|
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]> Jadi pak Ridwan kalau saya sih sederhana saja, dari tulisan tsb saya kira suatu hal yg bisa kita lakukan untuk mengembangkan bisnis urang awak secara umum ialah memperbanyak simpul simpul bisnis atau simpul knowledge. Berupa business center atau tempat kongkow kongkow , saya kira via milis ini cukup potensial karena peserta milis tersebar dalam geografi yg luas , ado Ajoduta di Amrik sinan, ado nan di Inggris, mak buyuang di Parancih , ado mak Boes nan di Kanada , banyak nan dari di Caltex Riau , ado mak Bandaro di Bogor, apo lai nan membanjiri Jakarta, sambuah. -----------------
Pertama-tama terima kasih kepada pak Ridwan yang berusaha menemukan nada do
saya yang hilang. Walau belum jelas benar setidak-tidaknya sudah mulai terlihat
samar-samar di ujung gang.
Menanggapi tanggapan pak Hendra Messa, tampaknya disini kita sedang bicara
tentang membangun jaringan sosial untuk membangun jaringan bisnis antara yang
punya knowledge ( termasuk di dalamnya yang punya modal) dengan pelaku bisnis
praktis kecil-kecilan minang yang menduduki jumlah terbanyak dalam struktur
ekonomi orang minang. Untuk beberapa hal sebagai perempuan yang tumbuh dalam
lingkungan kelas ekonomi bawah orang minang, saya dapat menangkap esensi
yang dikatakan pak Hendra bahwa ada jurang yang memisahkan antara mereka yang
memiliki knowledge plus modal dengan para praktisi bisnis emperan ( walau
berusaha tidak diakui, toh, jurang tetap ada). Hal ini memang memerlukan study
mendalam tapi sebagai wacana saya kira kita dapat menganalisanya dari karakter
dasar orang minang yang hanya "mendahulukan sarantiang dan tuo-tuo" serta
prinsip pantang ka impikan. Tapi sudah lah, mempersalahkan yang ini-ini juga
tidak akan membawa kita kemana-mana.
Yang perlu kita kerjakan sekarang adalah menginventaris modal sosial
masyarakat minang untuk di jadikan simpul-simpul bisnis andal. Mungkin berangkat
dari konsep adat salingkuangan nagari, salah satu yang paling telak untuk di
jadikan sebagai simpul bisnis pertama menurut saya adalah kesukaan orang minang
untuk berkumpul dengan rekan-rekan sa nagari. Saya pernah mendengar ikatan
keluarga magek, ikatan keluarga banuhampu, ikatan keluarga pasisie selatan (dan
entah ikatan keluarga apa lagi yang berada di rantau), mereka ini paling
senang berkumpul dalam acara halal bi halal, buka puasa bersama dan arisan
bulanan. Menurut cerita yang saya dengar ttg arisan bulanan adalah membicarakan
"uang arisan", makan-makan, lantas pulang. Setelah itu ketemu lagi bulan besok
dengan acara yang begitu-begitu juga. Kalau saja ke dalam kelompok arisan ini
mengalir informasi tentang peluang bisnis atau kemungkinan mencari modal atau
setidak-tidaknya ada pembicaraan kearah mencari peluang bisnis baru, saya rasa
minang tidak akan tenggelam walau galodo datang untuk kesekian kali. Atau dalam
acara halal bi halal ada penceramah yang menyinggung soal betapa pentingnya
informasi bisnis dari segala macam orang yang di lakukan melalui kontak pribadi
atau media, sedikit banyak ada orang yang akan terpengaruh dan dengan
sendirinya akan bangkit keinginan untuk mencari informasi. Kita
tahu bahwa sudah banyak orang mengakui bahwa information behaviour is
regarded as the interplay between information needs, access to and use of
information and the effects of information use.
Mak jo angek juga pernah menuliskan modal sosial ini seperti alumni
dll.atau persatuan sepak bola (saya lupa). Yang belum saya mengerti adalah
bagaimana caranya agar arus kesadaran seperti ini atau kajian2 yang
dilakukan oleh dunsanak kita di yayasan imam bonjol bisa mengalir ke dalam
kehidupan praktis para pelaku bisnis kaki lima? Ada lagi yang mau bantu
mencarikan nada "do" saya yang masih samar-samar.
Wassalam,
Evi |
- Re: [RantauNet] Memanfaatkan KMS untuk Menggalang Kerjasama hendra . messa

