Waalaikum salam,wr,wb.

Mak Lembang Alam, iko nan nomor seri ka ampek atau ka tigo ?, sebab apo ambo 
tanyokan ? dek karano nan alah ter file di komputer ambo adolah nomor seri 1 
dan 2, berarti harus ado nan nomor 3 nyo. 

Kelanjutan carito nyato basambuang ko sangaik kami nantikan. Cuma koreksi ciek, 
kato2 USTAD, nan tapek tu ustad atau ustadz, Mungkin Buya Ustadz Zulharbi dapek 
menyampaikan koreksiannyo demi kesempurnaan carito ko.

Kalau dapek foto batu nan manimpo rel kereta api tu ditampilkan di dalam 
episode carito ko, kalau indak bisa dikirim melalui Jalum, kirimkan ka Japri 
sajo.

Wassalam,
HM Dt.MB (50 th - saminggu)
  ----- Original Message ----- 
  From: Muhammad Dafiq Saib 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, March 21, 2007 9:05 PM
  Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: KETIKA MUSIBAH MENYAPA TANAH BUNDO


  Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu 

  4. Berangkat Ke Sumatera Barat 


  Hari Sabtu tanggal 10 Maret kami, aku dan anakku nomor dua, berangkat dari 
rumah jam 10 pagi diantar oleh adikku ke Bandara Sukarno-Hatta. Kami mampir 
dulu di ATM mengambil kiriman dari mak Darul St. Parapatiah yang Rp 820,000.-   
Jalan tol Cikampek agak macet. Memasuki jalan tol dalam kota terlihat kemacetan 
di pintu tol Cawang. Kelihatannya macet di jalur ke arah Grogol. Kami memilih 
jalan melalui Tanjung Priok, yang alhamdulillah ternyata cukup lancar. Tak 
urung, sudah hampir jam setengah dua belas ketika kami sampai di bandara. Kami 
langsung check in dan diingatkan oleh petugas Lion agar segera masuk ke ruang 
tunggu karena sebentar lagi akan boarding. Tergesa-gesa kami menuju ke ruang 
tunggu. Ternyata masih belum akan boarding. Pesawat itu terlambat seperempat 
jam dari jadwal 12.05. Masih lumayanlah. Sebelum menaiki pesawat aku tidak lupa 
mengirim sms ke ustad Zulharbi, memberi tahu bahwa kami segera berangkat.



  Penerbangan ke MIA di Padang berjalan sangat mulus, alhamdulillah, tidak ada 
hambatan sama sekali. Jam dua kurang kami sudah mendarat di MIA. Ketika 
menyalakan hp sebelum turun dari pesawat aku lihat ada sms dari ustad Zul, 
memberitahu bahwa beliau sudah ada di bandara. Langsung aku telpon untuk 
mengetahui dimana persisnya beliau menunggu. Kami bertemu di depan Bank Nagari. 
Ustad Zulharbi bersama adik ipar beliau pak H. Masdar. Anakku minta tunggu 
sebentar karena dia belum shalat (aku sudah shalat di pesawat) dan diantarkan 
ke mushala. Rupanya disana juga ada istri ustad Zul sedang shalat (yang 
nantinya aku panggil umi). 



  Sesudah itu barulah kami meninggalkan bandara sambil berunding kemana tujuan 
pertama. Kami sepakat untuk menuju ke Solok. Mobil yang kami gunakan adalah 
minibus travel yang dikemudikan oleh pak Masdar. Sebelumnya memang aku sudah 
minta tolong kepada ustad Zulharbi untuk mencarikan mobil untuk disewa. 



  Sambil berjalan kami berdiskusi bagaimana baiknya memberikan sumbangan. Ustad 
Zulharbi mengusulkan dua kemungkinan. Memberikan uang kontan (dimasukkan 
amplop) atau memberikan kupon yang bisa ditukar dengan DO semen. Yang terakhir 
ini tentu harus mendatangi pula terlebih dahulu toko material bangunan, yang 
mungkin sudah tutup saat kami sampai di Solok nanti. Akhirnya kami setuju untuk 
memberikan uang dalam amplop saja. Biar para korban gempa itu nanti yang 
menggunakan sesuai dengan kebutuhan mereka yang paling utama. 



  Kami sepakati pula untuk memasukkan seratus ribu rupiah per amplop dan uang 
yang Rp 12,846,000 (sebelum ditambah Rp satu juta) akan kami bagi tiga 
masing-masing untuk Solok dan sekitarnya, Bukit Tinggi dan sekitarnya serta 
terakhir Batu Sangkar dan sekitarnya. Ternyata ustad Zul sudah siap dengan 
amplop. Kami bertiga (aku, umi Yusra dan anakku) bergotong royong memasukkan 
uang ke dalam amplop. 



  Mobil kami melaju menuju ke arah Padang Panjang. Tidak terlihat kerusakan 
akibat gempa di sepanjang jalan ini sampai ke Kayu Tanam.   Di lembah Anai 
barulah terlihat bekas longsoran tebing yang sudah dibersihkan. Umi Yusra yang 
rupanya membawa bekal untuk makan siang mengingatkan untuk mencari tempat yang 
nyaman untuk berhenti dan makan. Tapi waktu mobil mau dihentikan dekat sebuah 
tebing beliau melarangnya. Khawatir kalau-kalau tebing itu nanti runtuh pula. 
Akhirnya kami tidak jadi berhenti. Mobil terus melaju. Kira-kira 300 meter 
sesudah air terjun Anai kami lihat bongkah batu sebesar meja menutupi rel 
keretapi. Aku mengajak berhenti sebentar untuk memotretnya. 



  Kami teruskan lagi perjalanan. Entah kenapa (mungkin ustad Zulharbi yang 
memutuskan) kami berhenti di restoran pak Datuk di Padang Panjang untuk makan 
siang. Memang sudah lumayan lapar karena sudah jam tiga lebih dan di pesawat 
kami hanya dapat segelas air. 


  (bersambung)



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke