perubahan kalimat itu dilakukan terkait dengan permintaan Sekretaris KNPI 
Sumbar, Yul Akyari Sastra bahwa ancaman-mengancam tidak mencitrakan 
masyarakat Minang. �Bila ancam-mengancam tetap men jadi misi ini, maka KNPI 
sebagai unsur generasi muda mundur, ancam Yul.

Pernyataan Yul itu segera mendapat tanggapan, dan pernyataan itu dinilai 
salah menanggapi. Bahwa ancaman menduduki itu, sebenarnya sudah menjadi 
salah satu skenario aksi yang dirumuskan oleh Tim 6 yang terdiri dari 
Afrizal, Sy. Dt. Muncak, Jhoni Halim Ja�far, Hasril Chaniago, Khairul, dan 
Tasman.

Atas ancaman itu, Hasril Chaniago salah seorang anggota Tim 6 menga-takan, 
saat ini tidak ada waktu untuk tidak keras. Karena apa yang dilakukan 
pemerintah dengan put option (penjualan saham) termasuk mengundur waktu 
pelaksanaannya adalah menunjukkan betapa aspirasi masyarakat Sumbar tidak 
dipandang apa-apa. �Anjing menggonggong, kafilah berlalu, itulah keadaan 
kita saat ini, kata Hasril.

Dan pernyataan Laksamana Sukardi meminta masyarakat untuk menghargai 
pemerintah adalah bukti lain bahwa pernyataan kita tidak menjadi prioritas. 
�Karena itu, dalam petisi keempat atau bisa dibilang ultimatum ini, kita 
harus memberi nilai pernyataan ini, kata Hasril.

Hal yang sama juga dilontarkan, Tasman, anggota Tim 6 lainnya. Ia mengatakan 
Tuntutan Masyarakat Sumbar sudah diabaikan, maka kita harus tegas sekarang. 
�Bila Riau dengan beberapa orang saja bisa melakukan, kenapa kita yang 
dikenal punya kemampuan lobi tidak mampu berbuat? kata Tasman.

H. Mas�oed Abidin, mendukung pernyataan itu. Ia mengatakan bahwa masyarakat 
Minangka bau itu punya prinsip tegas, tidak beranjak dan tidak berubah. 
�Karena itu, sikap ini adalah sikap yang menunjukkan harga diri kita sebagai 
orang Minang, tegas Buya Mas�oed. Bgeitu juga Anwar Syamsuddin, ia 
mengatakan tidak ada cara lain, selain melakukan pengerahan masa untuk 
menduduki PTSP.

Rombongan yang dipimpin Ketua Komisi B DPRD Sumbar, Afrizal B.Sc. itu, mulai 
hari ini akan melakukan serangkaian pertemuan dan penyampaikan pernyataan 
dan tuntutan spin off kepada DPR RI, Menteri Keuangan dan Menteri Pembinaan 
BUMN. Pada Selasa (9/10/2001) rombongan diundang Mantan Gubernur Sumbar 
Harun Zein untuk mengadakan pertemuan khusus dengan tokoh-tokoh Minang di 
Jakarta.

Tentang adanya keraguan soal pernyataan Gubernur soal spin off ini 
dikemudian hari, dijawab Asisten II Sekdaprov, Basril Taher. Bahwa 
pernyataan Gubernur adalah pernyataan sebagai masyarakat Sumatra Barat. 
�Bahwa tanpa spin off kita tidak akan mati, tapi kita tidak akan mementahkan 
keinginan itu untuk sebuah harga diri, kata Basril Taher. Bagi Basril, aksen 
yang akan dilakukan nanti tetap sebuah eksen, tapi eksen yang tidak merusak 
hubungan pusat-daerah.

Dan atas nama Gubernur, persoalan-persoalan dengan PTSP yang tidak terkait 
dengan spin off, diminta untuk diundur dulu pembahasannya hingga ada 
kepastian spin off. Karena spin off sudah sangat mendesak. �Nanti soal-soal 
selain spin off, apakah itu ganti rugi atau hak masyarakat, diselesaikan 
setelah tuntutan ini selesai, katanya.

Selain menyampaikan pernyataan �ancaman itu, dalam tuntutan itu juga 
disampaikan, jika pemerintah sebagai pemetgang saham mayoritas melakukan 
pergantian manajemen PTSP yang mengindikasikan untuk mengacaukan perjuangan 
spin off, maka pabrik PTSP akan diambil alih untuk sementara oleh masyarakat 
Sumbar.(son)



RantauNet http://www.rantaunet.com

Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Mendaftar atau berhenti menerima 
RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke/To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
-mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda]
-berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda]
Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
==============================================

Kirim email ke