|
Satau ambo Abubakar Baasyir mangutuak Bom di Bali.
Sasudah baliau mendaftarkan gugatan terhadap majalah TIME, ambo
mandanga keterangan Pers-nyo di Radio ELSHINTA nan mangatuak BOM di Bali
dengan mangatokan :
"Membunuh orang yang tidak memerangi Islam adalah perbuatan yg
dilarang oleh Islam dan bukan dikategorikan JIHAD "
Mudah-mudahan tambahan informasi ko, bisa mambuek berita dan analisa
awak labiah janiah dan seimbang.
Wassalam
Puarman
-------Original Message-------
Date: Thursday, October
17, 2002 11:34:19 AM
Subject: Re:
[RantauNet.Com] Fw: Kenapa Orang AS Tak Ada Yang Jadi Korban
Abubakar Baasyir dan Eggi Sudjana tidak mengutuk
kejahatan teror itu, sedangkan AB kelihatan di TV sibuk memberi alasan
membela diri sambil ketawa-ketawa. Hebat ya ngakunya pemimpin muslim
tapi rasa kemanusiaannya entah kemana.
----- Original Message
----- From: "Irdam Syah" <[EMAIL PROTECTED]> To:
<[EMAIL PROTECTED]> Sent:
Wednesday, October 16, 2002 12:55 PM Subject: RE: [RantauNet.Com] Fw:
Kenapa Orang AS Tak Ada Yang Jadi Korban
> Untuak
panyaimbang opini, dibawah mbo forward-kan tulisan sdr. > Eggi
Sudjana MSi, Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim > Indonesia
(PPMI), dapek dari lapau sabalah... > > --ird > >
# -----Original Message----- > # From: Indra Piliang [mailto:[EMAIL PROTECTED]] >
# > # Alasan Bung Ikranegara adalah alasan yang paling masuk
akal... > # > # ----- Original Message ----- > # From:
"Ikranagara" > # To: > # Sent: Monday, October 14, 2002 8:38
AM > # Subject: Re: Re: [Republika Online] Sebelumnya Ada
Prakondisi > # > # > # > Kenapa tidak ada orang AS
yang jadi korban? > # > > # > Turis yang datang ke
Legian, Kuta, itu umumnya pemuda-pemudi yang > # > digolongkan
"backpack tourist." Yang berdompet tebal biasanya > # > menginap
di Sanur dan Nusa Dua. > # > > # > Pemuda-pemudi AS
datang ke Legian pada Musim Panas, antara Juni > # > sampai
Agustus. Pada bulan Oktober ini mereka sudah masuk kuliah > # >
kembali, atau yang bukan pemuda-pemudi lagi tapi sudah bekerja > #
> ajeg mereka ini sudah masuk bekerja kembali di tempat kerja > #
> mereka masing-masing. Masa libur sudah usai bagi orang
Amerika. > # > > # > Jadi, ada atau tidak ada peringatan
dari Kedubes mereka, > # > pemuda-pemudi AS tidak akan Anda
temukan di tempat-tempat > # > berlibur itu. Ya, mungkin saja ada
satu dua, tapi itu di luar > # > trend. > # > Tapi bagi
Australia inilah Musim Panas mereka! Matahari sudah di > # >
belahan selatan, bukan? Maka berjubellah orang Australia ke Bali. >
# > Pulai Bali memang berada di tempat yang strategis untuk
turisme > # > karena Musim Panas orang Amerika itu berbeda dengan
orang > # > Australia. > # > > # > Ikra >
# > === > # > > # > ----- Original Message
----- > # > From: Roby Muhamad > # > .... >
_______________________________________ > Selasa, 15 Oktober
2002 > Skenario di Balik 'Bom Bali' > Oleh : Eggi Sudjana
MSi > > Ledakan bom berkekuatan besar di tempat hiburan di
Legian, Kuta, Bali, Sabtu > Malam (12/10), membuat Indonesia
kembali menjadi sorotan dunia > internasional. Tragedi yang
menewaskan sekitar 180 orang -- dan lebih dari > 200 orang lainnya
terluka, kebanyakan warga Australia, serta beberapa negara > lain
seperti Swiss, Kanada dan Jerman -- itu ditengarai sebagai tragedi >
kemanusiaan terbesar setelah tragedi peledakan pesawat ke gedung WTC
dan > Pentagon, September tahun lalu. > > Para pemimpin
dunia, di antaranya Presiden AS, Bush, Menlu Jerman, Yosca > Ficser,
dan Menlu Australia, mengecam dan mengutuk keras tindakan biadab >
tersebut. Selain mengutuk keras, Presiden Megawati juga meminta
masyarakat > agar tenang dan meningkatkan kewaspadaan, serta
menyampaikan duka yang > mendalam dan simpati kepada keluarga
korban. Kecaman dan kutukan serupa juga > diperlihatkan para
tokoh agama di Indonesia, dan menuntut aparat untuk > segera
mengungkap dalang dan pelaku pemboman. > > Sebagai bangsa yang
beradab dan umat beragama, kita tentu saja menolak aksi >
terorisme tersebut. Terorisme, apapun bentuknya, jelas tertolak oleh
hukum > apapun di dunia ini. Agama pun tidak membolehkan cara-cara
kekerasan untuk > mencapai tujuan dan misinya. Di sinilah kita
kembali diingatkan, bahwa > bahaya teror dan terorisme sejatinya
adalah bahaya universal dan global yang > tanpa mengenal
batas-batas geo-politik bahkan batas suatu negara. Terorisme >
menjadi entitas bahaya dan tantangan bersama umat manusia di dunia
ini. > > Kejanggalan > Tanpa mendahului proses
penyidikan dan pembuktian yang kini tengah dilakukan > oleh
aparat, tragedi Sabtu Kelabu di Bali itu memunculkan
banyak kecurigaan > serta kondisi politik yang tidak lazim
seperti biasanya. Ketidaklaziman dan > kecurigaan itu secara kuat
mengarah kepada pihak asing, khususnya Amerika > Serikat (AS),
negeri yang selama ini gencar mensponsori perang > anti-terorisme
internasional. > > Untuk menjelaskan ketidakwajaran itu,
beberapa hal berikut barangkali > sedikit membantu kita memahami
pra-kondisi terhadap peristiwa ledakan bom. > Pertama, pada 10
Oktober, dua hari sebelum kejadian, Deplu AS mengeluarkan >
peringatan kepada warganya di seluruh dunia untuk waspada. "Para
teroris > akan mengalihkan sasaran pada target yang lebih empuk,
termasuk fasilitas > dimana orang Amerika biasa berkumpul atau
berkunjung seperti kelab malam, > restauran, tempat ibadah, sekolah
atau tempat rekreasi terbuka lainnya." > (Republika, 14/10). Menurut
pengamat inteligen, AC Manullang, 'kewaspadaan' > dalam
peringatan Deplu AS itu adalah bahasa politik. Dalam bahasa
perang dan > intelijen, kata Manullang, 'kewaspadaan' berarti
tinggalkan tempat itu. > > Kedua, pada saat Deplu AS
mengeluarkan peringatan tersebut, Dubes AS, Ralph > L Boyce,
sibuk 'bersilaturahmi' ke beberapa pejabat penting, seperti >
Menkopolkam Susilo Bambang Yudoyono, Menkokesra Yusuf Kalla, dan
pejabat > lainnya. Memang tak spesifik Boyce mengungkapkan akan
adanya serangan di > Bali. Dubes AS itu hanya meminta pemerintah
Indonesia untuk serius mengusut > serangan terhadap Exxonmobil,
dan fasilitas AS di Teluk Betung, beberapa > waktu lalu. Tapi yang
aneh, enam jam sebelum kejadian peledakan, Boyce > mengatakan bahwa
polisi Indonesia tidak sungguh-sungguh memerangi terorisme > di
Indonesia. > > Ketiga, dari segi bahan peledak yang digunakan,
bom ini menimbulkan radius > kerusakan yang sangat luas. Menurut
pengamat inteligen, ZA Maulani, > sebagaimana dilansir Jawa Pos
(14/10), dalam istilah militer, bom tersebut > mempunyai demosili
sampai 200 meter. Padahal, kata Maulani, sebuah granat > 108 mm
hanya memiliki radius kerusakan atau demosili 50 meter.
Singkatnya, > kekuatan bom ini setara dengan belasan granat 108 mm
dijadikan satu dan > diledakkan. Pelakunya sudah pasti ahli
demosili. Mantan kepala BIN ini > menyebut, bahan peledak dahsyat
itu dari jenis C4 (C four) atau Claynore. > "Ini tidak diproduksi
Indonesia. Hanya Amerika yang bisa memproduksi C4," > kata
Maulani. > > Keempat, selama ini AS menuding Indonesia sebagai
sarang dan tempat aman > teroris, sekalipun aparat dan pemerintah
Indonesia membantah tudingan > tersebut. Presiden Bush yang agaknya
kecewa dengan sikap Megawati yang tidak > tegas dalam memberantas
terorisme di negeri mayoritas Muslim ini merasa, > pemerintah
Indonesia tidak kooperatif dalam kampanye anti-terorisme, >
sebagaimana ditunjukkan Malaysia, Singapura, dan Philipina, serta >
negara-negara lainnya. Bush bahkan beberapa kali menelpon
langsung Presiden > Megawati berkaitan masalah terorisme.
Kekecewaan AS juga tampak dalam > masalah penolakan pemerintah
Indonesia untuk menangkap Abu Bakar Ba'asyir, > pemimpin Majlis
Mujahidin Indonesia (MMI), yang dituding Paman Sam sebagai > teroris
dan kaki tangan Alqaidah di Asia Tenggara. > > Beberapa alasan
itulah yang kemudian oleh sebagian kalangan dijadikan > sebagai
bukti keterlibatan langsung maupun tidak langsung dinas inteligen >
AS, CIA, dalam tragedi Sabtu Kelabu tersebut. Dalam peristiwa itu,
tak > satupun korban tewas dari warga AS. Padahal sebagai kota
tujuan utama > wisatawan asing di Indonesia, di Bali bermukim banyak
warga asing, termasuk > dari AS. Tetapi, mengapa tak ada korban
warga AS? > > Dengan kejadian itu, AS ingin menciptakan opini
bahwa benar di Indonesia > sebagai sarang teroris dan tempat aman
berlindung kaum anarkis tersebut. > Selain semakin memperburuk citra
Indonesia di kancah internasional, > peledakan bom tersebut juga
memiliki tujuan tertentu. Pertama, kejadian > tersebut untuk
menganulir pernyataan beberapa pejabat, seperti wapres Hamzah >
Haz, bahwa tidak ada teroris di Indonesia, sekaligus membantah
pernyataan > tokoh-tokoh muslim Indonesia yang juga menolak tudingan
AS bahwa Indonesia > adalah sarang teroris. > > Kedua,
kejadian itu untuk menegaskan bahwa Indonesia sangat lemah dalam >
memberantas mata rantai terorisme. Ketiga, grand design dari
pengeboman ini > adalah upaya kelompok tertentu untuk memojokkan
Indonesia, khususnya umat > Islam. Dan terakhir, puncak tujuan
peledakan itu adalah one for all, yang > akhirnya akan menggiring
Indonesia masuk dalam perangkap Barat untuk > berperang dengan
teroris versi Barat. > > Indonesia > Sebagai bangsa
berdaulat, selama ini Indonesia telah banyak mengalami aksi > teror.
Sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang hingga saat
ini, terorisme > terhadap negeri ini tak ada hentinya. Terorisme
dalam bentuk kolonisasi > dunia Barat, khususnya AS melalui
lembaga-lembaga dunia seperti IMF, Bank > Dunia dan lain sebagainya,
tak kalah hebatnya dengan aksi terorisme yang > dikampanyekan AS.
Tetapi keanehan terlihat lantaran Indonesia yang kemudian >
menjadi sasaran utama, selain beberapa negara di Timur Tengah.
Indonesia > negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia di mata
AS dinilai sebagai > ancaman serius dominasi negeri itu,
khususnya terhadap berbagai kepentingan > dan pengaruhnya di
Indonesia. > > Sementara itu, Amerika yang semula mengira
dengan penegakan HAM dan > demokrasi di negeri-negeri Muslim,
diharapkan skenario mereka berhasil, > yakni kekuasaan dan dominasi
tetap dipegang militer. Nyatanya, proses > demokratisasi yang
berlangsung di Indonesia, khususnya sejak reformasi > digulirkan
empat tahun silam, justru memberikan kebebasan bergerak bagi > semua
kalangan, tak terkecuali gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Pada >
perkembangannya ternyata kenyataan itu dinilai tidak kondusif dan
bahkan > dapat menjadi ancaman kepentingan mereka. Terlebih di
antara gerakan-gerakan > Islam, yang oleh AS dinilai sebagai
gerakan Islam radikal semisal FPI, > Majlis Mujahiddin dan lainnya,
konsisten memperjuangkan legalisasi syariat > Islam. > >
Dari dalam negeri Paman Sam sendiri, publik AS masih trauma dengan
sikap > pemerintahan Indonesia di masa lalu yang dinilainya
pelanggar HAM dan > merugikan kelompok minoritas. Kasus Timor Timur
dan kerusuhan Mei misalnya, > seringkali menjadi dalih Kongres
atas sikap-sikap represip militer dan > pemerintah RI. Itu pula yang
menyebabkan Washington menghentikan bantuan dan > hubungan
militer dengan RI. Disadari militer berperan penting
di Indonesia, > maka ide normalisasi kerjasama militer dan
bantuan AS pun dijalin. Hasrat AS > merajut kembali hubungan ini
tak lain dengan maksud agar militer Indonesia > dan pemerintah
umumnya mau 'membungkam' gerakan-gerakan Islam radikal, > sehingga
kepentingan Paman Sam tidak terancam. Maka untuk
meyakinkan Kongres > dan publik negeri itu, dipakailah isu
terorisme. Dan ini tampaknya cukup > berhasil. > >
Dengan skenario dan berbagai kenyataan tersebut, Pemerintahan
Megawati mesti > hati-hati menyikapi berbagai peristiwa sebelum
benar ada bukti jelas siapa > pelaku pemboman dan tindakan anarkisme
lainnya. Diakui, meski hal ini > berulang kali dibantah, Megawati
terus ditekan oleh AS dan kekuatan-kekuatan > lain semisal IMF
dan Bank Dunia, namun tidak semestinya pemerintah menuruti >
permintaan tersebut. Apapun, sebagai negara berdaulat, Indonesia
memiliki > aturan dan hukum tersendiri dalam memberantas terorisme.
Karena itulah, > 'Nestapa di Bali' ini menjadi pelajaran penting,
betapa terorisme tidak > berdiri sendiri. Ada kekuatan maha dahsyat
di belakangnya, yakni kekuatan > nafsu rekolonisasi demi keuntungan
ekonomi dan politik kelompok tertentu. > > Penulis, Kandidat
Doktor dan Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia >
(PPMI) > > RantauNet http://www.rantaunet.com >
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 >
=============================================== > Tanpa
mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, > anda tidak
dapat posting ke Palanta RantauNet ini. > > Mendaftar atau
berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 >
=============================================== >
RantauNet
http://www.rantaunet.com Isikan
data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa
mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat
posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima
RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================
. |