---Dari chatting dengan Omnya si IJP Taufik
Abdullah; kapan kincia-kincia urang minang itu jalan baliak (kembali ke adat
nan sabana adat?)====
Assalamualaikum
Yth mamanda SBN,
Terimakasih atas laporan pandangan matanya yang
sangat mendidik dan informatif (hehehe...saya habis chatting pula dg uda
Edizal soal2 informatif2an begini).
Menyoal soal kincia-kincia rang Minang agar
dipakai kembali, menurut saya, rang Minang itu banyak yang sudah
berkincia-kincia. Cuma satu kelemahan saja bahwa sado nan cadiak, sado
nan pandai, tabang habih meninggalkan sarang. Tidak seperti para
pendahulu seperti Bung Hatta, yang tidak menerima pendidikan cuci otak ala
orde baru dan tentunya masih kental rasa keminangannya, mereka-mereka
yang meningalkan sarang adalah produk manusia dengan pendidikan Indonesia
Raya. Begitu diluar Mereka tidak lagi mengidentifikasikan diri
sebagai orang Minang, melainkan orang Indonesia. Dan kita tidak
bisa menyalahkan mereka karena perlu pula kita sadari terlebih bahwa
sebuah masyarakat tidak perduli dimanapun mereka berada, memakai
tifikasi2 yang diciptakan nenek moyang lalu mengkomunikasikannya kedalam
kelompok2 individu dan kemudian meneruskannya kepada turunan selanjutnya.
Selama 32 tahun lebih, dengan tifikasikasi pendidikan Indonesia
Raya, wajar saja jika kosa2 kata seperti cadiak dakwa jawab, cadiak
kaji mangaji, cadiak kecek mengecek, cadiak cindikoi dll sepertinya hilang
dalam khasanah kebudayaan Minang. Bukankah mak SBN, bahwa dunia ini diteruskan
melalui lidah ibu?
Kalau hendak berkeras juga agar para cerdik
pandai Minangkabau terdengar gemanya ke seantero negeri, yang dapat kita
lakukan adalah setiap orang mulai menggali kembali apa sih yang disebut dengan
adat yang sabana adat itu? Saya sendiri, hampir dikatakan,
kehabisan kontak dengan warisan Minangkabau, tapi melalui buku saya bisa
menyimpulkan bahwa yang disebut dengan idiom tersebut adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan cara berfikir rasional. Dan kalau mau jujur,
bukannya cara berfikir yang seperti ini yang kurang dimasyarakat kita?
Bayangkan seorang mentri yang mendengar kisikan dukun lalu membongkar
peninggalan nenek moyangnya yang sangat berharga....Kalau saja rasio lurus
orang ini dipakai, rasa-rasanya kita tidak perlu merasa mual seperti yang saya
rasakan sekarang ini.
Wassalam,
GM