Serangan Bom para teroris membuat hidup seakan-akan sebuah lotere. Siapa yang berani menjamin bahwa dirinya suatu saat tidak berada di tempat yang menjadi lokasi serangan para teroris yang ia sama sekali tidak ada urusan dengan pelaku, �musuh� si pelaku dan apa yang �diperjuangkan� si pelaku.
Keadaan ini jelas menakutkan, sekaligus membuat marah dan menimbulkan semangat perlawanan masyarakat, perlawanan yang diam. Yang terakhir ini terlihat sekali dalam peristiwa Bom Marriott, di mana segenap lapisan masyrarkat tampak marah sekali kepada pelakunya. Misalnya--- sebagaimana yang ditayangkan sebuah TV swasta---rekan sesama sopir taksi Mendiang Eddy yang dengan menangis dan marah mengutuk dan memohon agar pelakunya dilaknat Allah SWT, sedikit banyaknya pasti akan mempengaruhi mental para pelaku dan/atau �actor intelectualnya�. Idem ditto keinginan masyarakat di sekitar Hotel Marriott yang ingin melakukan tahlilan bagi korban di lokasi pemboman. Suasana marah juga terasa di radio-radio niaga swasta. Tidak sedikit pendengar yang meminta lagu yang dipersembahkan kepada para korban pengeboman. Tambahan pula sekalipun marah dan khawatir akan terjadi pemboman susulan, secara umum peristiwa bom Marriott tidak terlalu mempengaruhi aktivitas masyarakat. Kesan itu tampak ketika saya harus berangkat untuk bertugas ke Sulawesi Selatan selama sepekan tanggal 10 Agustus yang lalu, selang beberapa hari setelah peristiwa bom Marriott. Walaupun bandara merupakan tempat yang rawan terhadap serangan susulan dari para pelaku yang konon masih mempunyai stok bahan pembunuh tersebut secara berlimpah, tidak menyebabkan orang mengurungkan rencananya untuk bepergian. Bandara Sukarno-Hatta tetap berjubel seperti biasa. Walaupun terlihat lebih waspada, petugas keamanan tidak terlihat mengambil tindakan yang berlebihan Seluruh tempat duduk di pesawat yang saya tumpangi ke Makasar juga penuh seperti biasa.. Para pembunuh berdarah dingin pelaku Bom Bali mungkin bisa �berbangga� akan �hasil� yang diperolehnya. Tetapi tidak pelaku bom Marriott. Terorisme bisa diperangi dengan (1) walaupun agak klise---mencari akar permaslaahan (2) Meningkatkan profesionalisme aparat keamanan / intelejen negara dan (3) Memepersempit ruang moral bagi pelaku terorisme. Masyarakat, termasuk ummat Islam sudah melakukannya. Tinggal mereka yang menamakan dirinya �pemimpin ummat�. Mengutuk terorisme sudah semestinya, tetapi jelas tidak cukup. Harus ada tindakan nyata. Misalnya dengan melalui kampanye sistematis ke dalam melalui khutbah-khutbah Jumat. Mencak-mencak menyanggah temuan aparat di lapangan bahwa para pelaku adalah jaringan �JI� atau mereka yang merasa �memperjuangkan Islam� jelas jauh dari pada bijak. Sementara mengembangkan �teori konspirasi� akan lebih banyak menipu diri sendiri. Islam tidak perlu dan tidak patut dibela dengan cara demikian. Islam yang waktu ini dianut oleh lebih kurang 1,2 miliar penduduk bumi terlalu besar dan agung untuk dicemarkan oleh cecunguk-cecunguk semacam Amrozi, atau oleh siapapun. Mudah-mudahan mereka sadar bahwa berapa banyakpun aksi pengeboman yang berhasil mereka lakukan, dan berapa banyaknya orang yang bisa mereka bunuh melalui aksi-aksi teror---walaupun dilakukan �atas nama Islam�--- mereka tidak akan pernah berhasil memenangkan perperangan yang mereka gelar. Apalagi---frankly speaking---kalau �musuh� yang hendak mereka kalahkan itu sebuah negara adidaya yang bernama Amerika Serikat Kecuali korban, korban dan korban sia-sia yang terus berjatuhan di kalangan orang-orang yang tidak bersalah (Lalu saya teringat ungkapan kemarahan ulama karismatik KH Alawi Muhammad atas jatuhnya empat korban jiwa di kalangan pengunjuk rasa yang menentang pembangunan waduk Nipah di Pulau Madura sekitar 10 tahun yang lalu akibat kekerasan yang dilakukan aparat keamanan: �Nyawa satu orang manusia tidak dapat ditukar dengan empat pulau Madura!�) Tidakkah kalian takut akan murka dan azab Tuhan yang Maha Adil atas perbuatan kejam yang kalian lalukan tersebut, kalau Anda-Anda sungguh-sungguh merupakan orang-orang Islam? Salam, Darwin RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

