saya sudah me-reply email ini kemarin, tapi terpaksa saya reply lagi karena masih mengganjal.
 
mohon jangan dipersempit pikirannya, namun sadarilah mungkin saja kondisi ini ada di antara kita.
dan jika ini ditanyakan kepada mereka, gimana ya saya juga ngga tau tuh
 
----- Original Message -----
From: Adrial Sj.
Biasanya kalau bertemu sesama perantau Minang,  saya ditanya apakah saya orang Minang, saya jawab YA.
Biasanya pertanyaan selanjutnya adalah: "dimaa rumahnyo, dimaa kampuangnyo"? saya jawab :Kotogadang, Bukittinggi.
 
== ini tentunya bisa saja dijawab oleh setiap orang yang mengaku orang tuanya berasal dari Sumbar.
 
 
Selanjutnya: "dari suku mana" ?  Saya akan bilang suku saya: Caniago.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah: "siaa Datuak nyo"?  Saya akan jawab datuk saya Datuk Perpatih.
 
== ini adalah pertanyaan sensitif. sangat sensitif.
ingat, belum tentu setiap orang minang bisa menjawabnya.
bagaimana jika mereka adalah :
 
1. perantau dari daerah lain yang sudah turun temurun berada di ranah minang. sehingga seringkali mereka   lebih minang ketimbang orang minang sendiri.
 
2. urang nan malakok.
ini memang sensitif banget. apalagi jika mereka sudah "disahkan" diberi suku dan datuk.
tapi mau ditaruh di garis ranji yang sebelah mana kan tetep sulit.
 
poin 1 dan 2 tentunya nggak bisa memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin kaum. baik wali nagari atau pun datuk.
 
 
 
Nah anda-anda yang dirantau, terutama yang muda-muda, sudahkah anda dapat menjawab ke-empat pertanyaan itu? Kalau YA, Syukur Alhamdulillah. Kalau belum, tanyalah ka Mande, ka Apak, atau ka Mamak masing-masing.
 
sulit2 susah kan mengungkap realita.
 
"C"
 
 

Kirim email ke