Islam bukan Arab (saudi)...soal Islam lahir di Arab jelas, bukankah Islam lahir karena keadaan yang memang semerawut di sana... Bukan hil yang mustahal jika di sana sekarang banyak pengikut Abu Jahal, Abu Lahab, maupun Muawiayah bin Abi Syofyan.
Tapi Islam yang saya maksud adalah Islam zaman Muhammad, Abu Bakar, Umar bin Khatab. Selain Nabi mereka jadi pemimpin bukan karena mengajukan diri, tapi karena di ajukan oleh umat yang ada. Sejarah telah mencatat bagaimana situasi financial nabi sebelum dia menjadi pemimpin dan bagaimana setelah jadi pemimpin dan saat wafat beliau apa yang di tinggalkannya. bahkan ada yang meriwayatkan pada saat Nabi melamar Siti Khadijah mas kawinnya adalah 100 ekor onta dan saat setelah berkuasa hanya tidur beralaskan kain. Atau mungkin khalifah Umar Bin Khatab RA, yang hidup juga sederhana padahal tentara-nya merambah sampai 3 benua. Memang banyak para pemimpin yang mengatasnamakan Tuhan bahkan mengaku sebagai anak Tuhan, tapi tujuan mereka tidak lebih dari memanipulasi ketakutan manusia kepada sesuatu yang lebih besar, untuk merubahnya menjadi patuh tanpa syarat kepada sang pemimpin. Agar mereka dapat melanggengkan kekuasaannya kalau perlu mewariskannya. Bahkan itu juga terjadi pada kelompok yang mengaku sebagi pelayan Tuhan atau penjaga rumah Tuhan. Bahkan mereka tidak segan mendistorsi ajaran agama mereka demi kelangsungan kekuasaan mereka dan demi materi yang di dapat. Hal ini juga terjadi di Islam, tapi bukan Islam yang diinterprestasikan seperti itu yang saya maksud. Islam yang saya maksud adalah : Pemimpin yang mendahulukan rakyatnya makan, sebelum dia Makan Pemimpin yang di ajukan bukkan yang mengajukan diri Kembali ke Kontek korupsi, potong tangannya kalau dia tidak bisa membuktikan hartanya di dapat bukan dari jalan halal. (untuk ini china telah membuktikannya bahkan mereka lebih keras dengan menghukum mati para koruptor) Jadi bukan Islam-nya yang salah tapi ajarannya yang tidak dijalankan- nya. So kawan lets we fight melawan mereka2 yang hanya berpikir mempertahankan kekuasaan-nya siapa pun di , apapun idiologinya Saatnya kita gunakan akan budi yang telah diberikan Tuhan untuk memahami mereka-mereka yang yang menjadi pemimpin kita kita turuti alua jo patuik, tapi nan patuik di alua-alua .. kelaut aja Rajo Alim rajo di sambah, rajo lalim rajo di sanggah. gak pake takut untuk urusan beginian. YP --- In [EMAIL PROTECTED], "SBN" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dimana sih yang berhasil implementasi hukum potong tangan itu? > Arab Saudi? Justru korupsi besar-besaran oleh 5000 orang atas > hak 20 jutaan anggota masyarakat lainnya. Silahkan diperiksa > siapa yang memegang 95% kekayaan negeri itu, dari segi > pendistribusian kesejahteraan justru lebih parah dibanding Ina. > Hukum potong tangan akan menyelesaikan masalah itu hanya > ilusi sebagian muslim, 1500 tahun lalu bisa efektif, sekarang > tentu lain, yang namanya manusia (alam) itu pasti berubah. > > Soal negara adalah soal manusia, dimana akal budi manusia > yang telah berkembang supaya dipakai dengan sebaik-baiknya. > > Ketuhanan adalah masalah diri pribadi setiap orang, saya juga > sangat percaya pada Tuhan, usaha membuktikan atau > menegasikan Tuhan adalah keniscayaan. > Masalah kita adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, > sudah ribuan tahun pengalaman ummat manusia soal ketuhanan > esa ataupun ganda tidak pernah bisa menyelesaikan masalah > kemaslahatan masyarakat. Tapi kok masih diulangi > kesalahan yang sama. Baso awak kincia-kincia antah dima. > > Salam > > SBN > > > ----- Original Message ----- > From: "yanto_piboda" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Wednesday, June 18, 2003 11:44 PM > Subject: Re: [RantauNet.Com] Korupsi: Sebab-Musabab Dan Agama > > > > Negara ini secara administrasi dan data statistik memang mempunyai > umat islam yang terbesar di dunia. > Yang jadi pertanyaan apakah ajaran islam itu sudah diterapkan di > negara ini gak usah secara explisit tapi cukup secara implisit, > jawaban BELUM!!!! > > Jika saja hukum islam dijalankan setidak-nya untuk korupsi secara > logika saya yakin saat itu tingkat korupsi akan turun dratis 100% > dengan dasar korupsi adalah mengambil sesuatu yang bukan haknya dan > itu adalah mencuri dimana hukumnya menurut islam adalah dipotong > tangannya. apalagi kalau di implementasikan dengan pembuktian > terbalik untuk kekayaan yang di miliki pejabat. > Korupsi akan habis, Insya Allah. > > Jadi bukan Azas ketuhanannya yang salah kawan....! > yang memberi excuse di dunia ini yang ngaco (ikutan kali ya). > > Atau kalo susah ngelaksanain azas ketuhanan azasnya di ganti aja... > tapi ada yang bisa ngebuktiin ga kalau Tuhan itu tidak ada....? > (ihh takut!) > > > Wassalam YP > (masih percaya kalo Tuhan itu ada) > > --- In [EMAIL PROTECTED], "SBN" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sebab muasal ialah karena negara ini berdasarkan ketuhanan yang > > maha esa, jadi kalau korupsi bukan hal yang memalukan karena > > bisa excuse sama tuhan, bukan sama manusia yang haknya > > dikorupsi. > > > > SBN > > > > ----- Original Message ----- > > From: "Darwin Bahar" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: <[EMAIL PROTECTED]> > > Sent: Tuesday, June 17, 2003 4:19 AM > > Subject: [RantauNet.Com] Korupsi: Sebab-Musabab Dan Agama > > > > > > > Catatan: > > > > > > Saya pernah membaca di sebuah milis posting yang isinya lebih > kurang: > > > "kenapa sih koq MUI meributkan Inul tetapi diam soal korupsi?" > > > Sebenarnya jelas, Inul adalah soal lain, dan korupsi soal lain. > Tetapi > > > merajalelanya korupsi di Republik tercinta dengan penduduk muslim > > > terbesar di dunia jelas sebuah "anakronim", jelas ada yang salah > dalam > > > pemahaman ke-Islaman dan misi kerasulan Muhammad SAW bagi > mayoritas > > > pemeluk dan pengikut Nabi SAW, termasuk saya tentunya (sabda > beliau: > > > "tidaklah aku diutus, kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang > mulia"), > > > dan tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali ummat sendiri, tidak > MUI > > > yang semakin tidak jelas "mission"nya. Apalagi dalam Islam > sebenarnya > > > tidak ada sistem kependetaan. > > > > > > Dan Nabi SAW sendiri sepanjang hidupnya mencontohkan sikap seorang > > > pemimpin yang kehidupannya sangat-sangat bersahaja dan mengecam > pejabat > > > yang menerima hadiah karena kepejabatannya (sabda beliau: "Kalau > kau > > > tinggal di rumah ibumu, apakah mereka akan memberikan hadiah > kepadamu?") > > > > > > Saya pikir tulisan Mas Samodra Wibawa di bawah ini yang pernah > dikopi di > > > Milis Desentralisasi dan saya reposting ke milis ini setelah > > > memberitahukan kepada penulisnya, merupakan salah satu upaya ke > arah > > > itu. > > > > > > Ada pertanyaan yang mengelitik saya, musyrik adalah dosa > terbesar, dan > > > tidak ada keraguan mengenai hal ini, "nash"nya jelas. Tetapi dosa > kepada > > > Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang umumnya mudah > > > "diselesaikan", berbeda dengan dosa kepada manusia yang tidak > akan > > > diampuni Allah SWT sebelum manusia yang kita zalimi memaafkannya. > Dan > > > tidak ada keraguan pula, bahwa korupsi, dan kebijakan yang > menyuburkan > > > budaya korupsi: gaji PNS dan sebagian karyawan BUMN/BUMD yang > dibiarkan > > > rendah, kurangnya pengawasan dan lemahnya penegakan hukum adalah > > > penzaliman yang nyata kepada manusia dan kemanusiaan. > > > > > > Tapi apalah awak ini > > > > > > Salam, Darwin > > > > > > > > > KORUPSI: SEBAB-MUSABAB DAN AGAMA > > > > > > Ditulis untuk dan dari forum kajian Islam di Friedrichsfeld S�d, > > > Mannheim, 9 Juni 2002 > > > > > > > > > oleh: Samodra Wibawa > > > > > > > > > 1. Pengantar > > > > > > Jika anda berada di Eropa dan ngobrol dengan orang Eropa, maka > anda akan > > > merasa bahwa trade mark Indonesai adalah: Islam dan korup. Memang > di > > > antara 140-an negara, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara > > > terkorup di dunia. Pejabat dan birokrat kita dicap sebagai tukang > > > rampok, pemalak, pemeras, benalu, self seeking dan rent seeker, > > > khususnya di hadapan pengusaha baik kecil maupun besar, baik asing > > > maupun pribumi. Ini berbeda dengan, konon, birokrat Jepang dan > Korea > > > Selatan -yang membantu dan mendorong para pengusaha untuk > melebarkan > > > sayapnya, demi penciptaan lapangan kerja Alias pemakmuran warga > negara. > > > > > > Kenapa bisa Indonesia yang penuh dengan agamawan ini korup, dan > tahun > > > 1998 bangkrut? Persis seperti VOC di Nusantara yang, setelah > hidup 3 > > > abad (?), mati karena korupsi yang dilakukan oleh para > pengurusnya? > > > > > > 2. Sebab-musabab > > > > > > Korupsi dalam tulisan ini didefinisikan sebagai penyalahgunaan > wewenang, > > > pelanggaran hak warga negara, dan perilaku tidak amanah > (bandingkan Q. > > > 3: 75-77) yang ditampilkan oleh politisi, pejabat, birokrat dan > pegawai > > > negeri. Bentuknya bisa pemotongan anggaran, pemerasan, suap, > hadiah, > > > dll. Kenapa keempat jenis warga negara ini melakukan korupsi? > > > > > > Jawaban paling mudah adalah: karena uang itu enak dan menggiurkan. > > > Jawaban lain yang mudah adalah: karena tidak ada jaminan sosial > bagi > > > warga negara, sehingga jika mereka nganggur akan mati, sehingga > mereka > > > harus menumpuk harta sekarang untuk bisa hidup nyaman di masa > depan. > > > Jawaban yang agak detail: karena mereka mau, mampu dan tak malu > > > melakukannya di satu pihak; sempat, tak terkontrol dan tak > terhukum di > > > pihak lain; serta ada dorongan dari isteri/suami, anak dan > keluarga > > > besarnya, dari masyarakat, kolega, atasan dan bawahan di pihak > yang lain > > > lagi. Korupsi jadinya multi aspek, multi aktor, multi dimensional: > > > melibatkan nilai dan budaya di satu pihak; ekonomi dan politik > dalam > > > negeri serta global di pihak lain; serta manjerial di pihak yang > lain > > > lagi. > > > > > > Nilai/budaya yang mendorong korupsi misalnya: sikap tidak sportif > dan > > > tidak gentleman, plinthat-plinthut (bandingkan: "Parto iyo bilang > > > mboten"), tidak senang jika orang lain senang, "saluran air harus > > > basah", cara berpikir jangka pendek, sempit dan tidak sistemik. > Jika > > > publik berpandangan bahwa pejabat harus bermobil, maka seorang > pejabat > > > yang tidak punya mobil akan terdorong untuk korup agar dapat > membeli > > > mobil untuk dipamerkan kepada khalayak ramai di kampung halaman > pada > > > waktu Idul Fitri. Jika atasan punya rumah mewah, padahal gajinya > tidak > > > mungkin mencapai nilai itu, maka para bawahan juga akan berusaha > > > mengejar "ketertinggalan" mereka. Jika pembukuan amburadul, > pegawai > > > keuangan akan dengan gampang bilang "tidak tahu" terhadap tidak > > > jelasnya pengeluaran uang. Jika manajemen terpusat di tangan > seorang > > > pejabat, dia dapat dengan leluasa berkongkalingkong dengan > > > bendaharawan/wati. Dst. Jelas, gamblang, masuk akal. Dan dapat > diterima? > > > > > > 3. Agama dan korupsi > > > > > > Tapi sungguh mengherankan bahwa Departemen Agama termasuk > departemen > > > yang paling korup, bahwa manajemen haji tidak bersih dari kasak- > kusuk. > > > Kenapa agamawan mau dan tidak malu melakukan korupsi? Padahal > sudah > > > jelas, bahwa setiap orang harus bersikap amanah (memenuhi > kewajiban, > > > memegang tanggungjawab, melaksanakan kepercayaan, Q. 4:58) dan > tidak > > > boleh melanggar hak orang lain (Q. 7:33). Kenapa mereka tidak > takut > > > dosa, padahal konon "yang menyuap dan disuap akan masuk neraka"? > Kenapa > > > agamawan yang politisi, pejabat, birokrat atau pegawai negeri > tidak > > > berani dan tidak tega menolak bisikan orang, padahal "syetan yang > suka > > > berbisik-bisik di dalam dada manusia adalah musuh yang paling > nyata"? > > > > > > Jika orang melakukan korupsi karena tidak ada jaminan hidup di > masa > > > depan, dapatlah dipersoalkan: kenapa mereka takut melarat, > padahal Nabi > > > Muhammad wafat tanpa meninggalkan warisan apapun dan selama > hidupnya > > > tidur beralaskan daun kurma? Kenapa para agamawan itu tidak mau > hidup > > > sederhana (bandingkan Q. 17:26-27)? Siapa pemimpin muslimin saat > ini > > > yang berpenampilan seperti Mahatma Gandhi, yang berbaju "umrah" > dan > > > bersandaljepit setiap saat, termasuk ketika menyambut tamu agung? > Di > > > mana baju umrah para pejabat disimpan? Siapa pewaris para nabi > > > (warisathul anbiyaa') saat ini, kalau begitu? Abdurrahman Wahid, > Amien > > > Rais, Hamzah Haz, Nur Wahid, Bolkiah Brunei, Yasser Arafat, Hassan > > > Marokko, Hussein Irak, Husserin Yordania? Siapa berani jawab? > > > > > > Kenapa para agamawan korupsi juga? Karena korupsi bukan > pelanggaran > > > berat di mata Allah? Karena perjuangan para nabi adalah > (hanyalah?) > > > "menegakkan kalimat Allah", meluruskan dan menyempurnakan > pemahaman > > > manusia tentang Tuhan -juga tentang hidup dan mati? Karena "wa laa > > > tamuutunna illaa wa antum muslimuun" (janganlah kamu mati sebelum > > > menjadi muslim, kalimat wajib tiap khutbah Jumat) tidak mencakup > korupsi > > > sebagai salah satu indikator tidak-muslim? Mungkin ya. Bagi > agamawan > > > korupsi rasanya bukanlah dosa besar. Dosa besar yang tak terampuni > > > hanyalah syirik (memperlakukan apa yang bukan Tuhan sebagai > Tuhan), > > > sedangkan korupsi dan penyelewengan lain adalah dosa kecil, yang > dapat > > > diampuni. Jika berdosa-besar, ruh seseorang akan berada di neraka > > > selamanya, jika berdosa-kecil, ruh seseorang hanya akan dicelup > untuk > > > sementara di neraka tapi setelah itu akan diangkat ke > surga.Mungkin itu > > > penjelasannya, sehingga seorang pejabat yang saleh, yang telah > berhaji > > > lebih dari sekali, akan memilih untuk memotong anggaran proyek, > karena > > > toh kalau bukan dia pasti akan ada orang lain yang akan > melakukannya. > > > Daripada dinikmati orang lain, lebih baik diambil sendiri, untuk > > > menyumbang masjid dan pondok pesantren. Dan itu dilakukan tanpa > hati > > > yang nggrenjel (berkidik). > > > > > > 4. Mengurangi korupsi > > > > > > Penyebutan tentang sebab-musabab korupsi di atas sudah dengan > > > sendirinya memberikan petunjuk tentang cara mengurangi korupsi. > Sentuhan > > > agama, etika, moral, akhlak atau apalah sebutannya tentunya dapat > > > diterapkan terutama pada faktor "mau dan tak malu". Selain itu > kita > > > (siapapun kita) harus mengupayakan minimalnya kesempatan untuk > korupsi, > > > memperkuat kontrol kepada empat aktor di atas, menegakkan hukum. > > > Pemerintah harus menciptakan sistem jaminan hidup, kesehatan, > pekerjaan, > > > rumah dan pendidikan bagi semua warga negaranya. Agar orang tidak > perlu > > > cemas menyongsong masa depannya sehingga terpacu untuk menumpuk > harta > > > sebanyak- banyaknya hari ini. Pada aras nilai/budaya, misalnya, > kita > > > harus mengkondisikan agar mereka yang berwenang dapat memilahkan > barang > > > publik dari barang privat. Pendidikan harus diperluas, agar semua > warga > > > negara dapat berpikir luas, sistemik dan jangka panjang. Agar > pejabat > > > tidak perlu khawatir jika keponakannya akan menganggur, karena > lowongan > > > Jabatan di instansinya diisi orang lain yang lebih berkualitas. > > > > > > Di sektor politik dan birokrasi masa jabatan pimpinan perlu > dibatasi > > > hingga dua kali saja, misalnya. Rotasi jabatan perlu diperluas dan > > > dipersering. Demokrasi harus dipertahankan dan disempurnakan, > jangan > > > dikurangi. Mereka yang memegang bedil tidak usah duduk di kursi > > > pengambilan kebijakan. Sistem keuangan partai perlu > disempurnakan, agar > > > lebih transparan dan tidak mendorong politisi mencari dana haram > bagi > > > kampanye partainya. Penguatan kontrol dapat dilakukan antara lain > dengan > > > menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga corruption watch > untuk > > > lingkungan terdekatnya: Gontor mengawasi pemerintah Kabupaten > Ponorogo, > > > Darul Ulum mengawasi Jombang, Krapyak mengawasi Sultan > Ngayogyakarto, > > > Forum Pengajian Jerman mengawasi KBRI Berlin dan Konjen Frankfurt > > > (bandingkan Q. 3:104, 110, 114). Janganlah Mereka malah menciumi > tangan > > > pejabat, agar diberi hadiah, bantuan dan sebangsanya -padahal itu > adalah > > > harta publik yang harus dipertanggungjawabkan secara lurus > (bandingkan > > > Q.3:67). > > > > > > * > > > > > > > > > > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > > > Isikan data keanggotaan anda di > http://www.rantaunet.com/daftar.php > > > ----------------------------------------------- > > > > > > Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: > > > http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php > > > =============================================== > > > > > > > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php > > ----------------------------------------------- > > > > Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: > > http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php > > =============================================== > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php > ----------------------------------------------- > > Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: > http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php > ================ > > > > RantauNet http://www.rantaunet.com > Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php > ----------------------------------------------- > > Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: > http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php > =============================================== RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ==============================================

