Assalamu'alaikum wr. wb,
 
Sorry ya GM, hampir lupa.
 
Ceritanya kemarin itu bedah buku "Muhammad Hatta - A conscience of a Nation" pengarang urang gaek awak DR Deliar Noer. Bukunya tidak terlalu tebal tapi sangat informatif karena banyak gambar foto-foto lamanya dan didisain sangat apik. Tapi yang sanagt menghentak ialah kata pengantar dari gaek DR Taufik Abdullah, ialah nation Indonesia dibangun bukan dari kuburan bangsa-bangsa yang pernah exist di kepulauan ini, namun dari kesadarn baru untuk menjadi bangsa modern dan demokratis.
Kenyataan setelah 50 tahun lebih "jauh panggang dari api"
 
Pak Anhar Gonggong mengungkapkan, hasil KMB 1949 menjadikan Hatta sebagai perdana menteri, dan dia mempunyai kesempatan besar untuk mempertahankan itu, sayang dia mengalah pada desakan teman-temannya (Sukarno & Natsir) untuk kembali ke negara kesatuan, walaupun keputusan yang disebut kehendak rakyat itu dibuat tanpa referendum.
 
Marsilam Simanjuntak memuji keputusan Hatta membuang 7 kata berbisa dari pembukaan uud45 menyebutnya sebagai kearifan sejati seorang muslim.
 
Fachry Ali menyoroti sikap kerakyatan Hatta yang ikut menarik pukat nelayan di Aceh dan sikap humanis lainnnya yang diteladankan oleh beliau, yang menarik bagi saya sebagai intelektual Aceh, Fachry nampaknya mulai gamang dengan context nation Indonesia.
 
Adi Sasono sebagai ketua panitia nampaknya berusaha keras mencari "roh" bagi karir politik dan koperasi nya, namun masih bersiteguh koperasi harus dibina melalui departemen koperasi (sama aja dengan penafsiran pak tua dari jl. cendana).
Bagi saya pribadi senang banget deha kemarin itu ketemu dengan para tetua, Rosihan Anwar, Rahman Tolleng, Sudarpo S juga hadir serta seabreg lainnya.
 
Khusus dengan Harry Poeze yang kemarin hadir sebagi director KITLV Press, saya sempat chatting lama, mengejutkan kesimpulan kami; for indonesia, to be survive and rising = confederation.
 
Dengan Anhar Gonggong; postulat motive PRRI jadi valid: hanya pergumulan tni (mungkin soal pitih) yang kebablasan. Mulainya persis kaya MMSB dan pt sp sekarang, karena itu soal pt sp dan MMSB jangan diremehkan.
 
Saya cari si IJP sayang nggak kelihatan telinganya, namun terobati ketemu dengan putri-putri bung Hatta yang masih kece walaupun mulai estewe, pada hal ketemu sebelumnya sekitar tahun 1962 di Bkt.
 
Dari chatting dengan Omnya si IJP Taufik Abdullah; kapan kincia-kincia urang minang itu jalan baliak (kembali ke adat nan sabana adat?)
 
Salam
 
St. Bagindo Nagari
     
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, August 28, 2002 4:21 PM
Subject: Re: [RantauNet] peluncuran buku bung Hatta

Assalamualaikum,
 
Mamanda SBN, mana nih isi beritanya. Kok cuma potongan doang.
 
Wassalam,
 
GM
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, August 28, 2002 2:45 PM
Subject: [RantauNet] peluncuran buku bung Hatta

Asssalamu'alaiku wr. wb,
Kok yang ketemu cuma Bp. Asmun Putra Malin Permato, yang lain kemana
kali ya.

Salam

St. Bagindo Nagari


Kirim email ke