Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: http://www.rantaunet.com/sumbangan.php ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
tarimo kasih Iraf atas penjelasan nyo, salut deh dg usaha bogasari , agar kita suatu saat kelak bisa "merdeka" juga dalam "urusan perut" ini ( swasembada terigu/gandum ). berhubung dkat hari raya dan puasa, semoga harga tepung terigu di pasar tidak pada naik pula , tambah pusiang sajo urang rumah, kalau dakek puaso/rayo, harga bahan makanan naik. kalau lah dakek hari rayo , pasti urang rumah, sibuk buek kue rayo , mambali tapuang dll . Seingat saya kalau jaman dulu, urang gaek awak mambuek kue rayo biasonyo pakai tapuang bareh / katan , tapi kini kebanyakan pakai tepung terigu karena lebih praktis. Sekarang rasanya kita agak jarang menemui kue kue khas minang yg dibuat pakai tepung beras , padahal kalau dg tepung beras , bisa diolah sendiri . waktu ketek dulu, ambo sering diajak nenek , pai babalanjo makanan ringan di pasar bawah bukittinggi , setelah mengaji di surau inyiak jambek. Sangat beragam sekali makanan ringan yg dijual di sana dan khas bukittinggi ; pinyaram, lapek,lamang jaguang, tapai dll. Beberapa waktu yg lalu, sempat pulang dan main ke pasar bawah bukittinggi tsb, ternyata sudah banyak berkurang makanan khas tsb, dan mulai banyak makanan ringan jaman sekarang yg dimana mana juga ada , tak ada lagi ke khas annya , salah satu tanda nya ialah lebih banyak kue yg dibuat pake tepung terigu ( yg dibeli dari luar daerah ) daripada menggunakan tepung beras atau tepung ketan ( produksi daerah sendiri ) bisa jadi daging rendang yg kita makan di rumah makan padang, sapi nya adalah sapi import dari Australia , karupuak jangek nyo dari kulit sapi india ? ingat jaman dulu, nampaknya orang orang bisa lebih mandiri dalam hal pangan ini , dibanding sekarang. Bahan bahan untuk membuatnya dihasilkan sendiri, setidaknya dari daerah sumatera barat sendiri. Misalnya gula merahnya dari Lawang, karambia dari piaman , dll. kalau mau minum kopi ( kawa ) , biji kopi nya di ambil dari kebun sendiri , dijemur dan digiling sendiri. Sekarang semua nya , serba beli, bahkan beberapa diantara nya di import , spt gula, terigu,beras dll , jadi dalam perjalanan waktu terlihat , bahwa sebenarnya kita tambah tak mandiri ,tambah tergantung pada orang lain ( luar negeri ) bahkan untuk urusan yg mendasar sekalipun spt makanan. Itulah yg dimaksudkan dg kekalakan kita dalam bidang teknologi pertanian ( biological ) , yg membuat kita, sebagaimana negara miskin lainnya selalu tergantung pada negara maju , yg dalam istilah pidato nya Mahathir disebut sebagai exploitasi negara miskin oleh negara maju , karena ketertinggalan ilmu & teknologi , atau istilah kasarnya penjajahan secara biologis, karena dalam urusan yg mendasar sekalipun yaitu makanan , kita mengalami ketergantungan Semoga menjadi pemikiran kita bersama, setidaknya untuk menjaga kemandirian pertanian dan kelangsungan komoditas pertanian khas ranah minang spt bareh solok, gulo lawang,kayu manih,karambia piaman dll. serta bisa menjaga juga kelangsungan hidup , usaha dunsanak awak nan memproduksi makanan ringan khas minang, sebagaimana yg banyak di jual di pasar pasar tradisional spt di pasar bawah bukittinggi. sakian dari ambo, maaf kalau terlalu panjang HM --- iraf m <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > **** > > Karena hendra nyebut nama saya dan mengaitkan dengan > bogasari, maka sebagai PR Bogasari saya wajib > ngejawab dong ya? :) Tapi saya hanya cerita > mengenai gandum aja .. kalo tambah yang lain-lain > ntar kepanjangan :) > > Kita tergantung pada gandum import karena memang > belum bisa memproduksi sendiri, ndra :) Jadi ya 100% > kebutuhan gandum di tanah air masih diimport. Kalo > hendra bilang Bogasari "hanya bisa menggiling > gandum" tapi indak ado budidaya ... ya memang > begitu. Pertama karena kita memang industri > penggilingan gandum, bukan perusahaan agro > industri.. jadi ya tidak prioritas pada budidaya. > Sebenarnya dari beberapa data diketahui, jaman > belanda dulu gandum pernah tumbuh lho di indonesia. > Tapi begitu indonesia merdeka, pemerintah melarang > menanam gandum. Mungkin krn mengingatkan pada > kolonialisme kali ya ? :) > > Iraf > __________________________________ Do you Yahoo!? The New Yahoo! Shopping - with improved product search http://shopping.yahoo.com ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ---------------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ========================================

