Untuak panyaimbang opini, dibawah mbo forward-kan tulisan sdr. 
Eggi Sudjana MSi, Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim 
Indonesia (PPMI), dapek dari lapau sabalah...

--ird

# -----Original Message-----
# From: Indra Piliang [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
# 
# Alasan Bung Ikranegara adalah alasan yang paling masuk akal...
# 
# ----- Original Message -----
# From: "Ikranagara"
# To:
# Sent: Monday, October 14, 2002 8:38 AM
# Subject: Re: Re: [Republika Online] Sebelumnya Ada Prakondisi
# 
# 
# > Kenapa tidak ada orang AS yang jadi korban?
# >
# > Turis yang datang ke Legian, Kuta, itu umumnya pemuda-pemudi yang
# > digolongkan "backpack tourist." Yang berdompet tebal biasanya 
# > menginap di Sanur dan Nusa Dua.
# >
# > Pemuda-pemudi AS datang ke Legian pada Musim Panas, antara Juni
# > sampai Agustus. Pada bulan Oktober ini mereka sudah masuk kuliah 
# > kembali, atau yang bukan pemuda-pemudi lagi tapi sudah bekerja  
# > ajeg mereka ini sudah masuk bekerja kembali di tempat kerja  
# > mereka masing-masing. Masa libur sudah usai bagi orang Amerika.
# >
# > Jadi, ada atau tidak ada peringatan dari Kedubes mereka, 
# > pemuda-pemudi AS tidak akan Anda temukan di tempat-tempat  
# > berlibur itu. Ya, mungkin saja ada satu dua, tapi itu di luar
# > trend.
# > Tapi bagi Australia inilah Musim Panas mereka! Matahari sudah di 
# > belahan selatan, bukan? Maka berjubellah orang Australia ke Bali.
# > Pulai Bali memang berada di tempat yang strategis untuk turisme 
# > karena Musim Panas orang Amerika itu berbeda dengan orang 
# > Australia.
# >
# > Ikra
# > ===
# >
# > ----- Original Message -----
# > From: Roby Muhamad
# > ....
_______________________________________
Selasa, 15 Oktober 2002
Skenario di Balik 'Bom Bali'
Oleh : Eggi Sudjana MSi 

Ledakan bom berkekuatan besar di tempat hiburan di Legian, Kuta, Bali, Sabtu
Malam (12/10), membuat Indonesia kembali menjadi sorotan dunia
internasional. Tragedi yang menewaskan sekitar 180 orang -- dan lebih dari
200 orang lainnya terluka, kebanyakan warga Australia, serta beberapa negara
lain seperti Swiss, Kanada dan Jerman -- itu ditengarai sebagai tragedi
kemanusiaan terbesar setelah tragedi peledakan pesawat ke gedung WTC dan
Pentagon, September tahun lalu.

Para pemimpin dunia, di antaranya Presiden AS, Bush, Menlu Jerman, Yosca
Ficser, dan Menlu Australia, mengecam dan mengutuk keras tindakan biadab
tersebut. Selain mengutuk keras, Presiden Megawati juga meminta masyarakat
agar tenang dan meningkatkan kewaspadaan, serta menyampaikan duka yang
mendalam dan simpati kepada keluarga korban. Kecaman dan kutukan serupa juga
diperlihatkan para tokoh agama di Indonesia, dan menuntut aparat untuk
segera mengungkap dalang dan pelaku pemboman.

Sebagai bangsa yang beradab dan umat beragama, kita tentu saja menolak aksi
terorisme tersebut. Terorisme, apapun bentuknya, jelas tertolak oleh hukum
apapun di dunia ini. Agama pun tidak membolehkan cara-cara kekerasan untuk
mencapai tujuan dan misinya. Di sinilah kita kembali diingatkan, bahwa
bahaya teror dan terorisme sejatinya adalah bahaya universal dan global yang
tanpa mengenal batas-batas geo-politik bahkan batas suatu negara. Terorisme
menjadi entitas bahaya dan tantangan bersama umat manusia di dunia ini.

Kejanggalan
Tanpa mendahului proses penyidikan dan pembuktian yang kini tengah dilakukan
oleh aparat, tragedi Sabtu Kelabu di Bali itu memunculkan banyak kecurigaan
serta kondisi politik yang tidak lazim seperti biasanya. Ketidaklaziman dan
kecurigaan itu secara kuat mengarah kepada pihak asing, khususnya Amerika
Serikat (AS), negeri yang selama ini gencar mensponsori perang
anti-terorisme internasional.

Untuk menjelaskan ketidakwajaran itu, beberapa hal berikut barangkali
sedikit membantu kita memahami pra-kondisi terhadap peristiwa ledakan bom.
Pertama, pada 10 Oktober, dua hari sebelum kejadian, Deplu AS mengeluarkan
peringatan kepada warganya di seluruh dunia untuk waspada. "Para teroris
akan mengalihkan sasaran pada target yang lebih empuk, termasuk fasilitas
dimana orang Amerika biasa berkumpul atau berkunjung seperti kelab malam,
restauran, tempat ibadah, sekolah atau tempat rekreasi terbuka lainnya."
(Republika, 14/10). Menurut pengamat inteligen, AC Manullang, 'kewaspadaan'
dalam peringatan Deplu AS itu adalah bahasa politik. Dalam bahasa perang dan
intelijen, kata Manullang, 'kewaspadaan' berarti tinggalkan tempat itu.

Kedua, pada saat Deplu AS mengeluarkan peringatan tersebut, Dubes AS, Ralph
L Boyce, sibuk 'bersilaturahmi' ke beberapa pejabat penting, seperti
Menkopolkam Susilo Bambang Yudoyono, Menkokesra Yusuf Kalla, dan pejabat
lainnya. Memang tak spesifik Boyce mengungkapkan akan adanya serangan di
Bali. Dubes AS itu hanya meminta pemerintah Indonesia untuk serius mengusut
serangan terhadap Exxonmobil, dan fasilitas AS di Teluk Betung, beberapa
waktu lalu. Tapi yang aneh, enam jam sebelum kejadian peledakan, Boyce
mengatakan bahwa polisi Indonesia tidak sungguh-sungguh memerangi terorisme
di Indonesia.

Ketiga, dari segi bahan peledak yang digunakan, bom ini menimbulkan radius
kerusakan yang sangat luas. Menurut pengamat inteligen, ZA Maulani,
sebagaimana dilansir Jawa Pos (14/10), dalam istilah militer, bom tersebut
mempunyai demosili sampai 200 meter. Padahal, kata Maulani, sebuah granat
108 mm hanya memiliki radius kerusakan atau demosili 50 meter. Singkatnya,
kekuatan bom ini setara dengan belasan granat 108 mm dijadikan satu dan
diledakkan. Pelakunya sudah pasti ahli demosili. Mantan kepala BIN ini
menyebut, bahan peledak dahsyat itu dari jenis C4 (C four) atau Claynore.
"Ini tidak diproduksi Indonesia. Hanya Amerika yang bisa memproduksi C4,"
kata Maulani.

Keempat, selama ini AS menuding Indonesia sebagai sarang dan tempat aman
teroris, sekalipun aparat dan pemerintah Indonesia membantah tudingan
tersebut. Presiden Bush yang agaknya kecewa dengan sikap Megawati yang tidak
tegas dalam memberantas terorisme di negeri mayoritas Muslim ini merasa,
pemerintah Indonesia tidak kooperatif dalam kampanye anti-terorisme,
sebagaimana ditunjukkan Malaysia, Singapura, dan Philipina, serta
negara-negara lainnya. Bush bahkan beberapa kali menelpon langsung Presiden
Megawati berkaitan masalah terorisme. Kekecewaan AS juga tampak dalam
masalah penolakan pemerintah Indonesia untuk menangkap Abu Bakar Ba'asyir,
pemimpin Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), yang dituding Paman Sam sebagai
teroris dan kaki tangan Alqaidah di Asia Tenggara.

Beberapa alasan itulah yang kemudian oleh sebagian kalangan dijadikan
sebagai bukti keterlibatan langsung maupun tidak langsung dinas inteligen
AS, CIA, dalam tragedi Sabtu Kelabu tersebut. Dalam peristiwa itu, tak
satupun korban tewas dari warga AS. Padahal sebagai kota tujuan utama
wisatawan asing di Indonesia, di Bali bermukim banyak warga asing, termasuk
dari AS. Tetapi, mengapa tak ada korban warga AS?

Dengan kejadian itu, AS ingin menciptakan opini bahwa benar di Indonesia
sebagai sarang teroris dan tempat aman berlindung kaum anarkis tersebut.
Selain semakin memperburuk citra Indonesia di kancah internasional,
peledakan bom tersebut juga memiliki tujuan tertentu. Pertama, kejadian
tersebut untuk menganulir pernyataan beberapa pejabat, seperti wapres Hamzah
Haz, bahwa tidak ada teroris di Indonesia, sekaligus membantah pernyataan
tokoh-tokoh muslim Indonesia yang juga menolak tudingan AS bahwa Indonesia
adalah sarang teroris.

Kedua, kejadian itu untuk menegaskan bahwa Indonesia sangat lemah dalam
memberantas mata rantai terorisme. Ketiga, grand design dari pengeboman ini
adalah upaya kelompok tertentu untuk memojokkan Indonesia, khususnya umat
Islam. Dan terakhir, puncak tujuan peledakan itu adalah one for all, yang
akhirnya akan menggiring Indonesia masuk dalam perangkap Barat untuk
berperang dengan teroris versi Barat.

Indonesia
Sebagai bangsa berdaulat, selama ini Indonesia telah banyak mengalami aksi
teror. Sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang hingga saat ini, terorisme
terhadap negeri ini tak ada hentinya. Terorisme dalam bentuk kolonisasi
dunia Barat, khususnya AS melalui lembaga-lembaga dunia seperti IMF, Bank
Dunia dan lain sebagainya, tak kalah hebatnya dengan aksi terorisme yang
dikampanyekan AS. Tetapi keanehan terlihat lantaran Indonesia yang kemudian
menjadi sasaran utama, selain beberapa negara di Timur Tengah. Indonesia
negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia di mata AS dinilai sebagai
ancaman serius dominasi negeri itu, khususnya terhadap berbagai kepentingan
dan pengaruhnya di Indonesia. 

Sementara itu, Amerika yang semula mengira dengan penegakan HAM dan
demokrasi di negeri-negeri Muslim, diharapkan skenario mereka berhasil,
yakni kekuasaan dan dominasi tetap dipegang militer. Nyatanya, proses
demokratisasi yang berlangsung di Indonesia, khususnya sejak reformasi
digulirkan empat tahun silam, justru memberikan kebebasan bergerak bagi
semua kalangan, tak terkecuali gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Pada
perkembangannya ternyata kenyataan itu dinilai tidak kondusif dan bahkan
dapat menjadi ancaman kepentingan mereka. Terlebih di antara gerakan-gerakan
Islam, yang oleh AS dinilai sebagai gerakan Islam radikal semisal FPI,
Majlis Mujahiddin dan lainnya, konsisten memperjuangkan legalisasi syariat
Islam.

Dari dalam negeri Paman Sam sendiri, publik AS masih trauma dengan sikap
pemerintahan Indonesia di masa lalu yang dinilainya pelanggar HAM dan
merugikan kelompok minoritas. Kasus Timor Timur dan kerusuhan Mei misalnya,
seringkali menjadi dalih Kongres atas sikap-sikap represip militer dan
pemerintah RI. Itu pula yang menyebabkan Washington menghentikan bantuan dan
hubungan militer dengan RI. Disadari militer berperan penting di Indonesia,
maka ide normalisasi kerjasama militer dan bantuan AS pun dijalin. Hasrat AS
merajut kembali hubungan ini tak lain dengan maksud agar militer Indonesia
dan pemerintah umumnya mau 'membungkam' gerakan-gerakan Islam radikal,
sehingga kepentingan Paman Sam tidak terancam. Maka untuk meyakinkan Kongres
dan publik negeri itu, dipakailah isu terorisme. Dan ini tampaknya cukup
berhasil.

Dengan skenario dan berbagai kenyataan tersebut, Pemerintahan Megawati mesti
hati-hati menyikapi berbagai peristiwa sebelum benar ada bukti jelas siapa
pelaku pemboman dan tindakan anarkisme lainnya. Diakui, meski hal ini
berulang kali dibantah, Megawati terus ditekan oleh AS dan kekuatan-kekuatan
lain semisal IMF dan Bank Dunia, namun tidak semestinya pemerintah menuruti
permintaan tersebut. Apapun, sebagai negara berdaulat, Indonesia memiliki
aturan dan hukum tersendiri dalam memberantas terorisme. Karena itulah,
'Nestapa di Bali' ini menjadi pelajaran penting, betapa terorisme tidak
berdiri sendiri. Ada kekuatan maha dahsyat di belakangnya, yakni kekuatan
nafsu rekolonisasi demi keuntungan ekonomi dan politik kelompok tertentu. 

Penulis, Kandidat Doktor dan Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia
(PPMI)

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke