|
Assalamu'alaikum wr. wb,
Pandapek kamanakan GM hampir seluruhnya sama
dengan pendapat saya, namun yang perlu disoroti ialah "soal kehilangan kontak
dengan warisan Minang". Menurut saya inilah faktor yang membuat degradasi
setidaknya dalam setengah abad terakhir. Saya bukannya mencari siapa yang salah,
namun tidak bisa dihindarkan ada berapa saat tertentu yang kritis, seperti pe er
er i.
Saking marahnya mamak Hatta sampai mangecek; ....
sabalun malangkah urang Minang itu baiyo batido jo mamaknyo, tapi baa kok
Syafrudin Prawiranegera nan dianggap mamak". Inilah sikap raso pareso
urang Minang tu banyak nan ditinggakan, terakhir berulang lagi dengan kasus
MMSB.
Kembali kesoal kontak dengan "heritage
kita", saya semasa muda pernah juga mengalami syndrom
menyepelekan warisan itu, tapi apa daya, solusi dari pancasila dll tidak
pernah berhasil mengembalikan jati diri yang hilang, setelah switch kembali
setelah melalui pergumulan pemikiran yang keras, terasa warisan itu lebih pas
dan memberikan semangat survival baru.
Soal bahan, memang sangat kurang,
tapi buku-buku seperti Alam takambang jadi guru - AA Navis, Filsafat
Adat Minangkabau - Prof SM Nasrun dan
buku-buku lain cukup membantu, perlu diingat bahwa adat Minang itu bukan adat
yang tertulis dengan baku, dia adalah sebuah proses dialektika manusia Minang
dengan alam, karena itulah timbulnya "alam takambang jadi guru".
Salah satu penyebab degradasi ialah karena banyak
yang melepaskan tanggung jawab mamak atas kemenakan, ini hanya bisa disembuhkan
dengan menjalankan. Saya mau cerita dikit: kami satu kaum punya rumah
gadang yang sudah terlantar karana tidak ada yang mau memperbaiki dan tidak ada
yang mau menghuni, masing-masing turunan dari generasi ketiga dan empat sudah
pada lahir di jawa. Ada problem lagi, para kemenakan sebagian sudah terkena
materialisme-hedonisme menginginkan harta pusaka rumah dan parak juga
dibagi, bayangkan harta yang sedikit mau dibagi sekian banyak jurai (kemenakan
yang perempuan) hasilnya pasti "vanishing dari pusaka (fisik)
yang ada". Suatu waktu saya ketemu saudara dari pihak ayah saya (bako)
laki-laki setelah sekian puluh tahun tidak ketemu. Dengan lantang dia berkata:
kalian yang merantau ke jawa ini bodoh semua, titel saja yang berjibun, rumah
pusaka kalian dibiarkan hancur, say yang tidak sekolah ke jawa dan
hidup bertani mampu memperbaiki rumah pusaka kami. Saya tersentak
dan.... sangat malu, orang lain mungkin tersinggung. Samapi sekarang saya
belum mampu memperbaiki, tapi niat sudah ada dan usaha sudah dimulai, adik-adik
saya yang sejurai dengan suami yang bermacam-macam semuanya ternyata bisa
menerima dan mudah-mudahan bisa terwujud.
Ternyata kearifan Minang itu tidak punya
korelasi dengan tingkat pendidikan.
Selain itu akibat kacaunya keluarga batih
Minang menjadikan individu mencari pegangan jiwa yang baru, antara lain timbul
pemikiran penerapan syariah Islam akan menyelesaikan persoalan, disini banyak
yang lupa bahwa dulu telah berjalan "syarak mangato adaik mamakai". Syarak,
laws, hukum positif atau apapun namanya tanpa didukung oleh kultur yang kuat,
tidak akan pernah efektif, begitulah kejadian di republik ini, perlu pencarian
jati diri kembali?
Kembali ke generasi Hatta dan Tan
Malaka; akibat dari post padri syndrom, mereka jadi terlalu cepat jadi
"international individu" karena jaman pada waktu itu menfasilitasinya, sekarang
kita semua justru harus mendobrak tembok hantu-hantu ex pak tuo dan syafrudin,
setuju/
Salam
St. Bagindo Nagari
|
- RE: [RantauNet] ortu mandiri hendra . messa
- RE: [RantauNet] ortu mandiri Ade Zur
- [RantauNet] peluncuran buku bung Hatta Basri Hasan
- Re: [RantauNet] peluncuran buku bung Hatta -- (*V*) --
- Re: [RantauNet] peluncuran buku bung Hatta Basri Hasan
- Re: [RantauNet] peluncuran buku bung ... -- (*V*) --
- RE: [RantauNet] ortu mandiri Basri Hasan
- RE: [RantauNet] ortu mandiri Zubir Amin
- RE: [RantauNet] ortu mandiri Zubir Amin

