Assalamualaikum,
 
Saya tidak begitu yakin dengan kosa kata "dimurtadkan" dalam berita Mimbar Minang ini. Setahu saya "dimurtadkan" adalah kalimat pasif dan dalam hal pindah agama ini "dimurtadkan" mestinya berati  "disuruh, diminta atau dipaksa" oleh pihak lain agar keluar dari Islam dan masuk ke agama mereka.  Begitu pula dengan kata "memurtadkan" yang dipakai sanak Razak dibawah, konotasinya tidak jauh beda. Yang membuat saya heran adalah iman itu terletak di dada, suatu tempat yang jauh dan tersembunyi, kecuali Allah, apa iya ada manusia lain yang sanggup merampasnya?
 
So, kalau ada orang Minang pindah agama, apa lagi manusia Minang dewasa, saya tidak yakin kalau mereka "dimurtadkan" atau si X "memurtadkan" si Y. Yang lebih masuk akal adalah si Minang "memurtadkan" diri dengan penuh kesadaran. Kalau sudah begitu, dari pada mengutuk orang lain, mengapa setiap orang Minang tidak pergi ke hadapan cermin dan tanyai diri sendiri mengapa anak kemenakan mereka tidak lagi menganggap Islam itu penting? Rasa-rasanya persoalan akan lebih mudah  dipecahkan kalau kita mulai melihat dari dalam diri sendiri ketimbang cari2 kesalahan pada orang lain.
 
 
Wassalam,
 
Evi
 
 
----- Original Message -----
From: razak
Sent: Wednesday, July 31, 2002 2:51 PM
Subject: Re: [RantauNet] Di RS Yos Sudarso: 2 Karyawan Dimurtadkan, 15 Diintimidasi

Komentar dan Saran:

JANGAN HAL SEMACAM INI DIBIARKAN BERLALU TANPA GUGATAN YANG BIJAK, TEGAS, DAN BERLANDASKAN ATURAN HUKUM YANG BERLAKU.  MEMURTADKAN ORANG YANG SUDAH BERAGAMA AKAN MEMICU PERSETERUAN ANTAR UMAT YANG BAKAL MERUGIKAN SEMUA PIHAK.

Wassalam.

A.Razak

  Rinaldi Munir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Kristenisasi di ranah minang semakin parah saja. Ini berita dari koran
mimbarminang padang edisi 31 juli 2002

wassalam
Rinaldi Munir
Bandung


.

Dimurtadkan

Selain mengutuk diskriminasi dan intimidasi terhadap 15 pegawai beragama Islam,
GMM juga menceritakan bahwa ada dua pegawai RSU Yos Sudarso sudah dimurtadkan
(keluar dari agama Islam).

Mereka adalah Fedelia Afridawati Johor dan Jumirah. Jumirah yang sehari-hari
bekerja di RSU Yos Sudarso bagian gizi, sebelum dikristenkan, lebih dulu
dihamili salah seorang Satpam RSU Yos Sudarso. Sekarang laki-laki yang diduga
menghamili Jumira bekerja sebagai Satpam di sebuah bank di Padang.

GMM Sumbar menilai persoalan kristenisasi dan intimidasi terhadap karyawan yang
beragama Islam di RSU Yos sudarso, harus mendapat tanggapan serius dari
berbagai pihak, terutama instansi terkait.

Surat pernyataan sikap GMM itu, tembusannya juga dikirim kepada 14 instansi .
Antara lain disampaikan kepada Gubernur, Ketua DPRD , Kepala Dinas Kesehatan dan
Kesejahteraan Sosial, Pimpinan Muhammadiyah, Ketua DDI dan Ketua MUI Sumbar,
Walikota Padang, DPRD Padang serta Kantor Departemen Agama Kota Padang.(awk)

Kirim email ke