|
Biasanya kalau bertemu sesama perantau
Minang, saya ditanya apakah saya orang Minang, saya jawab YA.
Biasanya pertanyaan selanjutnya adalah: "dimaa
rumahnyo, dimaa kampuangnyo"? saya jawab :Kotogadang, Bukittinggi.
Selanjutnya: "dari suku mana" ? Saya akan
bilang suku saya: Caniago.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah: "siaa Datuak
nyo"? Saya akan jawab datuk saya Datuk Perpatih.
Nah anda-anda yang dirantau, terutama yang
muda-muda, sudahkah anda dapat menjawab ke-empat pertanyaan itu? Kalau YA,
Syukur Alhamdulillah. Kalau belum, tanyalah ka Mande, ka Apak, atau ka Mamak
masing-masing.
Apa sih perlunya data-data itu ? Contoh,
belasan tahun yang lalu, saya pernah mendapat kesulitan mencari penginapan nun
jauh di Balikpapan sana. Kebetulan bertemu dengan urang awak kalau nggak salah
dari Batusangka. Sukunya Caniago. Apa yang terjadi? Apa kata beliau itu? : "Mari nginap di tampek ambo sajo,
awak kan sa suku, jadi awak badunsanak, jangan sungkan-sungkan!".
Nah itulah, kemenakan-kemenakan, carilah indentitas
anda di kampung. Siapa tahu berguna kelak.
Salam,
Adrial S. St. Amin Alam
(60)
|

