Dalam kasus si A tidak pernah menyalahkan siapa2 tidak juga dirinya 
sendiri.dia hanya berusaha menerima dan memahami apa yang terjadi 
sebagai sebuah takdir.

Pada panggilan yang lain setelah itu si A kembali melewati perjalanan 
yang sama  akan tetapi pada saat itu dia tidak menghadapi hambatan 
dan selamat sampai di tmp interview sebelum waktunya sambil 
mengucapkan Alhamdulillah ternyata hari ini kejadian ini tidak sama 
dengan sebelumnya dan kemudian menunggu? what next????

semoga paraggraf kedua bisa menjawab pertanyaan anda

peace


--- In [EMAIL PROTECTED], "   -- (*o*) --" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "yanto_piboda" <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 
> atau....
> 
> Si A hanya seorang yang berpikir bahwa tugasnya adalah berusaha 
untuk 
> mencapai sebuah tujuan yang akan diraihnya dan pada saat sesuatu 
> terjadi dia menunggu dan siap menerima kehendak Sang Peguasa Semesta
> dan mengambil hikmah dari kegelapan-nya sekarang sehingga dia bisa 
> lebih merasakan cahaya Ilahi yang menuntunnya sekarang-----
> 
> ---Komentar saya pendek saja buat si A, dia seorang yang malas 
berpikir, pasif dan mengangap Allah bertanggung jawab terhadap 
kegagalannya, lalau membuat kamuflase dengan hikmah untuk menghibur 
diri. Ini menurut saya lho ya, Allah tidak bertanggung jawab terhadap 
kegagalan seseorang, yang bertanggung jawab terhadap semua kegagalan 
hidup adalah manusia itu sendiri. Lah, sebetulnya si A bisa saja kan 
datang menghadap pimpinan atau pewawancara atau orang yang 
bertanggung jawab terhadap berlangsungnya test tersebut dan 
menjelaskan dengan sejujurnya mengapa dia terlambat, memperlihatkan 
kualifikasi bahwa perusahaan itu akan kehilangan peluang mendapatkan 
seorang karyawan bagus jika tidak memberi kesempatan padanya.Kecuali, 
yah, tentu saja jika jauh didalam hatinya si A berpendapat bahwa dia 
tidak pantas mendapat pekerjaan itu, bahwa kualifikasinya jelek atau 
dia pantas menderita akibat kemacetan lalu lintas, hal-hal negatif 
(kegelapan) tersebut akan membayang lewat bahasa tubuh yang  akan 
ditangkap oleh sipewancara bahwa si A memang tidak berharga untuk 
dipertimbangkan.  
> 
> Ngomong2 pernahkah Om Piboda berfikir mengapa kita tidak mengetahui 
masa depan sementara masa lalu jelas terukir dalam kepala? Apakah Om 
Piboda berpikir sama dengan kebanyakan orang bahwa kita tahu masa 
lalu karena kita sudah melaluinya?
> 
> salam,
> 
> --Gm 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
> -----------------------------------------------
> 
> Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
> http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
> =======================


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke