Rabu, 16 Oktober 2002, Kompas PBB Keluarkan Resolusi Tragedi Bali New York, Selasa - Hanya tiga hari setelah tragedi 12 Oktober di Legian, Kuta, Bali, yang menewaskan lebih dari 180 jiwa, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) hari Senin (Selasa pagi WIB) mengeluarkan sebuah resolusi baru. Selain mengecam terorisme, resolusi tersebut juga berisi permintaan agar seluruh 15 negara anggota DK PBB membantu Indonesia untuk menyeret "para pelaku, pengorganisasi dan sponsor serangan teror" di Bali ini ke pengadilan. Seluruh 15 anggota DK PBB secara bulat menyatakan setuju dalam voting untuk Resolusi 1438, yang melukiskan bahwa serangan di Bali itu sebagai sebuah ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional. Resolusi ini juga mengingatkan kewajiban seluruh anggota PBB untuk bekerja sama memerangi terorisme, yang diucapkan pada resolusi sebelumnya, yang diadopsi segera setelah peristiwa serangan teror 11 September di Amerika Serikat (AS). Sementara dari Bali, Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Alexander Downer yang berkunjung ke lokasi kejadian di Legian, Kuta, menyerukan kepada seluruh dunia untuk bersatu memerangi terorisme. "Momen ini amat menggerakkan hati saya. Manusia di dunia yang baik dan jujur harus turut mengambil tanggung jawab tentang aksi terorisme yang menyerang Indonesia. Demikian juga seluruh dunia harus bersatu memerangi terorisme," kata Downer yang memberikan jumpa pers di depan gerbang Kantor Konsulat Jenderal Australia. Sudah konsultasi Menyangkut resolusi yang secara khusus memperhatikan Indonesia ini, menurut Duta Besar Inggris untuk PBB Jeremy Greenstock di New York, DK PBB sudah terlebih dulu berkonsultasi dengan Indonesia, sebelum mengeluarkan resolusi terbarunya ini. "Indonesia terpukul atas kejadian ini dan mereka sungguh ingin mendengarkan ungkapan dukungan internasional," kata Greenstock pula. DK PBB tidak hanya prihatin akan jumlah korban yang kehilangan nyawa, "tetapi juga akan dampaknya pada ekonomi sebuah negara yang tengah berupaya mengembangkan diri sebagai sebuah bangsa yang matang serta makmur" kata Greenstock. "Ini adalah peristiwa buruk, dan mereka yang melakukannya harus dikutuk mutlak, karena secara tak pandang bulu melakukan pembunuhan," kata Greenstock pula. Menyangkut pelaku peledakan yang tidak pandang bulu ini, Ketua MPR Amien Rais di Bali menegaskan perlunya kerja sama internasional untuk menangkap pelaku pengeboman. Amien yakin, untuk menangkap pelaku kejahatan kemanusiaan ini diperlukan kerja sama antara pihak intelijen Indonesia dan intelijen pihak-pihak lain. "Di samping mengandalkan kemampuan intelijen sendiri, juga tidak ada salahnya kerja sama dengan intelijen lain, seperti Inggris, untuk secepat mungkin melakukan penangkapan para teroris untuk dibawa ke mahkamah pengadilan," ujar Amien. Tentang perkembangan penyidikan terhadap tindak pengeboman ini, Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Bali menyatakan telah memeriksa lebih dari 50 orang warga Indonesia dan juga asing, namun tak bersedia mengungkapkan identitasnya. Sementara menurut Senator Chris Ellison, yang juga berkunjung ke Bali, bantuan dari Polisi Federal Australia (AFP) ada 17 orang tenaga penyidik dan akan bertambah menjadi 40 orang hari ini." Bantuan tenaga penyidik tersebut, tambahnya, juga berasal dari Inggris, Jerman, dan Jepang. Selama di Bali, rombongan Menlu Australia Alexander Downer juga bertemu dengan Gubernur Bali Dewa Made Beratha dan Kepala Polda Bali Brigjen Budi Setyawan yang dilanjutkan dengan kunjungan ke tempat kejadian perkara (TKP). Downer juga sempat menyampaikan penghargaannya akan kiprah RS Sanglah yang bekerja di tengah keterbatasannya. "Kami telah menyiapkan peralatan medis lebih banyak lagi," tambahnya. Sejauh ini, jumlah warga Australia yang hilang mencapai 160 orang. Sampai saat ini 12 orang teridentifikasi jenazahnya. Pihaknya juga telah memberikan bantuan untuk keadaan darurat kesehatan senilai 300.000 dollar Australia (setara Rp 1,44 milyar). Bantuan ini menyusul bantuan cairan infus, analgesik, perban, dan darah. Bantuan juga meliputi 300 kilogram peralatan medis yang berasal dari pihak swasta dan perlengkapan untuk evakuasi udara. Sumbangan lain, berasal dari Australia Assistance for International Development (AusAID), sebesar 300.000 dollar Australia bagi rumah sakit di Bali dan Palang Merah Indonesia (PMI) yang menangani korban ledakan. Isu bom Peledakan bom di Legian juga menimbulkan berbagai dampak baru. Di berbagai tempat di Bali, seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar, muncul berbagai isu akan adanya bom. Sementara di Jakarta, Kedutaan Besar AS mengungkapkan pihaknya kemungkinan melakukan pengurangan staf perwakilan AS di seluruh Indonesia. Menurut Konselor Penerangan dan Kebudayaan Kedubes AS Greta M Morris, diperkirakan 300 staf Pemerintah AS di Indonesia akan segera kembali ke AS. Peringatan untuk waspada yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri AS akan dievaluasi setiap 30 hari. Dengan kondisi seperti ini, hampir bisa dipastikan visa ke AS akan semakin sulit diperoleh. "Karena staf kami berkurang, jadi bisa saja visa selesai dalam dua bulan, bisa dalam satu bulan," tambah Atase Pers Kedubes Stanley Harsha dalam acara makan siang dengan sejumlah wartawan di Jakarta, Selasa siang. Menurut Harsha dan Morris, tragedi di Bali adalah tragedi ke dua terbesar setelah New York; tak hanya dalam jumlah korban, tetapi terutama adalah kemanusiaan yang hancur dan kemerdekaan yang hilang karena rasa kekhawatiran dan ketakutan. Sedangkan di Bali, penjagaan polisi di berbagai tempat terasa semakin ketat dibandingkan hari sebelumnya. Mereka menutup dan berjaga di setiap gang dan jalan di sekitar lokasi peledakan. Sekitar 100 meter dari TKP, petugas membentangkan kabel dan tali sebagai pembatas dan melarang warga dan turis, terutama wartawan, untuk mendekat. Bahkan, petugas juga "mengurung" TKP dengan memasang plastik terpal sekitar 3-4 meter. Sebagai tanda simpati, pegawai dari beberapa toko di daerah Kuta meletakkan karangan bunga dan berdoa bersama. Selain itu, warga juga membentangkan spanduk di pohon di pinggir Jalan Legian sebagai tempat pengunjung menuliskan kesan maupun harapan mereka atas peristiwa Sabtu malam kelabu tersebut. Akibat peledakan tersebut, aktivitas pariwisata di Kuta praktis terganggu. Keramaian malam di sepanjang Jalan Legian terhenti namun geliat pariwisata masih terasa di sepanjang Jalan Pantai Kuta. Tentang munculnya isu-isu bom, Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Kuta Ajun Komisaris M Anwar mengatakan, salah satu hotel di Kuta sempat dilaporkan menerima ancaman tersebut. "Tetapi, setelah kami selidiki ke lokasi, ternyata tidak benar," katanya. Hal sama juga dikatakan Made Rudana, pemilik Museum Rudana. Menurut dia, ancaman serupa juga terdengar di Ubud, Gianyar. Meskipun tidak terbukti, katanya, ancaman tersebut sempat menimbulkan perasaan waswas di masyarakat dan turis yang berada di Ubud. Isu lain adalah ditangkapnya dua warga Indonesia dan beberapa warga Pakistan yang dikabarkan terlibat dalam peristiwa tersebut. Namun, hal itu disangkal Kepala Dinas Penerangan Polda Bali Ajun Komisaris Besar Y Suyatmo. "Sampai saat ini, saya belum mendapat berita tentang itu. Itu baru katanya," ujarnya. Meskipun Kepala Polda Bali menegaskan bahwa semua informasi resmi kepolisian akan disampaikan melalui dirinya, ternyata tidak seluruhnya masuk ke Kantor Dispen Polda Bali tersebut. Suyatmo menyatakan akan menginformasikan hasil penyelidikan dan perkembangan yang dicapai polisi. (AFP/REUTERS/SHA/MH/COK/ISW)
RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

