Sutan Jabok yang saya hormati.
Sepertinya permasalahan kita menyangkut surau menjadi soal nama saja rif.
Kalau surau dibaca sebagai institusi pendidikan, saya setuju. Harus kita
majukan. Kalau hanya untuk sekadar menyenangkan kelompok romantika surau.
Kita ganti saja nama Unand menjadi Suaru Tinggi Andalas. SMA menjadi surau
menengah atas dan seterusnya.
Yang saya pertanyakan hanyalah surau yang masih dipandang sebagai sebuah
tempat bagaluik-galuik di sore hari dengan mengaji alif ba ta sekadarnya.
Lalu bagalumun malam hari. Surau, tempat para bujangan dan duda menghabiskan
malam. Kadang juga diisi oleh pengungsi konflik domestik. Nan sadang balego jo
urang rumah.
Kalau hanya itu. Dari dulu inyiak parabek, buya karim amarullah dan
seterusnya sudah menyadari. Surau bukanlah jawaban. Makanya beliau dengan
susah payah mendirikan tempat belajar yang lebih menjawab tantangan zaman.
Orang minang rasanya hanya butuh pembebasan.
Pembebasan teritorial dan pembebasan pola pikir.
jangan pernah terkungkung.
sutan jabok <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
salamualaikum...
asbun setek da... wak ka mananyo sekalian...
baa nasib anak2 buya tu yang lalok di surau yang notabene disamping rumahnyo??
di buku sejarah indonesia modern, karangan ricklefs, satu kalimat, tapi cukup
menjelaskan betapa fenomenalnya pendidikan surau itu sehingga lebih dianggap
mengancam dibandingkan sekolah (pintar) sekelas budi utomo... tertulis disana,
perlawanan frontal pertama kali oleh indonesia di inspirasikan oleh lulusan
surau yang berpidato dimana2 tentang merdeka.
ibarat kata, india punya satu gandhi, sumatera di huni oleh ratusan gandhi,
dimana institusi pengkloningnya ada di setiap nagari yakni surau...
surau itu juga berkembang, bukan cuma satu bilik di belakang masajik, tambah
banyak muridnya, tambaha banyak pula manfaatnya, tambaha besar pula surau itu,
pembaharuan sistem pun ada, hingga pengkloningan pun ada... Gontor, Sekolah
diniyah, training college, dlll adalah pengembangan terakhir dari pola surau
yang tercatat, masih banyak pula pengembangannya yang tidak tercatat, PDRI
bersandar pada orang2 surau... dan banyak lagi...
memang itu semua masa lalu, tapi melihat dan menghayati nilai dan peran yang
bermain pada sistem surau itu, memungkinkan kita membangun sistem surau modern.
wassalam,
st. jabok
Erwin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Terima kasih Ben atas tambahan penjelasannya.
Saya mungkin perlu istirahat dulu nih. Mau cari tambahan lain, terkait episode
misteri ini.
wassalam
erwin z
On Monday 02 April 2007 13:21, benni inayatullah wrote:
> Erwin, sedikit dari cerita yang saya peroleh dari ayah saya yang masih
> mengalami pendidikan surau dapat saya ceritakan begini. ketika dalam
> kehidupan bermasyarakat Minang ketika itu terutama setelah ABS SBK menjadi
> landasan berpikir dan bertindak atau the way of life masyarakat minangkabau
> maka peran surau ini sangat sentral menggantikan gelanggang yang dulunya
> tempat menyabung ayam dan berjudi. Ketika seorang anak laki2 beranjak
> dewasa maka aib bagi mereka untuk tinggal serumah dengan Ibu mereka.
> Mungkin hal ini juga didorong oleh kenyataan bahwa dirumah gadang tidak
> tersedia kamar bagi anak laki2 dewasa sehingga rasa malu apabila bercampur
> dengan saudara perempuan atau ipar laki laki.
---
-
> Salam
> Ben
>
---------------------------------
Get your own web address.
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa
Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid
Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan
Gempa di Sumbar.
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---