Abubakar Baasyir dan Eggi Sudjana tidak mengutuk kejahatan teror itu, sedangkan AB kelihatan di TV sibuk memberi alasan membela diri sambil ketawa-ketawa. Hebat ya ngakunya pemimpin muslim tapi rasa kemanusiaannya entah kemana.
----- Original Message ----- From: "Irdam Syah" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, October 16, 2002 12:55 PM Subject: RE: [RantauNet.Com] Fw: Kenapa Orang AS Tak Ada Yang Jadi Korban > Untuak panyaimbang opini, dibawah mbo forward-kan tulisan sdr. > Eggi Sudjana MSi, Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim > Indonesia (PPMI), dapek dari lapau sabalah... > > --ird > > # -----Original Message----- > # From: Indra Piliang [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > # > # Alasan Bung Ikranegara adalah alasan yang paling masuk akal... > # > # ----- Original Message ----- > # From: "Ikranagara" > # To: > # Sent: Monday, October 14, 2002 8:38 AM > # Subject: Re: Re: [Republika Online] Sebelumnya Ada Prakondisi > # > # > # > Kenapa tidak ada orang AS yang jadi korban? > # > > # > Turis yang datang ke Legian, Kuta, itu umumnya pemuda-pemudi yang > # > digolongkan "backpack tourist." Yang berdompet tebal biasanya > # > menginap di Sanur dan Nusa Dua. > # > > # > Pemuda-pemudi AS datang ke Legian pada Musim Panas, antara Juni > # > sampai Agustus. Pada bulan Oktober ini mereka sudah masuk kuliah > # > kembali, atau yang bukan pemuda-pemudi lagi tapi sudah bekerja > # > ajeg mereka ini sudah masuk bekerja kembali di tempat kerja > # > mereka masing-masing. Masa libur sudah usai bagi orang Amerika. > # > > # > Jadi, ada atau tidak ada peringatan dari Kedubes mereka, > # > pemuda-pemudi AS tidak akan Anda temukan di tempat-tempat > # > berlibur itu. Ya, mungkin saja ada satu dua, tapi itu di luar > # > trend. > # > Tapi bagi Australia inilah Musim Panas mereka! Matahari sudah di > # > belahan selatan, bukan? Maka berjubellah orang Australia ke Bali. > # > Pulai Bali memang berada di tempat yang strategis untuk turisme > # > karena Musim Panas orang Amerika itu berbeda dengan orang > # > Australia. > # > > # > Ikra > # > === > # > > # > ----- Original Message ----- > # > From: Roby Muhamad > # > .... > _______________________________________ > Selasa, 15 Oktober 2002 > Skenario di Balik 'Bom Bali' > Oleh : Eggi Sudjana MSi > > Ledakan bom berkekuatan besar di tempat hiburan di Legian, Kuta, Bali, Sabtu > Malam (12/10), membuat Indonesia kembali menjadi sorotan dunia > internasional. Tragedi yang menewaskan sekitar 180 orang -- dan lebih dari > 200 orang lainnya terluka, kebanyakan warga Australia, serta beberapa negara > lain seperti Swiss, Kanada dan Jerman -- itu ditengarai sebagai tragedi > kemanusiaan terbesar setelah tragedi peledakan pesawat ke gedung WTC dan > Pentagon, September tahun lalu. > > Para pemimpin dunia, di antaranya Presiden AS, Bush, Menlu Jerman, Yosca > Ficser, dan Menlu Australia, mengecam dan mengutuk keras tindakan biadab > tersebut. Selain mengutuk keras, Presiden Megawati juga meminta masyarakat > agar tenang dan meningkatkan kewaspadaan, serta menyampaikan duka yang > mendalam dan simpati kepada keluarga korban. Kecaman dan kutukan serupa juga > diperlihatkan para tokoh agama di Indonesia, dan menuntut aparat untuk > segera mengungkap dalang dan pelaku pemboman. > > Sebagai bangsa yang beradab dan umat beragama, kita tentu saja menolak aksi > terorisme tersebut. Terorisme, apapun bentuknya, jelas tertolak oleh hukum > apapun di dunia ini. Agama pun tidak membolehkan cara-cara kekerasan untuk > mencapai tujuan dan misinya. Di sinilah kita kembali diingatkan, bahwa > bahaya teror dan terorisme sejatinya adalah bahaya universal dan global yang > tanpa mengenal batas-batas geo-politik bahkan batas suatu negara. Terorisme > menjadi entitas bahaya dan tantangan bersama umat manusia di dunia ini. > > Kejanggalan > Tanpa mendahului proses penyidikan dan pembuktian yang kini tengah dilakukan > oleh aparat, tragedi Sabtu Kelabu di Bali itu memunculkan banyak kecurigaan > serta kondisi politik yang tidak lazim seperti biasanya. Ketidaklaziman dan > kecurigaan itu secara kuat mengarah kepada pihak asing, khususnya Amerika > Serikat (AS), negeri yang selama ini gencar mensponsori perang > anti-terorisme internasional. > > Untuk menjelaskan ketidakwajaran itu, beberapa hal berikut barangkali > sedikit membantu kita memahami pra-kondisi terhadap peristiwa ledakan bom. > Pertama, pada 10 Oktober, dua hari sebelum kejadian, Deplu AS mengeluarkan > peringatan kepada warganya di seluruh dunia untuk waspada. "Para teroris > akan mengalihkan sasaran pada target yang lebih empuk, termasuk fasilitas > dimana orang Amerika biasa berkumpul atau berkunjung seperti kelab malam, > restauran, tempat ibadah, sekolah atau tempat rekreasi terbuka lainnya." > (Republika, 14/10). Menurut pengamat inteligen, AC Manullang, 'kewaspadaan' > dalam peringatan Deplu AS itu adalah bahasa politik. Dalam bahasa perang dan > intelijen, kata Manullang, 'kewaspadaan' berarti tinggalkan tempat itu. > > Kedua, pada saat Deplu AS mengeluarkan peringatan tersebut, Dubes AS, Ralph > L Boyce, sibuk 'bersilaturahmi' ke beberapa pejabat penting, seperti > Menkopolkam Susilo Bambang Yudoyono, Menkokesra Yusuf Kalla, dan pejabat > lainnya. Memang tak spesifik Boyce mengungkapkan akan adanya serangan di > Bali. Dubes AS itu hanya meminta pemerintah Indonesia untuk serius mengusut > serangan terhadap Exxonmobil, dan fasilitas AS di Teluk Betung, beberapa > waktu lalu. Tapi yang aneh, enam jam sebelum kejadian peledakan, Boyce > mengatakan bahwa polisi Indonesia tidak sungguh-sungguh memerangi terorisme > di Indonesia. > > Ketiga, dari segi bahan peledak yang digunakan, bom ini menimbulkan radius > kerusakan yang sangat luas. Menurut pengamat inteligen, ZA Maulani, > sebagaimana dilansir Jawa Pos (14/10), dalam istilah militer, bom tersebut > mempunyai demosili sampai 200 meter. Padahal, kata Maulani, sebuah granat > 108 mm hanya memiliki radius kerusakan atau demosili 50 meter. Singkatnya, > kekuatan bom ini setara dengan belasan granat 108 mm dijadikan satu dan > diledakkan. Pelakunya sudah pasti ahli demosili. Mantan kepala BIN ini > menyebut, bahan peledak dahsyat itu dari jenis C4 (C four) atau Claynore. > "Ini tidak diproduksi Indonesia. Hanya Amerika yang bisa memproduksi C4," > kata Maulani. > > Keempat, selama ini AS menuding Indonesia sebagai sarang dan tempat aman > teroris, sekalipun aparat dan pemerintah Indonesia membantah tudingan > tersebut. Presiden Bush yang agaknya kecewa dengan sikap Megawati yang tidak > tegas dalam memberantas terorisme di negeri mayoritas Muslim ini merasa, > pemerintah Indonesia tidak kooperatif dalam kampanye anti-terorisme, > sebagaimana ditunjukkan Malaysia, Singapura, dan Philipina, serta > negara-negara lainnya. Bush bahkan beberapa kali menelpon langsung Presiden > Megawati berkaitan masalah terorisme. Kekecewaan AS juga tampak dalam > masalah penolakan pemerintah Indonesia untuk menangkap Abu Bakar Ba'asyir, > pemimpin Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), yang dituding Paman Sam sebagai > teroris dan kaki tangan Alqaidah di Asia Tenggara. > > Beberapa alasan itulah yang kemudian oleh sebagian kalangan dijadikan > sebagai bukti keterlibatan langsung maupun tidak langsung dinas inteligen > AS, CIA, dalam tragedi Sabtu Kelabu tersebut. Dalam peristiwa itu, tak > satupun korban tewas dari warga AS. Padahal sebagai kota tujuan utama > wisatawan asing di Indonesia, di Bali bermukim banyak warga asing, termasuk > dari AS. Tetapi, mengapa tak ada korban warga AS? > > Dengan kejadian itu, AS ingin menciptakan opini bahwa benar di Indonesia > sebagai sarang teroris dan tempat aman berlindung kaum anarkis tersebut. > Selain semakin memperburuk citra Indonesia di kancah internasional, > peledakan bom tersebut juga memiliki tujuan tertentu. Pertama, kejadian > tersebut untuk menganulir pernyataan beberapa pejabat, seperti wapres Hamzah > Haz, bahwa tidak ada teroris di Indonesia, sekaligus membantah pernyataan > tokoh-tokoh muslim Indonesia yang juga menolak tudingan AS bahwa Indonesia > adalah sarang teroris. > > Kedua, kejadian itu untuk menegaskan bahwa Indonesia sangat lemah dalam > memberantas mata rantai terorisme. Ketiga, grand design dari pengeboman ini > adalah upaya kelompok tertentu untuk memojokkan Indonesia, khususnya umat > Islam. Dan terakhir, puncak tujuan peledakan itu adalah one for all, yang > akhirnya akan menggiring Indonesia masuk dalam perangkap Barat untuk > berperang dengan teroris versi Barat. > > Indonesia > Sebagai bangsa berdaulat, selama ini Indonesia telah banyak mengalami aksi > teror. Sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang hingga saat ini, terorisme > terhadap negeri ini tak ada hentinya. Terorisme dalam bentuk kolonisasi > dunia Barat, khususnya AS melalui lembaga-lembaga dunia seperti IMF, Bank > Dunia dan lain sebagainya, tak kalah hebatnya dengan aksi terorisme yang > dikampanyekan AS. Tetapi keanehan terlihat lantaran Indonesia yang kemudian > menjadi sasaran utama, selain beberapa negara di Timur Tengah. Indonesia > negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia di mata AS dinilai sebagai > ancaman serius dominasi negeri itu, khususnya terhadap berbagai kepentingan > dan pengaruhnya di Indonesia. > > Sementara itu, Amerika yang semula mengira dengan penegakan HAM dan > demokrasi di negeri-negeri Muslim, diharapkan skenario mereka berhasil, > yakni kekuasaan dan dominasi tetap dipegang militer. Nyatanya, proses > demokratisasi yang berlangsung di Indonesia, khususnya sejak reformasi > digulirkan empat tahun silam, justru memberikan kebebasan bergerak bagi > semua kalangan, tak terkecuali gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Pada > perkembangannya ternyata kenyataan itu dinilai tidak kondusif dan bahkan > dapat menjadi ancaman kepentingan mereka. Terlebih di antara gerakan-gerakan > Islam, yang oleh AS dinilai sebagai gerakan Islam radikal semisal FPI, > Majlis Mujahiddin dan lainnya, konsisten memperjuangkan legalisasi syariat > Islam. > > Dari dalam negeri Paman Sam sendiri, publik AS masih trauma dengan sikap > pemerintahan Indonesia di masa lalu yang dinilainya pelanggar HAM dan > merugikan kelompok minoritas. Kasus Timor Timur dan kerusuhan Mei misalnya, > seringkali menjadi dalih Kongres atas sikap-sikap represip militer dan > pemerintah RI. Itu pula yang menyebabkan Washington menghentikan bantuan dan > hubungan militer dengan RI. Disadari militer berperan penting di Indonesia, > maka ide normalisasi kerjasama militer dan bantuan AS pun dijalin. Hasrat AS > merajut kembali hubungan ini tak lain dengan maksud agar militer Indonesia > dan pemerintah umumnya mau 'membungkam' gerakan-gerakan Islam radikal, > sehingga kepentingan Paman Sam tidak terancam. Maka untuk meyakinkan Kongres > dan publik negeri itu, dipakailah isu terorisme. Dan ini tampaknya cukup > berhasil. > > Dengan skenario dan berbagai kenyataan tersebut, Pemerintahan Megawati mesti > hati-hati menyikapi berbagai peristiwa sebelum benar ada bukti jelas siapa > pelaku pemboman dan tindakan anarkisme lainnya. Diakui, meski hal ini > berulang kali dibantah, Megawati terus ditekan oleh AS dan kekuatan-kekuatan > lain semisal IMF dan Bank Dunia, namun tidak semestinya pemerintah menuruti > permintaan tersebut. Apapun, sebagai negara berdaulat, Indonesia memiliki > aturan dan hukum tersendiri dalam memberantas terorisme. Karena itulah, > 'Nestapa di Bali' ini menjadi pelajaran penting, betapa terorisme tidak > berdiri sendiri. Ada kekuatan maha dahsyat di belakangnya, yakni kekuatan > nafsu rekolonisasi demi keuntungan ekonomi dan politik kelompok tertentu. > > Penulis, Kandidat Doktor dan Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia > (PPMI) > > RantauNet http://www.rantaunet.com > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 > =============================================== > Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, > anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. > > Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 > =============================================== > RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

