----- Original Message -----
Biasanya kalau bertemu
sesama perantau Minang, saya ditanya apakah saya orang Minang, saya
jawab YA.
Biasanya pertanyaan selanjutnya adalah: "dimaa
rumahnyo, dimaa kampuangnyo"? saya jawab :Kotogadang, Bukittinggi.
== ini tentunya
bisa saja dijawab oleh setiap orang yang mengaku orang tuanya berasal dari
Sumbar.
Selanjutnya: "dari suku mana" ? Saya akan
bilang suku saya: Caniago.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah: "siaa Datuak
nyo"? Saya akan jawab datuk saya Datuk Perpatih.
== ini adalah
pertanyaan sensitif. sangat sensitif.
ingat, belum
tentu setiap orang minang bisa menjawabnya.
bagaimana jika
mereka adalah :
1. perantau dari
daerah lain yang sudah turun temurun berada di ranah minang. sehingga
seringkali mereka lebih minang ketimbang orang minang
sendiri.
2. urang nan
malakok.
ini memang
sensitif banget. apalagi jika mereka sudah "disahkan" diberi suku dan
datuk.
tapi mau ditaruh
di garis ranji yang sebelah mana kan tetep
sulit.
poin 1 dan 2
tentunya nggak bisa memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin kaum. baik wali
nagari atau pun datuk.
Nah anda-anda yang dirantau, terutama yang muda-muda,
sudahkah anda dapat menjawab ke-empat pertanyaan itu? Kalau YA, Syukur
Alhamdulillah. Kalau belum, tanyalah ka Mande, ka Apak, atau ka Mamak
masing-masing.
sulit2 susah kan
mengungkap realita.
"C"